Menikmati Terjemahan Film Bioskop 14

Selasa, 20 Apr '10 20:14

Apa yang kita keluhkan setelah kita keluar dari gedung bioskop setelah menonton film, film yang tidak sesuai harapan kita, penonton yang tidak menghargai penonton lain (kita semua benci penonton seperti ini), atau masalah-masalah teknis akibat kesalahan pihak bioskop (mati lampu, proyeksi film kurang sesuai), dan pelbagai hal lainnya. Tetapi pernah kah kita memedulikan hasil terjemahan film yang kita tonton, khususnya film-film berbahasa asing. Seumur-umur saya menonton film bersama orang lain, tidak ada orang yang sampai uring-uringan untuk masalah seperti ini. Saya sendiri pun tidak walau sebenarnya sangat menggangu mengetahui terjemahan yang kurang tepat ketika menonton film. Bukan berarti saya sengaja mencari-cari kesalaha dalam terjemahan yang ada, tapi itu sadari dengan sendirinya selagi menonton; "hah, kok gini sih?!?" Saya bukan lah penerjemah profesional apalagi mahasiswa jurusan sastra Inggris (kebetulan banyak film asing berbahasa Inggris kan), yang sepertinya tahu dengan pasti dan benar terjemahan yang baik.

Pernah mengintip beberapa kalai di forum-forum yang saya lihat di internet mengenai terjemahan ini, memang banyak yang sebal dengan terjemahan film-film kita. Saya kurang begitu paham bagaimana proses sebuah film diterjemahkan sehingga menjadi subtitle yang kita baca di layar bioskop. Dari forum yang saya intip tadi itu, si penerjemah film hanya mendapat naskah film tanpa sempat menonton filmnya dulu ketika menerjemahkan. Hasil terjemahnnya juga sebisa mungkin dibuat singkat agar mata penonton tidak terpaku terlalu lama membaca teksnya.

Terlepas entah bagaimana prosesnya, tidak semua film pasti ada kesalahan dalam terjemahannya, ada beberapa film yang mungkin si penerjemahnya melakukan kekhilafan. Beberapa film yang masih bisa saya ingat (dan mungkin teman-teman lain juga ingat)

 

Avatar

Ingat adegan ketika Jake Sullivan (Sam Worthington) berbicara berhadapn-hadapan kepada Tsu'tey (Laz Alonso) mengenai perlawanan terhadap manusia di depan ratusan suku Nav'i yang lain. Di situ si Jake berkata "I stand here before you" kepada si Tsu'tey. Dan dalam terjemahan yang ada tertulis "Saya berdiri sebelum kamu", hmm...jelas-jelas ada yang salah dengan terjemahan ini. Dalam bahasa Indonesia saja tidak pernah kita ucapkan kalimat seperti itu. Si penerjemah mungkin kurang memahami frase kata yang terdapat dalam bahasa Inggris sehingga menerjemahkannya kata per kata dan menghasilkan terjemahan seperti itu.

 

From Paris With Love

Di film ini diceritakan bahwa jagoan kita si James Reece (Jonathan Rhys Meyers) bisa berbicara dalam bahasa Cina, kita ketahui dari percakapannya dengan Charlie Wax (John Travolta) di restoram cina sebelum mereka melubangi atapnya dan mengakibatkan hujan morfin. Si James Reece belajar bahasa Cina di Universitas Cambridge (sampai sini gak ada masalah), tapi ketika adegan berpindah ketika Reece dan Wax menuju ke rumah orang-orang Lebanon, si Reece sekali lagi mengucapkan kata Cambridge (hanya 2 kali kata ini diucapkan), tapi apa yang tertera di subtitlenya.."Harvard". Dua nama yang berbeda, meskipun sama-sama perguruan tinggi. Ini seperti menerjemahkan UGM menjadi UI atau ITB menjadi IPB

Dari contoh film yang agak lama, Forbidden Kingdom. Ada salah seorang karakter yang bernama Golden Sparrow (Yifei Liu) yang pada awal-awal film diterjemahkan sebagai "burung gereja" tapi pada bagian akhir film berganti menjadi "walet". Seperti memunculkan karakter baru ke dalam film, sebuah kuasa yang melebihi sang sutradara. Sebenarnya lebih tepat sebagai "burung pipit" (sama sih dengan burung gereja tapi mungkin lebih imut" tapi kalau kemudian berubah menjadi "walet" apakah karena terdengar seperti "swallow"?!?

 

Sherlock Holmes Gaul

Melihat film detektif seperti ini mungkin membuat kita bertanya-tanya, jadi muncul pertanyaan-pertanyaan "How Come", yang kebetulan banyak diucapkan dalam film ini oleh Watson (Jude Law) kepada Holmes (Downey). "How come" di film ini diterjemahkan menjadi "Kok bisa?" sehingga saya juga bertanya-tanya kok bisa ini hasil terjemahan yang digunakan. Barangkali lebih enak dibaca bila diterjemahkan menjadi "Kenapa bisa?". Toh dalam filmnya sendiri tidak menggunakan kalimat percakapan yang terlalu "gaul"sehingga hasil terjemahannya seharunsya juga tidak terlalu gaul. Sama halnya dengan kata "woman" di dalam film ini dipadankan dengan kata "cewek" daripada kata "wanita". Jelas-jelas "woman" dalam film ini mengacu kepada perempuan dewasa di atas usia 20, dan seingat saya tidak ada "cewek" yang terlibat atau disebut-sebut dalam film ini. Atau, mungkin untuk mencari kata yang lebih singkat karena kata "cewek" lebih pendek satu huruf daripada kata "wanita".

 

Khan is A Moslem Not a Terrorist

Salah satu film India yang paling banyak ditonton di awal tahun ini, semoga semua puas setelah menontonnya. Film buatan India tetap setia dengan bahasa Ibunya, tapi karena berseting di Amerika tetap aneh kah kalai memaksakan berbahasa India juga. Saya juga tidak mau mengomentari hasil terjemahan dari bahasa Indinya karena sama sekali tidak mengerti (blank...blank...blank). Ada adegan dalam pengembaraan si Khan menemui presiden Ia mampir ke sebuah hotel yang dikelola oleh orang India. Hotel tersebut dilempar oleh seseorang, si pemilik hotel keluar, menembakkan senjata dan kemudian berbalik untuk masuk ke dalam hotelnya sembari berkata (saya kurang ingat dengan pasti tapi kurang lebih artinya), "Moslems are not allowed/are forbidden here". Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "Muslim dilarang di sini". Namun bukan itu yang terdapat di layar, alih-alih yang tertulis malah "Teroris dilarang /tidak boleh di sini". Apa yang menjadi permasalahan di sini?!? So penerjemah tidak hanya menyalah artikan kata dengan mencari padanan kata yang sesuai tetapi bisa juga menimbulkan salah sangka kepada penonton bahwa si penerjemah adalah orang yang rasis (tetapi saya yakin itu bukan). "Moslems" diartikan sebagai "teroris" jelas-jelas bukan padanan yang tepat, dua kata yang sangat berbeda walau di dalam film ini kedua kata tersebut dikaitkan begitu erat seolah-olah muslim dan teroris adalah hal yang sama. Tentu lain bila itu pemikiran si penerjemah yang menyamakan atau menganggap "muslim" dan "teroris" adalah dua hal dan dua kata yang sama (sekali lagi yakin bukan). Teris terang, ini salah satu terjemahan yang paling keliru yang pernah saya temui dan sedikit menyedihkan bila terjemahannya seperti ini.

