Sindiran dan Ejekan yang Terlalu Telanjang 17

Sabtu, 1 Mei '10 18:39

Perfilman Indonesia -- apa boleh buat -- masih selalu membutuhkan Deddy Mizwar buat mendekatkan film dengan kenyataan sehari-hari. Dan itu berarti: dengan penontonnya.

Setidaknya, Deddy-lah yang selama ini paling konsisten menjadikan film-filmnya sebagai refleksi berbagai persoalan faktual masyarakat. Sesuatu yang belakangan semakin hilang atau dilupakan hingga semakin menjauhkan film Indonesia dari penontonnya.

Setelah mempertanyakan nasionalisme generasi muda bangsa di Nagabonar Jadi 2, kini dalam Alangkah Lucunya (Negeri Ini) Deddy menyoal banyak hal yang menurutnya “gak bener” -- hingga kelihatan “lucu” -- di negeri ini.

Begitu banyak “kelucuan” yang mau diledek Pak Haji, begitu Deddy Mizwar kerap disapa, sampai membuat film ini bagi sebagian penonton terasa verbal dan sesak. Kendati, sebetulnya, di dalam bangunan cerita cuma terdapat dua narasi pokok. Pertama, mempertanyakan kualitas dan moralitas sistem pendidikan di Indonesia. Kedua,  menggugat ketidakpedulian negara terhadap nasib anak-anak miskin dan terlantar.

Untuk membungkus dua narasi besar besar tersebut Pak Haji tetap setia pada premis favoritnya: sejatinya semua persoalan kehidupan, termasuk kebingungan yang tercipta darinya, bisa diselesaikan dengan berpegang pada moralitas agama.

Kali ini premis itu dikemas secara elegan dalam bentuk pengharaman terhadap uang hasil mencopet. Dan karena di dalam cerita ia menganalogikan koruptor sebagai “pencopet berpendidikan”, maka pesan moralnya terang-benderang: hidup dari uang korupsi itu dosa!

Pipit (Ratu Tika Bravani), Samsul (Asrul Dahlan), dan Muluk (Reza Rahadian) adalah potret dari banyak -- kalau bukan kebanyakan -- produk sistem pendidikan kita. Kualitas pendidikan macam apa sebenarnya yang diberikan kepada generasi muda bangsa ini apabila bahkan lulusan perguruan tingginya seperti tidak memperoleh nilai tambah apapun buat memperbaiki kehidupannya? Malah sebaliknya, cuma melahirkan generasi putus asa.

Sistem pendidikan yang sama juga melahirkan oportunis norak seperti calon anggota DPR Jupri (Edwin). Dan agak jauh dari kehidupan warga sekampung Muluk, ada banyak orang berpendidikan di Gedung DPR/MPR, Senayan, yang moralitasnya tidak lebih baik dari para pencopet buta huruf.

Pipit, anak Haji Rachmat (Slamet Rahardjo), memilih jalan pintas untuk kaya dengan mengikuti segala macam undian dan kuis berhadiah. Samsul, sarjana pendidikan, menghabiskan waktu bermain gaple di pos ronda. Sedangkan Muluk, sarjana manajemen, sia-sia setiap hari berkeliling mencari lowongan pekerjaan tanpa punya koneksi.

Tak mengherankan jika di atas realita semacam itu orang-orang yang menyimpan idealisasi pentingnya pendidikan seperti Pak Makbul (Deddy Mizwar), ayah Muluk, jadi tampak lebih bodoh dan “gila” dibanding kaum pragmatis serupa calon besannya, Haji Sarbini (Jaja Miharja). Lucunya lagi, di tengah pragmatisme semacam itu masyarakat masih memiliki gengsi tinggi dan merendahkan pekerjaan peternak cacing yang semula mau dilakoni Muluk.

Maka, sebagaimana umumnya kita, Muluk memilih pekerjaan yang lebih terhormat:  “proyek sumber daya manusia” bersama Pipit dan Samsul. Padahal yang dilakukan “cuma” mengelola uang kelompok pencopet cilik sekaligus mengajari mereka sejumlah pelajaran dasar sebagai bekal buat jadi pengasong. Pekerjaan yang dalam standar ganda masyarakat rasanya juga bakal dibilang “enggak banget deh”.

Sekitar separuh durasi film dihabiskan buat menceritakan lika-liku proyek idealis Tiga Sekawan itu. Tentu tidak mudah meyakinkan dan mengajak anak-anak yang sesungguhnya tidak -- atau tepatnya belum -- memiliki problem itu untuk menjadi lebih baik.

Apa ukuran “lebih baik”? Selama ini mereka baik-baik saja: kerja gampang, banyak uang, hidup senang. Itu kan kehidupan yang sudah lebih baik dibanding Muluk dan dua temannya, yang cuma mendapat bayaran dari kutipan 10% penghasilan mereka. Lagi pula, buat apa belajar untuk jadi lebih baik jika orang-orang yang sudah bersekolah tinggi seperti anggota DPR pun pekerjaannya tidak lebih baik dari mereka: mencopet juga.

Apalagi kemudian terbukti, di bagian akhir, anak-anak yang beralih profesi menjadi pengasong nyatanya tidak naik derajat menjadi lebih baik di mata negara, yang direpresentasikan oleh Satpol PP.

Begitu banyak pertentangan pikiran dan dilema moral yang tersembul, dan seharusnya bisa dieksplorasi jadi sangat menarik, dari cerita sederhana tersebut. Tapi justru bagian ini menjadi titik lemah Alangkah Lucunya (Negeri Ini).

Deddy Mizwar dan penulis skenario Musfar Yasin sebetulnya menggunakan resep yang sama dengan Nagabonar Jadi 2. Bedanya, kali ini tidak sesukses di film sebelumnya.

Jika di Nagabonar karakter nasionalis Jenderal Naga (warisan Asrul Sani) dipertentangkan dengan cara pandang neonasionalisme anak-anak muda zaman sekarang, dalam Alangkah Lucunya pikiran-pikiran intelek kaum terpelajar dibenturkan dengan kepolosan dan kebodohan anak-anak jalanan.

Dalam konstruksi drama satir, pertentangan dua keyakian, pikiran, dan cara pandang yang bertolak belakang itulah yang dipermainkan sedemikian rupa buat memercikkan kelucuan-kelucuan yang menyindir atau mengejek, alias satire. Pada Nagabonar berhasil, tapi di Alangkah Lucunya lebih sering gagal.

Kali ini Deddy dan Musfar tidak sukses mungkin karena pertarungan gagasan di dalam film ini tidak berlangsung seimbang atau sama kuat sebagaimana di Nagabonar. Skenario sejak awal terasa tidak netral, terlalu berpihak pada intelektualitas dan standar moral Pak Makbul yang disuarakan Tiga Sekawan. Perspektif para pencopet cilik terabaikan.

Jarot (Tio Pakusadewo), bos para pencopet cilik, yang mestinya mewakili “ideologi hitam”, digambarkan pasif dan malah membela Muluk, karena ternyata diam-diam mau bertobat. Saya tadinya mengira Jarot bakal sering hadir membela anak-anak buahnya, sehingga konflik “ideologi hitam” vs. “ideologi putih” itu berlangsung seimbang, dan banyak sindiran atau ejekan lucu bisa muncul dari sana.

Pada Alangkah Lucunya (Negeri Ini) sindiran dan ejekan itu, meski juga banyak yang lucu, tampil terlalu telanjang. Bukan hasil “kolaborasi” dua kutub pemikiran yang berseberangan seperti di Nagabonar Jadi 2 dan banyak film drama satir bagus lainnya.

Dalam film yang diniatkan buat meledek seperti ini, ketelanjangan, ternyata, tidak asyik. Barangkali juga tidak efektif, pada akhirnya, karena cara penyampaian langsung begitu terlalu biasa, atau sudah sering dilakukan orang lain. Terutama oleh orang-orang sinis dan pemarah, yang kita tahu sekarang makin banyak jumlahnya.

Atau barangkali dari dulu juga sudah banyak, tapi karena belum mempunyai media (sosial) pribadi seperti sekarang, jadi tidak terdengar suaranya.

-----

Bisa dibaca juga di pakde.com


Tag: Deddy Mizwar, alangkah lucunya negeri ini

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

warm 0 0
endingnya sedikit maksa sih
tapi pesan moralnya dapet
Totot indrarto 0 0
warm:

Maaf, kalau penjelasan saya di bawah ini gak nyambung, anggap saja semacam penjelasan tambahan buat tulisan di atas.

Kita sering mendengar berita penangkapan pengasong oleh Satpol PP. Tapi ketika hal itu ditampilkan dalam sebuah film, maknanya jadi berbeda karena telah mendapat konteks, yaitu pamaknaan baru melalui sebuah rangkaian teks, scene, dan sequence yang koheren, atau saling terkait dan mempengaruhi.

Dalam film ini konteksnya begini. Setelah sebelumnya secara halus digambarkan bahwa uang hasil mencopet itu haram hukumnya dalam Islam (melalui scene Pak Makbul gula, teh, kopi dll kepada Muluk, dll.), scene penangkapan pengasong jadi terasa sangat menohok. Dengan cara seperti itu si seniman (pembuat film) -- atau karya seni pada umumnya (termasuk film) -- bermaksud membangkitkan kemarahan penonton kepada negara. Setidaknya supaya berpikir, "Ini gimana siiih!!! Udah capek-capek kerja halal masih juga diperlakukan kayak kriminal!!!"

Cara semacam itu menurut saya lebih asyik dan efektif ketimbang, misalnya, menampilkan tokoh dalam film yang berkata-kata seperti itu. Verbal.

Itulah gunanya kesenian, IMHO. Dan film, sebagai bagian dari kesenian, menyediakan ruang estetika yang nyaris tanpa batas buat melakukan sublimasi wejangan bahkan provokasi secara elegan dan subtil seperti itu.

Oleh karena itu saya senantiasa mengajak para pembuat film untuk mendekati dan membuat film sebagai karya seni. Sebaliknya, saya juga gak akan pernah capek mengajak teman-teman penonton buat mengapresiasi film sebagai karya seni, yang memliki banyak teks, konteks, dan makna buat dibaca dan ditafsirkan sesuai preferensi kita masing-masing.

Selamat menonton, dan berbicara! : )
Totot indrarto 0 0
@ Editor: gak bisa edit komentar ya? : )

Maaf, typo komentar di atas:

(melalui scene Pak Makbul gula, teh, kopi dll kepada Muluk, dll.) seharusnya (melalui scene Pak Makbul MENGEMBALIKAN gula, teh, kopi dll kepada Muluk, dll.),
kalangwan 1 suka | 0
Kesan saya setelah menonton film ini: Deddy hidup dengan kepala yang penuh dengan kemuakan dan kejengkelan pada realitas ke-Indonesia-an, dan kepenuhan kepala akan kemuakan dan kejengkelan itu terbawa-bawa saat ia men-direct ini film, seakan ia tak mengambil jeda sedikit pun dari kemuakan dan kejengkelannya. Hasilnya: sebuah film yang terlalu penuh dengan sinisme, terlalu kebak dengan kejengkelan. Sehingga jadinya adalah: ketelanjangan ledekan yang sambung sinambung.

Mari berharap saja kejengkelan dan kemuakan Deddy ini tidak menjadi belacu : D
kniwe 0 0
Totot indrarto: kalo penulisnya semestinya bisa edit komentar...
sabai 0 0
kniwe: nggak bisa Wink, begitu pula di politikana, ngerumpi dan sahabat dagdigdug lain. Paling bener yg ya dilakukan Pakde, meralat melalui komentar berikutnya....
sabai 0 0
nah soal filmnya.
Ceritanya tidak tuntas. Tokoh gadis manis berjilbab yg diincar Muluk & bersaing dg Jupri tiba-tiba hilang gitu aja.

Penempatan beberapa merek yg terlalu kasar, repetitif & tidak pas dengan konteks juga sangat mengganggu. Masak sekelompok bapak2 berkopiah saban ngobrol ngemilnya Sozis? Muluk yg uangnya ngepas selalu minum minuman isotonik entah apa merknya, termasuk saban makan di kaki lima? Dan merk motor yang slogannya selalu diucap presenter kuis tv itu... ah sudahlah.

Padahal masih banyak cara bermain cantik dalam menyelipkan sebuah brand. Tic Tac dalam film Juno salah satunya. Dengan BCU consumption shot yg indaaaah sekali, tapi karena pas konteksnya, jadi tidak mengganggu, malah memperkuat cerita.

Anyway, cukup dgn menutup mata pada 2 poin diatas, maka Alangkah Lucunya sangat menarik ditonton : )
warm 0 0
Totot indrarto: ya ya saya berusah mengerti pakdhe,
tapi di luar pesan yang tersirat itu

maksud saya dibanding film pak deddy mizwar sebelumnya, seperti kiamat sudah dekat, kan endingnya lebih soft landing *halahh istilah apapula itu*

pokoknya demikianlah, tapi overall, saya penasaran juga kok sampe film berakhir : D
Totot indrarto 0 0
sabai:

Tokoh utama dalam subplot "persaingan" Jupri vs. Muluk IMHO bukanlah si Rahma, anak Haji Sarbini, melainkan Jupri, yang merupakan representasi dari kenorakan orang-orang berpendidikan yang mengaku wakil rakyat. Mereka itu dalam narasi tentang buruknya moralitas sistem pendidikan kita -- sering disinggung dalam "sekolah" para pencopet cilik, tapi hanya ditampilkan representasinya melalui karakter Jupri -- oleh Deddy digambarkan sebagai "anak haram" sistem pendidikan negeri ini. Subplot itu kemudian dituntaskan dengan scene-scene yang melukiskan bahwa rakyat yang bodoh ini ternyata tidak gampang tertipu oleh oportunis semacam itu.

Btw, Muluk dan Rahma menurut saya memang dijodohkan oleh kedua orang tua mereka, dan keduanya menerima perjodohan itu, tapi memang berhubungan (pacaran) dengan gaya Islami ala Deddy Mizwar, bukan gaya Nayato misalnya. Jadi gak tepat juga kalau disebut Muluk mengincar Rahma.

Soal product placement, batasan "kasar" atau "tidak kasar" IMHO seperti ini:

Kalau ia cuma bagian atau diselipkan dalam scene yang relevan dan koheren, saya kira gak masalah ya. Beda kalau misalnya untuk keperluan itu sampai harus dibuatkan sebuah atau beberapa scene khusus, yang melenceng dari narasi besarnya. Itu baru bisa dibilang kasar.

Jadi bahkan product placement dalam kuis televisi itu -- di luar durasinya yang terlalu panjang -- masih bisa diterima, karena cuma bagian dari scene yang menggambarkan keputusasaan Pipit yang konon sarjana D3 itu.

Tentu juga mesti dipertimbangkan soal logic atau gak logic seperti Sabai singgung. Meskipun -- selalu meski diingat -- ukuran "logic" dalam menilai film adalah inner logic (logika dalam) yang dibangun dalam film itu, bukan logika kita sehari-hari. Sebab, setiap film punya logika dalamnya sendiri-sendiri.

Di luar itu, saya mempunyai permakluman pribadi karena mengetahui kondisi perfilman kita yang sedang gawat. Ongkos produksi makin mahal sementara potensi revenue (akibat monopoli peredaran, turunya harga tiket, dll) semakin mengecil.

Tapi, sekali lagi, itu permakluman saya pribadi. Gak udah ikut-ikutan. : )
oksbangs 0 0
Oke, setelah dijelaskan seperti ini saya jadi sedikit lebih paham bagaimana caranya memahami maksud Deddy Mizwar membuat film yang begini preachy. Bahwa ada simbol-simbol yang coba diungkapinnya lewat film ini.

Tetapi kalau memang demikian, apakah kira-kira Deddy Mizwar tidak mempertimbangkan daya tahan penontonnya saat dijejali pesan-pesan moral sedemikian padat? Apakah beliau tidak khawatir bahwa kalau kebanyakan diceramahi, penonton malah jadi tidak menangkap apa-apa selain ekspresi seorang yang punya aspirasi politik, tetapi gak kesampean.

