Merantau - Risau Dibawa Misi Tanggung Si Anak Rantau 12
Senin, 19 Apr '10 02:27
Banyak film yang bagus, dan banyak pula film yang jelek. Saya yakin kalau anda diminta menuliskan daftar kolom untuk dua kriteria semacam itu, tanpa perlu menunggu berjam-jam saya akan disodorkan satu daftar yang sangat panjang.
Tapi coba tambahkan kolom ketiga, dan beri judul di atasnya "film bagus yang jelek". Anda, akan melihat dunia menjadi tidak semudah dahulu kala. Tapi percayalah, mengisi kolom ketiga itu bukan sesuatu yang tak mungkin dilakukan. Karena anda bisa mulai mengisi daftarnya dengan sebuah film nasional kita : Merantau.
Dan catatan ini --dengan segala bagian yang mengandung spoiler di dalamnya-- adalah catatan apresiatif saya untuk menjawab mengapa film ini harus dikeluarkan dari dua kolom pertama. Terlepas anda setuju atau tidak dengan pandangan subyektif di dalamnya, tetapi ketahuilah, Saya hanya ingin membantu anda. 
* * *
Film adalah media
Sebagai sebuah media, kita meyakini, kalau film memiliki dua nilai yang bersisian, hiburan dan pembawa pesan (edukasi). Logika umumnya, film yang benar-benar bagus adalah film yang berhasil memadukan keduanya dengan sempurna. Ia bukan hanya membuat hati kita bersenda ria, tetapi juga menyesapkan pesan-pesan ke dalam benak kita.
Memang tidak mudah membuat sebuah karya yang demikian. Hollywood pun yang --mau tak mau, suka tak suka-- menjadi patron bagi perfilman dunia, sering kewalahan memenuhi permintaan yang demikian. Apalagi untuk perfilman Indonesia. Sehingga menjadi jamak apabila kemudian sebagian pembuat film memilih condong pada salah satu ketimbang mencoba menghadirkan hiburan dan pesan edukasi dalam proporsi yang sepadan.
Merantau, hebatnya adalah salah satu film nasional yang mencoba memberikan dua unsur itu dengan cukup berimbang. Film ini sarat pesan, sekaligus memiliki adegan-adegan yang membuat kita berdecak kagum kegirangan saat memirsanya. Seperti telah banyak diulas, adegan perkelahian di dalam film ini benar-benar menyuguhkan nuansa yang berbeda dari kebanyakan film aksi produksi dalam negeri.
Hebatnya lagi, "hanya" dengan menggunakan koreografer perkelahian, aktor dan pemain pengganti asal negeri sendiri, tata kelahi dalam film ini bisa menggulirkan adegan-adegan yang tak kalah dengan film-film Jet Li.
Meski jalinan cerita untuk sebagian pengulas film ini dikatakan terlalu lambat (khususnya pada awal film) dan menyodorkan kisah yang terkesan terlalu sederhana, tapi bagi subyektifitas saya pribadi jalinan cerita film ini cukup baik. Ritme lambat di awal film, bisa sangat dimaafkan karena awal film yang terasa lambat itu, sepertinya memang dibuat untuk memberikan pijakan cerita yang menghantarkan pesan dalam film ini.
Bahwa untuk menjadi seorang lelaki, pertempuran yang paling utama adalah pertempuran antara kepentingan dalam lingkupnya yang paling pribadi dengan kepentingan manusia lain di luar sana. Menjadi lelaki, menjadi manusia adalah persoalan apakah kita memilih menyenangkan diri sendiri, menyenangkan keluarga, menyelamatkan bokong sendiri, atau mengelap kotoran dari bokong kita dengan penderitaan orang lain.
* * *
Nilai Plus Pembuka : Christine Hakim & Ramalan Piala
Lagipula, Gareth Evans menghadirkannya dengan memberikan adegan-adegan yang patut diacungi jempol.
Membuka film, ia memenuhi layar dengan hamparan pemandangan alam Indonesia yang nyata tak kalah dengan tayangan landsekap ala Peter Jackson dalam Lord of The Ring atau Crounching Tiger & Hidden Dragonnya Ang Lee. Indahnya rumpunan alam yang begitu hijau, membuat kita yang mungkin lupa dengan keindahan alam kita sendiri, bisa kembali menyadarinya.
Kalau itu masih belum untuk menggugah anda, saya percaya kehadiran Yuda (Iko Uwais) di tengah hamparan hijau sambil memeragakan gerakan khas jurus-jurus silat Indonesia dengan sebilah rencong kecil di telapak tangannya, akan membuat decak kagum terlontar dari mulut anda tanpa bisa dicegah.
Sebuah cara keren untuk mengawali fantasi penonton pada sebuah gambaran imaji, bahwa sosok Yuda, jagoan silat indonesia, tidak kalah jago dari jagoan kungfu manca negara.
Dan kalau anda yang telah menonton film ini masih merasa awalan film terlalu lambat untuk dinikmati, saya pikir anda melewatkan suguhan berkelas dari seorang legenda dunia perfilman kita.
