Kesamaan antara film dengan makanan 9
Minggu, 25 Apr '10 11:25
Salam Kenal warga bicarafilm. Izinkan gue untuk turut meramaikan situs ini dengan artikel pertama ini, ya. :)
Membaca judul di atas mungkin membuat anda bertanya-tanya, apakah gerangan persamaan antara film dengan makanan? Bagi pecinta (atau bahkan penggila) film, mungkin mudah saja menyebut menonton film itu sudah sama pokoknya dengan memakan makanan: harus dikonsumsi secara rutin dan kegagalan pemenuhannya akan memberikan dampak negatif. Tapi yang ingin gue sampaikan di sini adalah, menurut pendapat gue, sekurangnya ada 2 persamaan antara film dan makanan.
1. Ada yang suka, ada yang ngga suka, semua itu masalah selera.
Inspirasi menemukan kesamaan ini datang dari seorang teman yang merasa 'rendah diri' karena dirinya tidak menyukai film-film kelas Oscar yang biasanya panjang, dragging, dan depresif. Dia lebih suka film-film action atau komedi yang mudah dicerna.
Penilaian seseorang terhadap sebuah film itu menurut gue berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya, sama seperti kesukaan yang berbeda antara satu orang dengan yang lainnya terhadap makanan. Ada yang suka pedes, ada yang suka manis, ada yang suka asin, yang suka pedes ga suka asin, yang suka asin ga suka manis, ada yang suka jengkol dan pete, ada yang ga suka jengkol dan pete, ada yang suka masakan Padang, ada yang suka Gudeg, dan kesukaan-kesukaan lainnya.
Beberapa orang mungkin suka dan cinta setengah mati nonton film Avatar. Tapi ada juga yang sudah tidak terbuai dengan keindahan-keindahan visual dan hanya cenderung merasa kecewa akan jalinan cerita yang biasa-biasa saja dan penokohan yang kurang kuat.
Beberapa orang mungkin suka dengan pesta darah di film Rumah Dara dan menyebut2nya sebagai hasil karya terbaik yang pernah dibuat oleh anak bangsa. Tapi ada juga yang mungkin jijik dengan darah dan jerohan atau terlalu muak bagaimana perjalanan cerita yang sudah dibangun dan beranjak naik harus kembali terhempas ke tanah karena kehadiran tokoh-tokoh slapstick yang kehadirannya tidak berpengaruh terhadap kisah cerita keseluruhan.
Beberapa orang lebih suka nonton film yang simpel, menghibur, dan ga perlu banyak mikir sementara beberapa orang lainnya merasa nilai hiburan suatu film diukur dari seberapa keras film tersebut memaksanya berpikir dan menduga-duga.
Dengan kesamaan karakteristik tersebut, sebenarnya ga perlu lah sang teman tadi merasa seleranya lebih rendah dan merasa inferior terhadap pecinta film la
innya. Seseorang yang lebih suka makan masakan Padang tidak jadi lebih rendah kan derajatnya hanya karena sebagian orang lainnya lebih suka Gudeg.
2. Kita nggak bakal tahu rasanya kalo nggak nyoba
Pernah dalam suatu periode, gw berprinsip bahwa gw hanya mau nonton film-film berkualitas saja. Berkualitas di sini maksudnya mendapat respon yang baik dari kritikus-kritikus film dengan referensi yang gw ambil dari rottentomatoes, metacritic, atau imdb.
Ragam dan varian film amatlah banyak. Dalam keragaman tersebut, setiap orang pasti memiliki genre, sutradara, aktor, atau tema film yang difavoritkan. Favoritisme ini terkadang membuat kita menutup diri dari varian film lainnya yang kurang kita suka. Sama seperti makanan, kita terkadang ga mau makan makanan yang belum pernah kita makan sebelumnya, apalagi bila penampakannya tidak meyakinkan. Padahal, kita tidak pernah tahu, apakah kita akan menyukai suatu makanan bila kita tidak mencobanya langsung.
Begitu pula dengan film, kelompok orang yang lebih menyukai film action, slasher, atau gore mungkin cenderung menghindari film-film drama atau thriller politik. Kelompok orang yang suka menonton drama-drama romantis mungkin kurang suka dengan film aksi yang penuh adegan tembak-tembakan. Ada suatu mental block yang membuat mereka menghindari genre film yang mereka anggap mereka kurang suka.
Padahal, sebenarnya kita ga akan tahu efek seperti apa yang akan ditimbulkan suatu film jika kita tidak menontonnya. Mungkin kita akan terkaget-kaget dan merasa menemukan suatu cinta yang hilang atau kesukaan yang tidak kita sadari saat kita menonton film yang selama ini kita hindari.
Sama seperti gue yang waktu itu ga mau menonton Tokyo Drift karena respon yang jelek dari kritikus yang bahkan menyebut 'akting' mobil-mobil di dalamnya lebih bagus daripada akting aktor manusia. Tapi setelah beberapa waktu yang lalu sempat menontonnya di TV, ternyata filmnya cukup menghibur. Memang dari segi kualitas kurang bagus, tapi cukup memenuhi dari segi penghiburan. Dari situ, gue jadi lebih terbuka dan mau bereksplorasi di dunia film-film 'B'. Tercatat film-film seperti Zombieland, Crank 2, dan Zombie Stripper berhasil menghibur gue dalam berbagai cara yang unik. Zombieland malah gue tonton berkali-kali.
Jadi, bereksplorasilah, tontonlah berbagai macam film. Siapa tahu kita akan menemukan kesukaan-kesukaan yang belum pernah kita temukan sebelumnya.
Dan masalah pendapat para kritikus, janganlah jadikan hal tersebut menjadi pegangan utama untuk mengira-ngira kualitas suatu film dan efeknya pada diri kita. Pendapat kritik kita jadikan aja setelan untuk mengatur ekspektasi kita atas suatu film.
sumber gambar:
http://madlabonline.blogspot.com/2009/06/custom-movie-themed-cake-designs-to.html
Tag: makanan
Terkait:
-
The Ramen Has Girl Passed Away
Senin, 21 Des '09 08:33
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
discobabe: Box Office
-
kniwe: Good Take
-
sabai: Box Office
-
jamur: Keep Rolling
-
kucing_usil: Box Office
-
JuliaJessicaJennifer: Informatif
-
oksbangs: Informatif

Komentar:
nah, kalau trailer sebuah film itu mirip2 tester dari makanan. kalo testernya enak, ya moga2 keseluruhan porsi makanannya enak. tapi kalo testernya aja udah nggak enak, mending nggak usah dibeli...
tapi tapi tapi ... saya makan segalanya asal ndak haram. nah, sama kayak film. saya nonton segalanya asal ndak haram
thanks semua untuk apresiasinya, mudah2an gw bisa sering mampir di sini. di kantor gue kok susah banget ya login bicara film >_
Silahkan login untuk memberikan pendapat