Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010) 20

Kamis, 15 Apr '10 20:12

"Itu hasil pendidikan sul, kalo lo nga berpendidikan, lo nga akan tahu kalau pendidikan itu nga penting, makanya pendidikan itu penting" ~ Muluk

Sejak lulus 2 tahun yang lalu, Muluk (Reza Rahadian) masih juga belum mendapatkan pekerjaan. Keinginannya untuk membantu sang ayah, Pak Makbul (Deddy Mizwar) dan kenyataan ia sudah dijodohkan dengan anak gadis Haji Sarbini (Jaja Miharja) membuat Muluk sedikit frustasi karena terlalu lama menganggur. Muluk akhirnya menemukan ide untuk beternak cacing, tapi belum apa-apa sudah banyak orang yang mengejeknya.

Pintu kesempatan tampaknya baru saja terbuka dan takdir mempertemukannya dengan seorang pencopet cilik. Merasa tertolong karena tidak diadukan ke polisi, pencopet cilik ini mulai akrab dengan Muluk dan dia membawanya ke markas pencopet. Di tempat ini, Muluk diperkenalkan dengan Bang Jarot (Tio Pakusadewo) selaku bos pencopet yang mengurus sekumpulan anak-anak yang pekerjaannya tidak lain adalah mencopet. Lahirlah ide gila yang muncul entah darimana, Muluk mengajak Bang Jarot dan anak-anak pencopet ini untuk melakukan kerjasama dengannya. Sebuah kerjasama yang melibatkan ilmu yang didapatnya dari bertahun-tahun kuliah, yakni manajemen.

Bukan manajemen biasa, melainkan manajemen copet! Muluk menjelaskan bahwa dia akan membantu mengatur keuangan para pencopet, dengan mengelola pendapatan yang dihasilkan pencopet setiap harinya untuk disimpan dalam bentuk tabungan. Sedangkan Muluk sendiri akan mendapat 10% sebagai "upah"-nya. Tidak hanya akan ditabung, si sarjana manajemen ini juga menjanjikan kelak mencopet akan menjadi masa lalu, karena Muluk akan memikirkan usaha yang lebih halal dengan uang simpanan di bank.

Awalnya ide Muluk ini tidak begitu saja diterima oleh anak-anak yang sudah "terbiasa" mencopet seenaknya tanpa aturan. Mereka tidak suka diatur-atur oleh Muluk, tetapi manajemen baru ini tetap berjalan dengan didukung oleh bang Jarot, yang sangat percaya kepada Muluk. Melihat anak-anak yang tidak bisa membaca dan menulis, Muluk pun mengajak Syamsul (Asrul Dahlan) yang seorang sarjana pendidikan untuk mengajari mereka. Anak-anak yang sama sekali tidak mengenyam bangku sekolah ini pun diajari ilmu agama, lewat bimbingan Pipit (Tika Bravani) setelah diajak juga oleh Muluk. Apakah kegiatan rahasia Muluk ini akan berlangsung lama? Apakah ayahnya akan mengetahui pekerjaan Muluk yang sebenarnya?

Alangkah Lucunya (Negeri Ini), tidak ubahnya seperti curhatan-curhatan rakyat yang diproyeksikan ke dalam sebuah film, melalui visi tajam seorang Deddy Mizwar, yang menjadikan film ini sebuah jaminan tontonan yang menarik. Sutradara yang sebelumnya sukses membesut Nagabonar Jadi 2 di tahun 2007 ini, seperti biasa berhasil menyisipkan kritikan-kritikan berani ke dalam filmnya. Dengan cemerlang, Deddy Mizwar dapat membungkus pesan-pesan menusuk tersebut lewat kemasan komedi yang menghibur.

Walau disampaikan dengan tidak serius dan dibawakan lucu oleh para pemainnya, namun jangan salah, justru formula seperti ini yang biasanya mujarab menyentil hati nurani kita. Sepertinya tidak ada satu pun yang luput dari kritikan, apalagi ketika berbicara soal para petinggi negeri ini yang duduk di kursi empuk setiap harinya.

Dialog-dialog yang hadir sepertinya secara halus menyentil mereka (para pemimpin negeri) yang tidak lagi peduli dengan nasib bangsa ini dan mereka yang "betah" memperkaya diri sendiri, membuang muka dari kenyataan bahwa negeri ini sedang menderita. Mungkin juga kritikan tersebut akan mampir mengetuk hati nurani kita, setidaknya berharap bisa sedikit mengingatkan betapa "lucunya" tanah air yang kita tinggali dari lahir ini.

Pedas terkecap namun manis terucap, secara singkat mungkin seperti itulah film yang juga menghadirkan Aria Kusumadewa sebagai sutradara pedamping ini, menyuarakan pesan-pesan curahan hati rakyatnya. Walau di beberapa bagian terlihat raut marah dan dialog dengan tensi tinggi tapi tetap saja masih terbilang "manis" jika dibandingkan "kepahitan" yang ditinggalkan oleh para perampok berpendidikan di negeri ini.

