Kick-Ass (2010) 6
Jumat, 14 Mei '10 19:44
Sebagai seorang (mantan) fan-boy, i'm so effin' able to relate to that Dave Lizewski's character in 'Kick-Ass'. Nerd di sekolah, nyaris tak terlihat kecuali jika di bully, dan tentu saja tergila-gila dengan komik dan punya khayalan tingkat tinggi jika dirinya adalah seorang super-hero yang akan membela keadilan.
Dalam fantasi saya, secara kebetulan akan bertemu dengan seorang Suhu-Maha-Sakti dan mewariskan jurus Tapak Sakti level 10 atau setidak-tidaknya mendapatkan gemblengan kung-fu tingkat tingkat mahir dari seorang Wong Fei-hung. Jika sudah mahir, saya akan menghajar keroco-keroco yang telah merusak kedamaian dunia. Tentu saja itu tidak pernah terjadi dan saya adalah nerd sepanjang sekolah menengah!
Beda saya, beda pula Dave Lizewsk (Aaron Johnson, up-and-coming sebagai John Lennon Muda). Secara harafiah dia membeli online kostum ketat ala super-hero, turun ke jalan menjadi vigilante. Sayangnya tak berjalan mulus karena ia malah ditikam dua orang preman plus tertabrak mobil saat hendak menolong orang. Terima kasih pada modal nekad dan keahlian beladiri yang minus, tentu saja. Dia selamat, tapi ternyata tidak menyerah untuk mencoba kembali menjadi seorang super-hero, apalagi dengan tertanamnya sejumlah besi ditubuhnya pasca operasi yang menambah rasa percaya dirinya.
Selanjutnya dia mencari tugas baru termasuk, ehm, menyelamatkan kucing nyasar! Sampai secara tidak sengaja ia melawan sekelompok orang dan terekspos ke internet. Sekejap ia menjadi seorang Kick-Ass, selebriti internet baru yang dipuja-puji.
Di tempat lain, ada Big Daddy (Nicholas Cage) dan putrinya Hit-Girl (Chloe Moretz, (500) Days of Summer), jenis "super-hero" anti-tesis Kick-Ass, karena mereka benar-benar menguasai teknik berkelahi dan ahli senjata tingkat professional, sehingga dijamin akan benar-benar mampu kick some bad-ass, meskipun Hit-Girl itu sendiri sebenarnya adalah seorang gadis pra-remaja yang baru berusia 11 tahun.
Alter ego mereka adalah Damon dan Mindy Macready, seorang tipikal ayah sederhana dengan putri pra-remajanya yang manis. Akan tetapi, sebenarnya mereka memiliki masa lalu yang kelam dan mendendam kepada big-boss Frank D'Amico (Mark Strong, Sherlock Holmes), sehingga menempa diri dengan keahlian membunuh yang mematikan.
Sampai nasib mempertemukan Kick-Ass dengan Big Daddy dan Hit-Girl, yang membuat seorang Dave Lizewsk merasa minder dan mulai meragukan kemampuan serta niatnya lebih jauh untuk menjadi seorang super-hero. Tapi, tidak segampang itu, karena Frank D'Amico mencurigai Kick-Ass sebagai biang kerok yang mengganggu bisnisnya. Putranya, Chris D'Amico (Christopher Mintz-Plasse, Superbad, How To Train Your Dragon) punya ide cemerlang untuk menangkap Kick-Ass dengan berpura-pura menjadi seorang super-hero lain bernama Red Mist dan akan berteman dengan Kick-Ass!
Sulit untuk menolak gambaran 'Kick-Ass' sebagai sebuah satir karena dengan cerdas mampu menangkap fenomena demam superhero di masyarakat, setidaknya di Amerika sana. Ada satu adegan dimana Dave bersama temannya baru saja menonton sebuah film yang berjudul 'The Spirit 3', yang tentu saja ini adalah guyonan yang sangat nakal, karena seperti yang kita tahu betapa jeleknya film 'The Spirit' itu sebenarnya. Tapi karena adanya obsesi-kompulsif superhero tadi, ia bisa bertahan sampai jilid ketiga!
Sebagai sebuah film yang mungkin dapat dikategorikan sebagai "abal-abal" (dalam perspektif tertentu), ternyata ia adalah sebuah social commentary yang jenial, karena kefasihannya dalam menangkap fenomena sub-kultur kekerasan menjadi sebuah banalitas yang kemudian dianggap normal.
Lihat saja bagaimana karakter Damon Macready melatih putrinya untuk membunuh orang dengan penguasaan berbagai jenis senjata serta bela diri yang mematikan. Kalau kita fikir-fikir, orang tua normal mana yang tega mengajari hal tersebut (contoh konkrit: Damon menguji coba rompi anti-peluru pada Mindy dengan secara harafiah menembak putrinya, setelahnya mereka menyantap es krim seolah-olah tidak ada kejadian yang luar biasa baru terjadi). Atau bagaimana seorang gadis cilik seperti Mindy yang dengan ringan berujar, " Okay you cunts...Let's see what you can do now! ," dan selanjutnya dengan santai menikam orang dengan pisaunya.
Adegan-adegan dalam 'Kick-Ass memang menggiriskan, namun disinilah letak keberhasilan Matthew Vaughn (layer Cake, Stardust) sebagai sutradara. Ia menangkap esensi komik karya Mark Millar ini (Wanted), sekaligus membungkusnya dalam konteks uber-realitas, sehingga meski terkesan serius dan vulgar, tetap tidak kehilangan unsur fun sebagai sebuah sinema eskapis, terutama dalam konteks film pahlawan super tadi.
Pola narasinya bahkan sangat terinspirasi oleh tipikal cerita-cerita superhero yang digemari oleh Dave. Begitu juga dengan progresi karakternya. Menariknya, skrip yang dikerjakan Vaugn bersama Jane Goldman tetap membuat karakter-karakternya membumi dan berdimensi luas, ketimbang karikatural. Okelah, adegan finalnya agak berlebihan dan sedikit mengingkari konsep “membumi”yang telah dibangun pada awalnya, namun itu sama sekali tidak melemahkan struktur film ini.
Dan saya suka sekali treatment Vaughn untuk film ini. Ada satu adegan dimana Big Dady tengah beraksi dengan diiringi oleh "In The House - In a Heartbeat"-nya John Murphy (dari 28 Days Later) sebagai musik latarnya. Adegan tersebut serasa begitu megah sekaligus entah kenapa menimbulkan kesan suram dan pedih. Atau dengan efektif memberikan kilas-balik kehidupan Damon melalui fragmen animasi berbentuk komik. Bermain dengan ironi, eh, Mr. Vaughn?
Dengan pemakaian aktor utama yang relatif tidak terkenal, Vaughn diuntungkan sekali dalam upayanya membuat film ini lebih nyata. Apalagi Aaron Johnson memainkan perannya dengan sangat meyakinkan. Atau Christopher Mintz-Plasse yang mendobrak peran streotypenya selama ini. Ditambah lagi mereka justru didukung oleh aktor-aktor kawakan seperti Mark Strong yang (lagi-lagi) antagonis, juga Nicholas Cage yang mengimpersonifikasi Batman sebagai rujukan karakter pahlawan supernya.
Akan tetapi, jelas yang paling mencuri perhatian tentu saja adalah Chloe Moretz sebagai Hit Girl yang urakan dan tak kenal ampun serta Mindy Macready yang manis dan santun. Chloe dengan sangat mumpuni memainkan karakternya secara meyakinkan. She's so adorable yet witty and bitchy in one term and she succeed in any level. Bisa dikatakan pada akhirnya aksi Hit Girl-lah yang paling menonjol dalam 'Kick-Ass'.
Sebagai sebuah film komersil, 'Kick-Ass' berhasil melaksanakan tugasnya, jenis film hiburan yang tidak melupakan memberikan kedalaman dalam ceritanya. Meski terkadang agak sedikit berlebihan, namun ia tetaplah sebuah paket yang sangat solid.
Tag: amerika, Aksi, Super Hero, film review, nicolas cage
Terkait:
-
SEEKING JUSTICE & TRAPPED : BOTH CAGE, BIG NAMES, WON'T DO
Senin, 7 Nov '11 06:47 -
Review : DRIVE ANGRY : A STRAIGHT DRIVE-IN CLASSIC!
Sabtu, 12 Mar '11 02:53 -
It’s Kind Of A Funny Story (2010)
Minggu, 13 Feb '11 18:25
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kniwe: Good Take
-
Rawkus i Bixhu: Informatif
-
JuliaJessicaJennifer: Good Take
-
Gambliz: Informatif
-
raditherapy: Box Office
-
sabai: Mencekam
-
Rijon: Good Take
-
jamur: Mencekam
-
hafi: Good Take
-
Inigo52259: Good Take

Komentar:
Yep..seru..seru. Secara pribadi, bagi saya ini film-aksi-laga-komedi yg lengkap. Menghibur sekaligus ada yg diceritakan...
Malam ini masih masih midnite, tapi minggu depan kayaknya udah reguler/daily. Duh jadi pgn nonton lagi ni
Btw, kenapa semua orang bilang adaptasi Bekmambetov dari karya Millar yg "Wanted" jelek ya? Saya pikir keren lho, at least fun bgt liatnya.....moga2 ntar feel-nya gitu juga pasca lihat film ini....
Jangan khuatir, disini Vaughn melampaui semua film2nya terdahulu dari segi pencapaian teknis.
Dan saya cinta dengan Wanted
Silahkan login untuk memberikan pendapat