Masa Lalu Yang Menyenangkan 1
Rabu, 12 Mei '10 09:13
"Gak mungkin Jakmania dateng ke Bandung kalau sedang ada pertandingan Persib-Persija!" bentak lelaki bertubuh subur berwajah Sunda itu. Seseorang yang mengaku pentolan Persib yang malam itu sebenarnya adalah sosok yang memulai serangan kearah saya. Ia memprotes sebuah film yang mungkin belum pernah ia lihat sampai hari ini hanya dengan alasan "Tidak masuk akal!" Baginya kedatangan Jakmania alias pendukung Persija ke Bandung adalah hal yang mustahil. Anggapan yang sama juga berlaku di Jakarta, tidak mungkin pendukung Persib datang ke Jakarta menonton Persib melawan Persija langsung di Senayan.
Rasional dan masuk akal adalah isu utama di Indonesia, jika sesuatu tidak masuk akal seseorang dalam tingkat subyektif sekalipun maka hal itu valid menjadi tidak masuk akal dan tak akan terjadi. Pemikiran yang kemudian turut menyerbu ke cara memandang kepada sinema kita dan khusus berlaku untuk film Indonesia. Saya masih ingat sebuah film berjudul Andai Dia Tahu karya Indra Yudhistira bertahun silam, sebuah adegan sederhana seorang lelaki yang memburu kekasihnya yang sudah berada di Stasiun Gambir untuk pergi dari Jakarta menjadi adegan yang tak masuk akal, karena si lelaki memulai perjalanannya dari Bintaro, menggunakan metro mini dan bisa tiba di tujuan tidak sampai 15 menit!
Saya jadi berpikir, apakah hantu-hantu ini masuk akal ada di dunia kita? Apakah para kuntilanak itu memang rajin membunuhi manusia sehingga kita harus ketakutan melihatnya. Apakah pocong memang lebih mengerikan daripada Ibu Dara yang bisa mengejar, menggergaji leher kita sekaligus memakan daging kita? Sementara Ibu Dara menjadi karakter tak masuk akal lainnya, para hantu itu sibuk bergentayangan tanpa ada yang pernah memprotes dengan cara berhenti menyaksikan mereka di sinema.
Hot Tub Time Machine karya Steve Pink adalah film tidak masuk akal lainnya. Sebuah kisah 3 sekawan plus 1 keturunan mereka ke masa silam, mengalami kembali masa lalu untuk kemudian berusaha untuk mengubahnya. Ini bukanlah tema yang sama sekali baru 17 Again karya Burr Steers adalah contoh terbaru karya sejenin. Belum lagi karya-karya lainnya dari Hollywood yang memang sering menggunakan kisah kembali ke masa silam, meloncat ke masa depan, menjadi muda atau menjadi tua sesaat. Ide-ide yang bagi saya adalah sebuah ide mempertanyakan kehidupan itu sendiri.
Setiap manusia mengalami fase yang sama dalam hidupnya. Kita merasakan, berkeinginan, melewati dan memburu banyak hal dalam hidup ini. Kemudian adalah, seberapa banyakkah buruan itu bisa kita raih? Lebih banyak yang melewatinya begitu saja dan lebih banyak lagi merasa bahwa masa lalu sudah cukup untuk dilewati begitu saja. Anda pasti sering mendengar kalimat "Jamannya sudah lewat bagi kita," kenakalan dan keliaran adalah masa silam yang gelap.....padahal, tak ada satupun hal yang lewat begitu saja, karena era terus berubah dan tugas kita untuk mengadaptasinya bukan sebaliknya.
"Tapi kenapa orang Indonesia gak pernah punya ide bikin cerita kayak gini?" celetuk Rocky kawan saya yang terus saja ketawa sepanjang film. Sederhana, karena rasionalitas dan logiisme sangat penting dalam film Indonesia. Walau Einstein pernah mengungkapkan tentang teori melompati waktu, toh apa yang ia ucapkan itu belum juga terbukti sampai hari ini. Persoalan bolak balik waktu menjadi mustahil dan belum juga bisa dilakukan, jadi jika ini muncul di film Indonesia komentar pertama adalah "Ini sih gak mungkin," sama persis seperti saya mendengar seseorang yang duduk di belakang saya berkomentar "Bohong amat endingnya," setelah kami selesai menyaksikan Pintu Terlarang karya kawan saya Joko Anwar.
