Ashes of Time Redux (1994/2008) 8
Selasa, 18 Mei '10 15:30
"It is written in the Buddhist Cannon, the flag is still, the wind is calm. It is the heart of man that it is in turmoil."
'Ashes of Time' atau Dung Ce Sai Duk - 东邪西毒 (1994) diangkat oleh auteur kenamaan Hong Kong, Wong Kar Wai (WKW) dari novel legendarisnya Chin Yung, 'Legend of The Condor Heroes'. Namun, alih-alih bercerita tentang Kwee Cheng dan Oey Yong, tokoh utama di novel tersebut, ia menarik garis lebih jauh lagi, dengan berpusat pada tiga karakter penting di novel tersebut, "Racun Barat" Auwyang Hong, "Pengemis Selatan" Ang Cit-kong dan "Sesat Timur" Oey Yok-su, disaat mereka berada diusia yang sangat muda. Karena mungkin dibukunya tidak ada benar-benar eloborasi detil mengenai masa lalu mereka, membuat WKW berniat untuk merangkai versinya sendiri, yang dibagi berdasarkan pada bagian seperti bab di buku.
JINGZHE - Spring awakens Auwyang Hong (Leslie Cheung) adalah seorang makelar pendekar bayaran yang berdomosili di tengah gurun pasir. Ia kerap dikunjungi oleh Oey Yok-su (Tony Leungkafai) dan mereka pun menghabiskan waktu dengan mengobrol dan meminum arak. Yok-su mengeluhkan soal memorinya yang mulai memudar, termasuk rasa cintanya pada istri (Carina Lau) sahabatnya (Tony Leung Kiu-wai). Sementara itu Hong mendapatkan order dari Moyung Yang (Brigitte Lin) untuk membunuh Yok-su karena menolak menikahi adiknya, Moyung Yin (Briggitte Lin juga). Uniknya, Yin malah menugasi Hong untuk membunuh kakaknya, untuk mencegah dia membunuh Yok-su.
XIAZHI - Summer rises Si pendekar, sahabat Yok-su, tiba di penginapan Hong dan meminta pekerjaan, guna memperoleh ongkos untuk pulang kampung dan bertemu istrinya. Tugas yang ada malah dari seorang gadis muda (Charlie Yeung) miskin yang hanya bisa memberi imbalan sekeranjang telur dan keledai, guna membunuh segerombolan bandit yang telah membunuh saudaranya. Akhirnya si pendekar menerima pekerjaan tersebut, meski sebenarnya ia tengah terancam kebutaan.
BAILU - Autumn turns Order pekerjaan dari si gadis muda kemudian diambil alih oleh Ang Cit-kong (Jackie Cheung), seorang pendekar urakan yang tak beralas kaki. Cit-kong adalah jenis pendekar yang penuh ambisi akan kejayaan, namun ternyata mempunyai hati emas.
LICHUN - Winter fades Hong memutuskan untuk mengunjungi kampung halaman si pendekar yang nyaris buta dan bertemu dengan istrinya. Sedang Yok-su pergi ke gunung Unta Putih, daerah asal Hong, untuk bertemu dengan perempuan yang dicintai oleh Hong (Maggie Cheung) namun kemudian memilih untuk menikah dengan kakaknya Hong.
JINGZHE - Spring returns Cerita kembali ke awal, sekaligus dimana cerita berakhir dan Hong memutuskan untuk pergi dari penginapan padang pasirnya.
Dengan jajaran bintang ternama perfilman Hong Kong sebagai pemain dalam film ini, WKW benar-benar diuntungkan, karena mereka adalah barisan aktor-aktris kelas satu dengan kemampuan akting yang mumpuni. Dan itu memanglah sangat diperlukan, karena film yang bercerita tentang kenangan, kehampaan, kegelisahan serta cinta tak berbalas ini sangat mengandalkan kemampuan pemainnya dalam ekspresi, mimik, gestur dan gerak tubuh.
Contoh paling konkrit adalah penanganan Brigitte Lin terhadap karakter Moyung Yin/Yang-nya. Yin adalah seorang perempuan neurotis sedang Yang adalah laki-laki dingin penuh perhitungan. Namun, dalam perkembangannya, layaknya metafora Yin dan Yang, karakter mereka mulai menyatu dan mengungkapkan identitas mereka sebenarnya. Dan Lin begitu luar biasa dalam menangkap karakter-karakternya tersebut melalui gestur yang sangat ekspresif, sehingga kita dapat menangkap emosi saat ia marah, sedih atau bahagia tanpa perlu pernyataan verbal.
Ketimbang pada plot yang kompleks, memanglah WKW memberi penekanan pada karakter-karakternya serta interaksi diantara mereka melalui serangkaian dialog yang dalam dan puitis serta terkadang cenderung monolog-retoris yang disempurnakan dengan ekspresi, mimik, gestur dan gerak tubuh tadi.
Hanya saja, untuk plot yang sebenarnya sederhana, WKW memberikan treatment yang tidak begitu linear. Cerita berjalan dengan pola maju-mundur yang bisa membingungkan. Mungkin ini disengaja karena toh film berbicara tentang konteks kenangan, sehingga sikuens adegan yang hadir terkesan tumpang tindih dan mengawang layaknya fragmen di dalam mimpi yang menghantui.
Kalau kita fokus dan jeli, sebenarnya dengan mudah kita dapat menarik benang merah antar-karakternya serta progresi plotnya dalam satu garis lurus. Hanya saja, tampaknya itu bisa dilakukan kalau kita kelar menyaksikan filmnya dan kemudian mencoba untuk menyimaknya kembali. Tidak menafikan kemungkinan ada yang bisa dalam sekali tonton tentu saja, walau saya yakin pasti lebih banyak yang bingung.
Penanganan kamera oleh Patrick Doyle sendiri terasa istimewa karena memaparkan visual-visual cantik layaknya lukisan dengan kemampuan berbicara yang kuat serta sangat integratif dengan karakter-karakter dalam narasi yang ingin diceritakan oleh WKW.
Sebagai sebuah WuXia tentu saja kita tidak melupakan adegan pertarungan. Meski tidak banyak, dan ditampilkan dengan editing cepat serta gambar yang memburam, namun dengan bantuan Sammo Hung (Ip Man) sebagai penata-silat, eksekusinya mempu memberikan kontribusi pada koherensi cerita terutama untuk membangun nilai-nilai filosofis. Adegan pertarungan tidak sekedar untuk "seru-seruan", melainkan penekanan pada karakterisasi dan plot, sehingga ia hadir dalam durasi yang terbatas dan hanya saat diperlukan. Bukan sajian utama.
'Ashes of Time', sama halnya dengan mayoritas film-film WKW lain, berbicara dalam tatanan dialogis serta interaksi pada karakternya dengan penekanan pada visual kontemplatif. Versi 'Redux' keluaran 2008 ini adalah sebuah hasil dari proses editing kembali, peningkatan mutu gambar serta pengaransemen ulang musik latar oleh Wu Tong dengan penampilan solo oleh celloist Yo Yo Ma.
Saya belum berkesempatan untuk menyaksikan versi 1994-nya, namun saya yakin 'Ashes of Time Redux' tidak jauh beda dengan versi lamanya, sebuah ajang pembuktian bahwa WKW adalah juaranya dalam menarasikan emosi manusia dalam bentuk visual, bahkan jika itu sebuah "film silat" sekalipun.
Tag: drama, Wong Kar Wai, wuxia, film review, hong kong
Terkait:
-
Air Doll (2009)
Sabtu, 18 Des '10 08:52 -
At The End of Daybreak (2009)
Sabtu, 29 Mei '10 22:34 -
Bad Education (2004)
Sabtu, 29 Mei '10 22:30

Komentar:
Padahal nontonnya udah di bioskop canggih gitu...
Nah, saya tidak bisa memberi komentar nih, secara belum pernah ntn versi un-redux
Hahahaha. Yah, dicoba saja. Kalau ada waktu dan kesempatan.
Waduh. Kayaknya udah rada susah. Coba cari di, ehm, lapak2 dvd terdekat
Silahkan login untuk memberikan pendapat