Eksotika Timur yang Kumuh 10

Minggu, 25 Apr '10 09:13

Sesaat sesudah saya menonton Film Slumdog Millionaire (Danny Boyle, 2008), saya tahu-seperti orang waras lainnya-bahwa film itu dibuat dengan teknik sinematografi yang bagus. Alur ceritanya yang maju-mundur itu sungguh luar biasa, teknik pengambilan gambarnya bagus, akting para pemainnya sip.

Seorang kawan berkomentar bahwa semua adegan di film itu saling berhubungan satu sama lain, sehingga tak ada yang namanya kemubaziran. Saya sependapat dengan dia dan saya kira banyak yang juga berpendapat demikian.

Tapi selama menonton Slumdog Millionaire, saya juga merasa gelisah atas penggambaran India yang begitu kumuh, miskin, jelek, sementara pihak barat direpresentasikan sebaliknya. Masalah ini sebenarnya sangat klasik dan saya terkejut masih menjumpainya sekarang dalam sebuah film yang oleh banyak kritikus dipuji setinggi langit.

Tanpa ragu-ragu, saya harus mengatakan: Slumdog Millionaire, bagi saya, merepresentasikan cara pandang yang barat-sentris dalam melihat, menampilkan, dan kemudian menilai dunia timur.

Slumdog, entah sengaja atau tidak, telah mengandung sejenis orientalisme yang selama ratusan tahun lampau telah dimulai oleh para penjelalah kolonial. Inti gagasannya adalah melihat dunia timur sebagai sesuatu yang "berbeda" dengan barat dan pembedaan ini kemudian diberi nilai tinggi-rendah. Barat itu tinggi, timur rendah; barat baik, timur jelek; barat maju, timur terbelakang; barat beradab, timur biadab. Anda bisa menambahkan deret oposisi biner semacam itu-intinya tetap sama.

Cara pandang macam ini, tentu saja sudah digugat dan bahkan di barat hal demikian sebenarnya telah ditolak oleh sebagian besar orang. Banyak aktivis budaya tanding di Eropa dan Amerika Serikat tahun 1960-an yang menganggap timur sebagai dunia yang jauh lebih baik ketimbang barat-dan karenanya mereka mencoba melakukan gerakan "berpaling ke timur".

Tentu saja, sebenarnya, apa yang dilakukan para pegiat budaya tanding ini hanyalah orientalisme gaya baru sebab mereka terus saja memandang timur sebagai sesuatu yang ajeg dan eksotis.

Tapi cara pandang Slumdog Millionaire benar-benar barat-sentris dalam caranya yang paling klasik-dan karena film ini adalah adaptasi dari novel Q&A karya Vikas Swarup, saya menduga bahwa novel itu juga barat-sentris. Fakta ini begitu telanjang sejak awal saat acara kuis televisi Who Wants To Be A Millionaire dipilih sebagai semacam surga penyelamat. Saya tidak terlampau paham kenapa acara itu dijadikan sebagai bagian yang sangat signifikan dalam film-seolah-olah Slumdog adalah promosi besar-besaran Who Wants To Be A Millionaire.

Kita tidak bisa mengabaikan acara Who Wants To Be A Millionaire dalam Slumdog karena jika kita melakukannya, kita akan kehilangan sesuatu yang secara signifikan membedakan film itu dengan roman-picisan biasa. Pada dasarnya, Slumdog adalah cerita klasik tentang seorang anak miskin yang sangat sengsara yang kemudian meraih kekayaan dan cintanya. Benar bahwa kisah macam ini akan menginspirasi sebagian orang, tapi jangan lupa cerita begitu akan membuat sebagian orang lainnya bosan pada pandangan pertama.

Ada dua hal yang membuat kisah Slumdog jadi tak biasa: (a) latar kota Mumbay yang kumuh, penuh problematika, dan oleh karenanya eksotik; dan (b) pemakaian kuis Who Wants To Be A Millionaire.