Dengan arahan bang Deddy dan cerita yang diolah oleh Musfar Yasin, film ini mengalir dengan cerita yang sangat bersahabat dalam artian tidak akan membebani otak kita untuk mencerna isi keseluruhan cerita film, toh ini adalah film yang ringan. Kelucuan-kelucuan pun saling berbalas, ada saja dialog ataupun adegan yang cukup pintar untuk memancing tawa penonton.

Bang Deddy memang tahu betul bagaimana harus mengesekusi filmnya menjadi sebuah hiburan yang utuh dan kritikan-kritikannya dengan apik melebur menjadi satu bersama jalinan cerita dan suguhan komedi yang jauh dari kesan murahan. Film ini bertambah cantik dengan pengambilan-pengambilan gambar yang sangat Indonesia-sekali, menyorot tajam dan menggambarkan sudut kota yang sering terlupakan dengan "kuas" carut-marut apa adanya, hasilnya adalah sebuah lukisan yang jujur.

ALNI (menyingkat judul filmnya) juga didukung oleh pemain-pemain yang mahir dalam berakting dan dengan sederhana dapat melakonkan peran mereka masing-masing, manis- semanis filmnya. Selain Deddy Mizwar yang juga ikut meramaikan film ini, hadir juga Slamet Raharjo, Jaja Miharja, Tio Pakusadewo, dan Rina Hassim yang aktingnya tidak usah dipertanyakan lagi. Apalagi Tio Pakusadewo yang nampaknya sangat menjiwai perannya sebagai bos copet, dengan wajah yang mendukung ditambah seram dengan salah-satu bola matanya yang berbeda.

Reza Rahadian, Tika Bravani, dan Asrul Dahlan yang mewakili generasi muda, juga bisa mengimbangi akting senior-seniornya di film ini dengan bermain cukup baik memerankan Muluk, Pipit, dan Syamsul. Tapi bintang yang paling menyita perhatian justru datang dari kumpulan copet-copet cilik, entah darimana bang Deddy dan kawan-kawan menemukan aktor-aktor kecil yang nyata-nyata bisa dengan luwes dan polos berakting di depan kamera. Komedi-komedi yang hadir juga sering muncul dari tingkah pola dan kata-kata yang terucap dari mulut mereka. Secara keseluruhan ALNI bisa diartikan sebuah cermin besar yang merefleksikan "kelucuan" negeri ini dan sebuah pesan sederhana bagi kita sebagai rakyatnya.

 


Tag: Film Indonesia, Tio Pakusadewo, Deddy Mizwar, Asrul Dahlan, Jaja Miharja, lamet Raharjo, Reza Rahadian, Rina Hassim, Tika Bravani

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Bima 0 0
akhirnya Rumah Dara tersingkir jadi film favorit 2010 gw gara2 film ini. : D
Donald Duck 0 0
siap nonton niyh
sabai 0 0
Kalimat ini megang banget: "Pedas terkecap namun manis terucap," dan kalimat itu membuatku pengin nonton film ini! : D
pu3ku 0 0
beneran tertarik,,mdh2an kemasan nya memang bagus : D
Invictus- 0 0
film ini ibarat bunga teratai yang hidup di kolam comberan.

mudah"an dengan dirilisnya ALN, para sineas" muda bisa terbuka matanya dan bisa bedain mana film" kancut dan film yang berkualitas,

buat bang dedi. two thumbs up !!

raditherapy 0 0
Bima: kirain film terbaik lo di 2010 = dendam pocong mupeng atau diperkosa setan : D
raditherapy 0 0
Invictus-: wih bijaksana sekali abang yang satu ini, tumben lol

setuju deh om jonap, dua jempol buat bang deddy
btw udah nonton belom?
discobabe 0 0
Aku baru liat trailernya. Nonton bareng yukkkk
Invictus- 0 0
raditherapy: belum, tapi udah dari dulu kok semenjak nagabonar dah ketahuan bang dedi itu bikin film pasti ga selalu sama dengan yang ada pasaran.

ini liat review mu jadi makin nafsu buat ngantri beli tiket : p
Bima 0 0
raditherapy: wedew... kalo itu ada di nomer 3 dan 4. : D

setelah ALNI dan Rumah dara
Nazieb 0 0
Film-film karya om Deddy emang wajib tonton. dan semoga aja yang nonton ga langsung lupa dengan pesan moralnya setelah keluar bioskop : D
Bee 0 0
"Kalo lo gak berpendidikan, lo gak bakalan tau kalo pendidikan itu gak penting. Makanya pendidikan itu penting!"

Wow! Four thumbs up for the script writer! Sindirannya, maut! : D

*belum nonton!* : ((
sabai 0 0
gue udah nonton!!! bagus! cuma nggak sedasyat postingnya raditherapy aaaaah... kocaknya dapet, gambarnya juga okeeeeh... tp resolusinya nanggung, subplotnya malah gak digarap.

konfliknya muncul kelamaan. abis itu semua cerita terfokus pada muluk. hubungannya dg calon istri nggak dibahas lagi, ditinggal gitu aja karakter cewek manis berjilbab itu
discobabe 0 0
Aaarrrgghhhh preachy banget. Aktingnya Reza Rahadian dan Tio Pakusadewo yang biasanya keren, jadi gak keluar dan biasa bangetttt....
raditherapy 0 0
sabai:
emang postingnya dasyat?? yah klo nyatanya tidak sesuai apa yang diharapkan setelah baca review saya, itu kembali ke sudut pandang/selera masing2 toh hehe : p

seperti endingnya yang "menggantung" emang banyak yg gantung-gantung lainnya di film ini, apakah mungkin film ini sengaja meninggalkan penonton penasaran karena mungkin akan ada ALNI 2 (hahaha).

iyah, dari kelebihan film ini mengkritik secara berani, kekurangannya yah yang udah disebutin sama sis, tapi klo soal ending udah saya maklumi, karena band deddy menempatkan "simbol" di endingnya seperti halnya 10% upah si muluk : )
Gambliz 0 0
aku selalu suka lihat Tio Pakusadewo....aktor Indonesia terkuat saat ini.....itu satu2nya alasan saya pengen lihat ni film.....
Matt Zammy 0 0
menurutku, film ini "nggak Deddy Mizwar" banget. aku merasa film ini garing. mungkin karena banyaknya pesanan sponsor yang masuk dalam adegan gak penting, yang kesannya jualan secara frontal (ini sponsor kebanyakan dari Deddy Mizwar semua - Yamaha, Sozis, dsb).

menurutku, alur ceritanya cenderun membosankan. kayaknya film ini terasa "terbebani" dgn citra film-film Deddy Mizwar yg seolah-olah harus punya nilai moral/sosial.

guyon-guyonannya juga menurutku terkesan kurang natural..
Invictus- 0 0
akhirnya malam ini gw dikasih kesempatan buat nonton. dan ternyata gw dapet satu pelajaran baru. "jangan pernah jadi orang sok tahu"

ya, setelah meliat review om radit. gw begitu semangat nyari" waktu buat nonton nih film. dan berharap banget nih film bakal sesuai dengan ekspektasi gw sama seperti film" bang dedi sebelumnya.

tapi sayang kenyataan ternyata berkata lain. dan seketika itu juga membuat gw serasa orang sok tahu yang jatoh di lubang yang gw buat sendiri.

pertama yang gw bahas adalah iklan. yap bentuk lain dari promosi. mengharapkan kesuksesan film itu ibarat judi. ga akan lebih dari 50:50. dan apabila sebagai produsen bisa yakin film yang dibuatnya bagus dan bisa mendapatkan animo masyarakat yang lebih luas dia ngga perlu nyari sumber lain untuk mendapatkan keuntungan. dan sayangnya film ini sepertinya tidak percaya diri dari awal akan sukses apa ngga sehingga mencari cara lain buat menutupi kekurangan apabilan film nya tidak bisa laku dipasaran. dan fatalnya "promosi" yang dilakukan terlalu frontal sehingga ganggu konsentrasi penonton dan membuat tensi film yang dibangun dari awal tiba" jatuh cuma gara" ada satu label produk yang terangan" muncul dilayar. dan lebih parahnya lagi, momen" ga perlu seperti itu ngga cuma muncul sekali, tapi berkali"..

kedua script. script yg baik bisa membuat penonton tetap betah duduk sambil mengira" sampai dimana batas kewajaran setiap dialog yang keluar dari masing" pemeran. ada beberapa bagian script yang menurut gw sebenarnya ga perlu tetep dimasukin ke scene. sehingga dialog, ekspressi dan reaksi dari masing" peran terasa mubazir bahkan basi...

dan yang terakhir adalah ending. gw kecewa banget karena ending dibuat terlalu pendek. ngga ada jawaban yang bisa gw dapetin tentang bagaimana nasib masa depan karakter muluk dan yang lainnya. akankah ini berarti sebuah sekuel?? gw harap ngga...

bang dedi sepertinya harus belajar banyak dari kesalahan di film ini. tapi tetep dibalik ketiga kesalahan fatal itu, film ini masih punya kelebihan yang seengga"nya bisa menyegarkan para entusias film di indo yang kini lagi dibanjiri film" kancut dan rip-off. ada sebuah pesan moral yang setidaknya sukses tertinggal di otak gw dan mengubah persepsi yang selama ini masih gw sering lakukan.

"sekecil apapun perbuatan haram, dosanya tetaplah besar.."
Sky 0 0
premisnya cukup menarik... duh jadi pingin nonton juga : D
Sky 0 0
@Invictus-
"dan yang terakhir adalah ending. gw kecewa banget karena ending dibuat terlalu pendek. ngga ada jawaban yang bisa gw dapetin tentang bagaimana nasib masa depan karakter muluk dan yang lainnya. akankah ini berarti sebuah sekuel?? gw harap ngga..."

Imo, ini justru salah satu ending terbaik dari film lokal yang pernah saya tonton.

Silahkan login untuk memberikan pendapat