cin(T)a (2009) 4
Senin, 19 Apr '10 22:48
" Why would God create us differently if God only wants to be worshiped in one way "
Annisa dan Cina (ya ini adalah sebuah nama) adalah dua insan manusia yang jika bisa diandaikan seperti langit dan bumi karena perbedaan2 mencolok yang mereka miliki. Anissa (Saira Jihan) adalah Muslim-Jawa cantik yang juga berprofesi sebagai seorang artis sekaligus mahasiswa jurusan arsitek tingkat akhir yang bisa dibilang kurang pintar karena sudah 3 kali ini ia selalu gagal dalam tugas akhirnya. Sedangkan Cina (Sunny Soon) adalah seorang pemuda Kristen keturunan Tionghoa-Batak yang dengan hanya bermodal otaknya yang encer memberanikan diri berangkat jauh2 dari tanah kelahirannya,Tapanuli untuk menimba ilmu di sebagai mahasiswa aristek di kota Bandung.
Berawal dari sebuah kejadian yang tidak disengaja Cina dan Annisa pun bertemu yang kemudian berujung dengan tawaran Cina untuk membantu Annisa dalam menyelesaikan tugas akhirnya. Seperti pepatah kuno orang Jawa, "Witing Trisno Jalaran Soko Kulino", benih2 cinta pun mulai tumbuh dalam diri dua anak manusia ini. Yang menjadi pertanyaan terbesar tentunya apakah kekuatan cinta mereka berdua cukup besar untuk dapat meruntuhkan tembok besar bernama 'perbedaan'??
Senang rasanya dapat menyaksikan cin(T)a, salah satu dari sedikit film karya anak bangsa yang bermutu. Ya dengan semangat indienya, cin(T)a menyelinap ditengah gempuran film2 Indonesia yang berbiaya berkali kali lipat namun menyedihkan dalam hal cerita dan penggarapan. Sebagai sebuah film drama romantis yang menceritakan sepasang insan remaja yang sedang kasmaran, sepintas film yang disutradarai oleh Sammaria Simanjuntak ini terlihat biasa saja, namun mejadi sesuatu yang luar biasa ketika tema umum itu dibungkus dengan sebuah 'selimut' bernama Agama dan menjadikan Tuhan sebagai 'cinta ketiga' diantara hubungan mereka.
Dengan caranya yang kreatif sutradara berusia 25 tahun ini mecoba memberikan gambaran kecil dari sebuah masalah perbedaan besar yang sudah sejak lama menjadi 'rahasia umum' di seluruh dunia, sebuah perbedaan yang sering menjadi alasan terbesar umat manusia untuk berperang dan membunuh satu sama lain sejak jaman dulu. Pertanyaan tentang apakah kekuatan cinta dapat mengatasi segala perbedaan2 dan pertanyaan2 tentang eksistensi Tuhan dan Agama itu pun dijawab dengan manis oleh film berdurasi 79 menit ini melalui dialog2nya yang cerdas, kritis, lucu walaupun masih terkesan menggurui penontonnya. Ya, dialog2 menjadi salah satu 'senjata' utama cin(T)a selain tema "sensitif" nya itu sendiri dan jangan lupakan juga masih ada sinematografinya yang terbilang cantik untuk ukuran film low budget seperti ini.
Semua kisah cinta ini diperlihatkan melalui sudut pandang dua karakter utamanya dimana hampir keseluruhan film hanya milik mereka berdua. Baik Saira Jihan maupun Sunny Soon tampil lumayan untuk ukuran pemain amatiran, jadi wajar sajalah jika penampilan mereka tidak seluwes aktor mapun aktris dengan jam terbang tinggi, setidaknya kekuatan cerita dan dialog2nya mampu menutupi kekurangan kecil tersebut. Banyak yang tidak menyukai ending film ini, namun bagi gw ending seperti itulah yang memang layak sebagai penutup, sebuah ending realistis yang tidak menjual mimpi muluk2, sebuah ending yang sempurna dari sebuah film Indonesia yang berani dan berkualitas.
Tag: drama, Film Indonesia, romantis, film independen
Terkait:
-
Sang Penari: Ronggeng Sebagai Penebus Dosa Orang Tua Dan Pengorbanan Cinta
Jumat, 4 Nov '11 07:24 -
Crazy, Stupid, Love (2011)
Rabu, 2 Nov '11 00:19 -
The Classic
Jumat, 24 Jun '11 17:59
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sabai: Good Take
-
Sky: Informatif
-
jamur: Good Take
-
ndableg: Good Take
-
discobabe: Good Take
-
kniwe: Box Office
-
playmovies: Good Take
-
JuliaJessicaJennifer: Good Take
-
oksbangs: Good Take

Komentar:
Tema yg Sensitif, Tp seru..
Silahkan login untuk memberikan pendapat