Mengenang Tukang Ejek Nomor Wahid Indonesia 4
Selasa, 4 Mei '10 11:04
Banyak "penggemar film" yang merasa tuntas laiknya pergi haji, apabila telah rampung menyuntuki karya seorang sineas, lengkap dari semua katalog yang ia hasilkan. Tidak dengan saya. Saya sudah cukup puas dengan tiga karyanya saja. Perbolehkan saya untuk melesak kembali ke masa kecil saya, sekadar bernostalgia. Perjumpaan awal saya dengannya, terjadi pertama kali sewaktu SMP, tidak diragukan lagi. Berkat bantuan stasiun Televisi RCTI-lah, saya yang tinggal di kampung terpencil jauh dari fasilitas nonton film layak, berhasil menyaksikan dengan suksesnya karya sineas yang sering disebut "Bapak film komedi Indonesia" itu.
Apabila saya ingat lebih detil lagi, kecintaan saya pada aktivitas "nonton film" bertumbuh pertama kali bukan dari keluarga, namun benar - benar terpantik dari karya beliau. Sebelum saya menyaksikan karya sinematografisnya, saya menganggap film sekadar benda mati. Berkat sentuhan beliau, saya mampu melihat film dengan lebih hidup, sebagai subyek yang otonom, dapat berkelindan di dalam relung hati, dapat murung sekali - kali, dan bisa penuh vitalitas di lain waktu. Ia, sukses luar biasa menyentuh wilayah saya yang paling tidak sadar, menghidupkan tombol 'on' di otak, dan mengasah ketumpulan estetis saya.
Hanya dengan "Inem Pelayan Seksi", "Cintaku dirumah Susun", serta " Kipas - kipas Cari Angin" saya mampu mendapatkan lompatan spiritual dan imajinatif dahsyat akan keberadaan ironi, paradoks, serta satir dalam hidup. Bayangkan seorang anak SMP, masih terbata - bata dalam mengeja realitas, harus disodori dengan konflik kompleks akan wacana feminisme dan perang atas dominasi kapital akan tubuh lewat kisah di "Kipas - Kipas Cari Angin". Saya tidak pernah tahu bahwa segala macam lomba kecantikan memiliki problem ideologis yang pantas dilawan - begitu pula dengan persoalan jadi TKW ke luar negeri - dan selanjutnya menuntun saya untuk belajar semiotika, jika tidak diawali menyaksikan film tersebut di masa puber saya.
Saya pun tidak akan peka terhadap obervasi segala hal renik disekitar saya, yang terbukti amat membantu dalam latihan memahami fenomena sosial, jika tidak dibantu ketelatenan untuk mengobservasi mikrokosmos rumah susun dengan segala keruwetan dan absurditas dalam karya besarnya "Cintaku di Rumah susun". Tidak sampai pada nalar saya waktu itu, bahwa ihwal mengembalikan dompet yang jatuh dijalan, lantas berkembang menjadi cinta segi empat melibatkan residivis kocak, dapat diolah menjadi konflik yang getir namun mengusik hasrat untuk tertawa.
Tak lupa saya ingat, darinya-lah saya mempelajari pentingnya impresi bagi karya sinematografis bahkan sejak momen awalnya. Saya belum menemukan adegan pembuka dalam film Indonesia yang monumental dalam kadar absurditas yang serupa. Bayangkan awal adegan kereta bertubi - tubi secara repetitif melintas didekat tulisan "Selamat datang di kota", langsung dihantam kita dengan scene rumah susun, disusul adegan nenek bangkotan mencuri botol bir, dan waria naik tangga dicabuti bulu kakinya oleh bocah kecil yang tengah belajar mengaji di anak - anak tangga tersebut.
