Distric 9: Sosiologi Kehidupan Bersama Alien dan Manusia 9

Rabu, 21 Apr '10 14:33

Eksistensi dan kemunculan alien mungkin merupakan topik yang sudah banyak diangkat dalam film-film Hollywood sejak puluhan tahun lalu. Mulai dari menampilkan alien layaknya musuh ganas menakutkan (Alien, Predator), sampai yang menggambarkannya sekadar misteri tanpa embel-embel keganasan (Roswel, K-Pax). Namun saya kira tema spesifik seperti disorot Distric 9 dapat dikatakan masih langka; corak sosiologis kehidupan bersama manusia dan alien.

Film ini mengisahkan tentang sebuah wilayah bernama District 9, yang menjadi lahan pengungsian komunitas besar alien yang terdampar di bumi sejak 20 tahun lalu. Selang waktu dua dekade ini ternyata tidak menimbulkan pengertian di antara manusia dan alien. Kontak yang terjadi di antara kedua spesies ini tergolong minim dan terbatas untuk kepentingan tertentu saja. Kelompok manusia yang menjalin kontak di antaranya para penyelundup senjata, penjual daging, pelacur manusia yang menjajakan "jasanya" kepada alien, serta perusahaan militer MNU yang memiliki kepentingan bisnis.

District 9 menghadirkan gambaran alien yang cukup unik. Di satu sisi perilaku mereka cukup mirip dengan manusia (melakukan jual beli, mencoba menghutang, takut dengan otoritas manusia), namun di sisi lain agresivitas dan keunggulan tenaganya masih terlihat (amukan mereka bisa memutuskan organ tubuh manusia). Dalam hal teknologi mereka digambarkan unggul (senjatanya hanya bisa bekerja melalui kontak dengan DNA alien) meski tak terlampau jauh. Gambaran bentuk tubuh mereka terpengaruh dengan gambaran alien dalam Predator, namun kepalanya seperti udang. Makanya mereka lebih sering disebut udang.

Pada satu ketika, yang digambarkan sebagai saat ini, para manusia menuntut pengusiran komunitas udang yang berjumlah lebih dari 1 juta tersebut, karena dianggap menghadirkan dampak buruk serta pemborosan anggaran pemerintah. MNU yang menangani proyek ini berencana menempatkan mereka di sebuah wilayah di Afrika Selatan yang lebih terisolasi dan kemungkinan kontaknya dengan manusia lebih kecil. Seorang karyawan MNU bernama Wikus (Sharlto Copley) pun ditunjuk untuk mengetuai proyek ini.

Sesuai dengan prosedur, Wikus harus meminta tanda tangan para udang tersebut sebagai tanda persetujuan untuk dipindahkan. Dalam proses inilah Wikus terinfeksi DNA alien yang membuatnya tubuhnya perlahan bermutasi menjadi udang. Kejadian yang baru pertama terjadi ini membuat MNU tergiur untuk meneliti Wikus demi tujuan militer dan komersil. Wikus yang masih memiliki sebagian besar tubuh dan kesadaran laiknya manusia berupaya lari diri dan mencari cara menyembuhkan diri. Peristiwa kejar-kejaran inilah yang memakan porsi sebagian besar durasi film.

Secara sinematografis, film ini menggunakan gaya sains dokumenter, di mana pendapat para ahli seringkali menyelip di sela peristiwa, terutama di awal-awal film. Sejak awal film, penggunaan kamera dikesankan bergaya dokumentasi, seolah kamera penonton dipegang oleh salah seorang kru MNU. Barulah ketika Wikus melarikan diri kamera berubah jadi lebih konvensional.

Pilihan tema yang cukup unik, serta penggalian kemungkinan-kemungkinannya inilah yang mungkin membuat para juri Academy Award kepincut dan menempatkan District 9 sebagai salah satu calon peraih Oscar 2009 untuk kategori paling bergengsi, Best Picture. Meski banyak dihiasai oleh pameran kehebatan senjata para udang, tapi ceritanya tergolong cukup baik, ditambah keberanian sutradara untuk menyelipkan ide-ide orisinal mengenai gambaran alien, film ini layak dijadikan koleksi. Kebetulan saya menemukannya dengan harga cukup murah, setengahnya jika dibandingkan dengan koleksi nominator Oscar lainnya. Apalagi dibanding New Moon yang bikin geleng-geleng kepala.


Keberatan saya terhadap film ini mungkin bersifat subjektif. Mungkin akan lebih menarik jika Neil Blompkamp, sang sutradara lebih memberi fokus pada persoalan-persoalan drama kehidupan. Kesedihan Wikus dan istrinya karena terpisah oleh kejadian yang menimpa Wikus menjadi terlalu dangkal karena tidak digarap lebih lanjut. Walhasil, adegan sang istri menemukan bunga yang dibuat dari sampah jadi tidak terasa efek romansanya.Dalam hal teknis, seharusnya sutradara memberikan kesempatan barang beberapa detik untuk memunculkan para udang bersamaan dalam jumlah besar, sehingga penyebutan jumlah lebih dari 1 juta lebih terasa meyakinkan.


Tag: film, sci-fi, District 9

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

kniwe 0 0
Wah review keren untuk film keren...
Ahmad Makki 0 0
kniwe: Makasih, Bos. Sekalian kenalan nih, anak baru.
Invictus- 0 0
haha, udang.. : ))

tapi gw emang salut sama blookamp karena meskipun tergolong sutradara baru tapi dia bisa bikin film bagus dengan budget yang terbatas..

soal ending, gw rasa nasib hubungan wikus sama istrinya ga perlu dibahas terlalu panjang karena proporsinya emang ga ada. jadi walaupun singkat yang penting berarti..
Artmeza 0 0
Invictus-: jangan2 ada sequelnya tuh : D kekekekeke
Ahmad Makki 0 0
Invictus-: hubungan wikus sama istrinya ga perlu dibahas terlalu panjang. Mungkin betul. Makanya saya bilang subjektif. Salam udang deh. Hehehe
sabai 0 0
yesss.. menurut gue justru bloomkamp sukses banget membawa interpretasi baru dan angin segar ke dunia film alien yang selama ini gitu2 aja digarap hollywood!

jadi inget apartheid nggak sih sepanjang nonton film ini?
Ahmad Makki 0 0
sabai: Yang punya cara pandang begini sih ada beberapa sebelumnya. MIB, misalnya, terus ada juga mini seri, tapi udah lama banget. Lupa judulnya.

Apartheid? Ko ga kepikiran ya? Mantap deh emang empo pendekar kita nih.
discobabe 0 0
Lah emang film ini kan soal Apartheid... Diangkat juga dari sebuah kisah paling suram dari masa apartheid...
ndoet 0 0
film ini kayaknya bakal dibuat sekuelnya. masih banyak hal-hal yang bisa dieksplorasi

Silahkan login untuk memberikan pendapat