Mengapa logiisme menjadi penting dalam film produksi Indonesia? Tak ada satupun orang protes saat Rambo sendirian masuk hutan menembaki sekaligus membunuhi Vietcong sementara dirinya hanya beset-beset sedikit. Kenapa juga tak ada yang protes saat Tony Starks yang kadar slenge'annya menjadi sangat norak di sekuel Iron Man 2 karya Jon Favreau ini. Atau....ada yang pernah protes betapa jagoannya Batman si Kalong Hitam itu? Saya pun tidak protes, karena bagi saya sinema fiksi adalah sebuah karya fiksi yang memang diciptakan, dikreasikan dan dikarang oleh sineas-sineasnya. Logika bukan jadi bagian dari kisah itu....jika memang iya, Hollywood tak akan pernah bisa mempertontonkan film-film aksinya. Karena percayalah, Amerika Serikat tidak sebrutal film-film yang Anda lihat itu.
Kembali ke masa lalu adalah impian saya dan saya yakin Anda-Anda juga. Datang kembali melihat hidup kita saat itu, berusaha memperbaikinya sekaligus meraih apa yang hari ini kita ingat sebagai "keinginan masa kecil" adalah hasrat terbesar yang ingin saya kerjakan. Menyaksikan Hot Tub saya seperti terlontar ke masa saat Skid Row, Poison, Motley Crue, Metallica dan barisan band keras itu "mengamuk" setiap pagi di kamar saya. Hari-hari saat para gadis adalah hal yang membuat saya selalu "malu-malu tapi mau", saat cita-cita itu masih seperti sebuah bayangan di atas awan........sebuah kehidupan yang tentu saja tidak sama dengan saya hari ini.
Ketika teman-teman saya terus tertawa dengan keras melihat berbagai kesalah pahaman dalam film ini. Saya cenderung terdiam sembari sesekali ikut bernyanyi saat suara Brett Michaels, Vince Neill atau Sebastian Bach muncul dalam film. Melihat sikap Adam yang merasa bahwa bukan gadis itu yang seharusnya ia dekati, tapi si cantik ini....adalah "terror menyenangkan" yang sesekali memburu memori saya.
"Jika kembali ke masa silam adalah hal yang tak mungkin, kenapa tidak ada film tentang orang yang kembali muda seperti 17 Again?" sergah Rocky lagi.....well, ini adalah juga pertanyaan untuk Anda semua. Pernahkah Anda berkeinginan untuk kembali merasakan segala kesenangan saat usia Anda masih belasan tahun. Rasa senang saat Anda berpikir bahwa waktu tak akan pernah berlalu dan hidup adalah selamanya. Saat Anda berpikir bahwa Andalah pusat dari kehidupan dan lingkungan hanyalah sesuatu yang berada di sekeliling Anda.
Jika banyak dari kita memang benar rindu pada kesenangan dan kebahagiaan itu....saya rasa kisah seperti 17 Again, Big, Freaky Friday, Hot Tub Time Machine dan banyak lainnya akan banyak dibuat di negeri ini. Kita bisa bersama tertawa dan mengenang masa-masa itu lewat sinema kita......bukan sinema mereka.
Tag: sinema
Terkait:
-
Tipe-Tipe Film Perusak Cita Rasa Seni Sinema
Selasa, 10 Agu '10 13:33 -
Karena sinema memang eksplosif dalam “Inglorious Basterds”
Minggu, 15 Nov '09 23:26
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kniwe: Box Office
-
kartowidjojo: Good Take
-
jamur: Good Take
-
oksbangs: Good Take
-
discobabe: Good Take
-
JuliaJessicaJennifer: Good Take
-
Sky: Good Take

Komentar:
Kita nonton film memang untuk dibohongi. Masalahnya adalah bagaimana film maker itu membohongi kita. Tentu saja kita ingin dengan cara yang elegan. Walaupun ujung2nya ya tetap sama, dibohongi
Silahkan login untuk memberikan pendapat