Tapi, tunggu dulu. Ledakan sensasi terbesar dapat anda saksikan di film-nya yang sangat menggurui, sangat anarkis, dan sangat komedik sekaligus, "Inem Pelayan sexy." Saya kurang paham, apakah latar belakang pendidikan formalnya di bidang perfilman di Amerika turut menuntunnya pada wacana posmodernisme, namun Ia membuktikan telah berusaha mempermainkan metanarasi, serta melecehkan logika cartesian, lewat tuturan kisah seorang babu dan taipan mantan tukang sate. Permainan simbolnya barangkali sekarang amat mudah didedah dengan segala macam pisau baik struktural maupun pos-struktural. Ia juga mengahadirkan realitas yang paling getir, macam realitas keberadaan kaum transeksual hingga arisan sosialita dalam satu bingkai yang sama (Nia Dinata jadi terlihat macam pengekor patuh saja), dan jangan lupa, ia hadir tanpa menghiraukan represi struktur Orde baru pula. Ejekan yang ia bangun, selalu berhasil dengan lantang bersuara di bawah ketiak mesin politik Departemen Penerangan yang bekerja laiknya panoptikon. Untuk strategi-nya menyamarkan kritikan sosial dalam setiap karyanya, ia secanggih mossad.
Tidak ada pretensi berlebihan, dialog bernas, dan minimalnya slapstik yang memuakkan. Lewat beberapa literature dan referensi digital lainnya, saya juga baru menyadari bahwa ia telah sering bermain juxtaposisi (Drakula Mantu), mewacanakan kepribadian terbelah manusia modern (A.M.B.I.S.I), ataupun parodi habis - habisan spaghetti western (Koboi Cengeng). Seperti pengakuan saya diawal, saya belum tuntas melihat semua karya - karyanya. Dan saya baru sekadar berusaha melengkapi pengalaman sinematik dengannya saya lebih jauh.
Karena dialah, saya memahami ada banyak orang hebat di dunia perfilman Indonesia masa lalu. Lewat ialah saya dituntun belajar merekam akar sinema Indonesia di diri Usmar Ismail, Sjuman Djaya, Wim Umboh, Asrul Sani, ataupun Teguh Karya. Melalui dialah saya menyadari bahwa dimensi komedi ternyata memiliki wilayah yang amat luas. Gerbang petualangan itu terbuka karenanya. Dan sejumput catatan kecil ini adalah memoar untuk melukiskan rasa hutang budi saya yang amat personal, dan ingin saya bagi ini.
Ia juga mengajari bahwa apapun itu, baik nilai, norma, inovasi, dan ideologi seni yang pantas dan tidak pantas, belum dapat hadir saat belum diperjuangkan. Ia berani mengupayakan suatu terobosan baru, dan itulah yang paling penting. Hadiah kecil ini adalah yang paling maksimal mampu saya berikan untuk mengenang beliau. Sebuah nama yang menjadi tonggak personal saya dalam memandang dunia lewat karya sinematografis. Karena sebuah nama itu, saya berjuang untuk jujur dan kritis sekaligus.
Sebuah nama itu adalah Nya' Abbas Akub.
Tag: komedi, Nya\' Abbas Akub, Kritik Sosial
Terkait:
-
Micmacs à tire-larigot
Selasa, 27 Des '11 09:37 -
POCONG MINTA KAWIN [2011]
Jumat, 28 Okt '11 21:55 -
Fresh Comedy
Jumat, 22 Jul '11 13:20
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kartowidjojo: Good Take
-
raditherapy: Good Take
-
sabai: Box Office
-
playmovies: Box Office
-
kniwe: Good Take
-
kucingsapi™: Good Take
-
Dylanism: Informatif
-
Rasjid: Good Take

Komentar:
siapa ya tokoh film yg sedasyat itu bagi gue? bagi teman2 disini?
cheers buat Gambliz!
", ia hadir tanpa menghiraukan represi struktur Orde baru pula. Ejekan yang ia bangun, selalu berhasil dengan lantang bersuara di bawah ketiak mesin politik Departemen Penerangan yang bekerja laiknya panoptikon"
sekarang ada tidak ya yg "berpola" sama seperti beliau, mengingat menara panoptikan di jaman sekarang sudah menjamur dan mengibarkan bendera-bendera yang berlainan.
Silahkan login untuk memberikan pendapat