Masih dari film yang sama. Kita kerap kali terbiasa menggunakan kata-kata asing dalam percakapan sehari-hari sehingga mungkin kita lupa kita masih punya bahasa Indoneisa untuk arti kata yang sama. Sepertinya ini juga berpengaruh kepada si penerjemah. Dalam adegan 2 orang reporter India (pria dan wanita) menemui salah reporter lain yang pasca peristiwa 911 melepaskan surban di kepalanya. Dalam adegan tersebut muncul kata "schedule" yang begitu saja diterjemahkan menjadi kata "schedule". Yang kalai kita masih ingat dalam bahasa Indoensia masih ada kata "jadwal" (jadwal bukan jadual).

Terakhir, adegan ketika si Khan bebas dari penjara dan bebicara dengan polisi penjaga lobi setelah ia meihat Mandira (Kajol) untuk menanyakan ke mana perginya istrinya tersebut. Si pak polisi menjawab "She's going backway" tetapi dalam terjemahannya tertulis "Dia pergi ke Broadway". Letak kesalahannya, "backway" disalahdengarkan sebagai "Broadway". Lagi-lagi saya bertanya bagaimana proses penerjemahan itu.

 

Masih banyak contoh-contoh hasil terjemahan lain yang bisa saya berikan tapi sepertinya nanti malah semakin mengumbar kekhilafan para penerjemah film kita. Saya tidak ingin memojokkan profesi penerjemah karena saya sebagai penonton bioskop masih membutuhkan jasa mereka. Daripada saya meningkatakan daya dengar untuk mencermati dialog-dialog yang terucap lebih baik saya memahami jalan cerita filmnya. Beberapa nama penerjemah yang sempat saya catat antara lain Nanda Sihombing (Spy Next Door, Valentine's Day), Yusupadi (Alice in Wonderland), Narottama (Inglurious Basterd), Norain Tpandaz (My Name is Khan), Nuruddin Ahmad (Clash of The Titans) D Herie R (Edge of Darkness, Up in The Air), Amore D Herrie R (Wolfman). Hanya saja ketika menonton Percy Jackson saya tidak dapat menemukan nama penerjemah di akhir filmnya, sama seperti ketika menonton VCD atau DVD.Secara pribadi saya sangat menyukai hasil terjemahan dari Nanda Sihombing, cukup pas, mengena dan tidak ada terjemahan yang menggangu.

Semoga tulisan saya ini bermanfaat bagi siapapun. Saya hanya merasa sebagai seorang penonton di bioskop saya berhak untuk mendapatkan yang terbaik dari segala-galanya, terlepas film yang saya tonton akan dapat memuaskan saya apa tidak, tapi setidaknya mendapatkan terjemahan yang baik juga hak saya.

 

Tabik.

 


Tag: bioskop, my name is khan, terjemahan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Sky 0 0
setuju... subtitle terjemahan di 21 semakin hancur saja... hancur
ayoe coemi 0 0
hahaha... iya tuh From Paris With Love emang parah... film dan terjemahannya. : p
Harits 0 0
Itulah kenapa saya kalau menonton DVD lebih suka memakai subtitle English... Soalnya kalau bahasa Indonesia berantakan.. : p
Apalagi kalau menerjemahakan kata2 slang Amrik, banyak sekali salah terjemahan...
aila 0 0
yup. saya juga setuju. kadang suka ketawa ngebaca terjemahan film, kok bisa melenceng gitu.

kita sbg penonton kan udah bayar buat nonton. memang hak kita untuk dapetin apa yg sudah seharusnya. apalagi subtitle itu kan pengaruhnya besar untuk penonton ngerti jalan ceritanya. huhuhuu..

nice post.
heartles3oul 0 0
Terjemahannya tu dilakukan sama pihak bioskop atau distributor filmnya ya?!? Ancur minah dah...

Kalau nonton DVD original lebih sip pakai subtitel bahasa Inggrisnya, bahkan beberapa DVD bajakan menampilkan subtitle yang lebih bagus dengan menuliskan semua bunyi-bunyian yang muncul...sangat bagus untuk belajar bahasa Inggris.

Thanks semuanya! ^_^
almaa tirta 0 0
menarik. aku kemarin juga begitu nggak nyaman dengan film yang terjemahannya nggak nyambung begitu. aku males nonton jadinya... pas kemarin new moon aku lihat terjemahannya amburadul. jadinya males deh... makanya cari film yang terjemahannya berkualitas dunkkk....
heartles3oul 0 0
Pertanyaannya...bagaimana bisa mengetahui film dengan terjemahan yang berkualitas apabila kita tidak menontonnya terlebih dahulu?
sabai 0 0
aduuuh keren nih postingnya!
heartles3oul rajin mengingat terjemahan apa aja yg katrok! hahaha.... gue juga sering bete kalo terjemahannya katrok, tapi kalo disuruh bikin list apa aja, pasti udah lupa! : D : ))

btw, kalo film2nya 21 yg bikin terjemahan biasanya para penerjemahnya 21. Gue pernah tertarik dan 'ngelamar' utk jd salah satu penerjemah freelance gitu, tapi mundur teratur setelah dijelasin detil how they work... hahahaha....
sabai 0 0
heartles3oul: komen gue itu khusus buat film2 21 yg di bioskop yaaaa... kalo yg edar di dvd nggak tau : )
heartles3oul 0 0
Sempat mundur teratur...saya mencium ada ketidakberesan nih, haha...Bete-nya gitu tuh, penerjemah buat VCD atau DVD anonymous.
Mari perjuangkan terjemahan film yang lebih baik!!!
ndoet 0 0
artikel yang sangat bagus. : )

emang nyebelin kalo subtitle itu ga sesuai sama dialog yg diucapin. tapi biasanya kalo filmnya bahasa inggris sih gw cuek aja, karena gw masih bisa ngerti kalimat yang benarnya itu seperti apa. tapi kalo filmnya bahasa lain? ampun deh >_<

btw, selain terjemahan yang kurang pas. ada satu lagi yg nyebelin dari subtitle. yaitu yang muncul sebelum waktunya. scenenya jadi garing gitu kan. sama kayak nonton film yang kita udah tau spoilernya.
heartles3oul 0 0
Terima kasih, ternyata banyak yang senasib seterjemahan...
Ajeng Arshanti 0 0
hmmm...sebelum saya sendiri mulai nerjemahin film, sebenernya saya juga sering ngetawain subtitle2 film/serial2 tv yang suka ngaco. tapi setelah saya mulai jadi translator film, saya jadi agak paham, kenapa subtitle sering jauuuuuh dari sempurna.

1. waktu ==> untuk bikin subtitle yang BAGUS perlu beberapa hari. sayangnya kadang penerjemah cuma dikasih 1-2 hari, itu udah waktu untu translate + time codingnya...
2. Kadang penerjemah enggak dikasih videonya. Kadang dikasih naskah aja (udah plus time codenya) yang harus lgsg diterjemahin. Atau dikasih naskah + AUDIO-nya aja (untuk bikin time-codenya). Nah, kadang2 ada kata2 yang bisa punya banyak arti dan cuma bisa kita tahu arti tepatnya kalau kita tonton kan? ayangnya kita emang ga dikasih videonya...cuma disuruh nerjemahin aja pake yg ada. Download sendiri filmnya? Lha ya balik lagi ke masalah #1 tadi, WAKTU-nya ga ada....
3. Ketidakkonsistenan terjemahan, satu kata di 1 film terjemahannya bisa beda2 di tiap bagian. Oke...ini emang kesalahan translator sih. Tapi kerja nerjemahin nonstop berjam-jam pasti otak kadang2 ngelag....jadi terjemahannya bisa agak off... saya sendiri kadang ngalamin ini. Kalo pengalaman nerjemahin buku, ada editor yang ngedit final... Klo untuk terjemahan film ini sayangnya sering kali bener2 cuma dibebanin di penerjemahnya semua....
4. honornya....ampuuuun deh...>.
lazione budy 0 0
Nice post!
saya pengen jadi penerjemah film!
Gmana caranya?
Eh emang honornya kecil ya?

Silahkan login untuk memberikan pendapat