Btw, tulisan ini bagus sekali...
ajiadityajunior 0 0
oksbangs: film ini memberikan bias efek yang lumayan bagi saya dan istri pasca menyaksikannya, mungkin itu bisa dijadikan parameter absurd tentang tersampaikan tidaknya maksud dan pesan yang katanya berjelan daitu, mas 9at least untuk saya pribadi)
Titiw 0 0
Tulisan ini baguuus sekali.. Secara keseluruhan, film ini memang bukan sesuatu yang WAH, tapi sangat sangat realistis. Tapi, review ini spoiler banget ya, endingnya dikasih tau, untung saya udah nonton, hihi.. sekedar share aja loh pakdhe.. ; )
volt 0 0
nah saya suka dan setuju dengan komentar kalangwan
Totot indrarto 0 0
oksbangs: Kalau melihat filmografi Deddy Mizwar, yang memang masih sangat sedikit, saya kok merasa dia bukan jenis sutradara yang suka berceramah secara langsung. Deddy bahkan termasuk sedikit sutradara kita yang percaya pentingnya sublimasi penyampaian pesan.

Salah satu cirinya, dia selalu membuat film yang terbuka untuk dibaca dan diinterpretasikan oleh masing-masing penonton. Cobalah periksa lagi semua review mengenai film-filmnya. Kita akan terbingung-bingung karena satu review dan review yang lain bisa berbeda bahkan dalam hal paling mendasar, yaitu mengurai narasi dan makna filmnya.

Di Alangkah Lucunya, seperti saya tulis di atas, problemnya ada pada kegagalan skenario membangun "diskusi" atau "kolaborasi" antara Kebaikan dan Keburukan.

Ketika si Baik mengatakan kebaikan, misalnya, itu sebetulnya bukan ceramah buat kita, para penonton, melainkan buat si Buruk di dalam film. Seharusnya si Buruk melawan atau menegasi ceramah itu dengan keyakinan dan perspektifnya sendiri hingga membuat si Baik ragu, atau bahkan tidak yakin lagi dengan ceramahnya sendiri.

Nah, perlawanan atau negasi itulah yang MESTINYA memunculkan banyak satir. Dan satir itulah sebetulnya pesan terselubung Deddy buat kita bawa pulang.

Pada Nagabonar, ia berhasil. Tapi di sini sering gagal. Akibatnya, karena tidak memperoleh cukup satir buat kita serap dan bawa puang, ceramah-ceramah itulah yang kita sangka pesan Deddy buat kita.

Titiw: Aduh, maaf, spoiler ya? : )
Totot indrarto 0 0
Tambah buat oksbangs: Salah satu contoh "diskusi" dan "kolaborasi" yang berhasil dalam Alangkah Lucunya adalah tek-tok antara Muluk dan Samsul soal penting atau tidak pentingnya sekolah, yang memunculkan satir: "Kalau lu gak berpendidikan, lu gak akan tau bahwa pendidikan itu gak penting."

Begitu juga tek-tok antara Pak Makbul dan Haji Sarbini, yang ditengahi oleh Haji Rachmat, dan boleh dibilang tidak pernah menghasilkan "kesimpulan" apa-apa selain kelucuan-kelucuan yang menyindir dan mengejak.

Idealnya, begitulah tek-tok antara Muluk cs. dan para pencopet cilik berlangsung....
Donald Duck 0 0
Akting Samsul ketika berteriak2 memohon kepada Muluk, keren
jim96 0 0
kita tunggu penyempurnaan selanjutnya dari om deddy mizwar.

kenapa nagabonar 2 (lebih) berhasil? sepertinya karena proses pematangan ceritanya lebih panjang. jadi hasil akhirnya terlihat cukup maksimal.

bahkan pakem nagabonar yg kadung dipahami banyak orang, justru di'pleset'kan deddy mizwar masuk ke kritik sosial sebagaimana karya dia belakangan.

untuk alangkah lucunya ... barangkali deddy terlalu banyak beban untuk mengkritik sampe lupa tentang keseimbangan dari film itu sendiri.

Silahkan login untuk memberikan pendapat