X-Men dan Burung Merak 4
Selasa, 4 Mei '10 05:01
Sebelumnya aku minta maaf, karena ini bukan review. Aku sendiri tidak tahu cocoknya tulisan ini masuk ke kategori yang mana. Jadi, mohon maaf jika kurang berkenan...
Aku sama sekali bukan penggila serial X Men. Aku juga nggak baca komiknya sama sekali. Aku mengenal X Men semata-mata karena aku tukang nonton gila-gilaan yang sanggup menonton apa saja, jika mampu. Sejak pertama kali nonton serial X Men, aku sih memang selalu suka. Meskipun kedua seri X Men yang pertama hanya tinggal sebagai kenangan blockbuster yang bagus saja. Memang bukan sekadar pengeruk kocek penonton belaka, tetapi ada sedikitlah isinya. Setidaknya selalu tersisa setiap habis nonton film-film X Men sebelumnya adalah komentar, "Wah seru juga nih film, lanjutannya perlu ditonton..."
Sayang, jarak satu seri ke lanjutannya agak jauh (rata-rata 3 tahun), lalu ratusan film bagus muncul, sampai akhirnya meninggalkan X-Men dan X2 cuma dalam ingatan, sampai X-Men: The Last Stand hadir dan meninggalkan kesan agak berbeda.
Menonton X-Men: The Last Stand, tiba-tiba aku teringat kepada Rendra - si burung merak. Lho, apa hubungannya sekelompok mutan dengan penyair kondang itu? Apakah dia juga mutan, sehingga dijuluki Burung Merak? Entahlah.
Yang jelas, ketika aku baru berusia 3 bulan 5 hari, Rendra menciptakan sebuah Puisi yang berjudul Sajak Pertemuan Mahasiswa. Tidak ada hubungannya antara bayi merah yang cakep itu dengan proses penciptaan puisi itu oleh Rendra. Meskipun sekitar dua dekade berikutnya si bayi cakep itu secara kebetulan pernah beberapa kali membacakan puisi itu dalam beberapa demonstrasi mahasiswa dan mimbar bebas mahasiswa. Tentu saja ketika itu si bayi cakep ini sudah jadi remaja tanggung.
Sajak ini konon dipersembahkan kepada para mahasiswa Universitas Indonesia di Jakarta (ada juga yang mengklaim bahwa sajak itu ditujukan Rendra bagi mahasiswa ITB, tetapi biasalah itu - namanya juga dunia politik, mungkin Rendra sendiri yang harus angkat bicara. Sayang, dia sudah tiada). Puisi ini juga dibacakan di dalam film Yang Muda Yang Bercinta (1977) yang dibintangi Rendra dan disutradarai Sjumandjaja. Film ini dicekal selama 16 tahun oleh Pemerintah Orde Baru dan baru boleh dirilis untuk publik tahun 1993. Di awal tahun 2000, film ini di-remake menjadi sinetron dan peran Rendra pun digantikan oleh Roger Danuarta. Dan kesakralan film ini pun tandas tak bersisa...
Back to the poem, dalam puisi itu Rendra bertanya, "kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga?" Waktu masih muda dulu, aku sering tidak mengerti, kok bisa-bisanya Rendra menilai bahwa yang tengah bertarung adalah maksud baik dan maksud baik. Bagiku saat itu, yang tengah berlaga adalah maksud baik dan tirani, maksud baik dan sebuah kejahatan kemanusiaan.
Menonton X-Men: The Last Stand, tiba-tiba membuatku teringat kepada Rendra. Tidak seperti kedua film sebelumnya yang disutradarai Bryan Singer, X-Men: The Last Stand disutradai Brett Ratner yang ternyata memberi arahan visual dan tuturan yang berbeda, unique in a good way ketimbang dua film sebelumnya.
Film ini menggelar sebuah pentas pertarungan antara maksud baik dengan maksud baik. Sepasang sahabat yang sama-sama menginginkan tegaknya eksistensi manusia mutan (Magnetto dan Charles Xavier), sepasang kekasih yang saling berusaha mempertahankan cintanya (Phoenix-Cyclops dan Rogue-Iceman), ayah yang ingin membebaskan anaknya dari kesakitan dan ketakutan (Warren Worthington II), anak yang ingin hidup 'normal' dengan minta diterima keberadaannya yang berbeda (Angel), diplomat yang ingin memperjuangkan aspirasi kaumnya (Dr. Hank McCoy), kaum tertindas yang ingin melawan dan mengabdi terus pada gurunya(Mystique), guru yang ingin melindungi murid-muridnya (Storm), dokter yang ingin menciptakan perdamaian (Dr. Kavita Rao) dan tentu saja sang jagoan yang terjebak antara maksud-maksud baik yaitu pertarungan psikologis untuk memilih mempertahankan cintanya atau melindungi umat manusia (Wolverine).
Aku lantas saja tersadar dengan apa yang dikatakan Rendra dalam puisi itu. Ternyata maksud baik memang bisa berujung pada jalan-jalan yang brutal dan merugikan orang lain yang juga punya maksud baik, namun memilih jalan yang lain. Tiba-tiba aku terpikir, jangan-jangan berbagai tragedi di muka dunia ternyata hasil pertarungan dari maksud-maksud baik itu. Setiap maksud ternyata menawarkan seperangkat pilihan jalur yang pada titik ekstremnya bisa menampilkan wajah yang sama sekali bertolak belakang.
Semuanya bergantung pada pilihan kita sendiri. Kadang-kadang kitapun tidak bisa menduga, melainkan cuma berharap cemas misteri hidup akan menghilang dan bahagia di akhir cerita.
Bahkan aku gak pernah menyangka bahwa aku harus menyaksikan sebuah film ultra komersil Hollywood untuk memahami sebaris puisi Rendra. Lalu, seperti tagline film ini, whose side will you be on?
Terkait:
-
X-MEN : FIRST CLASS ; BOND AND BEYOND, A REAL FIRST CLASS!
Selasa, 23 Agu '11 00:28 -
Menyimak Film Superhero di Tahun 2011
Sabtu, 13 Agu '11 02:07 -
X-Men : First Class
Selasa, 12 Jul '11 13:22

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat