Classic : Eyes Wide Shut 4
Senin, 26 Apr '10 21:28
Directed by STANLEY KUBRICK written by STANLEY KUBRICK & FREDERIC RAPHAEL cast TOM CRUISE, NICOLE KIDMAN, SYDNEY POLLACK, TODD FIELD, MARIE RICHARDSON, MADISON EGINTON, SKY DUMONT, VINESSA SHAW based on the novel "Traumnovelle" by ARTHUR SCHNITZLER released in 1999
Kita melihat seorang wanita, Alice (Nicole Kidman), melepaskan pakaiannya yang backless dan berwarna hitam dengan membelakangi kita, memperlihatkan tubuhnya yang putih polos. Kamera berdiri dengan ketinggian, jarak, dan sudut yang tidak memberikan kesan erotis. Alice tahu Ia cantik dan memiliki tubuh yang indah. Dari gesturnya saat melepaskan pakaiannya, kita tahu Ia sadar akan kedua hal itu. Pencahayaan yang redup pun memberikan sentuhan sensualitas yang lembut dan hati-hati seakan-akan tidak ingin membuat apa yang kita lihat di depan mata kita itu dianggap sebagai sebuah pornografi, melainkan sebuah keindahan yang misterius layaknya hati wanita itu sendiri. Suara musik klasik juga menambah keanggunan dari shot ini. Cukup satu shot tersebut sebagai pembuka film dan kita terhisap masuk ke dalam mood dan tone film " Eyes Wide Shut" karya terakhir dari almarhum Stanley Kubrick, salah satu sutradara terbesar sepanjang sejarah perfilman.
Saya akui saya belum pernah menonton film-film Stanley Kubrick lainnya, terutama karya-karyanya yang dianggap sebagai masterpiece, seperti "2001 : A Space Odyssey", "Dr.Strangelove", "The Shining", "Barry Lyndon", dan "A Clockwork Orange" yang telah banyak memberikan pengaruh besar pada berbagai genre film. Maka, saya membuat tulisan ini dengan berdasarkan pada analisis shot by shot dan berbekal referensi dari IMDb dan Wikipedia saja.
"Eyes Wide Shut" bercerita tentang seorang dokter, Billy (Tom Cruise), yang menenggalamkan dirinya dalam sebuah petualangan malam hari yang membawanya ke sebuah tempat yang tidak terduga. Semua berawal dari pengakuan Alice, istrinya, yang menyatakan bahwa dirinya pernah berfantasi melakukan hubungan seksual dengan pria lain. Sakit hati karena pengakuan itu, Billy yang banyak dikagumi oleh wanita (termasuk putri dari koleganya, Marion (Marie Richardson)), berusaha untuk melemparkan dirinya ke dalam kehidupan para penganut hedonisme dengan menuruti ajakan seorang pelacur bernama Domino (Vanessa Shaw). Namun, Billy yang memang bukanlah seorang pria yang suka 'bermain-main' dengan perempuan, selalu saja mengagalkan keinginannya sendiri untuk berselingkuh dari istrinya di tengah jalan. Di dalam gejolak yang pasang surut tersebut, Billy pun bertemu dengan teman lamanya, Nick (Todd Field), yang bekerja sebagai seorang pianis di sebuah band. Di kafe tempat mereka bertemu, Nick memberitahunya tentang sebuah pesta amat sangat rahasia dimana semua orang yang hadir mengenakan topeng. Tertarik dengan pesta tersebut, Billy pun memutuskan untuk datang malam itu juga, Di sana, Ia melihat sebuah pesta seks rahasia yang begitu sakral hingga membuat penonton curiga bahwa pesta itu adalah pesta yang diadakan oleh sekte tertentu. Billy pun diperingatkan oleh satu dari sekian banyak wanita bertopeng untuk segera keluar dari tempat itu karena nyawanya bisa terancam.
Film ini sungguh terasa aura klasiknya. Hal ini saya perhatikan dari cara Stanley menggerakan kameranya (dia adalah operator kameranya di sini) dan juga dari plotnya dimana struktur 3 babak dalam film ini begitu mudah dicerna, tapi tetap memiliki kekuatan untuk mempersona penonton. Hal lain yang membuat saya terpukau saat menontonnya pertama kali adalah kontrol dari Stanley di hampir setiap elemen dalam film ini.
Stanley banyak menggunakan tracking shot yang elegan dalam film ini. Perjalanan satu malam yang dialami Billy tampak menjadi begitu aneh, misterius, dan sensual dengan pacing yang amat sangat dijaga oleh Stanley agar penonton dapat perlahan-lahan melebur dalam petualangan itu sendiri. Nuansa noir juga terasa kental saat Billy merasa diikuti oleh seorang pria di malam setelah Ia menghadiri pesta itu. Saya memperhatikan bahwa setiap shot begitu jelas memperhatikan para aktor karena semua figuran tidak pernah terlihat berjalan menghalangi kamera Stanley dalam mengikuti gerakan aktor-aktornya. Dalam referensi yang saya baca, Stanley memiliki shot andalan yang diisebut dengan "The Glare", yaitu shot saat seorang aktor menundukkan wajahnya dengan matanya melihat ke atas. Dalam "Eyes Wide Shut", shot ini terlihat saat Billy membayangkan istrinya yang terlihat puas disetubuhi oleh pria lain.
Akting dari Tom Cruise dan Nicole Kidman yang saat itu masih menikah juga menghipnotis saya. Akan tetapi, meskipun Tom adalah karakter utama dalam cerita ini, justru Nicole banyak mencuri scene. Ekspresi, gestur, dan intonasi dari kata-kata karakter Alice membangun mood cerita ini. Di awal film, saat adegan pesta di rumah kolega Billy, Victor Ziegler (Sydney Pollack), Alice digoda oleh seorang pria yang jauh lebih tua darinya bernama Sandor (Sky Dumont). Alice yang sadar bahwa Sandor hanya ingin membawanya ke ranjang, justru memutuskan untuk bermain dengannya. Perhatikan dialog berikut ini :
Sandor : "Are you here with anyone, Alice?"
Alice : "With my... (pause) husband."
Tak lama kemudian, Sandor dan Alice pun berdansa. Kemudian, Alice memperhatikan dua orang wanita yang menggoda Billy di koridor. Sandor pun bertanya :
Sandor : "Someone you know?"
Alice : "My... (pause) husband."
Kata "husband" yang dipisah dengan waktu dan intonasi sedemikian rupa dari kata "my" merupakan bentuk pernyataan bahwa Alice tidak sekedar ingin menggoda Sandor, tapi juga untuk menggoda dirinya sendiri untuk mengetahui sampai seberapa jauh Ia bisa bermain-main dengan pria lain.
Banyak yang membicarakan tentang pesta seks rahasia dalam film ini dan mendiskusikan tentang aliran apa yang menjadi referensi Stanley. Bagi saya, pesta seks tersebut tidaklah lebih dari sekedar petualangan nyata yang dialami Billy sebagai bentuk pengimbangan dari fantasi Alice yang tidak kalah liar dari kenyataan yang dialami Billy dalam pesta tersebut. Petualangan psychosexual, baik nyata maupun mimpi, adalah inti dari cerita ini. Saya justru lebih tertarik dengan bagaimana Stanley mengatur blocking dari para pemain figuran dalam pesta seks tersebut sehingga membentuk suatu sensor tersendiri. Hal ini memang pertama kali dilakukan di salah satu film Austin Powers, tapi Stanley mengembangkannya dengan ciri khasnya sendiri yang membuatnya menonjol.
Say sendiri dapat merespon karakter dokter Billy dengan baik karena saya sendiri adalah seorang mahasiswa kedokteran. Saat Alice mempertanyakan apa yang dipikirkan Billy ketika menyentuh tubuh pasien wanitanya, Billy dengan yakin menjawab bahwa dia tidak memikirkan tentang seks. Saya percaya dengan perkataan Billy, walaupun selalu ada pengecualian untuk beberapa dokter dengan kepribadian tertentu. Di sisi yang lain, saya setujua dengan pendapat Alice bahwa Billy terlalu naif saat mengatakan bahwa wanita tidak mungkin berfantasi tentang seks seperti pria. Dengan sangat baik, Stanley menampilkan dua pemikiran berbeda antara Billy dan Alice tanpa membuat salah satunya tampak lebih superior.
Film ini tidak akan sekuat ini tanpa scoring yang memperkuat nuansa dingin, misterius, aneh, dan sensual tersebut. Satu nada dari piano dipisahkan dengan rentang waktu yang cukup dengan satu nada piano berikutnya untuk membangun suasana dan emosi cerita. Terkadang satu nada tinggi menyeruak beberapa kali pada beberapa shot dan membuat penonton tetap terjaga selama mengikuti plot film ini.
Penggarapan film ini yang memakan waktu 2 tahun untuk tahap produksinya memang saya rasa tepat, mengingat untuk bisa menciptakan shot-shot yang tidak hanya sekedar sepenuhnya terkontrol tapi juga memiliki konsistensi dari satu shot ke shot berikutnya adalah hal yang susah dan membutuhkan kesabaran dan ketelitian tingkat tinggi. Karya terakhir dari Stanley Kubrick ini pantas untuk masuk dalam deretan masterpiece Stanley lainnya.
(Diambil dari blog LABIRIN FILM)
Tag: classic, tom cruise, Stanley Kubrick, Labirin Film, Satrio Nindyo Istiko, Nicole Kidman, Eyes Wide Shut
Terkait:
-
Classic : Synecdoche, New York
Senin, 26 Apr '10 19:31 -
Classic : Before Sunset
Selasa, 11 Mei '10 07:59 -
Classic : Under The Tree
Sabtu, 8 Mei '10 14:22
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Cybelle: Box Office
-
sabai: Informatif
-
kniwe: Good Take
-
kucing_usil: Good Take
-
discobabe: Good Take
-
JuliaJessicaJennifer: Good Take
-
oksbangs: Good Take

Komentar:
akan menjadi film Kubrick pertama yang saya tonton.
sulit, meninggalkan penonton dengan bertanya-tanya "maksudnya apa ya?"
Silahkan login untuk memberikan pendapat