Belum Cukup Umur (2010) 21

Selasa, 18 Mei '10 14:24

TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!

Sutradara: Nayato Fio Nuala
Pemain:
Joanna Alexandra
Zidni Adam
Mentari

Siapakah Sutradara yang Paling Produktif di Negeri Ini?

NAYATO. Yap, Nayato Fio Naula jawaban pertanyaan di atas. Tahun 2009 kemarin Nayato Fio Naula, alias Koya Pagayo, alias Pinkan Utari, alias Ian Jacobs, alias Chiska Doppert, (heran, kenapa sutradara tercinta ini tampaknya hobi sekali menyamar-nyamar) berhasil membuktikan produktivitas dirinya dengan menelurkan lima film sekaligus: "Kuntilanak Beranak", "Pocong Jalan Blora", "Jeritan Kuntilanak", "Virgin 2: Bukan Film Porno", dan "Putih Abu-abu dan Sepatu Kets" (dengan nama yang berbeda-beda, tentunya). Maka tahun 2010 ini Nayato tidak mau kalah, belum sampai setengah tahun sutradara tercinta ini sudah menelurkan lima judul film (yang kebanyakan tentang eseks-eseks remaja): "18+", "Belum Cukup Umur", "Affair", "Terekam" (walau katanya sih, Nayato cuma sebagai editor), dan yang paling anyar "Akibat Pergaulan Bebas".

Plok! Plok! Plok! Bahkan Steven Spielberg sekalipun kalah dengan produktivitas Nayato Fio Naula. Mungkin tahun 2011 nanti, Nayato bakal nelurin film seminggu sekali. Speechless.

Lantas apakah kehebatan seorang Nayato dalam menelurkan jumlah film sama hebatnya dengan kualitas masing-masing film itu? Mari kita simak "Belum Cukup Umur" ini sebagai contohnya.

Turut Berduka Cita Untuk "Juno"

Kenapa sub-judul-nya "Juno"? Karena pembukaan film ini sudah mentah-mentah mencaplok dari "Juno". Mentah-mentah. Ckckc. Sungguh malang nasib film Jason Reitman yang masuk jajaran nominasi Best Film Oscar itu. Mungkin Nayato mengira penonton-penonton Indonesia tidak bakal tahu film "Juno" yang kover DVD-nya dipampangkan di rental-rental penyewaan, di toko-toko film, bahkan di lapak bajakan kaki lima. Untungnya saya tahu, dan sungguh, ketika melihat adegan awal itu, saya tidak tega membandingkan kualitas "Juno" dengan bayangan kualitas film yang akan saya tonton ini.

Untungnya, saya bisa berlega hati karena Nayato cukup sadar diri untuk tidak melecehkan "Juno" lebih jauh lagi layaknya "MBA"-nya Nikita Willy yang nyaris 100% menjiplak "Juno" (dengan kulitas merosot jauh dari "Juno").

Tidak usah berpanjang-panjang, langsung saja ke cerita.

Posternya diembel-embel "terinspirasi dari kisah nyata", ciri khas Nayato. Bercerita sepasang remaja, Aya dan Ares, yang terpaksa harus menanggung konsekuensi akibat tindakan "belum cukup umur" yang mereka lakukan. Terkisah dalam flashback, Ares yang mendadak sangek sehabis melototi film bokep bertambah sangek ketika melihat Aya yang memakai bikini sekseh. Langsung saja kedua makhluk Tuhan ini melakukan adegan syur 18+ yang seharusnya "belum cukup umur" buat mereka. Dibantu, Brenda, teman akrab mereka yang tomboy, film ini mengajak kita berputar-putar di tempat yang sama (gak ada kemajuannya) untuk memecahkan masalah "belum cukup umur" ini.

Perhatikan dialog yang menurut saya fenomenal ini:

Brenda: "Loe masukin gak?"
Ares: "Gue nggak masukin sumpah!"
Brenda: "Loe liat barangnya kan?"
Aya: "Liat..."

Singkat cerita, karena Ares yang ling-lung dan Aya yang cengeng tidak berani berbicara jujur kepada kedua orang tua, maka mereka harus mengambil jalur alternatif: menggugurkan kandungan. Brenda tomboy yang solider dan setia kawan pun ahirnya harus ikut campur, sekalipun sebenarnya ini bukan masalah dia.

Ternyata, mencari orang yang mau menggugurkan kandungan itu bukan perkara gampang. Setelah dokter di rumah sakit yang serba gelap, seolah-olah tidak ada penerangan listrik sama sekali dengan suster yang tidak ramah pula, menolak mentah-mentah permintaan mereka, mereka pun menemui dukun beranak. Sungguh, di adegan ini, terbukti jelas betapa kreatifnya Nayato menggunduli logika saya dengan menampilkan adegan dukun beranak yang sumpah tidak jelas maksud dan tujuannya.

Karena Aya yang super cengeng itu sudah keburu ketakutan dengan dukun beranak, maka mereka memilih untuk mencari dokter berani yang melakukan praktek aborsi ilegal. Uang kendalanya. Dijualah satu per satu barang yang kira-kira bisa dijual untuk mendapatkan uang. Sekalipun ini bukan masalah Brenda, saking peduli kawan, dia rela menjual handphone-nya. Apabila Anda diposisi Brenda, relakah?

Manja Lewat Jenuh

Yang paling bikin saya enek dari tiga tokoh adalah Aya yang ditampilkan oleh Joanna Alexandra. Lebay. Saya paham betul penokohan yang dimaksudkan Nayato dalam tubuh tokoh Aya ini. Hanya saja, Joanna sudah over-lebay membawakannya. Dalam kehidupan manapun, rasanya tidak mungkin saya temukan tokoh yang penampilannya dibawakan Joanna Alexandra ini. Mulai dari ekspresi mukanya yang tidak meyakinkan, sampai over-cengeng, over-kekanak-kakanakan, dan over-manja-nya yang sudah melewati batas tolerir.

Dramatisir? Mungkin itulah maksud Nayato dari pengejawantahan tokoh Aya yang membikin saya mau muntah-muntah ini. Tapi dramatisir yang dilakukan Nayato sendiri sudah lewat batas jenuh. Saking berlebihannya dramatisir itu, setiap gerak-gerik tokoh Aya malah kelihatan sangat amat tidak masuk akal buat saya. Tapi bukan Nayato namanya kalau tidak berdramatisir ria.

Hujan-hujanan dan Gelap-gelapan ala Nayato

"Ciri Khas!" Mungkin itulah yang bakal keluar dari mulut Nayato, dengan gaya sok idealis sok filosofis ala Barrack Obama pidato, bila ditanya perihal hujan-hujanan dan gelap-gelapan dalam film-filmnya (termasuk film yang dibahas ini).

Di film ini misalnya, bukan Nayato namanya bila tidak ada hujan-hujanan. Hujan itu penting bagi Nayato. Mungkin nyawa film-film Nayato sendiri adalah hujan dan gelap-gelapan. Kapan saja, di mana saja, dalam kesempatan apa saja, bak dewa dalam filmnya Nayato pasti akan menjatuhkan hujan dari langit. Mungkin maksudnya film-film Nayato selalu berlatar di musim penghujan.

Selain hujan, tentu gelap-gelapan. Bukan Nayato kalau tidak gelap-gelapan. Di kamar, gelap. Di sekolah, gelap. Di rumah, gelap. Di penginapan, gelap. Bahkan di rumah sakit pun, gelap. Apakah rumah sakit yang ditampilkan kekurangan penerangan? Di ruang dokter, gelap. Hebat sekali dokternya bisa memeriksa pasien sambil gelap-gelapan. Tapi, layaknya hujan tadi, gelap sudah jadi nyawa dalam film-film Nayato. Maka persetan masuk akal atau tidak, pokoknya harus gelap!

Kejutan Spesial dari Nayato Fio Naula

Nayato benar-benar pintar. Selain memikirkan pesan moral yang menggerola dan ciri khas yang luar biasa unik, beliau sempat-sempatnya memikirkan twist ending yang tidak kalah spesial. Ternyata Aya tidak hamil sama sekali. Hasil tespek positif yang dia peroleh, karena suatu kecelakaan yang sangat masuk akal menurut logika seorang Nayato, tertukar dengan tespek ibunya.

Sungguh, sebuah twist ending yang sangat amat spesial! Saking spesialnya, saya cukup terbelalak menyaksikan twist ending itu.

Apa kesan saya ketika mendapati twist ending itu? Bayangkan di bioskop ketemu orang yang pingin nonton suatu film. Terus orang itu cerita panjang lebar alasan kenapa dia pingin sekali nonton film itu. Nah, pas film sudah mau dimulai, tiba-tiba orang itu sadar kalau dia salah beli karcis film. Titik. Begitulah kira-kira garis besar esensi film bullshit Nayato Fio Naula ini.

Sebagai bonus:

Cuma bonus kok, tidak memengaruhi penilaian saya.[Rijon]

 


Tag: Indonesia, Film Indonesia, Film Sampah Indonesia, Nayato Fio Naula, Belum Cukup Umur, Coming-of-age, Film Remaja

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Dylanism 0 0
mantap bung!
hafi 0 0
posternya lagi2 niru film hollywood : D : D
didut 0 0
wahahahhaha~ asli ngakak baca review ini ..sungguh detil sekali : )
sabai 0 0
Rijooooon.... kamu tanggung jawab bikin saya ngakak guling2 sendirian pagi2 begini!!! huahaha... : )) : ))

The best part mmg BONUSnya!! : D
sabai 0 0
didut: kita senasib!!