Seperti kita ketahui, Who Wants To Be A Millionaire merupakan kuis yang berasal dari barat-diputar pertama kali di Inggris pada 4 September 1998, acara ini sudah menyebar paling sedikit ke 100 negara. Bukankah ini begitu telanjang? Seorang anak miskin asal India (timur) yang terseok-seok hidupnya akhirnya tertolong oleh sebuah kuis asal Inggris (barat). Bukankah skema ini bisa diganti seperti ini: timur yang miskin/kumuh/sengsara berhasil mengentaskan diri atas bantuan barat yang kaya/baik?

Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa Who Wants To Be A Millionaire merupakan bagian dari acara yang sepenuhnya ditujukan buat menghibur penonton-tentu saja, naif membayangkan produser acara ini adalah seorang dermawan yang membuat kuis untuk menolong gembel miskin dari kota kumuh.

Memahami ini, kita akan sadar ironi itu: bagi Jamal Malik dalam Slumdog, kuis Who Wants To Be A Millionaire adalah dewa penyelamat, tapi bagi produser dan para penonton, acara itu semata-mata merupakan hiburan.

Jadi, semua penderitaan Jamal yang selama kuis terus diintrodusir-sebutannya sebagai pelayan pembawa teh, pertanyaan-pertanyaan soal berapa gajinya, dll-merupakan fakta-fakta yang dihadirkan hanya agar acara itu tambah menghibur. Bukankah menyakitkan mengetahui penderitaan seseorang adalah hiburan bagi yang lainnya?

Cara pandang barat-sentris juga hadir secara amat jelas dalam sebuah adegan singkat saat Jamal remaja memandu seorang turis asal Amerika Serikat. Sesudah memperkenalkan sebuah tempat mencuci massal yang kumuh-tapi bagi dua turis AS, tempat macam ini pastilah eksotis-Jamal membawa suami-istri AS dan seorang sopirnya asal India kembali ke tempat mereka memarkir mobil. Ternyata, mobil yang mereka sewa sudah dipreteli oleh anak-anak jalanan setempat.

Sang sopir yang menduga Jamal berkomplot dengan para pencuri, kemudian menghajarnya tanpa ampun. Melihat itu, kedua turis berusaha melerai dan saat itulah Jamal berkata: "Kalian ingin tahu India yang sebenarnya? Inilah India yang sebenarnya itu!"

Mendengar itu, si turis perempuan berkata balik: "Tidak. Kau akan melihat Amerika yang sebenarnya." Ia segera meminta suaminya untuk memberi uang pada sang sopir dan Jamal pun terbebas dari hajaran.

Jadi, kekerasan adalah "India yang sebenarnya" sementara kedamaian adalah "Amerika yang sebenarnya". Bukankah adegan itu menghadirkan cara pandang barat-sentris yang kasar dalam caranya yang paling harfiah dan tak malu-malu?

Fakta bahwa Slumdog Millionaire meraih banyak penghargaan dari dunia film barat-film ini mendapat empat Golden Globes dan delapan Piala Oscar-mungkin membuktikan bahwa orang-orang barat ternyata masih menyukai pandangan barat-sentris terhadap timur.Sampai saat ini, sebagian dari mereka mungkin masih membayangkan dunia timur sebagai dunia yang eksotis, tradisional, sekaligus kumuh dan miskin.

Judul Slumdog sendiri sebenarnya secara jelas menyampaikan, secara amat kasar, bahwa orang-orang barat masih menganggap masyarakat timur sebagai "anjing kumuh"-lebih tepatnya: "anjing kumuh" yang menjadi jutawan karena pertolongan barat.

 


Tag: india, Danny Boyle, Slumdog Millionaire

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

kniwe 0 0
Kalo dari adegan itu memang benar, ada paradigma barat-sentris di film ini, tetapi cerita asli film ini kan diadaptasi dari novel Q&A karya Vikas Swarup, yang orang India. Meskipun Vikas tak bisa dibilang mewakili cara pandang India juga karena pernah berprofesi sebagai diplomat di Amrik dan Inggris.

Saya belum baca novelnya jadi gak tau, apakah adegan itu ditulis juga olehnya atau oleh Simon Beaufoy

Atau mungkin adegan itu dimaksudkan sebagai satire untuk mengejek cara pandang orang Barat terhadap Timur.
ndoet 0 0
wow, cara pandang yang hebat
playmovies 0 0
OK OK tapi bagaimana dgn para cast -yang memang asli anak kumuh itu- yang biaya hidupnya ditanggung oleh para pembuat film ini? apakah itu khas orientalisme juga?

sy kira fakta film ini mendapatkan banyak penghargaan (bukan hanya itu bahkan tapi bersejarah) karena memang film ini bagus, dibuat dengan teknik yang canggih, dan ceritanya sangat kuat

sy sendiri tidak gelisah menonton film ini, i enjoyed it actually

memang tergantung kita melihatnya dari sudut pandang mana, tapi cara pandang barat vs timur itu sendiri menurut saya yang justru mengukuhkan orientalisme

maaf, tapi menurut saya mereka hanya membuat film, dan hanya kebetulan saja cerita yang diangkatnya adalah tentang india yang kumuh

dan itu hanya latar saja, tapi pesan utama film ini bukan itu, bukan tentang kemiskinan atau barat vs timur, dan dalam sebuah karya menurut saya itu yang terpenting, pesan utamanya

apakah mas Haris menangkap pesan utama film ini? karena justru menurut saya itu yang membuat film ini sangat berhasil
Sinmau 0 0
Nice thought, ini review film yang cukup membuka pikiran kita dari sudut pandang nilai politik... mungkin akan terasa berbeda kalo ada yang bikin review dari sudut pandang nilai sosial, nilai budaya, atau nilai-nilai lainnya...

anyone? hehehehe : )
seeska 0 0
waw, saat menonton film ini saya malah tidak berpretensi apa-apa : )
jamur 0 0
mungkinm benar kalo sinetografi film ini bagus, alur yang ciamik. saya setuju. tapi...

[ Slumdog, entah sengaja atau tidak, telah mengandung sejenis orientalisme yang selama ratusan tahun lampau telah dimulai oleh para penjelalah kolonial. Inti gagasannya adalah melihat dunia timur sebagai sesuatu yang "berbeda" ]

masalah perspektif. ntahlah, mungkin dilihat dari barat, ini cerita 'berbeda', tapi.. saya sepertinya sudah 'biasa' melihat fase kehidupan spt ini. benar kata anda, kebanyakan merupakan hasil tafsir Cara pandang barat-sentris.

dan...sepertinya orang india ga segitunya pada amitabh bachan ampe bisa mandi e'ek, eh skippy peanut butter. : D: D

ibans 0 0
bahkan untuk bisa ketemu dan minta foto amithabachan pun harus rela untuk masuk jamban....
sabai 0 0
tampaknya para pemirsa film di amerika dan eropa jarang bgt nonton film India era 80-an...

tema Slumdog Millionaire ini kan sdh sering muncul di film India 80an, cuma yg ini dikemas dengan kuis Who Wants To Be itu. : p
Sky 0 0
hahaha bagus sekali reviewnya... Mungkin karena hal ini, Michael Moore mencoba menjawabnya dengan menghadirkan film Capitalism: A Love Story : )
Haris Firdaus 0 0
playmovies: soal pesan utama dalam sebuah teks, kita bisa berdebat utk menentukannya. tiap orang, menurutku, bisa saja berbda dlm menafsirkan sebuah film dan oleh karena itu beda pula dlm menarik kesimpulan apa pesan utama film itu. jadi, pesan utama yg anda maksud bisa saja beda dg pesan utama yg saya maksud. tapi lebih dari itu, saya lebih suka melihat sisi lain dari sebuah film, maksudnya membicarakan sesuatu yg jarang dilihat orang karena unsur itu tidak dominan. tidak dominan kan bukan selalu berarti tidak penting kan?

anda sah saja berbeda pendapat dg saya. oya, sama dg sabai, saya harus mengatakan bahwa cerita slumdog sebenarnya tidak baru, hanya kehadiran kuis who wants to be a milionaire itu saja yg membuatnya beda. dan masalah utamanya, kenapa harus kuis itu? apakah kuis itu punya arti tertentu utk orang India?

perdebatan saya dg seorang kawan di blog saya ihwal tulisan ini mungkin bisa memperkaya diskusi kita : D

http://rumahmimpi…-yang-kumuh/

Silahkan login untuk memberikan pendapat