Saya perlu menulis tersendiri soal ini. Karena kalau dalam film-film drama hollywood yang biasa kita tonton biasanya diperlukan jalinan cerita cukup panjang melalui serangkaian adegan-adegan (yang bisa menghabiskan setengah durasi film) untuk sampai pada satu adegan mengharukan yang bisa membuat mata penonton berkaca-kaca. Di film ini, teori itu seperti dibuat berantakan melalui akting prima Christine Hakim.
Tidak sampai sepuluh menit film bergulir dan hanya melalui penampilan singkat dengan akting tanpa dialog, adegan ibu yang menangis di bahu ketika melepas kepergian sang putra terasa membuat ruangan bioskop jadi dipenuhi aura mellow. Ibu ini memang bener-bener te-o-pe be-ge-te.
Di ujung lirikan, penonton di samping kiri kanan matanya terlihat berkaca-kaca saat adegan itu. Membuat saya yakin, seperti ketika saya mereview Quickie Express dan meramalkan Tio Pekusadewo akan memperoleh penghargaan, akting Christine Hakim dalam film ini rasanya juga akan mengukirkan namanya lagi di sebuah plakat atau piala untuk kategori peran pembantu.
Atau paling tidak, ia akan membuat para Juri festival kebingungan dan berdebat panjang sebelum memutuskan (itupun kalau nanti ada film yang bisa menghadirkan sosok peran pembantu dengan akting yang cukup ciamik pula). Karena mungkin jadi seperti tidak adil kalau seseorang dengan pemunculan yang begitu singkat layaknya seorang figuran harus dihargai dengan piala peran pembantu. Tetapi jadi sangat tidak mungkin mengesampingkan kualitas akting dari seseorang yang mampu yang mampu membuat ruang bioskop dipenuhi auranya dan meninggalkan kesan begitu kuat, hanya dengan penampilan sekian menit.
* * *
Catatan Plus Lainnya
Dua hal di atas, adalah salah dua dari sekian nilai bagus film ini. Atau salah tiga, kalau saya perlu mengulang fakta adegan kelahi film ini punya kelas yang tak pernah diperlihatkan film-film aksi produksi indonesia lainnya.
Dan anda yang menganggap film ini buruk, boleh kecewa karena catatan bagus masih belum berhenti.
Saya tidak akan mengulas panjang lebar soal pengambilan gambar yang juga sudah banyak diutarakan pengulas. Hanya pastinya tetap perlu dicatat, kalau film ini juga memanjakan mata penonton dengan gambar-gambar yang sangat bagus. Pemilihan tempat menginap di tumpukan riol (gorong-gorong) yang belum digunakan misalnya. Ketika diambil dengan teknik longshot, gambar yang tercipta jadi begitu artistik.
Soal drama, meski banyak dikritik, saya kira juga cukup bernas. Ada dialog-dialog drama yang terasa cukup menancap seperti ketika tokoh Astri (diperankan Sisca Jessica) menceritakan mengapa ia sampai harus bertahan hidup melindungi Adit (Yusuf Aulia).
Walaupun terasa agak janggal karena tata bahasa Astri yang sebelumnya banyak berbicara dalam bahasa kebun binatang, tiba-tiba berubah menjadi puitis saat menggugat kesalahan orang tuanya dalam memandang jargon purba "banyak anak banyak rejeki", tapi pesannya cukup berhasil disampaikan tanpa terasa menggurui. Dan Astri tidak tiba-tiba berubah sosoknya jadi berjangut dan berpici. Meski demikian, tanpa perlu menjadikannya sebuah catat besar, saya kira perlu dicatat pula kalau pemeran Adit yang sebetulnya bisa menjadi bagian penting dalam menghadirkan sisi drama ini terasa kurang dimaksimalkan untuk membantu tergugahnya rasa drama dalam diri penonton.
Saya lebih tertarik mencatat beberapa hal yang mungkin belum banyak diulas.
Misalnya, soal bagaimana di film ini Alex Abbad, aktor yang beranjak dari dunia VJ MTV, boleh mulai puas dengan kualitas aktingnya. Memang belum terlalu sempurna. Tapi selepas akting katro di Extra Large yang membuat saya jadi sebel bukan kepalang dengan aktor hasil karbitan MTV --perlu dicatat pula rasa sebel yang sama saya simpan untuk James Aditya-- aktingnya di film ini lumayan menjanjikan.
Menjadi Johni, orang yang bossy dan gemar menindas anak buah tetapi ketika berhadapan dengan boss besar berubah menjadi pecundang dan penjilat, adalah peran yang cukup sulit bagi seorang aktor. Dalam peran seperti ini dituntut kepiawaian mengatur emosi, gestur dan mimik supaya perannya bisa dimainkan dengan kewajaran. --dan ini perlu diumumkan untuk para aktor / aktris yang sering berkata menginginkan peran berbobot : plis deh... peran berbobot itu bukan cuma psikopat atau peran jadi orang gila!--
Dan Alex, meski sekali lagi tidak terlalu sempurna, tetapi berhasil membawa kita cukup sebal dengan gayanya. Apalagi jalinan cerita yang menunjukkan ia terlihat begitu tega menjual anak bangsanya sendiri pada orang bule, membuat kita bisa tersenyum puas saat akhirnya ia dihajar tunggang langgang oleh sang jagoan.
Tapi satu lagi yang harus diacungi jempol, kemampuan akting seorang Alex sebenarnya sangat terdongkrak oleh skenario Gareth Evans yang memberikan porsi dialog memikat pada tokoh Johni.
Misalnya ketika Johni dengan bantuan empat anak buahnya berhasil mempecundangi Yuda untuk pertama kali, ada style hollywood yang keren dan tak terasa basi dalam selipan dialog Johni :
"Kali ini gue membawa orang yang tepat. Satu, dua, tiga, empat. Dan gue akan ingat angka itu kalau kita bertemu lain kali."
Momen-momen adegan memikat seperti itu adalah satu lagi tambahan catatan nilai plus dalam film ini.
* * *
Momen-momen Keren
Saya mencatat cukup banyak adegan yang dapat digolongkan sajian yang memikat seperti itu.
Misalnya ketika tokoh Erik (diperankan Yayan Ruhian), beraksi melumpuhkan seorang begundal sangar dan badag hanya dalam hitungan detik. Selain gimmick yang berhasil dimunculkan melalui istilah "wawancara kerja", adegan perkelahian singkat ini jadi sangat berkesan.
Adegan singkat, namun sangat berhasil memberikan pesan pada penonton betapa menyeramkan sosok Erik yang juga berasal dari aliran silat Harimau. Dan ketika nanti aliran cerita sampai pada babak dimana Yuda harus berhadapan dengan Erik, pesan yang ditinggalkan dari adegan itu yang membawa degup-degup khawatir sekaligus penasaran untuk melihat sejauh mana jagoan kita (Yuda) bisa bertahan.
Penggambaran adegan duel Yuda dan Erik juga harus dicatat sebagai adegan yang berhasil membangun ketegangan dengan cara yang keren. Anda yang sudah menonton bisa mengulang kembali bayangan keren dari adegan itu.
Yuda, dalam upaya membebaskan Astri dari cengkeraman Ratger (Mads Koudal), bule yang menculiknya, menyatroni markas sang bule yang terletak di lantai empat belas.
Setelah terlihat cukup kehabisan tenaga melawan begundal-begundal di lantai bawah, lift yang dinaiki Yuda untuk mencapai lantai empat belas tiba-tiba berhenti di lantai lima. Dan ketika pintunya terbuka... Jreeenggg! Sosok Erik yang mengerikan itu muncul.
Alih-alih menyajikan duel maut ini dalam adegan langsung berbaku hantam, Gareth Evans mengantarkannya melalui gaya yang stylish.
Erik, perlahan memasuki lift, lalu beberapa detik kemudian, kedua jagoan ini berdiri bersisian. Tanpa mimik siaga, tanpa kuda-kuda, dan bahkan tanpa bicara.
Melalui detik-detik adegan ini, hasrat penonton yang menunggu bagaimana duel kedua jago silat harimau ini seperti benar-benar dimanjakan. Kita seperti diberi kesempatan untuk sejenak bermain-main dengan fantasi kita sendiri. Bayangkan duel jarak dekat di dalam ruang lift yang sangat terbatas!
Ketika kemudian Erik membuka percakapan dengan kalimat singkat, "Rupanya kau yang selama ini ditunggu-tunggu mereka Yud." Kita tahu, dialog itu bukan hanya menjadi pemecah kesunyian di antara mereka, tapi juga menjadi jalan pembuka bagai sebuah pertempuran dahsyat.
Dan benar, ketika Yuda menjawab, "Seharusnya uda tidak perlu melakukan hal ini." Erik menimpali dengan sangat perlahan, "Tapi aku harus... maaf." Dan sedetik kemudian, JEDUERRR! Nafas kita seperti melompat ketika Erik melontarkan pukulan pertamanya.
Momen yang sungguh-sungguh keren. Tapi sayang dalam momen keren ini juga ada cacat-cacat tersembunyi. Sabar. Pada saatnya akan saya sampaikan cacatnya.
* * *
Kabar Buruknya
Nah, kalau serangkaian paragraf di atas boleh dianggap sebagai good news yang memotret nilai-nilai bagus dari film ini, akhirnya kita harus sampai pada bagian bad news-nya.
Kalau banyak orang mengatakan film ini kedodoran dalam cerita, saya lebih memotretnya dengan mengambil sisi yang lebih inti. Film ini, menurut saya terasa jadi kedodoran karena keberatan memikul misi yang dibawanya.
Misalnya misi untuk membawa pesan "menjadi seorang lelaki" yang digadang-gadang dalam awal film ini. Menjadi sebuah misi yang terasa terlampau berat, ketika film ini kemudian tidak cukup memberikan pada penonton jalinan cerita dan adegan-adegan yang menghantarkan pesan itu.
Keinginan menghadirkan sosok pejuang dari seorang Yuda dalam menghadapi kesulitan hidup di belantara Jakarta, tidak cukup berhasil ditampilkan selain adegan-adegan ia harus menyelinap ke sebuah proyek pembangunan hanya untuk bermalam.
Seperti juga misalnya ketika ia menemukan alamat yang didatanginya ternyata sudah berubah menjadi puing, dan nomer telepon orang yang diharapkan bisa mejnadi jalan baginya membuka perguruan silat di Jakarta ternyata sudah tidak bisa dihubungi, sang pembuat film tidak berupaya menunjukkan pada penonton bagaimana kemudian seorang Yuda berusaha mencapai kesuksesan yang diinginkannya.
Kejamnya kota Jakarta, juga seperti terlupa untuk dihadirkan, sehingga penonton tidak sampai pada sebuah rasa untuk memahami pesan "perjuangan untuk menjadi seorang lelaki" yang dipatok sebagai misi yang ingin dibawa sang pembuat film.
Saya kira ini mungkin persoalannya terletak pada durasi. Seperti takut menjadi terlalu pajang filmnya apabila harus ada adegan-adegan yang menceritakan bagaimana Yuda berjuang menghidupi dirinya di Jakarta, atau adegan-adegan interaksi Yuda dengan masyarakat Jakarta yang bisa menghadirkan imaji "kekejaman ibukota".
Di titik inilah, kritik pengulas lain yang mempersoalkan lambatnya film ini dalam adegan-adegan awalnya menemukan kebenarannya. Karena ketimbang berlama-lama menyajikan petuah kepala Desa, atau adegan petik-memetik tomat yang terasa kurang berkesan untuk meninggalkan pesan, sang pembuat film bisa memotong dan mengganti durasinya dengan jalinan cerita perjuangan hidup Yuda di Jakarta.
* * *
Silat adalah Silaturahim, Bukan Silaturahmi
Persoalan tak mampu memikul memikul misi yang terlampau berat, juga bisa dilihat dari sisi keinginan pembuat film ini untuk mengangkat silat sebagai seni beladiri tradisional ke tengah masyarakat kita.
Buat saya point ini menjadi jauh lebih penting dan menarik untuk dibahas, karena hal ini justru terkait dengan nilai plus tata kelahi yang banyak membuat orang terkagum-kagum.
Jauh sebelum film ini muncul di bioskop, dengungnya terkait "mengangkat silat asli Indonesia" telah banyak dibicarakan orang. Ketika trailernya muncul di Youtube, dan menyajikan adegan perkelahian yang terlihat ciamik, seketika itu pula orang menangkap gagasan kalau film ini akan menunjukkan kepada kita bahwa silat Indonesia tidak kalah dari seni bela diri manapun.
Ada semacam ekspektasi yang terlanjur muncul, karena mungkin film ini hadir di saat-saat kita tengah dihantui perstiwa bom mega kuningan yang membuat masyarakat kita "haus" akan sebuah kebanggaan nasional. Peluncurannya pun berdekatan pula dengan hari jadi negara kita, dan berdekatan dengan peluncuran film lain (Merah Putih) yang akhirnya secara akumulasi membawa demam semangat nasionalisme semakin mengemuka.
Gareth Evans yang memang sudah berkecimpung membuat film dokumenter tentang Silat Harimau sejak 2005 (harus dicatat pula peran seorang Christine Hakim yang memprakarsai pembuatan film dokumenter ini), berusaha menghadirkan sisi-sisi yang sering dilupakan orang saat melihat silat sebagai sebuah seni bela diri.
Ketika kurangnya informasi menyebabkan kebanyakan orang indonesia justru menganggap silat adalah sebuah seni beladiri yang "kampungan", kebanyakan kembang yang tak perlu, kurang mematikan atau kurang efektif sebagai sebuah alat pembelaan diri, atau bahkan kurang keren dalam teknik dan filosofi dibanding bela diri dari timur lainnya seperti Kungfu atau Aikido, maka Gareth Evans berusaha menampilkan informasi-informasi yang menegasikan pemahaman yang salah itu.
Ada serangkaian adegan dan dialog yang dimunculkan Evans untuk menjawab tantangan misi itu.
Untuk menerangkan filosofi silat misalnya, Evans menyelipkannya dalam dialog antara Yuda dan Adit, "Silat adalah Silaturahim". Ini adalah salah satu penggalan informasi yang mungkin tidak diketahui orang.
