Tamasya Muram Gembira ala Hathaway 4

Selasa, 20 Apr '10 14:58

Ini pengalaman buruk yang saya harap tidak terjadi pada anda. Jangan mudah melakukan stereotyping terhadap orang lain. Contoh kongkrit buruknya kebiasaan semacam itu terjadi juga saat saya menyaksikan "Rachel Getting Married". Di film itu, si manis Anne Hathaway dipuji-puji banyak kritikus. Dalam hati saya bilang, "Oh, Yeah....."

Suatu hari kakak saya meminjam film dari rental langganan. Dia bilang, "bintangnya si "Princess Diary" lho!". Walhasil, saya langsung antusias. Saya merasakan nafsu sok ala "movie buff" untuk membuktikan, apakah benar segala pujian itu tidak salah alamat.

Dengan pemahaman ala kadarnya soal akting, saya menilai dengan ego tinggi ala kritikus film kawakan, sejak scene pertama dimulai. Dan dari awal film itulah, saya langsung melongo. Scene yang menampilkan tiga orang yang tengah duduk terdiam itu, sempat membuat saya lupa mengamati - dan bahkan nyaris tidak sadar - kalau Anne Hathaway ada disana.

Ia tuntas dalam menampilkan aura pecandu yang tengah mengikuti rehabilitasi, bernama Kymberly. Tidak ada lagi sosok cute, dan sungguh, jauh dari kesan manis. Impulsif, dan penuh dengan character flaw. Melalui sosok kompleks itulah kita pun dipandu, pada lawatan pesta nantinya.

Kredit tersendiri pantas dialamatkan pada Jenny Lumet, sang penulis skenario. Anak kandung aktor Afro-Amerika kondang Sydney Lumet itu, memberi kita nuansa yang senafas dengan cara Shirley Jackson mengawali kisah mencekam di cerpen paling kondangnya, "The Lottery".

Jika "The Lottery" memberi kita gambaran pesta rakyat nan aneh (karena tidak ada kegembiraan, laiknya perayaan tradisional seharusnya berlangsung, dan alih - alih yang nampak adalah perasaan tegang yang muncul halus disana - sini) "Rachel..." membawa kita pada rasa kekeluargaan yang kagok, bahkan kadang mengancam.

Sikap si ayah, ( diperankan oleh Bill Irwin - dan ia bermain brilian) Paul, yang menyambutnya sekeluarnya dari panti rehabilitasi memang sewajarnya dilakukan oleh ayah pada anak. Tapi, kita akan melihat, bahwa dibalik sorot matanya, tersimpan sejumput kekhawatiran, dan kita masih harus menerka - nerka, permasalahan apa yang tengah menanti kita hingga scene berikutnya di tampilkan.

Selanjutnya tidak ada terlalu banyak kejutan, tidak muncul dramatisasi berlebih, dan anda akan melihat keceriaan keluarga yang akan melangsungkan hajatan perkawinan. Sungguh, jika bukan karena akting para pemainnya yang cukup di atas rata - rata, sayapun akan mengantuk. Tapi sekali lagi, Jenny hanya meninggalkan bolong di penggambaran pesta yang terlalu sering.

Mungkin kritikan terbesar, harus ditujukan pada sineas Jonathan Demme yang terlampau sibuk membentuk atmosfir "gerakan neo-realis gaya baru ala handeld camera". Asyik sih memang, cara tuturnya memanfaatkan kementahan gambar hasil handycam. Tapi, ia lebih sering membuat kita pusing, dan nyaris ia benar - benar memberi kita rangkaian gambar macam shooting manten :D.

Sayangnya misi saya kan bukan mengamati rangkaian film ini secara utuh. Saya betul - betul konsentrasi untuk menyaksikan Anne Hathaway. Dan secara keseluruhan, ia memang mendapat porsi yang pas, untuk muncul dan memaksa kita, bersepakat dengan apa yang ia rasakan. Kita dipaksa untuk bersimpati, terkadang bahkan mendorong kita apabila memungkinkan terlibat, memberi ia motivasi untuk bertahan.

