Review: Film dokumenter Oceans (Océans) 2

Senin, 26 Apr '10 16:51

Semalam saya beruntung dapat menghadiri penutupan Festival Sinema Prancis yang memutar film dokumenter OCEANS. Saya begitu terkesannya dengan film ini, sampai-sampai saya tergerak untuk mengubah status saya dari peserta pasif bicarafilm.com dengan menulis posting pertama saya!

Film ini merupakan karya dokumenter alam (nature) kedua yang dirilis Disneynature setelah "Earth" (2007) dan disutradai oleh duo Jacques Perrin dan Jacques Cluzaud. Sebelumnya duo yang sama pernah menyabet berbagai nominasi, termasuk nominasi Academy Award pada tahun 2001 untuk karya dokumenter alam mereka di tahun 2001 "Winged Migration". 

Kemajuan teknologi dan seni perfilman tingkat tinggilah yang menjadikan film ini sungguh speaktakuler. Kualitas visual dan suaranya bukan hanya berhasil mengungkap kemegahan dunia laut tetapi berhasil mengajak penonton untuk menyelami kehidupan para penghuni bumi di dasar laut maupun di atas permukaan yang sepenuhnya bergantung pada ekosistem laut, sehingga jatuh hati dan bersimpati dengan nasib mereka di tangan manusia. 

Teman saya yang penyelam kawakan dan juga lama berkecimpung di dunia perfilman keluar dari bioskop garuk-garuk kepala, takjub dengan kualitas sound yang sangat bersih dan editing yang sangat rapi. Kami tidak dapat membayangkan betapa sabarnya kru film ini dalam menanti kesempatan di empat tahun masa syuting dan produksi untuk mengumpulkan momen-momen yang berkesan dalam 1 jam 40 menit.

Film ini sengaja dibikin miskin narasi. Dengan suguhan s inematografi nomor satu, penonton betuk-betul merasa menjadi bagian penjelajahan dunia bawah laut yang terkadang warna-warni dan indah tetapi juga terkadang terlihat misterius dan menyeramkan. 

Banyak film dokumenter tema serupa menyorot kehidupan bawah laut dengan menyeluruh (salah satunya adalah OceanWorld 3D) tapi film ini menurut saya berhasil menciptakan kesan bahwa penonton diajak masuk ke dunia baru dan sama sekali tidak tersentuh manusia. Narator hampir tidak pernah menyebut atau menjelaskan nama hewan laut yang muncul silih berganti, apalagi menarasikan perilaku mereka di masing-masing adegan.

Penonton dibiarkan memiliki interpretasi dan reaksi masing-masing atas semua adegan kocak, mengharukan bahkan tragis sekalipun. Saya tersenyum, tertawa, menitikkan air mata, menutup telinga dan mata karena ketakutan saat menonton film ini. Sunggu suatu perjalanan rollercoaster emosi.

Selain itu film ini berhasil menggambarkan semua habitat laut yang disorot, kecuali pada bagian-bagian tertentu, sebagai  habitat yang belum terjamah dan ternodai manusia. Sehingga penonton seakan dibawa menikmati alam laut dalam hakikat sesungguhnya, seolah-olah dalam masa dimana laut masih merupakan misteri besar bagi manusia (dibantu beberapa simbol yang dengan cerdik diperkenalkan di awal cerita). 

Layaknya semua film dokumenter, OCEANS berpesan bahwa nasib kelestarian ekosistem laut ada di tangan manusia. Overfishing dan polusi akibat buangan industri dan sampah rumah tangga dalam film digambarkan  ini sebagai dua ancaman utama yang dihadapi laut akibat ulah manusia.

Tetapi berbeda dengan film dokumenter kebanyakan, bagian-bagian ini tidak dijadikan inti cerita, tetapi ditampilkan dalam adegan-adegan singkat menjelang akhir film dengan narasi yang jauh dari kesan menggurui. Dengan penggambaran sederhana tetapi berkesan dalam, seperti anjing laut yang berenang menyusuri kereta belanja berkarat yang karam di dasar laut, penonton digugah untuk berpikir, tanpa harus dijejali dengan informasi seputar polusi laut. 

Film ini telah dirilis serentak di berbagai belahan dunia pada saat hari Bumi tangga 22 April kemarin, tetapi menurut pihak 21 Cineplex film ini baru akan dirilis hari Rabu atau Kamis minggu ini. 


Tag: dokumenter, oceans, laut, alam, Disneynature

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

heartles3oul 0 0
Menantikan film ini diputar di jaringan 21...
aila 0 0
Ooooouwhh..

heartles3oul: me too : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat