No Country for Old Men: Puisi buram untuk hari tua 8

Rabu, 21 Apr '10 14:49

Seperti apakah puisi itu? Dalam bentuk idealnya, sebuah puisi adalah rentetan kata yang tak tergantikan yang menghasilkan imaji tentang fragmen tertentu. Jika satu kata saja dikurang atau ditambahi, maka puisi itu akan lain artinya. Lalu seperti apakah jadinya jika puisi difilmkan? Jadilah No Country for Old Men!

Jika dianalogikan, adegan demi adegan yang disusun oleh Coen bersaudara laiknya susunan kata-kata yang membentuk puisi yang subtil dan sublim. Tak ada lagi yang bisa ditambah atau dikurangi dari film ini. Film ini memang bercerita soal kejar-mengejar, tembak-menembak, rentetan peluru, luka dan darah, namun jauh dari banal. Bahkan bisa dikatakan bahwa setiap peluru yang meletus, setiap luka yang koyak, dan setiap darah yang menetes adalah kata-kata yang membentuk untaian pesan yang dalam dan tak bisa menemukan bentuk lain pengungkapannya kecuali sebagaimana digambarkan film ini.

Joel dan Ethan Coen memang menyajikan tontonan yang cerdas dalam karyanya ini. Mereka paham betul bahwa fragmen-fragmen dalam film ini tidak dapat disampaikan melalui dialog, atau narasi. Hanya lewat bahasa visual. Ketegangan demi ketegangan dibangun dengan pertanda yang menjadi pesan yang bersembunyi dalam kegelapan, berbunyi di tiap ketukan sepatu pada lantai, atau terlihat pada guliran koin di udara yang sisi-sisinya menentukan nyawa seseorang.

Siapa yang mampu menahan diri seperti Llewelyn (Josh Brolin) yang gelisah mereka-reka waktu datangnya calon pembunuh di depan pintu yang terkunci, sementara di sela bawah pintu terlihat bayangan sepasang telapak kaki menutupi sinar yang masuk? Dan teror menjadi klimaks ketika lampu koridor hotel yang menjadi satu-satunya petunjuk kedatangan orang lain mendadak mati.

Ia juga tak perlu dialog atau adegan mengiba untuk membuat sedih penonton. Cukup menghadirkan adegan Anthon Chigrug (Javier Bardem) melihat ke kedua telapak sepatunya untuk melihat sisa darah selesai bertemu istri Llewelyn yang sudah diniatkan akan dibunuh.

Lain dari biasanya, di mana film-film sering mengandalkan bunyi musik untuk menebalkan ketegangan, Joel Coen dan Ethan Coen justru menghapus musik dan membiarkan bunyi setiap adegan yang bericara. Dan pilihan duo ini terbukti mujarab untuk merayu para juri Academy Award untuk memberikan piala Oscar dalam kategori Best Picture dan Best Director.

Untuk peran Javier Bardem yang mendapat Oscar sebagai Aktor Pendukung terbaik, kita tentu kesulitan untuk menemukan penjahat yang lebih menakutkan ketimbang itu. Terlihat dingin dan tak punya aturan, Bardem sukses menghadirkan sosok pembunuh psikopat yang emosinya tak mampu lagi bereaksi terhadap pembunuhan yang baru saja ia lakukan.

Sementara Sheriff (Tommy Lee Jones), karakter utama film ini, justru digambarkan dengan cara yang sangat ironis. Sejak awal kita tahu ia tak punya kemampuan lagi untuk menghadapi kejahatan model begini. Hasilnya, ia hanya mampu melihat jejak-jejak seperti darah, mayat dan bekas tembakan yang ditinggalkan para penjahat, tanpa punya kesempatan untuk bertemu muka sekalipun. Ironisme ini diperkuat dengan adegan penutup film yang menggambarkan pengakuan sang Sheriff atas keterbatasannya, dan film tiba-tiba berhenti sebelum ia selesai bicara.

Maka jika yang kita cari dari film ini adalah heroisme atau kehebatan seorang jagoan, maka semua itu akan luput segera. Joel dan Ethan memang tidak sedang menceritakan itu. Mereka sedang berpuisi tentang seorang tua, puisi yang buram bagi masa tua.


Tag: no country for old men, film Joel dan Ethan Coen

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Donald Duck 0 0
ini film horor bukan siyh ??
Artmeza 0 0
Donald Duck: horrornya ttg pembunuh sakit jiwa bersenapan angin
jamur 0 0
magnificio!!!

gila koin kerasa sampe sumsum tulang.. ; ))

[menghapus musik dan membiarkan bunyi setiap adegan yang bericara]

brilliant movie!
seeska 0 0
no music score? hmm penasaran....apakah termasuk film sunyi? : )
Ahmad Makki 0 0
Donald Duck: Horor sih bukan, tapi bikin nahan nafas melulu saking tegangnya.

jamur: Sepakat

seeska: FIlm sunyi gimana tuh? yang pasti bukan film bisu. Waduh untuk film kaya gini penasarannya buru-buru diobatin deh!
sabai 0 0
Puisi yg difilmkan!! gilak gue setuju bangeds....
itu analogi yg pas buat film ini. sejak adegan pembuka, cuma gemerisik angin di padang rumput yg rumputnya jarang-jarang gitu udah puitis sekaligus mencekam...

dan kerennya mood itu sukses dipertahankan sepanjang film!! bener kata jamur, emang magnifico!
Gambliz 0 0
kenapa ya, dibanding semua sekuens dahsyat yang dibangun Coen brothers, aku sangat-sangat tersentuh dengan monolog akhir Tommy Lee Jones sewaktu bercerita soal mimpinya semalam pada istrinya....adegan itu benar-benar well executed dan memberi kita pemahaman yang komplit soal apa yang film ini bicarakan...
jamur 0 0
Gambliz:

benar. : )
coen brothers menunjukkan pemahaman atas 'kesia-sian'. kesia-siaannya llewelyn jagain uang. kesia-siaan si sheriff, kesia-siaan pola hidupnya. dan kemungkinan chigurh2 lainnya akan terus bermunculan.
di a serious man, burn after reading, the big lebowski juga sedikit bantak memaskkan unsur itu.

Silahkan login untuk memberikan pendapat