Ia angsa hitam aneh yang diacuhkan dalam pesta kawinan ala Hippies cum pluralis tersebut (gimana ndak gitu, lha wong yang nikah kulit putih dan kulit hitam, dan dilaksanakan dalam adat hindu). Dan karakter Kym seperti bertemu katalis yang pas untuk makin menyinarkan pesonanya, lewat permainan emosi penuh nuansa dari Rosemarie DeWitt yang berperan sebagai Rachel, si kakak yang bakal menikah.

Terakhir saya menyaksikan pertunjukan emosi yang fluktuatif dengan asyik adalah saat melihat "Before Sunset". Bangun emosi yang dipertontonkan Ethan Hawke dan Julie Dephly saat itu begitu rapuh, dan kita sering ikut terperosok jatuh. Begitu pula dalam penampilan Anne dan DeWitt.

Mereka sosok adik kakak klise, yang bisa tiba - tiba berubah, dan meledak menjadi dua orang musuh dengan luka dalam masing - masing yang tidak akan dapat dihapus. Belum lagi sosok ibu muram yang dimainkan ciamik oleh Debra Winger, dalam menambah kompleksitas cerita. Ia sosok yang tidak bisa disentuh, dan ia bertanggung jawab penuh atas ending film ini yang keren.

Begitulah kisah ini bermula dan berakhir. Kita yang dipandu dalam drama keluarga generik, yang biasa dalam titik pangkal permasalahan, namun dituturkan dengan teramat sabar, menanti setiap penonton untuk tidak terjaga, hingga kita dipastikan jatuh sesuai keinginan Lumet Jr. Serupa Shirley Jackson, kita dihadapkan akhirnya dengan tragedi. Bedanya, tragedi dalam "Rachel.." berlangsung dalam kacamata audiens. Dan bukan lagi para karakter itu yang menanggungnya.

Berapa film sudah menampilkan kisah disfungsi keluarga, apalagi di Amerika. Kenyang sudah kita rasanya. Lepas dari latar kisah yang cukup berwarna (mungkin didasari juga oleh latar belakang keluarga Jenny Lumet yang memang multirasial) sebenarnya kisah ini standar - standar saja. "American Beauty" sudah terlanjur mematok ukuran yang kelewat tinggi soal bagaimana persoalan disfungsi keluarga ditampilkan dan diinterpretasikan.

Lepas dari komparasi yang saya lakukan, melalui karakter Kym, film ini menampilkan kekuatannya yang paling besar. Anne Hathaway memandu kita untuk selalu memintal perasaan was - was, dan tidak nyaman. Memang itulah pesan sentral film ini. "Rachel..." merupakan tamasya kedalam peristiwa yang memicu lubuk hati kita yang terdalam, untuk tidak ingin terlibat didalamnya. Karena kita akan disuguhi kenyataan pahit, bahwa luka sepedih apapun ternyata tidak bisa disembuhkan.

Yang jelas, Anne Hathaway tidak pantas disejajarkan dengan sejawat alumni Disney yang lain. Ia berada di tataran yang berbeda. Dan merupakan sebuah kesia - siaan besar apabila ia tidak menggali potensinya lebih jauh.

Setelah film usai, saya baru sadar, kakak saya tidak berada di samping saya lagi. Ia sudah ada di kamar. Sebelum saya bertanya lebih jauh, ia berkata, "Film-e mboseni. Ga seperti yang kubayangkan, Anne Hathaway kok main serius!"

Saya jadi berpikir keras, untuk memaknai apa yang dimaksud "serius" itu.....


Tag: drama, Hathaway, konfilk keluarga

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Donald Duck 0 0
emang keren ini film
Harits 0 0
Hathaway memang berbeda dengan artis Disney kebanyakan, diatara alumni disney (Miley Cyrus, Lohan, Spears, Jonas Brothers, dll), Hathaway favorit saya..
sabai 0 0
tumben gamblitz kocak!! gue ketawa2 pas baca ini: "Dengan pemahaman ala kadarnya soal akting, saya menilai dengan ego tinggi ala kritikus film kawakan, sejak scene pertama dimulai."

dan yesss.... anne keren bgt!!
kayak tom cruise di collateral, gue sampe lupa itu tom cruise : D
kniwe 0 0
Iya, keren banget. Setiap hal yang muncul adalah konsekuensi dari adegan sebelumnya, jadi gak ada yang aneh atau canggung... Bravo...

Seperti biasa tulisan @Gambliz yang keren

Silahkan login untuk memberikan pendapat