Umberto D (1952): Kesunyian Lelaki Tua 0
Rabu, 12 Mei '10 13:44
Gilles Deleuze menelaah neorealisme -salah satunya-dengan mengamati tindakan dalam sinema. Baginya, neorealisme mengisyaratkan tindakan sebagai sesuatu yang belum tentu berhubungan dengan pikiran, seakan-akan suatu tindakan "terjadi begitu saja", di mana tindakan sang-aktor seperti "terperangkap" dalam situasi atau keadaan yang banal dan sehari-hari. Contoh yang diajukan Deleuze adalah scene di mana pembantu muda dalam Umberto Dkarya Vittorio de Sica melakukan aktivitas di dapur: membuka kran, membersihkan alat memasak, melihat dinding yang penuh semut, menyemprot semut dengan air kran, juga mengibas-ngibaskan kedua tangannya ke arah sweater yang ia kenakan (dalam DVD yang dirilis Criterion, scene itu bisa dilihat pada menit ke 13 detik 15 sampai detik 55).
Saya tidak akan masuk terlalu jauh pada apa yang disebut Deleuze sebagai "pure-optical-situation" atau "sensory-motor-schema" dalam neorealisme, juga tidak akan mereview film produksi 1952 yang disebut-sebut sebagai "akhir dari neorealisme Italia" ini, karena Anda tinggal membaca DI SINI.
Saya hanya mencoba memaparkan kesan-kesan yang saya tangkap dari salah satu scene film ini: ketika tokoh Umberto berada di depan kuil Pantheon Roma dan "terjebak" dalam ketegangan internal antara mengemis atau tidak, antara mendapatkan uang atau mempertahankan harga-diri, antara melakukan tindakan ataukah hanya meratapi nasib menjadi pensiunan tua yang melarat (dalam DVD versi Criterion, adegan bisa dilihat pada menit 60 detik 32 sampai menit 61 detik 40).
Saya memilih membicarakan scene ini bukan semata karena daya dan metafor yang memantul dari scene itu, juga karena scene itu dengan amat bagus menggambarkan seperti apa ketegangan-internal karakter Umberto Domenica Ferrari yang diperankan dengan bagus sekali oleh Carlo Battisti, seorang non-aktor yang memainkan film pertamanya sekaligus yang terakhir.
Film ini berkisah tentang pensiunan pegawai di departemen pelayanan publik yang bermasalah dengan pemilik apartemen yang disewanya. Ia harus mendapatkan sejumlah uang agar tidak diusir di akhir bulan. Ia sudah menjual arloji dan dua buku kesayangannya, tapi uang tetap tak cukup. Ia sampai harus "berpura-pura" sakit gawat agar bisa mendapat makanan gratis. Ia bertemu dengan beberapa orang kenalannya, juga atasannya. Tapi mereka tak membantu, lebih karena Umberto sendiri tak pernah berterus-terang bahwa ia butuh uang. Selain pembantu muda di apartemennya, Umberto juga punya teman seekor anjing bernama Flike. Bersama Flike-lah Umberto melewati hari-hari yang susah sampai kemudian Umberto memutuskan untuk bunuh diri bersama Flike di atas rel kereta api. Apakah Umberto akhirnya tewas menabrakkan diri bersama Flike? Ataukah Umberto melepaskan Flike di detik-detik terakhir? Atau justru hanya Flike yang akhirnya sendirian terlindas kereta? (Film ini dilansir pada tahun yang sama dengan Ikiru-nya Akira Kurosawa yang juga bicara tentang orang tua tapi dalam nada yang lebih cerah, mungkin film ini lebih mirip dengan Wild Strowberries-nya Ingmar Bergman)
Scene ini diawali oleh percakapan Umberto dengan kawan lamanya, Battistini, yang acuh tak acuh pada persoalan Umberto. Lalu pensiunan tua itu berjalan bersama Flike ke arah Pantheon Roma. Dia berdiri di depan pilar-pilar raksasa Pantheon, lalu melepaskan topi yang dipakainya, disusul gerak tangan yang mengusap wajah dan kepalanya yang beruban lalu turun mengusap dadanya. Sesaat kemudian, Umberto menengok ke kanan ke kiri, mengamati keadaan. Dalam keadaan mengepal, tangan kanan Umberto pelan-pelan ditengadahkan sembari menyorongkannya ke depan. Tiba-tiba Umberto menarik lagi tangannya sembari sedikit menunduk, tapi kemudian Umberto lagi-lagi menyorongkan tangannya yang tengadah. Sampai tiga kali Umberto melakukannya, dimulai dengan tangan kanan yang mengepal, lalu terbuka, tengadah dan disorongkan ke depan. Umberto lalu mengusap lagi wajahnya, sembari menahan nafas, lalu kembali menyorongkan tangannya yang tengadah ke depan, tapi tangannya tidak terlalu jauh menyorong ke depan, seperti antara maju dan tidak, setengah-setengah. Lalu tangan itu ditariknya lagi.
Saat ada seorang melintas persis di depannya, Umberto buru-buru menyorongkan lagi tangannya ke depan dalam posisi tengadah. Pelintas itu sempat berlalu, lalu berhenti, memutar tubuhnya, merogoh saku celana kanannya, mengambil uang, lalu hendak memberikannya pada Umberto. Sepersekian detik sebelum uang itu jatuh ke tangan Umberto, ia tampak memalingkan muka, lalu kali ini wajahnya yang tengadah ke langit-langit Pantheon, dan pada saat yang sama ia membalik telapak tangannya yang tadinya tengadah. Wajahnya melihat-lihat langit, seperti hendak mengesankan pada pelintas itu bahwa ia hanya sedang mengetes apakah ada tetes hujan atau tidak. Pelintas itu pun urung memberikan uang, ia berbalik dan berlalu. Umberto lalu menarik tangan kanannya, menyentuh pangkal dasi, membenahinya sedikit, lalu tangan itu meremas sisi kanan jasnya, dan dengan wajah menunduk, Umberto menghela nafas.
Scene di atas saya kira menggambarkan dengan bagus sekali apa yang dikatakan oleh Andre Bazin dalam volume kedua What is Cinema tentang film ini yang menurutnya seperti "...sebuah konspirasi antara kesunyian, kemurungan dan sikap diam yang keras kepala".
Kesunyian Umberto tergambar dalam scene ini dengan bagus. Dengan kombinasi pengambilan gambar lebar, medium dan zoom, kamera secara bergantian menempatkan Umberto dengan latar kuil Pantheon Roma yang terlihat kusam, retak-retak di beberapa pilarnya dan setengah gelap. Kombinasi antara latar Pantheon yang kusam dan gerak-ekspresi Umberto membuat kesunyian dan kemuraman tampil dengan kekuatannya yang menyentuh. Sikap diam keras yang keras kepala terekspose dari kombinasi medium-shoot dan zoom yang bergantian menyorot pergerakan tangan Umberto yang menengadah dan menutup, usapan tangan ke wajah dan kepala, remasan tangan ke sisi kanan jas, juga helaan nafas yang berat.
Umberto mengepalkan tangan.
umberto menengadahkan tangan saat pelintas hendak memberi uang
Umberto membalikkan tangan sembari tengadah melihat ke langit
Bagian paling kuat dari scene itu menurut saya terjadi saat Umberto mengepalkan tangan, lalu membuka tangannya, disusul dengan pergerakan kepalanya yang tiba-tiba melihat langit dan saat yang sama membalikkan telapak tangannya saat seorang pelintas hendak memberikan uang. Tangan terkepal, tangan yang terbuka lalu tangan yang telungkup dan wajah yang tengadah bisa dibaca secara berurutan sebagai "harga diri dan kehormatan yang ingin dipertahankan", lalu "harga diri dan kehormatan itu digadaikan". Menariknya, de Sica tidak lantas mengembalikan posisi tangannya terkepal kembali tapi justru telungkup. Ini bisa dianggap sebagai pesan bahwa harga diri dan kehormatan itu tidak pernah kembali lagi seperti sebelumnya, tapi sudah "tercoreng" kendati Umberto masih sekuat tenaga menutup-nutupinya. Cukup jelas bagi saya, telapak tangan adalah metafora atas harga diri dan kehormatan.
Latar kuil Pantheon yang kusam bukan hanya mengkonfirmasi hidup Umberto selanjutnya yang juga akan tetap kusam, tapi juga memberikan suatu aura kekudusan, tentang sesuatu yang tak bisa ditolak, semacam garis-tangan yang tak bisa diubah -- dengan kata lain "takdir" atau "nasib". Fakta bahwa di bawah naungan Pantheon juga dimakamkan seorang raja Italia yaitu Umberto I hanya menjadi penegasan kembali kontras-kontras yang dipicu oleh gerak-gerik Umberto yang selalu berada di tapal-batas (antara mengemis atau tidak, antara menyelamatkan hidupnya atau kehormatannya, dll).
Jika para raja dari kekaisaran Roma kuno dulu sering mempersembahkan hewan-hewan kurban di Pantheon (akar kata "Pantheon" berasal dari bahasa Yunani yang berarti "every God" -- "pan theos", "all the gods), Umberto tidak mempersembahkan hewan tapi hanya "mengekploitasi" hewan, anjingnya sendiri, untuk mendapatkan uang (adegan selanjutnya Umberto menyuruh Flike mengemis dengan berdiri di atas kaki belakang sementara mulutnya mencengkeram topi yang terbuka ke atas).
Pertanyaanya bukan apakah Umberto mendapatkan uang atau tidak, tapi Umberto mendapatkan apa dan kehilangan apa?
Para dewa yang bersemayam di Pantheon tidak menolong Umberto (kendati Umberto sempat menengadah ke langit dalam gerak yang kamuflatif), seperti juga Flike kelak menjelang akhir film sempat pula membangkang dan menolak Umberto, karena Umberto memang tidak melakukan apa-apa, terus bersikeras dengan dirinya sendiri. Dalam kata-kata Umberto sendiri di sceneyang lain, "A good-for-nothing old man...."
Ya, seperti kata Bazin, ini adalah "suatu konspirasi antara kesunyian, kemuraman dan sikap diam yang keras kepala".
Tag: drama, neorealisme italia, Umberto D, VIittorio de sica
Terkait:
-
Lautan metafora itu bernama Umberto D
Senin, 10 Mei '10 04:19 -
Monsieur Lazhar [2011]
Selasa, 10 Apr '12 14:44 -
GUESS WHO'S COMING TO DINNER (1967 ; Stanley Kramer) " Calm and Sharp"
Kamis, 15 Mar '12 18:15




Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat