Post-Film ala Garin 7
Selasa, 20 Apr '10 22:30
Belum lama saya mendengar istilah post-film. Itu pun tak sengaja ketika lagi ngobrol lewat telepon dengan Mas Garin Nugroho, membahas karya opera keduanya, Opera Jawa, yang akan dipentaskan di Eropa, September mendatang. Karya ini merupakan opera keduanya, yang berangkat dari film Opera Jawa.
Sebelum repertoar yang hingga kini masih dalam proses latihan itu, telah lahir The Iron Bed, yang 'dibintangi' Titi Sjuman. The Iron Bed sudah tampil di forum bergengsi dan memperoleh apresiasi seniman dunia.
Kedua opera itu, menurutku, cukup 'filmis'. Alurnya lurus, cerita mengalir dan enak diikuti sehingga durasi sepanjang 70 menit terlampaui tanpa jemu. Mungkin itu 'kekurangan' seorang Garin, yang lebih dahulu matang dalam penyutradaraan film. Simbolisasinya kuat, seperti pada semua filmnya.
Capek menyutradarai film ya, Mas?
Gak! Begitu ia menjawab, tangkas. Seni pertunjukan dan film, hanya beda medium, katanya. Selebihnya, baik tata artistik, pencahayaan, kostum, sama menuntut kejelian dan 'matching' dengan konteks.
Tapi, saya masih bingung ketika harus menerjemahkan post-film yang dimaksudnya. Apakah post harus saya maknai setelah, sehingga post-film mengandung arti sawise bosen nggarap film alias proses kreatif pasca-film?
Kayaknya, saya butuh pencerahan deh...
Tag: Garin Nugroho, Titi Sjuman, Opera Jawa
Terkait:
-
Mata Tertutup (2011): Membuka "Mata" Terhadap Garin Nugroho
Selasa, 20 Mar '12 00:13 -
MATA TERTUTUP : AND THE HEARTS OPEN
Jumat, 16 Mar '12 20:01 -
Update terbaru: Film Indonesia pada berbagai Festival Film Internasional 1990-2012 (part 2)
Kamis, 23 Feb '12 02:04

Komentar:
Asli bagian ini bikin ngakak!!
Barangkali beliau sudah sulit mencari... ah sudahlah.
Yg saya tahu...post-modern itu identik pake simbol2 metafora dlm karyanya. Salah satu film post-modern yg bisa dibaca reviewnya di sini tuh "Synecdoche, New York".Hasil review saya.hehehe
Yang penting kita paham "gagasan" atau maksudnya, yaitu supaya orang-orang (termasuk kita) mau membuka diri buat melihat dan membaca karya-karyanya dengan pikiran dan hati terbuka. Sebab, memang, kita bakal mengalami problem besar jika mengapresiasi karya-karyanya dengan konsep, teori, atau cara pandang konvensional. Intinya dia memang seorang petualang seni yang gak ada capeknya. Dalam bahasa keren: seniman yang terus mencari dan mengeksplorasi, baik gagasan maupun mediumnya. Seorang postmodernist sejati.
Dalam penjurian FFI 2009, misalnya, saya dan teman-teman berhadapan dengan film Under the Tree. Kalau mau ngotot menilai dengan metode konvensional, dari awal film itu sudah masuk kotak. Setelah kami memutuskan membuka diri dan pikiran, film aneh itu akhirnya bisa mendapat 9 nominasi, termasuk FIlm Terbaik, dan dua antaranya menang piala Citra.
Kompas -- mungkin saking terkejutnya -- mengangkat soal 9 nominasi itu sebagai judul berita pengumuman nominasi FFI 2009. "Judul yang aneh," kata banyak orang, karena ada dua film lain yang mendapat nominasi lebih banyak: May (11 nominasi) dan Fiksi (10 nominasi).
Istilah "post-film" itu sendiri menurut saya maknanya sangat lateral. Kurang lebih, ini ekspresi lanjutan dari film Opera Jawa. Begitu aja.
Kenapa mesti diberi label "post-film" segala? Mau gagah-gagahan? Bisa jadi, wong sampeyan juga kenal Garin kok. Tapi yang pasti ya itu tadi: ini cara Garin buat memohon supaya karyanya yang satu ini jangan diapresiasi sekadar sebagai sebuah opera atau sendratari biasa, misalnya. Pasti bakal terlihat banyak kekurangannya.
"Tolonglah lihat ini sebagai bagian yang saling terkait, gak terpisahkan, dari film Opera Jawa. Maklumilah jika tidak sebagus opera pada umumnya, sembari cobalah lihat sisi lain yang mungkin masih baru tapi menarik juga," begitu kira-kira mungkin permakluman terselubung yang ada di balik istilah baru yang membingungkan itu.
Silahkan login untuk memberikan pendapat