Iron Man 2 - Jagoan Kocak yang Hampir Frustasi 13

Minggu, 2 Mei '10 06:54

It's that time of the year again, summer blockbusters are here! Seperti dua tahun lalu, petualangan Tony Stark lewat Iron Man 2 membuka rangkaian film-film Hollywood yang (diharapkan) bakal laris manis di tahun ini. Iron Man 2 masih digarap sutradara Jon Favreau dengan bintang utama Robert Downey, Jr., dan Gwyneth Paltrow.

Di Iron Man 2, dunia mulai resah dengan kenyataan bahwa sang milyader jenius Tony Stark (Robert Downey, Jr.) adalah super hero bersenjata. Dikompori kompetitor Stark, Justin Hammer (Sam Rockwell), pemerintah Amerika Serikat lewat Senator Stern (Gary Shandling) menuntut Stark membagi teknologinya dengan militer AS. Dengan logika dan gaya yang kocak, Stark berhasil ngeles dari tuntutan itu.

Padahal sebenarnya Tony sendiri tak kalah resah, kemampuan super hero yang dicemburui Hammer dan diinginkan militer itu sedang membunuhnya perlahan-lahan. Upaya mencari sumber tenaga baru pengganti palladium bagi arc reactor di dadanya belum membuahkan hasil. Di balik pembawaan yang arogan, narsis dan kocak, Stark sebenarnya mulai frustasi. Di tengah frustasinya, Stark mundur dari posisi CEO di Stark Industries dan menyerahkan tongkat kepemimpinan pada Pepper Potts (Gwyneth Paltrow), asisten pribadi yang dicintainya.

Yang Tony Stark tidak tau adalah bahwa seorang mantan residivis di Eropa Timur Ivan Vanko rupanya juga memiliki cetak biru teknologi arc reactor yang dipakai Tony di jantungnya untuk menjadi Iron Man. Dalam balapan F1 di Monaco, Vanko berhasil menciptakan kemunculan yang menggegerkan. Vanko langsung ditampung Hammer, untuk mengembangkan teknologi yang diharap mampu menandingi kehebatan Stark. Sampai berujung pada pertikaian bersenjata.

Aku rasa film ini cukup menyenangkan untuk ditonton. Well, semuanya tergantung ekspektasi ketika berangkat ke bioskop, dan aku tidak memasang target yang terlalu tinggi. Hasilnya, aku merasa dari sisi karakterisasi justru jauh lebih kuat dan menarik. Kini konflik-konflik hadir dari gesekan antar karakter itu, dan terutama terpusat di diri Tony Starks. Sayangnya terlalu banyak karakter di sequelnya ini, masing-masing punya cerita untuk diikuti. Padahal, sequel Iron Man ini tidak diangkat dari komik, ceritanya khusus ditulis untuk film ini. Maka sebenarnya cukup berani juga dalam penyusunan karakterisasinya.

Robert Downey, Jr seperti biasa memainkan perannya dengan keren. Buatku, kehadiran Scarlett Johansson benar-benar memberi kesegaran baru bagi film ini dan Don Cheadle ternyata memang lebih cool, daripada Terrence Howard yang digantikannya. Sementara Mickey Rourke pasca The Wrestler memang berada di level baru dunia akting. Memerankan Ivan Vanko, Mickey Rourke benar-benar menjelma jadi mantan residivis Eropa Timur yang penuh trauma dan dendam. The duet, Rourke and Rockwell make satisfying, complementary villains.

Menurutku, film kali ini lebih kental komedinya, sehingga kita bisa tertawa terbahak-bahak atau terkekeh-kekeh lebih sering daripada di film yang pertama. And that's a good thing for me. Aku toh sudah tidak mematok ekspektasi tinggi-tinggi, ketika bisa tertawa lebih banyak, berarti lebih baik bukan?

Kalo soal ketegaran dan kerapuhan, yah rasanya memang sudah jadi rumus film super hero jilid 2 kali ya. Makanya storyline film ini tidak jadi istimewa lagi, karena itu nikmatilah adegan kejar-kejaran dan adegan tempurnya. Meskipun, bagiku Jon Favreau tampak  belum terlalu gapai menjadi sutradara film aksi. Aksi yang terjadi tidak terlalu memacu adrenalin. Well, ada sih momen yang cukup menggetarkan, seperti pertemuan pertama Stark dengan Vanko di Monaco, atau adegan laga Johansson yang berlangsung cepat, tetapi selebihnya tidak terlalu beresonansi kepada penonton, cuma jadi hiburan di mata saja.

Iron Man 2 memang bukanlah The Godfather. Tak perlulah mengharap sequel-nya akan sebanding atau lebih baik daripada film pertamanya. Yang jelas, bagiku film ini cukup menghibur, daripada beberapa film super hero di musim panas tahun lalu.


Tag: comedy, action, robert downey jr, Scarlett Johansson, summer blockbuster, marvel, gwyneth paltrow

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

ndoet 0 0
[...Iron Man 2 memang bukanlah The Godfather. Tak perlulah mengharap sequel-nya akan sebanding atau lebih baik daripada film pertamanya....]

kalo begitu, what's the point of making a sequel?
sabai 0 0
ndoet: the point is: SALES : )
isn't that obvious...
ndoet 0 0
sabai: yap, dry, cold, and flat sales
warm 0 0
pokoknya saya penasarn, pengen nonton hari senin, pas nomat : D
jamur 0 0
nice review.

[...Iron Man 2 memang bukanlah The Godfather. Tak perlulah mengharap sequel-nya akan sebanding atau lebih baik daripada film pertamanya....]

: D perbandingannya sih wajar saja. tapi merayakan dan menikmatinya lebih penting.
JuliaJessicaJennifer 0 0
ndoet: point-nya ya benar kata @sabai95: SALES! Aku cuma menawarkan perspektif, kalo nonton film ini dengan ekspektasi seadanya, filmnya malah menarik dan bikin ketawa berkali-kali. Kalau gak percaya, silakan coba sendiri...
JuliaJessicaJennifer 0 0
jamur: terima kasih komentarnya...
JuliaJessicaJennifer 0 0
ndoet: bukannya kebanyakan sequel super hore memang dibikin atas nama sales ya?
kniwe 0 0
Sutralah, jadi filmnya layak tonton gak nih????
kniwe 0 0
JuliaJessicaJennifer: Super hore, bener juga : p
Inigo52259 0 0
Mending nonton ip man 2 aja, lebih menghibur... hehehe...
ndoet 0 0
JuliaJessicaJennifer: itulah derita orang yg ketinggian ekspektasi kyk gue : )

yah, sepertinya gw terlalu berpositive thinking sama film ini. sebenernya dulu udah curiga kalo filmnya bakal agak garing, soalnya tokohnya banyak banget.bayangin aja penjahatnya ada 2, plus ada black widow, plus nick fury, plus rhodes jatahynya pasti tambah karena ada war machine.
ya, ga jelek2 amat sih filmnya. tapi tetep gw kecewa : D
oksbangs 0 0
Inigo52259: tergantung sih, mencari hiburan kayak gimana...

Silahkan login untuk memberikan pendapat