Of Mice and Men [1992] 5

Sabtu, 15 Mei '10 11:33

 

Film ini adalah adaptasi dari salah satu novel John Steinbeck, sastrawan Amerika favorit saya. Di Indonesia, karya ini pernah diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer yang kebetulan memiliki ideologi kepengarangan sejalan dengan Steinbeck. Dua -duanya favorit saya. Membaca karya Steinbeck, tema-temanya sanggup menimbulkan desiran miris. Ia menggabungkan realisme yang berkelindan bersama romantisme purba dalam kebaikan hati para petani miskin. Karyanya memperlihatkan kelemahan orang-orang tersebut, yang tercerabut dan menderita akibat depresi ekonomi dan kekacauan politik.

Steinbeck  menulis Of Mice and Men berdasar pengalaman saat menjalani hidupnya sebagai buruh-gelandangan. Menceritakan kisah tragis dua orang buruh tani -George Milton dan Lennie Small- selama depresi besar di California. Tidak mengherankan sebab Steinbeck sendiri ialah orang California dan sering menempatkannya sebagai lokasi cerita dalam tulisan. Pertama kali novel ini diadaptasi ke dalam sebuah film tahun 1939 dan 1981 (tayangan televisi). Lalu pada tahun 1992, Gary Sinise memproduksi, menyutradarai  sekaligus menjadi pemeran dalam film tersebut dengan judul yang tetap sama. Mendapat sambutan hangat dari kritikus dan dinominasikan dalam Festival Cannes 1992.

George Milton (Gary Sinise) ialah seorang yang cerdas sekaligus sinis, sedangkan Lennie Small (John Malkovich), kebalikan dari namanya merupakan seorang bertubuh tinggi besar, punya kekuatan fisik mengerikan, namun dengan kondisi mental terbatas. Perilakunya bagai anak kecil dan sangat menurut kepada George, karena hanya dialah yang mau menemani dan melindungi Lennie. Mereka adalah buruh pendatang yang mencari lahan kerja di sebuah lahan pertanian di Soledad. Mereka mempunyai mimpi, suatu hari akan menempati lahan pertanian milik sendiri, dengan tanah berhektar-hektar; sebuah rumah. Lennie dan George selalu mengulang-ulang cerita tentang mimpi mereka, terutama Lennie  yang dijanjikan George akan memelihara kelinci dan memegangi mereka. George punya kegemaran memegangi benda-benda halus, namun tak pernah menyadari efek mengerikan dari genggaman tangan kekarnya. Sampailah mereka pada lahan yang dituju dengan rangkaian peristiwa yang menunggu.

Penggambaran tidak terlalu berbeda dari versi novelnya, yang bagi saya jauh lebih kelam dan menyentuh dari versi layar lebarnya ini. Justru kekuatan film terletak pada akting Malkovich yang dialektis dengan watak dingin Sinise. George menjadi pribadi yang satu-satunya ditaati Lennie. Meskipun Lennie -dalam bahasa awam- "terbelakang", namun George selalu sabar dan melindunginya dari bahaya, termasuk dari ancaman Curley si anak majikan. Model persahabatan yang sangat jarang ditemui, apalagi di masa sekarang, walau pada akhirnya George harus menentukan pilihan, namun keputusan itu demi "kebaikan" mereka.

 

Ini adalah kisah tentang persahabatan dan mimpi dari orang-orang tertindas. Tipikal dari karya sastra Amerika yang selalu mengutarakan nasib kaum marjinal (dan bertolak belakang dari realitas Amerika sebagai suatu Negara). Kaum tertindas yang bahkan dalam proses bermimpi pun mereka harus mengalami kepahitan. Hal inilah yang sampai saat ini saya jadikan pegangan dalam memandang "kesastraan" sebuah tulisan fiksi. Apakah karya tersebut mampu menyuarakan realitas atau tidak. Sekaligus catatan tambahan bagi proses produksi film-film (adaptasi novel) yang seharusnya mau melirik pada sejarah karya fiksi kita yang sangat potensial dijadikan wahana kritis dan edukatif, bukan kontra-produktif. Sebab, seberat apa pun sebuah tema, film -sebagaimana fungsinya sebagai media estetis populer-  selalu mampu mereproduksinya tanpa meninggalkan fungsi dasarnya tersebut.

Pada akhirnya, hampir sama seusai saya membaca novelnya. Film ini sekali lagi mengguratkan kengerian akan kehidupan, dan apa yang seharusnya digenggam erat dalam memaknainya; humanisme.

***

 



Tag: Steinbeck, Pramoedya Ananta Toer, John Malkovich, Sastra

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

kniwe 0 0
Weleh, bisa dicari dimana nih film ini....
Dylanism 0 0
saya dapatnya di rental film di Jogja, hehe..
Gambliz 0 0
Aku dudu tipe wong sing seneng mbandingke film karo novel, tapi nek dasare soko Steinbeck, sak pethuk2e filmmaker, mesti wis oleh tema sing pancen wangun dab....hahaha.....untunglah Sinise mampu menerjemahkan esensi kisahnya dgn lancar.

Btw, nek jarene kritikus2 Steinbeck kuwi luwih mlebu ning realis kritis, tinimbang naturalis....ah, whatever......pokoke apik. : D
Dylanism 0 0
hehe, iyo, sing penting podo apike dab : D
caulfield 0 0
ada hubungannya dengan beni dan mice gk??

Silahkan login untuk memberikan pendapat