Bangkok Traffic love Story: Cerita Klasik Yang Dikemas Menggelitik 8

Jumat, 16 Apr '10 16:46

Kisah klasik soal perempuan yang "tidak laku" memang terjadi di mana-mana. Begitu juga yang menimpa Mei Li, perempuan lajang berusia 30 tahun yang tak kunjung menemukan pujaan hatinya ini akhirnya bertemu dengan pria pujaannya.

Jalan cerita film ini sangat mudah ditebak. Namun pengemasan cerita di film besutan sutradara Adisorn Tresirikasem dan penulis naskah Navapol Thamrongruttanarit ini memang layak mendapat berbagai penghargaan. Dengan genre komedi romantis, film ini mampu membawa pemirsanya tergelak karena scene-scene tolol hingga terharu dan menitikkan air mata kalau perlu.

Ndak heran 9 festival film di Thailand memasukkan film ini dalam nominasi (beberapa dimenangkan) dalam berbagai kategori, mulai dari best picture, hingga best actreess/actor.

Yang saya suka dari film ini adalah penggambaran kehidupan sehari-hari orang Bangkok, yang ternyata sangat mirip dengan di Jakarta. Rutinitas kemacetan, berdesak-desakan di kendaraan umum, menggunakan ojek untuk menembus kemacetan, dan rutinitas orang kantoran. Yang membedakan dengan Jakarta adalah setting dan tema dari film ini, Bangkok-mass Transit System (BTS) Skytrain, yang boleh diakui sangat maju bila dibandingkan dengan kereta KRL di Jakarta.

Setting rumah di daerah padat, kebiasaan menonton sinetron dan acara gosip (kirain yang doyan sinetron lebay dan acara gosip, cuma di Indonesia aja), membuat cerita film ini seolah dekat dengan kehidupan di sekitar kita.

Unsur budaya juga tak lepas dari film ini. Hari Raya Songkran, yaitu hari raya tahun baru tradisi masyarakat Thailand yang dirayakan selama 3 hari setiap tanggal 13-15 April, memberikan pengetahuan baru buat saya. Acara berkencan di Festival Songkran, dengan berpesta dengan saling semprot air dan menabur tepung menjadi ikon budaya yang pas untuk menggambarkan kehidupan percintaan sehari-hari.

Mengangkat unsur budaya sehari-hari ini rasanya menjadi tema yang sedikit diangkat di film-film percintaan negeri kita, yang kebanyakan berkiblat pada gaya hidup urban. Kalo pun ada, rasanya tetap terlihat kurang natural. Boleh dibilang, film-film macam beginian ini bisa dihitung dengan jari bila dibandingkan dengan film-film percintaan yang bertema urban-perkotaan.

Film BTS, rasanya perlu dijadikan salah satu referensi sineas kita, bahwa cerita klasik pun bisa menjadi keren, selama pengemasannya unik dan natural.

Oiya, satu lagi yang saya suka dari film BTS ini adalah adanya sisipan-sisipan bergaya kartun Jepang untuk memperkuat ilustrasi.

Sebuah film yang sangat menghibur, menurut saya.


Tag: thailand, romantis, komedi, Bangkok, BTS

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 0 0
OOOOH.... posting ini membuatku menyesal melewatkan BLS!! eh, masih main gak sih? sayangnya cuma di blitz... hiks : (
kucing_usil 0 0
graaah, baru mo ngeripiu udah keduluan : ((

kisah klasik permpuan ndak laku dari thailand yang satu ini keren lho. durasi film yang panjang tapi menghibur. lucu lucu menggemaskan ; ))
kniwe 0 0
sabai: Padahal kan sempat gw kirim undangan premierenya... : p Eh, tapi beneran bagus gini ya???
discobabe 0 0
Seru juga kayanya review Pak Matt ini... Nobar yuk...
heartles3oul 0 0
mau nonton...tapi terpaksa nonton lewat bajakannya aja.
cerezita 0 0
bole juga nih film...cari ahh, danke for reviewing : )
Gambliz 0 0
ulasan yang begitu menarik, cuman ada satu poin yang saya bingung. Jika setting film ini (yang katanya menggambarkan kondisi perkotaan Bangkok), maka bedanya dgn film rom-con Indonesia bukan pada aspek urban ato ga kan, secara urban ya perkotaan dalam istilah teknis aja. hehehe....tapi mungkin bedanya (tafsir saya saja ni, semoga salah) pada bagaiman urban yang sineas kita tampilkan selalu berasa "barat" gitu....
Matt Zammy 0 0
Gambliz: kalo di film kita, kehidupan urban itu cenderung identik dgn mall, mobil bagus, rumah gedong, cewek berdandan lebay, yg seolah-olah negeri kita paling maju.

di BTS ini, ada banyak hal sehari-hari yg diangkat, sehingga kita, eh saya seperti melihat kehidupan yg dekat dgn kehidupan kita..

Silahkan login untuk memberikan pendapat