Meski dalam aliran silat asal minang yang menyebut silat sebagai silek ada pula pemahaman kalau kata silek itu berasal dari "siliek" yang bermakna "si liat" (untuk menggambarkan nuansa "liat" dalam gerakan-gerakan silat atau betapa "liat"nya seorang pandeka yang menguasai ilmu silek), namun lekatnya unsur Islam dalam aliran silat di Sumatera (dan juga aliran silat lain di Indonesia seperti Silat Betawi atau Silat Sunda), memang juga memberikan pemahaman kalau silat bukanlah sekadar alat untuk menciderai orang, melainkan alat untuk menyambung hubungan kasih sayang.
Sebuah makna filosofis yang sangat dalam dari sebuah aliran bela diri dan tentu saja tidak kalah nilainya dari aliran bela diri lain.
Sayangnya, penekanan filosofi "Silat adalah Silaturahim", jadi kurang terasa menempel di benak penonton karena tayangan adegan perkelahiannya justru memberikan kedahsyatan silat sebagai alat untuk Silaturahim. Untuk menyambungkan rasa nyeri.
Catatan : silaturahim berasal dari kata silah=hubungan/menghubungkan dan ar-rahim=kasih sayang. sering diucapkan salah menjadi silaturahmi, yang sebetulnya memberikan makna berlawanan yaitu menyambungkan rasa nyeri, karena rahim dalam kosa kata arab berarti = rasa nyeri (yang diderita ibu ketika melahirkan) -- baca Salah Kaprah
Pesan ini tidak terbawa, karena memang film ini tidak cukup baik menggambarkan bagaimana Yuda, berusaha keras untuk tidak menciderai orang lain dengan ilmu silatnya. Saat pertama melumpuhkan Johni untuk menolong Astri misalnya, meskipun diterangkan dengan dialog antara Yuda dan Adit (bahwa si Johni itu meski dilumpuhkan tetapi sebenarnya tidak cidera dan kekurangan suatu apa), tapi pesan itu tidak akan tertangkap oleh kita, karena justru adegan yang disuguhkan hanya menggambarkan kekerasan. Tidak diperlihatkan misalnya Yuda punya kesempatan untuk "menciderai" tapi mengalihkan atau mengubah tekniknya menjadi melumpuhkan.
Kekurangan kecil, tapi kekurangan simple ini malah meluputkan pesan.
* * *
Kalau Tokek Berbunyi Cliche
Masih adakah minus lainnya?
Kalau catatan di atas belum cukup membuat risau, pembuat film ini memang masih menyisakan banyak lagi catatan minus lainnya.
Lucunya, catatan minus berikut saya tangkap justru menggambarkan kerisauan Evans soal klise-nggak klise waktu membuat film ini. Dalam imajinasi konyol saya berkata sepertinya saat menentukan pilihan untuk menggunakan material dan teknik yang cliche (atau sebaliknya menggunakan yang nggak cliche), Evans memilih metode yang sangat ilmiah : mendengarkan tokek.
Akibatnya, film ini jadi persis seperti tokek. Centang perenang karena di satu bagian berbunyi klise, di bagian lain berbunyi non-klise. Di satu bagian kesannya cerita film ini terlalu hitam putih, di bagian lain tiba-tiba jadi celemotan warna-warni nggak karuan.
Ending misalnya. Sewaktu Yuda ditakdirkan menemui ajal di tangan musuhnya, kita bisa menebak kalau Evans ingin menghadirkan ending yang ndak klise. Jagoan nggak harus selalu menang. Atau mungkin ini bagian dari pesannya bahwa menjadi seorang lelaki harus membela kebenaran meskipun akhirnya harus mati.
Tapi jadi konyol ketika kematian tokoh kita justru digambarkan melalui adegan yang sangat amat klise untuk ukuran film aksi.
Setelah penjahat utama berhasil dilumpuhkan dan sang jagoan menolong putri cantik pujaan, tiba-tiba JRENGGG!! Penjahatnya bangkit lagi dan nongol di belakang sang jagoan. Dalam ending film aksi yang "cliche", biasanya ini justru jadi momen untuk menunjukkan jurus pamungkas sang jagoan. Dengan jurus pamungkas yang dahsyat, sang penjahat akan terkapar lalu mati untuk selama-lamanya. Van damme selalu jadi pemenang.
Evans bukan cuma memilih ending yang konyol ketika jagoan kita Yuda harus mati dengan cara yang sama sekali tidak menggambarkan "Yuda yang jago" --atau bahkan adegan akhir itu malah menjadikan Yuda jadi sosok bego nian karena begitu doang kok mampus-- tapi juga menyesatkan pesan yang dibangun melalui misinya.
Lha? Katanya mau bikin silat indonesia keren? Silat indonesia nggak kalah sama kungfu? Kok jagoannya dibikin mampus?
Terus terang saya paling sebal sama ending film ini. Bukan karena saya menyenangi happy ending. Banyak film Eropa atau Hollywood yang jadi favorit saya endingnya justru jagoannya mampus. Yang jadi masalah adalah ending harus sedapatnya sesuai dengan misi yang mau dibawa sang pembuat film. Ending harus sesuai dengan ritme emosi yang dihadirkan sang pembuat film dari awal, pertengahan hingga akhir film.
