Classic : Synecdoche, New York 3
Senin, 26 Apr '10 19:31
Written and directed by CHARLIE KAUFMAN cast PHILIP SEYMOUR HOFFMAN, SAMANTHA MORTON, CATHERINE KEENER, MICHELLE WILLIAMS, EMILY WATSON, DIANNE WEIST, JENNIFER JASON LEIGH, HOPE DAVIS,TOM NOONAN released in 2008
Akhirnya, saya punya keberanian untuk menulis review tentang film terbaik yang pernah saya tonton seumur hidup saya di kategori film Classic. Inilah film yang paling mempengaruhi saya dengan cara yang sangat personal. Cara bekerja film ini yang begitu unik terhadap penontonnya, tidak memungkinkan bagi saya untuk bisa menulis review ini dengan singkat. Kesuksesan film "Synecdoche, New York" berasal dari banyaknya detail-detail yang ada dalam film ini sampai saya tidak tahu bagaimana caranya memulai untuk membahas film ini pada awalnya. Namun, saya memutuskan untuk memulai review ini dengan judulnya itu sendiri.
Mari kita mulai pelajaran bahasa Indonesia.
Synecdoche (dibaca Sih-NECK-doh-k ee), dalam bahasa Indonesia ditulis sinekdoke, merupakan suatu bentuk majas. Majas sinekdoke dibagi menjadi sinekdoke pars pro toto dan sinekdoke totem pro parte. Arti dari sinekdoke pars pro toto adalah sebagian yang menggambarkan keselurahan. Contohnya, aku belum juga me lihat batang hidung Herman dari tadi. Kata batang hidung menggambarkan keseluruhan fisik dari Herman. Sedangkan, arti dari sinekdoke totem pro parte adalah keseluruhan yang menggambarkan sebagian. Contohnya, Indonesia memenangkan pertandingan sepak bola melawan Filipina. Kata Indonesia di dalam kalimat itu ditujukan untuk tim sepak bola Indonesia.
Oke, pelajaran bahasa Indonesia selesai.
Kesimpulannya? Inti dari film "Synecdoche, New York" sudah ada di judulnya itu sendiri. Kehidupan manusia pada umumnya digambarkan oleh kehidupan karakter utama dan juga sebaliknya. Kehidupan si karakter utama tersebut juga menggambarkan kehidupan karakter-karakter lainnya. Maka, bisa dikatakan tesis dari film "Synecdoche, New York" adalah kehidupan setiap manusia menggambarkan kehidupan manusia lainnya dan kehidupan seluruh manusia pada umumnya digambarkan oleh kehidupan satu manusia dan juga sebaliknya. Terkesan ambisius? Memang.
"Synecdoche, New York" bercerita tentang seorang sutradara teater, Caden Cotard (Philip Seymour Hoffman), yang memiliki seorang istri bernama Adele (Catherine Keener) dan seorang putri berusia 4 tahun bernama Olive (Sadie Goldstein). Rumah tangga mereka mulai mengalami kehancuran. Seorang psikolog, Madeleine (Hope Davis), juga tidak banyak membantu dan lebih tertarik untuk mempromosikan buku best-seller karangannya. Adele yang berprofesi sebagai pelukis pun meninggalkan Caden dan membawa Olive bersama dengan sahabatnya, Maria (Jennifer Jason Leigh), pergi ke Jerman dimana Adele meraih kesuksean besar. Di Jerman, Ia membiarkan Olive untuk ditato seluruh tubuh oleh Maria dan menjadi kekasihnya.
Caden, yang merasa frustasi, berusaha untuk mencari ketenangan dari seorang wanita penjual tiket di gedung teater, Hazel (Samantha Morton), yang Ia sukai dan balik menyukainya. Namun, ketidakberaniannya mengungkapkan perasaannya menyebakan Hazel pergi darinya. Lalu, Caden menumpahkan segala sesuatu yang Ia rasakan selama hidupnya ke dalam sebuah drama teater baru. Dengan menggunakan sebuah gedung tua yang sangat besar, luas, dan megah di kota Schenectady, Caden ingin membuat drama yang akan menceritakan tentang kehidupannya sendiri dan setiap manusia yang Ia tahu. Seorang pria bernama Sammy (Tom Noonan) yang sudah mengikuti Caden secara diam-diam selama 20 tahun, dikasting untuk memerankan Caden sendiri. Ia juga memiliki seorang aktris bernama Tammy (Emily Watson) untuk memerankan Hazel. Sementara itu, Claire (Michelle Williams) yang merupakan istrinya yang baru dan juga seorang aktris dari dramanya yang terdahulu, dipilih untuk memerankan dirinya sendiri. Selain mereka, masih ada puluhan orang lain yang memainkan peran-peran yang berbeda-beda.
Lambat laun, kehidupan Caden menjadi semakin berantakan seiring dengan dramanya, yang memiliki konsep "drama mengimitasi kehidupan", berkembang menjadi sebuah drama teater dalam drama teater. Entah berapa belas tahun (ataupun puluh tahun) sudah Ia habiskan untuk dramanya itu. Sosok seorang wanita tua, Millicent (Dianne West), pun akhirnya menunjukkan Caden secercah pengertian dari sebuah sudut pandang yang baru akan kehidupan Caden yang begitu membingungkan.
Pertama kali saya menonton film ini, saya merasa bingung dengan plot ceritanya. Setiap shot terasa seperti berdiri sendiri dan terkadang tidak memiliki hubungan yang jelas dengan shot yang sebelumnya ataupun setelahnya. Waktu, tempat, dan kontinuitas dari film ini terasa susah untuk diikuti. Namun, ada tiga hal yang membuat saya masih ingin menontonnya lagi, yaitu, adegan saat Sammy meloncat dari atap sebuah gedung imitasi, adegan dimana seorang pastur memberikan sebuah pidato yang kemudian berkembang menjadi sebuah monolog, dan sequence saat Millicent mengarahkan Caden mengenai apa yang harus dilakukan dan dikatakan melalui earphone. Ketiganya membuat saya mendapatkan titik cerah akan makna dari film ini.
Untuk kedua dan ketiga kalinya saya menonton film ini, saya menangis di akhir filmnya. Untuk pertama kalinya, saya menangis bukan karena simpati akan karakter atau pun ceritanya, melainkan karena empati. Yang saya pikirkan saat itu adalah bagaimana film ini begitu mengenal saya. Charlie Kaufman, dalam debutnya sebagai sutradara, ternyata mampu menunjukkan berbagai metafora melalui karakter, dialog, transisi, efek, set, kostum, properti, dan make up. Sebagai contoh, rumah yang terus terbakar yang dihuni oleh Hazel banyak dianggap sebagai metafora dari ketidakbahagiaan dalam rumah. Saya tidak akan membahas lebih jauh mengenai metafora-metafora yang ada dalam film ini karena jumlahnya yang banyak, baik yang terlihat secara langsung, seperti rumah Hazel, sampai metafora yang butuh pemahaman terlebih dahulu, seperti ukuran lukisan karya Adele yang terus mengecil dari awal film hingga akhir film. Metafora-metafora ini tentu akan menimbulkan makna yang berbeda-beda bagi setiap orang dan membahasnya lebih jauh hanya akan membuat pengalaman menonton film ini seperti mengisi teka-teki silang.
Film ini didukung dengan penampilan akting yang sempurna dari deretan cast "Synecdoche, New York". Ini adalah salah satu deretan cast terbaik dan tersolid yang pernah saya temui dalam sebuah film. Set dari film ini juga mengesankan sekali. Tim penata artistik suskes dalam membangun set yang membuat kita percaya bahwa di dalam sebuah gedung, terdapat replika dari kota tempat gedung itu berada dan di dalam kota replika itu, terdapat gedung yang di dalamnya... masih ada kota replika lagi. Skenario yang ditulis oleh Charlie Kaufman juga sungguh inovatif, liar, gelap, comical, dan sangat jujur. Monolog yang diucapkan oleh karakter Pastur memberikan kesan yang mendalam buat saya.
Jason Reitman, sutradara dari "Thank You For Smoking", "Juno", dan "Up In The Air", pernah mengutarakan kekhawatirannya bahwa film akan dianggap sebagai sebuah karya seni yang mati. Di era modern ini, penonton langsung menyatakan kesukaan maupun ketidaksukaannya akan sebuah film dengan cepat melaui berbagai situs jejaring sosial. Jason berpikir bahwa kemungkinan besar suatu hari nanti, penonton akan menge-Twit pendapatnya ketika film tengah berlangsung. Charlie Kaufman, yang memiliki kekhawatiran yang sama, membuat film "Synecdoche, New York" dengan tujuan ingin memberikan efek drama teater kepada penontonnya. Ia mengatakan bahwa pertunjukkan drama begitu hidup sampai satu-satunya cara untuk bisa mendapatkan perasaan yang sama ketika menonton pertunjukkan itu adalah dengan menontonnya langsung kembali. Berbeda dengan film yang selalu dianggap akan memberikan perasaan yang sama ketika ditonton di DVD. Oleh karena itu, Charlie Kaufman membuat film ini penuh dengan metafora yang berlapis-lapis. Untuk menyukai atau pun tidak menyukai film ini mungkin hanya membutuhkan satu ataupun dua kali menonton, tapi untuk benar-benar memahaminya, dibutuhkan lebih dari itu.
Film ini memang mendapat respon yang menarik dari para kritikus film dan penonton. Sebagian menganggapnya sebagai salah satu film terbaik di tahun 2008, bahkan tidak sedikit yang menganggap film ini adalah salah satu film terbaik sepanjang masa. Sebagian yang lain justru menganggap film ini dingin, membingungkan, tidak bergairah, tidak bermakna, dan terlalu naif dalam usahanya untuk bisa mengambarkan kehidupan setiap manusia. Menurut saya, ketidaksukaan terhadap film ini bisa disebabkan karena dua sudut pandang berikut:
- Film yang dianggap sebagai produk dari aliran post-modern yang banyak menggunakan metafora ini dianggap kacau karena waktu, tempat, dan kontinuitas dari shot ke shot tidaklah jelas. Tempo cerita juga dirasakan terlalu lambat. Bagi saya, kekacauan tersebut memang disengaja untuk bisa dijadikan sebagai sebuah metafora dari kekacauan dalam hidup sendiri. Tempo cerita yang lambat juga diciptakan untuk memberikan waktu bagi penonton untuk melihat set, make up, dan properti yang banyak menyimpan metafora tentang kehidupan.
- Berdasarkan apa yang saya lihat dan rasakan, film "Synecdoche, New York" memang seakan-akan melepaskan diri dari aturan plot tiga babak. Ceritanya justru terasa seperti turunan yang sangat panjang sehingga banyak yang menganggap film ini seperti sebuah depresi dan mereka tidak menyukainya. Pemikiran ini muncul saat saya menontonnya untuk kelima kalinya dimana jalinan antara waktu, tempat, dan kontinuitas dari shot ke shot sudah saya temukan. Bagi saya, untuk bisa membuat penonton mempunyai hubungan yang kuat dengan cerita dan karakter ini adalah dengan memasuki tempat-tempat dalam hati dan pikiran di mana masalah kehidupan mengendap. Mungkin itulah yang membuat film ini begitu depresi.
Seseorang pernah memberikan komentar di blog pribadi Roger Ebert yang mengatakan bahwa dirinya tidak menyukai film ini dan Ia merasa tidak butuh untuk menontonnya lagi karena Ia tahu dan yakin dirinya tidak akan berubah pikiran. Saya merasa ada sesuatu yang unik setelah memikirkan pernyataannya. Kebenciannya akan film ini ternyata digambarkan dengan begitu jelas melalui Adele yang pergi meninggalkan Caden begitu saja dan tidak pernah ingin berhubungan dengan Caden lagi. Ini membuktikan bahwa apa pun yang penonton rasakan terhadap film ini, suka ataupun benci, tidak akan mengurangi kekuatan film ini dalam hal mengimitasi kehidupan.
Apa yang Charlie Kaufman ingin gambarkan melalui "Synecdoche, New York" adalah sesuatu yang ingin dicapai oleh banyak filmmaker, namun lalu diabaikan karena dianggap tidak mungkin. Sebelum film ini ada, saya pun juga tidak pernah sekali pun berpikir akan ada film yang mampu menggambarkan bagaimana manusia menjalani hidupnya secara menyeluruh seperti ini. Suka ataupun benci, penonton akan selalu memikirkan film ini untuk waktu yang lama. Saya yakin film "Synecdoche, New York" yang saat ini dianggap sebagai cult classic, akan dianggap menjadi salah satu film terbaik sepanjang masa.
(Diambil dari blog Labirin Film)
Tag: classic, Philip Seymour Hoffman, new york, Synecdoche, Labirin Film, Satrio Nindyo Istiko, Charlie Kaufman
Terkait:
-
Classic : Eyes Wide Shut
Senin, 26 Apr '10 21:28 -
Classic : Before Sunset
Selasa, 11 Mei '10 07:59 -
Classic : Under The Tree
Sabtu, 8 Mei '10 14:22
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
raditherapy: Box Office
-
discobabe: Box Office
-
kniwe: Good Take
-
sabai: Informatif
-
JuliaJessicaJennifer: Box Office
-
oksbangs: Box Office
-
riri: Box Office

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat