Soal Pertaruhan dan Surealisme yang Kaffah Dalam “Parnassus” 5

Rabu, 14 Apr '10 13:13

 

*Saya gagal menghindari spoiler dalam pembahasan saya kali ini, jadi harap maklum dan semoga bisa dibaca sebagaimana mestinya ^_^

"The Imaginarium of Doctor Parnassus" adalah satu contoh kisah pertaruhan ide kreatif yang berakhir cukup manis. Dalam hal ini, saya coba memosisikan diri menjadi Terry Gilliam, sang sutradara. Salah satu tantangan terberat yang bisa dialami di sepanjang karir seorang sineas adalah terpaksa menghadapi kenyataan bahwa aktor utama film-nya mati di tengah jalan.  Padahal proyek sudah berjalan hingga separuh bagian, dan lagi, plot kadung didesain agar sesuai dengan karakterisasi yang paling pas bagi si aktor tersebut. Pilihan tak banyak, cari pemeran utama baru, atau rombak plot-nya agar bisa leluasa diakali.

Pilihan kedua biasanya dihindari. Bukan apa-apa, bayangkan saja kita berencana membangun rumah, tapi bahan baku yang diidamkan tiba-tiba terbatas penggunaannya. Opsi merombak desain bangunan yang sudah jadi, tentulah jauh lebih berisiko dibandingkan mencari bahan baku pengganti.

Gilliam rupanya lebih memilih jalan yang sulit. Demi menghormati mendiang Heath Ledger yang tewas di tengah rangkaian proses syuting, Ia memilih untuk mengakali jalan cerita agar posisi Ledger dapat digantikan oleh Johnny Depp, Jude Law, dan Colin Ferrel secara lebih natural tanpa harus meniadakan adegan yang menyertakan Ledger sebelumnya. Toh, bangun kisah awal yang bertumpu pada setting imajinatif cukup memenuhi prasyarat awal untuk diubah. Jadilah "The Imaginarium..." kisah yang unik, menyentil, dan jujur secara mengejutkan, menarik untuk disaksikan.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada sineas-sineas lain yang berkarya akhir-akhir ini, saya cenderung jenuh terhadap beberapa film (khususnya dari Amerika) yang tempo hari saya saksikan. Kebanyakan kisahnya miskin emosi, dan parahnya, upayanya tanggung untuk mengajak penonton terpikat. Sebut saja "Alice in Wonderland", "Shutter Island" atau "Clash of Titans".

Nah, kembali ke kasus "The Imaginarium of Dr. Parnassus" tadi, film ini punya materi kisah imajinatif yang menarik walau tidak terlampau orisinil. Alkisah, Dr. Parnassus dahulu merupakan biarawan yang menjaga agar kisah-kisah tentang kebaikan ataupun kejahatan - yang menjaga dunia tetap seimbang -  tidak dilupakan oleh manusia. Semua kacau saat Iblis (yang uniknya sangat manusiawi, tidak berusaha "keiblis-iblisan", dan memiliki nama sederhana bertajuk Mr. Nick) berkunjung ke biara itu, dan mengajak ia bertaruh soal apakah manusia akan tetap memilih mengingat kisah-kisah itu atau malah melupakannya.

Parnassus tergoda untuk bertaruh. Ia menang, lantas mendapatkan kehidupan abadi.  Selama periode hidup abadi, ia berkelana dan menawarkan sebuah atraksi keliling yang mengajak setiap orang masuk ke dalam cermin bernama "imaginarium", yang akan membawa orang di dalamnya memilih tindakan "terang atau gelap" dalam mimpi yang dikendalikan olehnya. Sayang, pertunjukan itu makin lama makin ditinggalkan orang-orang. Tidak ada yang tertarik pada imajinasi Parnassus, dan ramalan Iblis sebenarnya mulai digenapi.

Klisenya, di film ini hidup abadi tetap disimbolkan jadi kutukan. Hasil dari hidup macam itu, ia menderita dan harus kembali bertaruh untuk memperoleh cinta sejatinya. Ditambah lagi, nyawa anaknya, Valentina, terancam diambil Mr. Nick saat ia genap berusia enam belas tahun. Di tengah pusaran masalah pelik itu, Parnassus merasa punya kartu As saat ia bertemu karakter Tony, si mantan penipu amnesia yang ditemukan sedang tergantung di bawah jembatan. Keberadaan Tony yang menarik dan bisa mengemas Imaginarium kembali dilirik oleh orang-orang, membuat Parnassus pede kembali bertaruh melawan Iblis, agar anak gadisnya bisa diselamatkan. Mulai pertengahan film, kita akan menyaksikan hasil pertaruhan Parnassus yang terakhir itu. Cukup unik bukan?

Omong-omong soal ide cerita yang unik, saya tertarik membandingkan film ini, dengan karya besutan sutradara nyentrik Amerika, Spike Jonze, yaitu "Being John Malkovich". Keduanya punya keberanian yang sama dalam mencampurkan narasi surealis ke dalam sebuah dunia yang bisa kita nilai sebagai dunia sebenarnya. Inilah, poin penting kedua karya tersebut, jika saya komparasikan dengan beberapa tajuk film yang saya sebut di awal tulisan. Karena sebagaimana dimanifestokan oleh Andre Breton, ukuran karya surealis adalah ketika ia menampilkan elemen kejutan yang tak terduga, serta juxtaposisi yang tak seharusnya dari kenyataan yang ada. Absurd, ya absurd sekalian, tuntas, dan  berani mempertaruhkan ide agar bisa diterima oleh audiensnya.

Jika sudah bicara masalah nyali dalam hal strategi penceritaan, peranan sineas merupakan faktor yang harus kita dudukkan secara proporsional (bukan berarti saya meremehkan sineas sekelas Scorsese, tapi "Shutter Island" bagi saya kelihatan tidak dinikmati proses pembuatannya bahkan oleh dirinya sendiri, that's why hasilnya karya yang bagus, tapi sungguh tidak memorable karena kering sentuhan personal yang khas Scorsese). 

Jonze dan Gilliam teguh mengusung surealisme agar mampu mencapai kadar yang sepantasnya untuk sebuah karya yang berani melabeli dirinya sebagai karya surealis. Apa dasarnya? Elemen dalam sebuah karya surealis modern sering rentan terjebak pada sebuah alur yang menuntut adanya koherensi yang melulu merujuk pada logika (modern) dalam dirinya sendiri. Sederhananya, kadang butuh keteguhan yang lebih dari cukup agar kita, dalam posisi seorang sineas, bisa tahan pada cercaan standar yang bisa saja terlontar terkait respon penonton, misalnya "Kok ceritanya aneh sih?"

Untuk urusan yang satu ini, baik Jonze maupun Gilliam sudah beres. Kenapa harus aktor John Malkovich yang diintip dan dikendalikan pikirannya? Kenapa bisa ada kereta pertunjukan bobrok berkeliaran di jalanan London jaman sekarang? Harap mahfum bila kedua sineas yang saya bahas mempersetankan wacana usil macam itu.

Jadi, kita semua paham, kedua sutradara itu pemeluk agama surealisme-nya Andre Breton yang taat. Lantas apa poin selanjutnya? Mari bicara soal kedalaman kisah. Biar surealis tetap ada cerita yang dikisahkan, bukan? Nah, untuk urusan yang ini, "Being John Malkovich" lebih berhasil. Konfilk yang menyertai karakter-karakter utama "Being..." tergarap sempurna, dan terbagi rata secara adil, bahkan bagi John Malkovich yang menjadi dirinya sendiri. Sempilan kisah cinta segitiga (atau bahkan empat) tidak mengganggu emosi utama perihal kesempatan merasakan sensasi menjadi orang lain. Kapitalisasi sensasi surreal ditengah cerita pun menarik, dan tidak membebani keseluruhan kisah agar tunduk pada arah yang berbeda dari yang sudah direncanakan sejak semula.

Sementara dalam "The Imaginarium.." ada cacat yang fundamental dalam porsi konfilk. Gilliam terlalu fokus pada Parnassus. Mungkin tak masalah kalau memang semua konflik bisa dilekatkan pada tokoh itu saja. Masalahnya, dalam satu momen di "The Imaginarium..." Gilliam membenturkan karakter Valentina (yang diperankan oleh Lily Cole dengan kepolosan yang pantas lagi pas) dengan realitas di luar logika kisah, yaitu saat ia ditampilkan punya mimpi untuk minggat dari rombongan pertunjukan itu, dan menggapai impian untuk memiliki sebuah rumah modern yang layak huni.

Konflik tersebut membuat aspirasi sureal film ini secara keseluruhan harus berkonfrontasi dengan kenyataan yang memaksa logika eksternal terlibat, dan tidak bisa dituntaskan dengan resolusi konfilk abstrak dari internal cerita saja. Gilliam, sayangnya tidak memberi cukup ruang bagi karakter Valentina berkembang, selain membuatnya jadi karakter lemah di akhir kisah yang tak mampu berbuat apa-apa selain menjadi eskapis seperti mulanya ia hadir di film itu.  

Masalah kedua muncul saat karakter Tony yang diperankan Heath Ledger terburu-buru di"jahat"kan agar kisah bisa sampai pada klimaks yang diinginkan. Padahal bagi penonton yang jeli, Tony tak pernah punya kesempatan memadai untuk dijelaskan masa lalunya. Kalaupun ada aspek jahat dalam tindakannya di masa lalu, maka itu hanya tempelan yang dipaksakan muncul di tengah jalan. Tony adalah karakter abu-abu, tak lebih. Mengorbankannya agar cerita selesai, memang mempermudah semuanya, tapi hasilnya jelas memperlihatkan bagaimana suasana terburu-buru dan kedodoran mendominasi tiga perempat akhir cerita.

Soal akting, lain lagi. Gilliam dan Jonze sama-sama tidak mis-cast. Deretan bintang di "Parnassus" tak kalah berkilau dibandingkan dengan kombinasi Cusack, Cameron Diaz, dan Malkovich di "Being..." Christopher Plummer sebagai Parnassus begitu hidup, begitu kaya emosi, dan bisa membawakan aura beban menjalani hidup abadi. Depp, Law, dan Ferrel juga tidak mengecewakan saat menggantikan posisi Ledger dalam dunia imajinasi Parnassus, tapi, kredit tetap harus kita sematkan untuk Heath Ledger. Apa yang ia berikan disini bukan sebuah seperangkat akting yang terlalu mumpuni seperti di "Dark Knight", tapi tetap saja unsur manipulatif dari karakter Tony berhasil ia sampaikan dengan lancar. Saya yakin, peran ini akan diperhitungkan jika di kemudian hari orang-orang ingin membuat daftar karakter terbaik yang pernah diperankan Heath Ledger. 

Menilik hasil perbandingan saya sekilas, Jonze dan "Being John Malkovich"-nya tampak lebih unggul. Tapi, ada satu hal yang pada akhirnya membuat kedua karya tersebut seri. Yaitu kesuksesan penekanan Gilliam terhadap simbolisasi pertaruhan yang menggagalkan Parnassus jatuh pada lubang ke-klise-an cerita macam ini terlalu dalam. Jika plot tragis terasa dipertahankan oleh "Being John Malkovich" karena alasan "sudah begitu lazimnya", maka segala pertaruhan yang dilakukan Parnassus dengan Mr. Nick merupakan konsekuensi yang menjelaskan perjalanan konflik selanjutnya. Mau happy ending atau tidak, kita bisa menerima apapun yang ditawarkan kisah ini dengan lebih lapang dada.

Akhir kata, terlepas dari perbandingan "usil" yang saya lakukan, film ini adalah pertaruhan yang berhasil dimenangi Gilliam akibat kekerasan hatinya untuk tetap bertaruh walau banyak risiko menghadang (dan lebih jauh lagi, ia pasti juga sudah siap untuk mempersetankan ulasan "usil" seperti yang saya lakukan). Ia membuktikan diri, pasca karya monumentalnya "Brazil", sebagai sineas yang mahir bermain-main dengan kisah, mampu mengemasnya secara menarik (walau tak harus sempurna), dan memberi pelajaran bagi sineas lain bagaimana caranya membuat kisah surealis yang tetap kaffah di era (post)modern ini.

 

 

 


Tag: surealisme, Gilliam, Ledger, pertaruhan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 0 0
hmmm... perbandingan menarik! tanpa maksud membandingkan, sekedar nonton aja, gue lbh enjoy nonton John Malkovich.

Parnassus itu... gimana ya... mbulet gitu sama tokoh yg diperankan heath ledger (dan 3 aktor ganteng penggantinya)
playmovies 0 0
Notes ttg Being John Malkovich:
Sy kira bukan cuma Spike Jonze tp Charlie Kaufman sang penulis ceritanya yg hrs diberi catatan
Mnrt sy di film itu Jonze cuma memvisualisasikan cerita Kaufman, dan memang berhasil but i guess in the end its Kaufman yg diberikan pujian

Buat Parnassus... sy ud beli filmnya tp yg udah nonton pacar sy heheh...
discobabe 0 0
Hmm... aku kok cuma menangkap kesan takut rugi aja ya produsernya... Tetapi tulisan ini menarik sekali
Gambliz 0 0
discobabe: hahahaha.....lo takut rugi ngapain dia mbiarin Depp, Ferrel, ma Law nyumbangin semua gaji yg harusnya mereka terima ke anaknya Ledger bro....yah, walo ga boleh muna juga sih, soalnya upaya menyelamatkan kelanjutan sebuah proyek film pastilah termasuk upaya menyelamatkan investasi....: D

@playmovies: Nonton bro, ga nyesel kok...(asal doyan film genre beginian : p )
danzadanzi 0 0
terimakasih untuk perbandingan "usil " nya antara parnassus dan malkovich ...it's ok walau porsinya beda.
Buat gw parnassus itu surreal yg kosmetik ya .. santapan visual yg heboh ( walau bukan hal yang baru sih .. dilihat dari karya terry gilliam start era monty python hingga karya karya berikutnya , hal visual surreal ini sudah ada hanya di parnassus lebih upgarde aja mengingat perkembangan teknologi di tahap post produksi - online , 3D - makin canggih ) , ceritanya sendiri mmm ya ok lah ... hanya untuk produksi nya gw angkat jempol ...gak kebayang gimana TG harus bikin plan B setelah Heath Ledger mati dalam proses shooting !

jadi kebayang ekspresi kusut dan panik Terry Gilliam
dalam film BTS : Lost in La Mancha ...

"The Imaginarium of Doctor Parnassus" layak di koleksi bagi penggemar Terry Gilliam

Silahkan login untuk memberikan pendapat