Kritik Film di Tangan Blogger Indonesia 13

Jumat, 7 Mei '10 19:49

Beberapa tahun yang lalu, saya tidak pernah berpikir untuk menulis review film. Saya memang tergila-gila untuk membuat film, tetapi untuk berkomentar dan menuliskannya, saya merasa tidak pantas. Sampai sekarangpun tetap begitu, walaupun saya sudah punya blog review film sendiri. Saya masih merasa tidak pantas, dan kadang merasa gaya menulis saya masih biasa-biasa saja. Tapi orang bilang yang penting pede, makanya saya masih melanjutkan menulis review yang biasa-biasa saja itu. Makanya saya tidak pernah berani untuk memberikan bintang atau angka untuk sebuah film, karena saya masih belum bisa menetapkan acuan saya.


Saya ingat satu-satunya website yang menjadi kitab suci saya tentang film adalah RumahFilm dengan Eric Sasono dan Hikmat Darmawan sebagai penulis favorit saya. Situs yang memberangkatkan para redakturnya ke Cannes untuk meliput. Saya ingat betul bagaimana dengan naifnya saya memulai menulis review pertama saya-Iron Man-summer movies pertama yang keluar tahun 2008. Sayapun mencoba membandingkannya dengan beberapa review milik kritikus di luar sana, New York Times, RottenTomatoes, Roger Ebert, ah gaya kritik saya mirip-mirip. Mereka memuji akting Robert Downey, saya juga. Mereka menyebut tentang adegan laga yang tidak berlebihan, saya juga. Tetapi mulut saya ternganga membaca resensi di RumahFilm. Judul filmnya sama, ceritanya pasti juga sama, tapi kedalaman berpikir dan ide yang dibawa resensi ini sungguh cerkas. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan ulasan saya yang tampak standar. Eric Sasono memang dewa.


Setahun kemudian, saya menikmati Sinema Indonesia. Blog review milik dua reviewer Indonesia selayaknya Roeper & Ebert, dan punya gaya bercerita ala Perez Hilton. Menjatuhkan film yang seharusnya dijatuhkan, film-film Indonesia kelas tiga dengan banyak setan, baju minim, humor tidak lucu dan belahan dada kemana-mana. Film-film yang (menurut saya) tidak selayaknya tampil di layar lebar dengan omset sebesar itu. Mereka menyebut film-film kampungan Indonesia dengan sebutan ‘kancut', yang kemudian menjadi kata acuan di kitab suci makian film Indonesia. Sama kerennya dengan kata ‘akika' di kamus gaul Debby Sahertian. Sayangnya website ini tidak melanjutkan makian-makiannya yang fenomenal itu, dan nampaknya saya harus mencari website langganan baru.
Lalu, dalam kurun waktu dua tahun, saya menyaksikan bertambahnya situs/blog review film milik anak muda bangsa. Satu yang mungkin paling populer mungkin GilaSinema dan Labirin Film, blog keduanya bercerita tentang film dengan rapih dan komplit. Nampaknya, ia siap menjadi fashion tren yang siap di-follow-meminjam bahasa gaulnya anak muda sekarang-bagi para pencinta film. Setelah itu, berjamurlah blog-blog review dengan gaya menulisnya masing-masing, ada yang bercerita tentang pengalamannya menonton (VampiBots, sayabilangfilm), ada yang berfokus pada genre yang mereka kagumi saja (Horror Popcorn), ada yang membuat portal situs (Movietei), ada yang berbincang dalam forum (BicaraFilm). Tetapi semuanya mengarah pada hal yang sama, budaya apresiasi terhadap film.


Roger Ebert pernah menulis sebuah artikel tentang Golden Age of Film Critic, dan mungkin sekaranglah saatnya. Di artikelnya itu ia menulis tentang pekerjaan (mungkin lebih tepat disebut profesi) sebagai kritikus tidak mendatangkan uang, tetapi semua orang melakukannya karena mereka memang murni menikmati menulis kritik.


Kalau Amerika punya EbertFest yang juga mempertemukan para kritikus film paling masyur di bidangnya. Mungkin suatu saat, Indonesia akan punya event yang sama. Setelah para blogger mengadakan event kopi darat terbesar bernama Pesta Blogger, harusnya impian seperti ini tidak akan sulit untuk terwujud.


Tag: review, kritik, blog, blogger

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Invictus- 0 0
baca artikel ini jadi kangen komentar dodi mahendra sama ferry siregar : (
Totot indrarto 0 0
Film, seperti karya seni lain, memiliki dua ruang hidup yang berbeda. Pertama, ruang konsumsi, di mana penonton menghakimi dengan selera dan preferensi masing-masing. Kedua, ruang apresiasi, yang terepresentasikan dalam festival film dan kolom-kolom kritik. Di ruang ini film dinilai secara kualitatif berdasarkan (idealnya) metode-metode tertentu.

Keduanya sangat diperlukan, ibarat air dan oksigen bagi kehidupan manusia. Sebab, Industri film yang sehat hanya bisa tumbuh jika kedua ruang itu sama kuatnya, dan film yang sehat harus bisa hidup sama baiknya di kedua ruang tersebut.

Saya selalu bilang, membuat film hanya untuk kepentingan pasar (konsumsi) adalah anarki. Sebaliknya, berkarya cuma buat menang festival dn dipuji kritikus (apresiasi) sama anarkisnya.

Industri film Indonesia masih sangat kekurangan ruang-ruang apresiasi itu. Rumah Film (RF) dan juga BF -- apalagi dengan kontribusi orang-orang seperti Anda -- mestinya bisa menjadi ruang apresiasi yang kuat buat menyehatkan pefilman nasional.

Di NY ada New York Film Critics Forum, beranggota hanya 33 kritikus dari berbagai media di kota itu, dan setiap tahun menyelenggarakan semacam festival. Ide itu pernah mau diadaptasi di Jakarta, tapi karena inisiatornya menganggap belum banyak kritikus film yang serius di sini, anggota Jakarta Film Critics Award Forum baru lima orang (termasuk Eric Sasono).

Rencanya mereka akan menggelar festival sebulan sebelum FFI, dengan lima kritikus itu sebagai juri tetap dari tahun ke tahun. Tapi karena kekurangan dukungan sponsor untuk pembiayaan, sampai sekarang belum terlaksana. Terakhir gagasan itu sempat dibawa di TVone, tapi kelihatannya belum berhasil.

Btw, Asmayani Kusrini, redaktur RF yang meliput Cannes adalah koresponden majalah Gatra di Belanda. Maksud saya, ia ke Cannes dengan biaya Gatra, karena RF sebetulnya sejak awal dan terutama kini masih mempunyai persoalan besar dalam soal dana operasional.
Satrio Nindyo Istiko 0 0
Wah sungguh terima kasih banyak ya pujiannya untuk Labirin Film. Di saat dunia barat sana khawatir dengan keberadaan kritik film, saya rasa justru di Indonesia hal yang kebalikan akan terjadi. Mungkin ini salah satu keutungan berada di negara berkembang yang tidak secepat negara maju. Kita diberi kesempatan untuk berpikir dan memilah mana yang terbaik untuk kita. Mari kita bersemangat untuk mendukung kemajuan apresiasi film di Indonesia!
cupris 0 0
Wah, terima kasih Mas Totot atas informasinya. Saya jadi tau lebih banyak. Kalau begitu memang harusnya sudah banyak inisiatif ke arah sana ya, Mas. Mungkin lagi-lagi kita terbentur masalah yang itu-itu lagi.
sabai 0 0
cupris: napak tilas yg keren dlm posting ini!

di BF yg community based, semua membernya boleh Bicara ttg Film dengan gaya bertutur masing-masing. Nggak harus serius. Boleh juga santai, asal maksudnya jelas dan lugas.

Sebenarnya nggak cuma review film, boleh juga hal2 lain yg terkait film, misal: POSTERnya, Behind The Scene-nya, boleh juga film IKLAN alias TVC atau film indie dan film televisi. So, let's talk about movie....
zZet 0 0
nice take gan..
great sum up buat referensi reviewnya d^_^b
heartles3oul 0 0
Saya juga merindukan ulasan film gaya Sinema Indonesia...
kartowidjojo 0 0
Sebenernya saya ngga terlalu peduli dengan kritik film, sekalipun saya senang sekali menulis tentang film. Saya cuma peduli dan mendukung film dan perfilman Indonesia yang bermutu baik.
Itu aja.....
Si Pisau Terbang 0 0
baca www.andibachtiar.com reviewnya juga keren2
cupris 0 0
kartowidjojo bukannya justru hal itu yang penting, ya? Kepedulianlah yang sedang diperlukan, kebetulan saja ada beberapa orang yang menunjukkan kepeduliannya dengan menulis review / kritik tentang film. Mungkin ada beberapa orang juga yang menunjukkan kepeduliannya dengan membuat festival / pemutaran misalnya. Menurut saya memang yang penting itu adalah kepeduliannya bukan bentuknya. Walaupun yang namanya kepedulian akan lebih baik jika ada bentuk nyatanya, apapun itu.
jamur 0 0
cupris: benar. intinya adalah kepedulian.

kalo mas totot bilang "membuat film hanya untuk kepentingan pasar (konsumsi) adalah anarki. Sebaliknya, berkarya cuma buat menang festival dn dipuji kritikus (apresiasi) sama anarkisnya."

peran kita yg berada diluar proses produksi berada pada kepedulian untuk mendukung film bermutu baik.

marah karena film yg berorientasi pasar atau juga marah karena logika film hantu indonesia. tapi abai ttg perkembangan dan mutu film.. ini sih salah..

karena saya kurang peduli ttg kritik, buat saya menonton dan menulis review merupakan bagian merayakan perfilman. : D

Satrio Nindyo Istiko 0 0
jamur menurut saya, menulis review itu bagian dari kritik...coba deh buka link golden age of film critic itu.byk bgt penulis independen yg berbicara film melalui blog dan ternyata memiliki banyak pembaca setia.so......pemahaman akan bidang kritik film di jaman modern ini udh mulai meluas...gak sekaku dahulu lagi.makanya teman kita cupris ini membawakan tulisan berjudul "kritik di tangan blogger Indonesia".begitu menurut saya. : )
didut 0 0
Mantabh ..jadi tau blog2x yg bergenre film : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat