Kapan Kita Berhenti Menonton Film Bajakan? 12

Selasa, 27 Apr '10 18:24

"Selamat Pagi teman-teman. Hari ini adalah hari HAKI. Mari rayakan dengan stop nonton film bajakan. Setuju?"

Setelah membaca twit dari bicarafilm kemarin tersebut,saya merasa jadi tersentil untuk membua tulisan ini. Terutama di kalima "Mari rayakan dengan stop nonton film bajakan. Setuju?" Setuju atau tidak, saya mengatkan saya akan menyetujui ajakan tersebut hanya saja kapan itu bisa terwujud.

Sebelum saya menulis lebih panjang lagi, ada baiknya kita tentukan definisi film bajakan tersebut. Mengenai definisi ini, saya pernah terlibat perdebatan ringan melalui sms dengan salah salah seorang teman saya. Dia baru saja menyaksikan film Shutter Island melalui DVD yang didapatkan dari temannya dan mengatakan itu film asli (original). Film ini termasuk film yang sangat baru, dirilis di Indonesia pada awal Maret dan baru sempat kusaksikan seminggu yang lalu di bioskop Yogya. Untuk film sebaru ini tidak mungkin pihak pembuat film sudah melepas DVD atau blue ray-nya, bahkan di Amerika sana. Lantas saya berkata kepada teman saya tersebut bahwa film tersebut bajakan bukan asli. Teman saya berkilah bahwa film yang ditontonnya tetap asli dengan alasan kualitas gambar, suara, dan subtitle bahasa Inggris yang sangat baik.

Saya tetap bersikeras bahwa itu tetap film bajakan apapun dalihnya. Oke, mari kita analogikan seperti ini, apakah bunga bunga yang tampak seperti mawar, beraroma seperti mawar dan bahkan mempunyai duri yang bisa menusuk seperti mawar, bisa dikatakan sebagai bunga mawar yang sesungguhnya. Bisa saja itu bunga kertas atau bunga buatan yang diberi pengharum mawar. Walaupun film yang ditonton teman saya tersebut memiliki tampilan layaknya film asli, bagi saya itu tidak sama dengan film asli .

Menurut definisi saya, film asli adalah film yang dibuat oleh perusahaan pembuat film dan kemudian dirilis dalam bentuk seperti Blue Ray, DVD, VCD atau bentuk digital lainnya melalui pengedar resmi yang telah mendapat persetujuan untuk menggandakan dan menyeabrluaskan film tersebut (silakan dikoreksi definisi saya ini bila ada kesalahan dan kekurangan).

Mari kita tanya kepada semua penonton film atau dalam lingkup yang lebih kecil, komunitas bicarafilm ini, apakah mereka pernah menonton film bajakan? Saya tidak yakin bahwa semua mengatakan pernah tapi setidaknya hampir semuanya pasti pernah menonton film bajakan. Beberapa tahun silam saya pernah mendengar seorang artis berseloroh bahwa dia tidak pernah menonton film bajakan kecuali film porno (sepertinya ini pengakuan saya juga). Mau sampai kapan juga ada film porno bisa diedarkan di siniSaat itu, ketka tidak banyak film-film yang dirils di Indonesia dan film-film bajakannya tidak semarak seperti sekarang ini, film porno menawarkan tawaran menonton yang lebih baik daripada film-film bajakan lainnya (dalam kualitas gambar film, bukan isi filmnya).

Dulu, teknologi pembajakan film tidak secanggih sekarang. Kamera video dibawa masuk ke dalam gedung bioskop untuk merekam film yang seringkali terganggu oleh bayangan penonton yang lewat atau berdiri. Penonton yang menonton film di bioskop saja bisa sakit hati apalagi penonton di rumah yang meliaht rekaman video tersebut dengan gambar yang buram. Sejak saat itu saya berusaha untuk tidak pernah menyaksikan film bajakan.

Sekarang zamannya sudah berbeda, cara-cara pembajakan barangkali sudah ditinggalkan. Sekarang film-film bajakan hadir dengan kualitas yang sama dengan film aslinya, persis seoerti film Shutter Islang yang teman saya saksikan. Film-film box office terbaru bisa hadir hanya dalam hitungan hari setelah film aslinya tayang di bioskop atau yang belum tayang di bioskop juga sudah ada. Melihat keadaan di kota Jogja dengan marakanya tempat persewaan film, film-film bajaakan tersebut menjadi pilihan yang menarik daripada menonton di bioskop. Dengan jumlah bioskop yang terbatas dan film yang terbatas pula, bahkan sampai ada yang telat beberapa bulan, untuk menonton film terbaru cukup menyewa film bajakannya atau kalau mau bisa beli sendiri. Untungnya beberapa tempat persewaan dengan sadar mencantumkan film tersebut bukan sebagai film asli, tapi film (bajakan) dengan kualitas asli.

Keinginan saya untuk segera menonton film berbenturan dengan prinsip saya untuk tidak menonton film bajakan. Selalu berusaha bersabar dan yakin film yang ingin saya tonton akan segera tayang di bioskop atau setidaknya beberapa bulan lagi ada film aslinya yang beredar. Lagipula, untuk menikmati film sebesar Shutter Islang karya Martin Scorsese yang dipuja-puji kritikus, saya serasa mengecilkan arti film tersebut bila menyaksikannya melalui film bajakan. Saya mempunyai daftar puluhan film-film lama yang ingin saya tonton, daripada saya pusing memikirkan film terbaru, saya lebih memilih menacari film-film tersebut dalam bentuk aslinya dan kemudian menontonnya. Kadang saya juga kecewa, beberapa film lama dan bagus belum juga diedarkan di Indonesia dalam seperti Becoming Jane atau The Great Debaters.

Keinginan saya menonton bisa meluas ke film-film internasional yang memenangi penghargaan di festival-festival intenasional. Film-film seperti ini, ada yang diedarkan di sini dalam jumlah yang sangat sedikit. Solusinya ya menonton film bajakannya. Atau mungkin serial drama asia dari Jepang atau Korea?!? Boleh dikatakan sebuah kemajuan bahwa beberapa judul drama Jepang sudah dirilis di Indonesia, tapi itu tidak mencakup judul-judul film yang ingin saya tonton. Cari DVD bajaknnya aja susah, solusi paling gampang adalah dengan mengunduh di internet. Mencari film-film klasik atau cult yang susah didapatkan, lagi-lagi solusinya adalah dengan mengunduh di internet. Semuanya dilakukan secara gratis yang berarti kita tidak membayar untuk hak royalti kepada si pembuat film.

Film bajakan juga menjadi pilihan saya bila melihat prospek film tersebut tidak akan diedarkan di Indonesia dengan alasan cerita yang kontroversial, kekerasan yang berlebihan atau adanya unsur pornografi. Pun, bila nantinya diedarkan pun tidak lepas dari pemotongan yang menghilangkan adegan film atau pengaburan pada gambarnya. Dengan beberapa alasan di atas, rasanya saya masih susah melepaskan diri dari film-film bajakan.

Dari pembukaan mengenai definisi film asli (original) saya ingin menutup tulisan ini dengan memberi definisi tentang film bajakan. Menurut saya film bajakan adalah film yang kita nikmati tanpa memberikan keuntungan komersial kepada si pembuat film. Mengunduh film dari internet secara gratis tanpa ada lisensi resmi atau film bajakan konvesional DVD dan format lainnya yang biasa dijual di lapak-lapak pinggir jalan atau di dalam mal.

Saya tidak pernah membeli film asli apalagi bajakannya dan selalu mengandalkan persewaan film untuk menonton film. Parahnya, sejumlah persewaan film mengganakan film-film asli untuk disewakan kepada para pelanggannya. Jelas ini sudah melanggar hak cipta yang biasa tertera di awal film. Jadi sama halnya bila kita tidak mampu membeli film asli, terutama yang hanya beredar di luar negeri, lalu kita mendapatkan salinannya...ini sama juga pembajakan, walaupun nantinya untuk konsumsi sendiri.

Kembali ke pertanyaan di atas setuju atau tidak setuju untuk berhenti menonton film bajakan. Sehari untuk tidak menonton film bajakan, saya bisa. Tapi untuk bisa berhenti menonton film bajakan?!? Pilihan jawabannya ada dua. Pertama, apabila saya berhenti menonton film dan yang kedua apabila saya puas dengan film-film yang sudah ada.

Sekian.

 


Tag: film, bajakan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

bnugroho 0 0
Sebuah pertanyaan yang nyaris bersifat triviality... Sebuah pertanyaan yang hampir pasti ketebak jawabannya...
Masalah bajakan sudah bukan sekedar masalah hak cipta aja, tapi udah nyampe ke ranah ekonomi, which is banyak org yang bergantung pada industri bajakan ini. Bakalan setengah mati memberantasnya.. Sudah terlalu rumit. Menghilangkan? I don't think so. Mengurangi, mungkin bisa.
ayoe coemi 0 0
saya pun setuju : )
sabai 0 0
Selama film itu main di bioskop jakarta, saya berusaha menyempatkan nonton di bioskop. Alasan utamanya sih jelas ingin mendapat cinematic experience dg layar yg super lebar, suara yg menggelegar dll itu....

Sayangnya, bioskop kita masih dimonopoli sama yang satu itu, jadi btk film bagus yg nggak tayang... Kadang bajakan DVD terpaksa jadi pilihan *ngeles* Hehehehe... : D
heartles3oul 0 0
Selama masih di bioskop mari kita kejar..kalau pun tak ada, berselingkuh dengan film bajakan pun tak dilarang.
Donald Duck 0 0
perkara yang sulit emang,
Mikael Dewabrata 0 0
sejak ada BD, ane belinya aseli.
Wazeen 0 0
aneh memang jejaring pembajak film ini, ada yang tahu bagaimana mereka beroperasi?
santador 0 0
Film terakhir yang ditonton di bioskop: Avatar (3D), film terakhir yang ditonton: Legion (downloaded) dan sepenggal Where The Wild Things Are (also downloaded).

Kapan berhenti nonton film bajakan? Kalo udah ada teknologi nonton film on-demand yang gratis dan ga pake lama!
Sinmau 0 0
Enjoy the movie... give appreciation to the men behind the movie...

Film yang baik adalah film yang mampu menyampaikan dengan bijak pesan yang tersimpan serta mampu membuat pemirsanya memiliki impresi khusus terhadap film tersebut dan yang terpenting tidak bertujuan komersil, karena warna film akan mati total jika terlihat money oriented...

so why bother with piracy??

is it about uang yang ingin dikumpulkan dari film itu atau pesan yg ingin disampaikan?? : D

trus ada pertanyaan, gimana mo bikin film kalo ngga ada duitnya??

Oleh karenanyalah orang-orang film butuh orang yang berfikiran cemerlang untuk memberi solusi atas hal itu....

hihihi *dikeplak masyarakat film : p
Sinmau 0 0
Wazeen: hihihi, pertanyaannya bikin saya curiga nih, wakakakak.... : p *peace ya bang : )
Ramenoodle 0 0
*belum bisa lepas dari dvd bajakan, walaupun sebisa mungkin beli yang original. kebanyakan dvd/vcd original yang saya punya adalah film2 favorit.. : D
Rijon 0 0
Untuk saat ini saya belum bisa lepas dari VCD/DVD bajakan.

Problem utamanya karena film-film bagus jarang muncul ori-nya di Indonesia. Seperti: "Ajami", "Un Prophete", atau "El Secreto de Sus Ojos", atau "Y' Tu Mama Tambien". Judul-judul itu tidak saya temukan dalam wujud orisinil, tapi saya temukan dalam wujud bajakan? Ironisnya, yang saya temukan dalam wujud orisinil malah: "Hannah Montana The Movie".

Ehehehehe.

Problem kedua, masalah ekonomi. Bandingkan saja, harga DVD bajakan bisa 1/3 sampai 1/10 dari DVD orisinilnya? Lah. Gak kuat saya.

Silahkan login untuk memberikan pendapat