Sebetulnya penonton juga sudah bisa menebak, ketika cerita memperlihatkan adegan Astri seperti selesai diperkosa oleh Ratger, maka untuk memuaskan norma keadilan (konyol) dalam alam bawah sadar penonton, pasti tokoh Yuda tidak mungkin dipersatukan dengan Astri di akhir cerita.
Cuma tentu saja untuk sampai pada point itu, pilihan mematikan Yuda hanya jadi satu pilihan di antara berbagai pilihan lain. Mematikan Astri misalnya bisa jadi alternatif ending yang lebih elegan, karena akan tetap memenuhi norma keadilan konyol bahwa "yang bersih tidak disatukan dengan yang kotor", atau si pembuat film tentu saja bisa membuat puluhan alternatif ending lain.
Bahkan kalau mau dikaji ulang, soal diperkosanya Astri sebenarnya jadi salah satu titik "perusak' yang juga menambah nilai jelek dalam film ini. Karena elemen diperkosanya Astri ini, sunguh-sungguh enggak penting banget.
Astri diperkosa tidak membawa peningkatan emosi lain pada tokoh Yuda, karena Yuda toh sampai akhir film juga ndak tahu kalau Astri diperkosa. Atau tidak juga menjadi jalan kesadaran untuk Erik misalnya karena Erik juga ndak tahu apa-apa soal kosa-perkosa ini. Dan bahkan, yang paling konyol, pemerkosaan ini toh akhirnya juga tidak menjadi jalan apa-apa bagi perjalanan emosi Astri sendiri.
Berbeda misalnya kalau digambarkan Yuda memergoki Astri diperkosa. Adegan ini tentu akan bermanfaat untuk memberikan penjelasan emosi pada tokoh Yuda mengapa akhirnya ia melunturkan semangat Silaturahim dalam falsafah silatnya. Menjadi alasan pembenar bagi penonton kalau kemudian Yuda dari seorang pemegang falsafah "silat bukan untuk menciderai" menjadi seorang petarung yang penuh amarah dan bahkan pembunuh musuh-musuhnya. Atau misalkan tokoh Erik yang menemukan fakta "diperkosa", ini bisa dimanfaatkan untuk mengubah jalinan cerita sehingga kematian Erik (kalaupun harus mati) dengan memilih jalan kebenaran dapat memperoleh alasan yang masuk akal, dan kuat bagi pemirsa.
Sayangnya tidak demikian. Astri diperkosa, titik. Ndak ada pengaruhnya kemudian, kecuali si Yuda akhirnya harus jadi mati karena untuk memenuhi norma keseimbangan bersih kotor yang konyol dalam diri sang pembuat film.
Sungguh jadi menyebalkan ketika menonton film ini, kita berdecak-decak kagum dan bangga karena melihat film Indonesia bisa begitu keren adegan kelahinya, tapi lalu seiring rasa bimbang karena kekhasan silat indonesianya malah nggak diperlihatkan, tiba-tiba jagoan silat Indonesianya mampus.
Keluar dari gedung bioskop, rasanya ada setengah rasa yang membuat pingin nabok membunuh seseorang yang bisa dijadikan penanggung jawab untuk perasaan nanggung nggak jelas itu.
* * *
Tanggung, memang jadi satu kata yang juga patut disematkan pada pembuat film ini.
Ibarat permain bulu tangkis, ada adegan-adegan yang seperti dimunculkan untuk menjadi sebuah lob tanggung, untuk di smash di adegan cerita berikutnya. Tapi dalam kenyataannya ternyata tidak demikian. Smashnya tidak pernah meluncur, dan shuttlecock masih terus mengawang dalam sebuah lob yang menggantung.
Seperti misalnya dalam momen keren yang saya ulas di atas. Ketika Johni (Alex Abbad) mengatakan "Kali ini gue membawa orang yang tepat. Satu, dua, tiga, empat. Dan gue akan ingat angka itu kalau kita bertemu lain kali."
Saya pikir, dalam "pertemuan berikutnya" akan ada adegan dimana Yuda akan membalas setimpal ucapan itu. Misalnya saat si Johni dan begundalnya sudah jadi pecundang, jagoan kita bisa berkata dengan keren sambil menghitung begundal yang sudah jatuh bergelimpangan :
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan... Anda, betul-betul punya perhitungan matematik yang sangat buruk."
Momen seperti ini, akan jadi momen menarik untuk penonton karena selain membawa gimmick, juga menjadi pelepasan klimaks yang terasa stylish.
Atau pula untuk adegan keren duel Yuda versus Erik. Dialog Yuda yang mengatakan "Seharusnya abang (atau uda-- saya ndak ingat jelas) tidak perlu melakukan ini", seharusnya bisa menjadi titik tolak untuk sebuah adegan penutup kematian Erik yang lebih keren.
