Lautan metafora itu bernama Umberto D 4

Senin, 10 Mei '10 04:19

Film ini dibuka dengan sebuah tulisan yang manis: "This film is dedicated for my father". Disusul dengan background para orang-orang tua yang sedang mengadakan demo meminta kenaikan dana 20% dana pension.

Menceritakan perjuangan hidup pensiunan tua yang dulu bekerja di kantor pelayanan publik bernama Umberto bersama anjingnya yang bernama Flike. Konflik dimulai ketika pemilik apartemen (tempat Umberto tinggal) mulai menagih uang bulanan rumah secara terus menerus plus hutang yang harus dibayar Umberto. Umberto mencoba mencari jalan keluar, dari mulai menjual arloji sampai buku-buku kesayangannya. Selain harus memikirkan uang bulanan dan hutang, ia juga harus menghidupi anjingnya, Flike, kawan senasib sepenanggunannya.

Sebagai seorang sutradara Vittorio De Sica memang unik. Tidak ada sama sekali aktor terkenal yang bermain di film ini. Tokoh utamanya pun Carlo Battisti (yang berakting sebagai Umberto Domenico Ferrari) bukanlah seorang aktor. Dia seorang profesor linguistik di Universitas Florence. Film ini adalah film pertama sekaligus film terakhir yang ia mainkan.

Film ini kaya dengan gambaran yang menyimpan banyak perlambang. Dimulai di awal film: demo-demo yang digelar oleh para lelaki tua, segerombolan semut-semut dalam apartemen yang lalu diusir dengan cara menggunakan kertas yang dibakar, anjing kecil yang setia tapi sempat mengadakan pembangkangan kecil, pengucapan (atau justru saling mengejek) antara Umberto dengan pemilik apartemennya hanya dengan meneriakkan "ha ha ha" saja (ini menarik buat saya sekaligus lucu karena pengucapan itu diulang-ulang dan cukup menyebalkan juga semisal saya menjadi Umberto). Terbukti, Vittorio De Sica memang pandai untuk mengajak emosi penonton masuk kedalam "pola" yang ia inginkan melalui perlambang-perlambang yang ia atur dalam film ini.

Menganut gaya neorealism, film ini kental dengan kritikan dan latar belakang keadaan setelah perang dunia ke 2. Kemiskinan, ketimpangan antara si kaya dengan si miskin, antara yang sukses dengan yang tidak. Banyak metafor-metafor yang diumbar secara terjun bebas di sini. Wajah kemiskinan dan kepasrahan dalam menerima nasib yang sayangnya selalu tak memihak kepada kemujuran terlihat jelas dalam lakon yang dimainkan oleh Carlo Battisti ini. Menjadi orang tua, hidup dengan uang pensiunan yang tidak jelas, ditambah lagi tempat tinggal yang tidak nyaman dan tidak menentu, dan satu-satunya keluarga yang ia miliki hanyalah seekor anjing, sebuah topi dan sebuah koper.

Menjelang akhir, film ini menghadirkan metafornya yang terdahsyat menurut saya. Dan metafor ini secara kuat justru terletak pada si anjing, Flike. Bagaimana si Flike hilang, pencarian Flike, konflik batin antara mengemis atau tidaknya si Umberto untuk menghidupi dirinya sendiri dan anjingnya, lalu berujung pada pemikiran yang ekstrim: bunuh diri. Dengan raut muka yang kusut dan isi kepala yang hampir meledak karena hutang, ia mulai menyusun rencana bunuh dirinya itu. Dimulai dari rencana menyerahkan Flike kepada seorang gadis kecil di taman, lalu meninggalkan Flike begitu saja. Sampai dengan rencana bunuh diri sambil memeluk Flike di rel kereta. Apakah Umberto akhirnya tewas menabrakkan diri bersama Flike? Ataukah Umberto melepaskan Flike di detik-detik terakhir? Atau justru hanya Flike yang akhirnya sendirian terlindas kereta?

A Man is never lost at sea. Begitulah salah satu kutipan favorit saya dalam novel hebat Ernest Hermingway yang judulnya The Old Man and The Sea. Jika dalam The old man and the sea, Hemingway membuat metafor-metafor dalam tubuh nelayan tua Santiago, sampan kecil untuk menangkap ikan marlin yang besar, dan aneka rupa kehidupan pesisir di Kuba, maka dalam film ini De Sica juga membentuk metafor-metafor yang sama seperti Hemingway. Sejumlah lautan metafora yang membuat setiap penontonnya adalah seorang penjelajah laut yang tangguh yang dituntut harus mau membaca dan menyelami metafor-metafor tersebut supaya tidak hilang dalam belantara film.

 


Tag: drama, film italia, vittorio de sica, Umberto D

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

kalangwan 0 0
mugo2 aku bisa nulis ttg salah satu scene paling metaforik di film ini.

*ethok2 ga kenal*

: D
ydh 0 0
kalangwan:

wah ada mas kalangwan. salam kenal mas.
Matt Zammy 0 0
wohh.. bagi sedotan filmnya, gan..
ydh 0 0
Matt Zammy:

siap dan kapan?

Silahkan login untuk memberikan pendapat