Baaria: Tornatore dan "Tangannya yang Pendek" 1

Jumat, 30 Apr '10 14:06

Saya tidak tahu siapa lagi sineas selain Giuseppe Tornatore yang tak pernah kehabisan tenaga untuk lagi dan lagi menghadirkan kampung halamannya ke layar lebar. Setelah Malena, L’Umomo della Stelle dan dengan puncaknya yaitu Cinema Paradiso, Tornatore kembali datang membawa cerita tentang Sicilia, kampung halamannya, melalui film bertajuk Baaria, sebutan dalam dialek Sicilia untuk kota kecil Bagheria, kampung halaman Tornatore (secara etimologi, Bagheria berarti "...land that descends toward the sea").

Jujur saja, bayangan saya tentang Sicilia sudah penuh dengan gambaran versi Tornatore seperti yang saya lihat melalui Malena, L’Umomo della Stelle dan terutama Cinema Paradiso. Film terakhir itu, bagi saya, bahkan sudah sangat penuh memberikan gambar-gambar tentang Sicilia. Sejujurnya, sekali lagi, saya tidak yakin masih ada ruang yang tersisa –bahkan bagi Tornatore sekali pun—untuk menampung gambaran baru tentang Sicilia.

Tornatore sendiri berdalih bahwa Baaria bukan hanya sekadar bicara tentang Sisilia. Katanya, “The film doesn't want to be just about Sicily, Sicily, Sicily. The idea was to tell the life of a chorus of characters inside a microcosm, which is a village, where you hear continually the echo of everything is happening around you, the echo of everything that is happening far away."

Ada tiga kata kunci di situ: chorus (any utterance produced simultaneously by a group), echo (repetition of a sound by reflection of sound waves from a surface) dan microcosm (jagat-kecil). “A village” yang disebut Tornatore di atas, yaitu Bagheria, menjadi panggung di mana echo, chorus dan microcosm itu tergelar, dipanggungkan, juga diperdengarkan.

Terus terang saja, menyimak ucapan itu, saya langsung khawatir. Semua kata-kata Tornatore tentang echo, chorus, dan microcosm buat saya seperti sedang mendeskripsikan sendi-sendi yang menjadi pilar utama kekuatan Cinema Paradiso. Apalagi dalam salah sesi wawancara dengan Amaury Perez, Tornatore tanpa segan-segan mengakui bahwa “…Cinema Paradiso and Baaria are totally connected. There are two stories that are linked each other. They could even be a single film.”

Hmm, sepertinya Tornatore memang sedang mencoba melampaui pencapain yang dibuatnya sendiri melalui Cinema Paradiso, sebuah upaya berbahaya karena dilakukan dengan tidak-bisa-tidak melekati jalur yang sudah dilewati Cinema Paradiso. Maka, dengan penuh antusias, saya melewati menit demi menit Baaria, mencoba menyelami cara Tornatore menghadirkan Sicilia kembali seraya menakar seberapa mampu dia mengentaskan resiko yang berasal dari gema panjang yang ditinggalkan Cinema Paradiso sejak 1989.

Seperti halnya Cinema Paradiso, Baaria juga menghadirkan tokoh utamanya (Peppino) dalam satu perkembangan riwayat dari kecil sampai tua. Bedanya, Baaria tidak hanya menghadirkan tiga zaman yang melewati si tokoh seperti dalam Cinema Paradiso, tapi juga mengisahkan tiga generasi yang berbeda (generasi ayah Peppino, generasi Peppino sendiri, dan generasi anak-anak Peppino). Jadilah Baaria ini menjadi cerita panjang tentang tiga zaman yang dialami si tokoh utama sekaligus epik tentang tiga generasi Bagheria yang berbeda. Peppino sendiri, seperti kebanyakan orang di Bagheria, hidup dalam kemiskinan yang laten. Kesulitan ekonomi dan dominasi para tuan tanah yang tak terkalahkan membuat Peppino remaja tertarik pada komunisme dan bergabung dengan Partito Communisto Italiano (PCI). Sejak itulah, hidup Peppino penuh dengan aktivisme politik dan (tentu saja) kisah cintanya dengan Mannina yang kelak memberinya banyak anak. Pelan tapi pasti, karir politik Peppino merangkak naik. Beberapa kali Peppino harus pergi dari Bagheria, tapi Bagheria tak pernah menghilang dari layar.

Wajah Bagheria ditampilkan dalam karnaval adegan yang sambung-sinambung, beberapa di antaranya peristiwa besar (pesawat yang menjatuhkan bom, penjarahan rumah-rumah mewah, pengambilalihan tanah secara paksa, konvoi massa PCI), sebagian terbesar lainnya kejadian remeh temeh sehari-hari (anak-anak bersekolah dan bermain gasing atau menggembala sapi dan kambing, ibu-ibu memasak dan menjahit, lelaki dewasa nonton film bisu di bioskop, kehidupan di perkebunan milik para tuan tanah, juga beberapa kelakuan konyol warga Bagheria).

Beberapa scene itu sangat bertenaga, seperti saat seorang asing menanyakan buku Marx pada pemilik toko kecil yang dulunya seorang penyair (permainan iseng mendesiskan bunyi huruf 'S" di ujung nama Marx itu lucu), atau seorang politisi tua yang berorasi dengan suara mengguntur tapi tiap setengah menit minta air minum pada ajudanya, juga adegan di mana Peppino dan Mannina mengunci dirinya di sebuah kamar sebagai perlawanan atas niat orang tua Mannina menjodohkan anaknya dengan anak seorang kaya. Scene-scene itu seperti serakan fragmen yang tidak bertaut tapi juga bertaut, yang satu sama lain kuat sebagai dirinya sendiri, sehingga beberapa scene yang terkuat itu bisa saja ditampilkan sebagai sebuah film pendek.

Terutama selama 20-30 menit pertama, diiringi orkestra sayup-sayu sampai tanpa henti besutan Morricone, melalui mata bocah nakal Peppino, Tornatore sukses menghadirkan apa yang disebutnya sebagai “chorus” dari kehidupan yang berlangsung di Bagheria. Tornatore, harus diakui, memang piawai membentangkan dunia melalui mata anak kecil/remaja, seperti yang dilakukannya melalui sudut pandang Toto kecil dalam Cinema Paradiso, remaja puber Renato dalam Malena atau 1900 kecil dalam The Legend of 1900.

Sayangnya, pelan tapi pasti, Tornatore tampak mulai kehilangan konsentrasi untuk meletakkan rangkaian scene itu ke dalam satu kesatuan naratif yang meluncur dengan mulus dan bercerita dengan lancar. Beberapa scene yang bertenaga timbul-tenggelam dalam parade scene yang ribut, hiruk pikuk, dan riuh rendah. Adegan sangat menyentuh saat Peppino harus membuat peti mati untuk bayi pertamanya yang keguguran yang disusul dengan langkah kaki Peppino yang gontai mengusung peti mati layaknya menggotong peti berisi telor di kios-kios tak menyisakan gema yang panjang (‘echo”, dalam kata-kata Tornatore di awal), karena entah kenapa Tornatore dengan entengnya langsung masuk pada scene berikutnya lalu tiba-tiba saja pasangan Peppino-Mannina sudah punya anak lagi.

Problem terbesar yang gagal dipecahkan oleh Tornatore terletak di situ. Tak ada sedikit pun keberatan saya dalam soal teknis atau sinematografi maupun akurasi historis dari dekorasinya. Semuanya klimis dan meyakinkan. Hanya saja, alih-alih berhasil menghadirkan apa yang disebutnya “…to tell the life of a chorus of characters inside a microcosm”, Tornatore malah terjebak pada serangkaian adegan-adegan mikro (yang beberapa di antaranya sebenarnya cukup bertenaga dan penuh warna) yang membuat keseluruhan adegan-adegan itu lebih mirip “sebuah mini seri yang dipaksakan tampil sebagai film lepas”.

Pada Baaria, saya merasakan sejenis “kemewahan” Italia Utara pada sebuah film yang –ironisnya—bercerita tentang sebuah pojok di Italia Selatan yang terkenal dengan kesederhanaannya, kemiskinannya, juga keterus-terangannya. Budget besar untuk ukuran dunia sinema Italia yang diberikan pada Tornatore, dengan lama syuting mencapai 25 pekan di Italia dan Tunisia, melibatkan nama-nama tenar Italia (termasuk “kitsch” saat Belluci muncul beberapa detik hanya untuk memamerkan tetek kirinya yang besar), berikut 200 lebih aktor, juga nama Morricone sebagai music director, plus fakta bahwa film ini menjadi film pertama Italia yang menjadi pembuka Festival Film Venesia sejak 20 tahun terakhir, menjadi catatan kaki atas ‘kemewahan” yang dihadirkan Tornatore.

Bandingkan dengan Cinema Paradiso (lagi). Tanpa berpretensi gagah, Tornatore justru mampu menghadirkan tekstur sebuah kota hanya melalui sebuah dunia-kecil (betul-betul mikro-kosmos) bernama bioskop. Tapi dengan sangat memukau, melalui interaksi di dalam dunia-kecil bernama bioskop itulah, Cinema Paradiso mampu berbicara tentang politik, moralitas, agama, komunalisme, adat istiadat, sejarah keluarga, folklore, perang dan segala tetek bengek kehidupan sehari-hari yang remeh temeh dengan mewah tanpa kehilangan kesederhaan hidup khas Italia Selatan.

“Kemewahan” (bisa pula dibaca “kerumitan” yang sophisticated) tampak pula pada bagaimana film ini dibuka dan ditutup dengan adegan yang sama tapi dengan sekuen waktu yang berbeda, di mana masa lalu dan masa kini bertatap muka (saya teringat teknik Arundhati Roy dalam The God of Small Thing dalam soal adegan pembuka dan penutup ini). Adegan penutup Baria sebenarnya cukup puitis, dengan pintalan makna yang samar-samar sehingga memaksa penonton untuk berpikir apa maksudnya.

Tapi, percayalah, kesamaran itu terlalu gelap untuk dibongkar dengan mudah, sehingga kesamaran pesan lewat adegan yang sebenarnya puitis itu jadi tampak tak lagi puitis, tapi (dirumit-)rumit(kan).

Ini sebenarnya masih “satu garis” dengan cara Tornatore mengakhiri Cinema Paradiso yang juga mempertautkan masa silam dan masa kini, bedanya pertautan itu dihelat dengan cara sederhana dan jauh dari rumit tanpa kehilangan kesublimannya: Toto tua bertemu dengan Toto kecil melalui potongan-potongan slide film yang ditonton oleh Toto tua dengan mata berkaca, diiringi score besutan Morricone yang tetap menyentuh kendati sebelumnya sudah muncul berkali-kali.

Rangkaian scene dalam Cinema Paradiso itulah yang disebut Tornatore sebagai "chorus", bioskop itulah yang disebut Tornatore sebagai “microcosm” dan penutup Cinema Paradiso itulah yang disebut "echo" oleh Tornatore: ya, "echo", bergema dan memantul sampai jauh, far away… dan itu tidak ditemukan melalui Baaria yang rumusannya didengungkan dengan ambisius oleh Tornatore sendiri.

Yang tertinggal dari Baaria adalah serakan cerita tentang bocah-bocah nakal (yang tidak akan melampaui kebangoran si kecil Salvatore di Vita alias Toto), kasih sayang para orang tua Bagheria yang nanggung (yang susah mencapai taraf hubungan anak-orang tua dalam Malena yang kaya warna), atau perjuangan ideologis anggota PCI yang terasa tak lebih sebagai upaya memperbaiki kesejahteraan keluarga sendiri (bandingkan dengan Ladri di Biciclette-nya Vittorio de Sica yang luar biasa kuatnya menggambarkan kesenjangan kelas).

Harus saya akui, ada banyak simbol dan metafora Tornatore yang sangat menggoda untuk dipecahkan, seperti tentang ular hitam yang muncul beberapa kali, soal gasing pecah yang mengeluarkan lalat hidup atau apa arti alegori telur bagi masyarakat Sicilia (saya ingat alegori dari ikan dibungkus rompi dalam Godfather yang menjawab soal nasib Luca Brasi). Tapi barangkali saya harus menunda hasrat untuk memecahkan hamparan simbol, metafor, alegori dan pesan yang ingin disampaikan Tornatore setelah DVD-nya dirilis, sehingga saya bisa mendapatkan subtitle Inggris (atau Indonesia) yang bisa dipercaya akurasinya (percayalah, Tornatore, saya akan menontonnya sekali lagi nanti).

Sicilia sendiri, yang menurut Tornatore menjadi benang merah terpenting yang menautkan Baaria dengan Cinema Paradiso, dalam cita rasa pribadi saya justru jadi punya dua wajah yang kontras dalam satu hal. Wajah Sicilia dalam Baaria adalah sebuah potret kehidupan yang nyaris sepenuhnya extrovert. Dalam Baaria, saya menyaksikan hampir semua orang Sicilia berbicara dengan suara keras, nyaris seperti berteriak. Semua hal seperti diteriakkan, bukan dipercakapkan. Seakan-akan, orang-orang Sicilia sepenuhnya ekstrovert, dan membuat orang-orang Sicilia justru tampak homogen di tengah upaya Tornatore menghadirkan suara beraneka, orang-orang tanpa ruang-pribadi yang hening apalagi sunyi-sepi yang lindap.

Saya tidak bilang kalau kesan yang sama tidak muncul dalam Cinema Paradiso. Intonasi dan dialek (bagi pendengaran saya) berbicara orang Sicilia dalam Baaria dan Cinema Paradiso sama saja kedengarannya (sampai sekarang kadang saya suka menirukan intonasi orang Sicilia, terutama di ujung kalimat, saat memanggil nama atau mengucapkan kata yang berakhiran huruf "O").

Bedanya, pada Cinema Paradiso, intonasi dan dialek yang seperti orang berteriak dan hiruk-pikuk orang-orang itu masih menyisakan ruang kecil di mana percakapan yang syahdu dan lembut bisa muncul dengan kuat. Simaklah percakapan Toto tua dengan ibunya yang sudah renta soal pintu rumah yang tak pernah dikunci, rasanya itu sangat lembut dan seperti berbisik. Perhatikanlah bagaimana ruang projektor yang “dikuasai“ Alfredo dan lalu “dikuasai” Toto menjadi sanctuary yang bisa mendatangkan hening di tengah keriuhan dan hiruk-pikuk orang-orang yang berbicara keras-keras.

Yang introvert dan ekstrovert sama-sama mendapat tempat, sama-sama tercatat. Pada Baaria, suara riuh dan hiruk pikuk berikut karnaval adegan yang ramai itu anehnya lebih dekat pada nada-nada yang homophone, sementara pada Cinema Paradiso yang memberi tempat pada ruang-dalam dari manusia Sicilia itulah justru terdapat suara-beraneka, nada-nada yang poliphonik.

Ucapan Tornatore bahwa Cinema Paradiso dan Baaria "...could even be a single film" jadi tak terbayangkan buat saya. Sebagai penutup, saya teringat pertanyaan anak Peppino di bagian akhir film perihal kenapa banyak orang Sicilia dianggap sebagai orang “berkepala-panas”. Peppino tua menjawab begini: “Because we (Sicilian) try to embrace the world, but our arms are too short.“

Terus terang saya khawatir, “tangan” Tornatore kali ini terlalu pendek untuk memenuhi ambisinya merangkul dan menjangkau dunia.


Tag: Giuseppe Tornatore, baaria, cinema paradiso

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

arddhe 0 0
kereennn....pengen banget bisa nulis review macam ini haha

Silahkan login untuk memberikan pendapat