Karena ketika akhirnya Erik yang berhasil dikalahkan, memilih menyelamatkan Yuda dengan berjibaku menyambut peluru, akan jadi sebuah pesan bersayap kalau Erik dalam pelukan Yuda melontarkan pertanyaan sambil tersenyum sinis, "Maksudmu ini yang harus aku lakukan Yud?"
Mati untuk membela kebenaran, akan jadi pesan sinis yang nggak klise.
Kasus tanggung yang lain, misalnya ketika di awal film kita diperlihatkan sebilah senjata tradisional yang sangat unik dan menarik. Jadi mubazir karena sampai akhir film kita tidak diperlihatkan bagaimana keampuhan senjata itu bila digunakan dalam pertempuran sebenarnya. Mungkinkah takut apabila sang jagoan membawa senjata akan melunturkan image suci dan lurus yang dilekatkan sutradara dan pencerita pada karakter Yuda? Seribu jalan bisa dibuat untuk mengatasi hal ini. Senjata itu dicomotnya dari Erik yang sudah koit misalnya adalah salah satu alternatif yang paling gampang, dan tetap tidak merusak image suci nan bersihnya tokoh Yuda.
* * *
Silat bukan Ongbak!
Jika anda sudah mulai merasa cukup risau dengan uraian di atas, ketahuilah kalau anda belum menemukan kerisauan yang sesungguhnya.
Karena satu catatan minus yang terbesar --dan sesungguhnya ini yang menjadi catatan utama mengapa saya sampai pada penilaian ini film yang bagus tapi jelek-- adalah persoalan misi mengangkat silat Indonesia, tetapi adegan film yang banyak dipuji-puji itu justru tidak digarap dengan teknik filming untuk mencapai misi itu.
Satu hal, mungkin memang menyulitkan bagi Evans untuk menginformasikan pada masyarakat indonesia yang menonton film ini agar bisa memahami bahwa dalam pencak silat memang terkandung dua muka yang berbeda.
Pencak Silat, memang mengandung dua makna. Pencak (bermakna menandak atau menari) dan Silat (Jurus Silat). Di daerah lain seperti Sunda, pemahaman filosofisnya kurang lebih juga serupa ketika mendalilkan ada dua bentuk silat yakni silat penca dan silat ibing (silat penca untuk pertarungan dan silat ibing untuk pengunaan yang lebih berat pada aspek seni atau tari). Di Betawi, meskipun tidak membedakan silat sebagai seni dan alat pertempuran, tetapi silat cingkriknya juga mempunyai aliran yang lebih menekankan kehalusan (aliran Rawa Belong) dan aliran yang lebih menekankan kekuatan dan kecepatan untuk melumpuhkan musuh (aliran Goning). Dimana dalam atraksinya kedua aliran itu akan memperlihatkan dua wajah yang berbeda.
Ini mengapa ketika kebanyakan orang melihat pencak silat yang diatraksikan di gelanggang, maka yang terlihat hanya serangkaian gerakan dengan kembangan-kembangan yang terkesan tidak perlu. Karena di gelanggang yang diperlihatkan memang kembang-kembang, sementara teknik yang mematikan hanya diperlihatkan pada saat pertempuran.
Dalam bahasa minang dua sisi muka silat ini ditunjukkan melalui pepatah, "kalau mamancak di galanggang, kalau basilek dimuko musuah (jika melakukan tarian pencak di gelanggang, sedangkan jika bersilat untuk menghadapi musuh)".
Mungkin karena kebutuhan untuk memperlihatkan "sisi mematikan" itu, maka Evans tidak menggarap adegan perkelahian dalam film ini dengan menekankan kembang-kembang khas silat tradisional kita. Adegan digarap dengan full speed, sehingga penonton harus benar-benar cukup awas dan cukup memahami jurus-jurus silat untuk bisa sampai pada kesimpulan tokoh-tokoh utama dalam film ini benar-benar menggunakan ilmu silat tradisional Indonesia.
Di satu sisi, adegan full speed itu memang memberikan decak kagum. Tapi Evans seperti melupakan, kalau film ini bukanlah ajang pertarungan nyata seperti di atas ring. Penonton perlu saat-saat tertentu untuk berhenti melotot sejenak. Perlu jeda untuk bisa melampiaskan rasa puas di hati dengan berkata, "kereeeennn...".
Sayang jeda seperti ini tidak diberikan Evans. Ketika bahkan tayangan siaran langsung tinju saja memberikan kesempatan bagi penonton untuk mengagumi gerakan sang petinju dan momen-momen mematikan melalui tayang ulang dalam gerakan lambat, film ini malah seperti melupakan sisi penting seperti itu.
Dan konyolnya, hal lain yang dilupakan sang pembuat film adalah : dengan melambatkan adegan pada saat-saat mematikan yang memperlihatkan jurus-jurus khas dari silat tradisional, maka misinya untuk mengangkat kehebatan silat asli Indonesia justru akan benar-benar terbantu.