"TULISAN INI MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER!" hahahaha... bukan MUNGKIN lagi deh... but anyway gak keberatan, secara itulah bagian paling nampol!! Dan gue gak akan ke bioskop jg buat ntn film ini : D
AndriaGutama 0 0
Hahahaha.... Eric Bana masa disamain ama ntah sapa itu namanya. Gila y ampe poster aj hrus niru
kniwe 0 0
Hahaha... sebenarnya spoiler, tetapi kayanya lebih menyenangkan baca review ini daripada nonton filmnya.
LHO komentar gw kok sama dengan @sabai95. Sumpah lho ini comment original, tidak bermaksud menjiplak : p...
pu3ku 0 0
kayaknya buat nyewa dvd nya aja sayang banget

mending nonton ftv abal abal aja, ga ada bedanya : p
pu3ku 0 0
perhatiin poster joana sama poster yang satunya,,

ekspresinya beda banget,,si joana itu knp yah?koq muka melas ga jelas kaya gitu : )) : ))

reviewnya bikin saya ngakak banget : p
AndriaGutama 0 0
pu3ku: Iya ekspresi nya Joana gk banget dech....

En jujur aja, Saya baru tau kalo Nayato, Koya Pagayo de el el itu ternyata satu orang!! Pantesan koq mirip2 aja gaya buat filmnya....
Ternyata oh ternyata
Matt Zammy 0 0
keknya benci banget ama si siapa itu tadi?? Naruto?

gyahahahahah.. tapi overall gw setuju. gak hanya film si, siapa ini.. Naruto? tapi film-film Indonesia lainnya..

asli ngakak gw baca reviewnya. kalo gw sih, sebelum nonton beginian udah nawaitu utk sekedar lucu-lucu n nyela-nyela doank.. jadinya beli tiketnya jga yaahh.. bw sekedar maki-maki.. : p
Rijon 0 0
Matt Zammy: Kurasa gak bisa juga dibilang "SEMUA FILM INDONESIA SAMPAH". Toh ada juga film-film Indonesia yang kualitasnya layaknya "EMAS" (meskipun belum ada yang sampai 24 karat) yang sayangnya tertimbung di antara kotoroan-kotoran berlapis emas.

AndriaGutama: Yap. Untuk ukuran sutradara "new wave" (sutradara pasca era kebangkitan perfilman Indonesia), Nayato adalah sutradara yang paling banyak menetaskan film-film (yang sayangnya) busyuk.

pu3ku: Jelas beda dong film-film Nayato yang satu ini dengan FTV-FTV. Di FTV kamu nggak akan menemukan HUJAN-HUJANAN dan GELAP-GELAPAN ala Nayato. Ples, kamu gak akan menemukan surprise ending sedahsyat film ini. Yakin deh, surprise endingnya lebih mencekam ketimbang The Shining bikinan Stanley Kubrick sekalipun.
JuliaJessicaJennifer 0 0
Kocak banget review ini. Jujur aja posternya yg girly hampir membuatku nonton film ini, tetapi pas baca siapa sutradaranya, langsung drop...
AndriaGutama 0 0
JuliaJessicaJennifer: Sepertinya anda udah membuat mental note utk tidak menonton film2nya Nayato??
Sama dunk...
Haris Fadli 0 0
Duh, ini tipe org perusak industri film Indonesia should be banned from making any films. Period.
Chalei 0 0
dulu film2 karya doi gw tonton cuma karena mantan cewe gw hobi nonton horror.
dan setiap filmnya telah sukses mebuat gw tidur di bioskop (sampe ileran malah)
venus 0 0
astagaaaaaa.... jadi ini yg diributin di twitter pagi2 kapan itu ya? review film yg ini? : )) : )) : ))
sabai 0 0
Chalei: difoto gak tuh pas ileran? hahaha.. : )) : ))

venus: yes... review dasyat ini! : D
Rijon 0 0
sabai: & venus: Lah diriku dibicarain di twitter?
ibans 0 0
saking produktifnya sehingga tidak memperhatikan edtetika sebuah film
kucingsapi™ 1 suka | 0
jadi ya.... kalo mau ngetes kehamilan itu jangan cuma ngecek pake 1 testpack apalagi kalo hasil testpacknya sampe ketuker sama punya nyokapnya haduhhhhh plis dehhhhhh twist yang sangat mekso! : )) : )) : ))

berasa sebuah cerita udah seru2 guling sana-sini action seru setelah 2 jam kemudian ealahhhh itu cuma mimpi! : | cape deh.....

Silahkan login untuk memberikan pendapat