Lebih Susah Daripada Transformers 5

Sabtu, 24 Apr '10 03:36

"Membuat film dokumenter jauh lebih susah dibuat daripada film fiksi," ujar saya berulang kali setiap kali ditanya baik oleh wartawan atau peserta kelas-kelas saya. Mereka tentu seperti tidak percaya saat kalimat itu muncul begitu saja keluar dari mulut saya, tapi percayalah....memang begitu adanya. Pada dokumenter Anda tidak akan memiliki kemewahan menciptakan karakter rekaan, Anda tidak akan punya kesempatan menghidupkan atau mematikan karakter, Anda juga tidak akan disahkan untuk merekaya sebuah aksi (kecuali jika Anda sedang mereka ulang kejadian ratusan tahun lampau yang memang mustahil bisa didapat rekamannya) serta segala kesulitan lainnya.

Dokumenter membuat Anda untuk terus menjaga kreativitas Anda tetap berada pada titik tertinggi, sama seperti Sepakbola.....dokumenter mengajarkan Anda untk memecahkan masalah hanya dalam hitungan waktu yang sangat singkat. Jika lalu Anda masih tidak percaya dan terus meyakinkan saya bahwa membuat Transformers jauh lebih susah daripada membuat dokumenter.....maka tontonlah dokumenter-dokumenter orang-orang hebat itu (saya juga hebat lho)....salah satunya berjudul Oceans (2010).

Inilah karya dokumenter yang sangat agung bagi saya. Menontonnya membuat saya kembali menjadi kecil dan merasa pencapaian documentary filmmaking saya menjadi sangat biasa. Masa syuting yang diceritakan mencapai waktu 4 tahun bagi saya menjadi biasa karena saya menciptakanThe Jak (2007) dalam kurun 3 tahun, tanpa uang yang memadai. Tentu saja berbeda dengan keadaan produksi Oceans karya Jacques Perrin dan Jacques Cluzaud yang saya yakin dibekali dengan segala kemewahan produksi sebuah dokumenter.

"Kalo duitnya sebanyak itu, gue juga bisa tabrakin Bulan ama Bumi," ujar saya saat film dibuka dengan gambar-gambar indah samudra-samudra di dunia. Saya terus bergumam bahwa produksi ini kalo kekayaan materinya seperti saat saya membuat Hope yang baru akan tayang nasional di akhir tahun ini saya yakin duo Jacques hanya akan bertahan berproduksi selama 27 jam maksimal. "Laen kali gue mau telpon Gayus aja, kali-kali dia mau cuci duitnya," seloroh saya saat kamera yang dioperasikan oleh belasan seniman kamera bawah air terus bergerak lincah.

Pada film ini segala perasaan bahwa uang adalah segalanya mendadak buyar begitu saja. Saya percaya tidak mungkin Sutradara menciptakan adegan dahsyat perkelahian seekor lobster dan kepiting yang sangat menakutkan layaknya duel-duel pada film Ong Bak. Saya juga percaya bahwa penggambaran rantai makanan di laut yang digambarkan seperti sebuah adegan pertempuran udara itu adalah benar-benar shot pada realitas tanpa rekayasa. "Mereka memanfaatkan uang yang mereka dapat dengan sangat bijak," gumam saya kemudian dan berulang kali.

Belum pernah saya melihat dalam film dokumenter, betapa dramatisasi pada realita yang terekam menjadi sangat luar biasa. Bayangkan adegan saat ratusan kura-kura berlari mencari air sembari dikejar oleh burung dan pemangsa lainnya, kisah yang sering kita dengar tentang bagaimana kura-kura bisa bertahan hidup. Duet Jacques membuat adegan ini seperti sebuah film aksi kelas atas, adegan pembuka Saving Private Ryan milik Steven Spielberg yang monumental itu. Tak terhitung di scene-scene selanjutnya betapa dua lelaki Perancis ini dengan sangat meyakinkan membuat penonton tak hanya terkesima.....namun terbangkit situasi emosionilnya.

Tidak seperti Home (2009) karya Yann-Arthus Bertrand yang merekam penjuru bumi dengan sangat sederhana dan bijak, Oceans tampak sangat emosionil, betapa keikutsertaan manusia pada ekosistem telah mengakibatkan kerusakan dan ancaman bagi makhluk hidup lainnya. Masa observasi yang saya yakini memakan waktu yang cukup lama membuat segala detil dalam film ini menjadi sangat luar biasa serta bahkan mencekam.

Melihat Oceans, saya merasakan tantangan untuk memberi sebuah pencapaian sinematik pada karya-karya dokumenter saya selanjutnya.....sekaligus berlatih untuk kemudian memproduksi karya fiksi lainnya yang tak kalah menggetarkan.

 

 


Tag: dokumenter, jacques perrin, oceans

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 0 0
wiiiih... baca reviewnya sungguh pengin nonton Oceans yg menggetarkan dan menggentarkan itu!!

hayuk, barang siapa punya kenalan pengemplang pajak yg mau cuci uang, boleh tuh buat bikin dokumenter bahari Indonesia yg maha luas & maha kaya ini! mas pisau terbang boleh tinggalin kontaknya dong disini.... kali aja ada yg mau nyeponsorin!
kniwe 0 0
sabai: Yaudah, aku aja yg sponsorin kamu... Pas closing FSP yuk!!!
playmovies 0 0
sabai: sama jadi pingin nonton juga!!
kucing_usil 0 0
semangat mas piso terbang \m/: D

*menantikan karya yang menggentarkan*

omong-omong oceans di FSP cuman buat undangan ya? : o
Adhityani (Dhitri) Arga 0 0
Posting elo menggugah sekali cup... Jadi semangat bikin PROPOSAL, hahaha.

Bagi semua: film ini WAJIB TONTON! Abis itu jadi pengen belajar diving, berhenti makan ikan dan gulung celana buat bersihin kali Ciliwung deh.

Silahkan login untuk memberikan pendapat