Bayangkan saja, kalau setelah beberapa detik adegan full speed berbaku hantam ria, lalu pada waktu-waktu tertentu adegan berlangsung dalam gerak lambat (slow motion), memperlihatkan cakar harimau menangkis, merobek, atau memperlihatkan lompatan khas silat indonesia (melompat dengan sebelah kaki lebih dahulu dan mendaratnya juga dengan sebelah kaki lebih dahulu) saat menghindari sapuan lawan. Decak kagum dan desah "kereennn..." dari penonton akan benar-benar timbul dari imaji bahwa silat indonesia benar-benar ampuh.
Jadi menyebalkan ketika adegan menggulirkan aksi-demi-aksi, penonton bukan cuma kehilangan kesempatan untuk mengagumi karena ritme yang terlalu cepat, juga kehilangan fantasi akan kehebatan silat Indonesia. Bahkan pertarungan Yuda yang dahsyat dengan Erik, jadi terasa sama saja dengan Jet Li, atau bahkan dengan Jason Statham di film Transpoter.
Unsur khas dalam silat Indonesia, entah dalam kembangannya, kepalan atau lompatan, tidak terasa karena kita terlalu sibuk memirsa bak-bik-buk yang beruntun-runtun. Merantau jadi terasa Ong Bak banget. Padahal dengan promo silat indonesia yang demikian gencar, jelas bukan tinju muangthai yang diharapkan pemirsa.
Akibatnya film ini menjadi jelek karena terasa betul kedodoran dalam misi. Padahal yakin, kalau saja digarap dengan menggunakan teknik sederhana seperti adegan gerak lambat, mungkin efek film ini akan cukup menggairahkan bagian pendaftaran dari perguruan-perguran silat yang ada di Indonesia.
* * *
Tapi biar bagaimanapun, kita harus tetap berterimakasih pada Gareth Evans. Pertama, karena ia layak dihargai penuh ketika karya Merantau ini pastinya akan mengangkat film (aksi) produksi nasional kita pada level yang lebih tinggi.
Saya, dan anda penonton film Indonesia, pasti akan tersenyum-senyum sendiri karena membayangkan betapa gerahnya para pembuat film negeri kita melihat sebuah film yang digarap dengan koreografer kelahi dari dalam negeri, digarap dengan pemain pengganti dalam negeri, dan digarap dengan mayoritas pemeran utama dari negeri kita sendiri, menjadi begitu bagus hanya karena disutradarai dan ditulis skenarionya oleh seorang Gareth Evans.
Dan efek baiknya, tentu saja film Gareth Evans ini akan mendorong sineas kita untuk meningkatkan kualitasnya karya menjadi lebih baik.
Saya pribadi, dengan rasa risau nan tanggung memenuhi tenggorokan saya, juga mengucapkan terimakasih untuk hal itu. Terimakasih karena risau tanggungnya membuat saya jadi urung membuang duit nonton Merah Putih di pemutaran film berikutnya.
Sentaby,
DBaonk
Bogor, 18 Agustus 2009
Tag: Film Indonesia, Merantau
Terkait:
-
Cinta Di Saku Celana, Film Kedua Fajar Nugros
Senin, 14 Mei '12 20:20 -
Hi5teria (2012): Sekedar Histeria Omnibus
Rabu, 2 Mei '12 23:24 -
Postcard From The Zoo (2012): 4 Babak Hidup Manusia versi Kebun Binatang
Selasa, 1 Mei '12 23:39

Komentar:
saya membaca "isi" film "Merantau", bukan membaca sebuah ulasan atau sekadar "review"
From Bogor With Love nih.....hahahahaiii......salam kenal bos.....harus banyak berguru sama anda tampaknya....
terimakasih untk rating dan apresiasinya.
salam kenal.
nickname bagus sekali. mengingatkan pada frasa lama, sabai nan aluih.
trimakasih dab.
saya lihat tulisannya @oycekontrarevolusi berbobot berat tuh.
salute. saya yang jadi ngiler utk belajar sama sampeyan.
salam kenal dari mbogor. haha.
asian new action hero...
perlu maen sama jet lee kyknya ni..
saya tunggu artikel selanjutnya..
salam oom. trimakasi. trimakasi.
betul saya njeblus juga di P. katut sama bang @edwin.
sbetulnya akhir2 ini agak jarang nonton,
tapi nanti saya coba unggah beberapa riviu yang pernah saya tulis.
mohon saran dan masukannya ya.
Yo wis ayo sinau bareng....kulo ngentosi postingan sampeyan ingkang sampun siap, lan tinggal aplod....kadosipun kok nggih sae....(maaf bagi yg roaming
ditunggu unggahannya. salamdbaonk:
nih review puanjang tapi sama sekali nda bikin bosen.
d^_^b
tapi saya setuju ah sama Evans untuk Endingnya...
Selain itu saya penasaran, apakah Yuda merantau ke Jakarta tidak membawa serta kerambit-nya? Padahal adegan awal dengan kerambit/karambit/kerambik itu memancing imajinasi saya mengenai pertempuran menggunakan pisau asli Indonesia itu.
Silahkan login untuk memberikan pendapat