BABI BUTA YANG INGIN TERBANG: Ketika Suku Minoritas setelah Dimatikan Perasaannya 14
Kamis, 8 Apr '10 09:53
Judul:
Babi Buta yang Ingin Terbang
Sutradara:
Edwin
Pemeran:
Ladya Cheryll, Pong Hardjatmo, Joko Anwar, Andara Early, Carlo Genta
Plot:
In "The Blind Pig Who Wants to Fly" you will find stories about disoriented identity, not knowing who you are, anxiety, uncertainty, the experience of being lost, told with a sense of humor. A father who is desperate to win a green card lottery, so the family can move to America. An ex-national badminton champion, whose husband leaves her for a Javanese wife. A Menado boy who constantly gets beaten up because everybody thinks that he is Chinese. A young girl who believes that Chinese firecrackers expel ghosts. Set within the contemporary social and racial tension of urban Indonesia, the story follows eight characters in their absurd journey to fit in within society in the hope to live better lives. Like a mosaic, this film is built from shattered pieces of colored glass. Delicate, fragile, beautiful.
Catatan:
Penasaran juga dengan film ini. Penasarannya karena film ini ngga pernah diputar di bioskop-bioskop mainstream di tanah air dalam masa tayang regular. Akhir kesampaian juga, itu termasuk mendadak karena info dari salah seorang kawan.
Sekalipun penasaran, ekspektasi untuk film ini gue tekan serendah-rendahnya. Sebenernya bukan khusus film ini aja sih. Tapi biasanya khusus untuk film-film buatan sineas Indonesia mutakhir, ekspektasi selalu gue tekan serendah-serendahnya mendekati titik nol. Dan hal ini selalu terbukti manjur supaya bisa mengikuti filmnya sampai dengan selesai. Urusan baik/buruknya memang juga tergantung selera yang tentunya subyektif.
Film ini gue rasakan absurd banget. Absurd yang gue rasakan muncul dari kombinasi visual yang suram, cerita yang ngga jelas urutannya dan karakter-karakter yang semuanya negatif. Sekalipun begitu, film ini cukup berhasil menjaga gue tetep kepingin ngikutin sampai selesai. Dengan pelan sekali, maksud dari keseluruhan cerita mulai bisa gue serap. Kata kuncinya ternyata adalah ‘Suku Tionghoa yang Terdiskriminasikan'.
Yang gue liat di film ini bukanlah sebuah gugatan dari suku minoritas, tapi lebih ke potret keadaan Suku Tionghoa pada saat ini yang bukan lagi masih didiskriminasi tapi juga sudah terlanjur mati rasa dengan negeri ini.
Visualisasi yang lebih mirip mozaik dan puzzle dibandingkan runtutan cerita, ngebikin gue hampir aja mati rasa karena pusing dan bingung. Tapi merujuk ke hal yang ingin disampaikan, sepertinya visualisasi semacam itu cukup efektif membuat gue merasakan hal-hal yang dirasakan karakter-karakternya.
Visualisasi yang cenderung ‘semau-maunya' makin lama semakin bikin gue miris menyaksikan kondisi tiap-tiap karakter di film ini. Selain ada yang ‘diperkosa', ada pula yang bisa bernyanyi-nyanyi gembira mengikuti tayangan karaoke berlatar kerusuhan Mei 1998! Sebenernya ada gugatan di dalamnya, tapi yang gue tangkap gugatan itu jadi semakin tajam justru dengan menampilkan mereka yang sudah mati rasa.
Semuanya sangat terbantu dalam sesi tanya jawab langsung dengan sutradaranya. Dari diskusi jadi jelas semua yang ingin disampaikan film ini. Dan dari penjelasan sang sutradara, termasuk semua hal behind the screen dan beberapa hal off the record, gue semakin miris melihat kehidupan Suku Tionghoa pada masa sekarang. Beruntung Indonesia masih punya Edwin yang peduli hingga lahirlah film ini.
Tag: edwin blind pig babi buta
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Michael: Informatif
-
sabai: Informatif
-
kniwe: Good Take
-
raditherapy: Good Take
-
Gambliz: Good Take
-
discobabe: Good Take
-
jamur: Good Take
-
kucing_usil: Good Take
-
Si Pisau Terbang: Informatif
-
jokotarub: Informatif
-
JuliaJessicaJennifer: Good Take
-
oksbangs: Good Take

Komentar:
oh No...
any way thanks buat reviewnya...
Yah kadang2 kan ada film2 semacam itu. Tapi mungkin juga emang guenya aja yg bodoh
No man! bukan itu maksud gue, salah persepsi... film yang elo harus ngobrol dulu sama sutradaranya baru lo bisa ngerti filmnya adalah film yang buruk banget menurut gue.. hehe...
Jadi inget buku keren yang dijadiin film itu loh tapi flop,..
penulisnya bilang "Lo harus nonton film2 woody allen dulu, baru lo bisa ngerti film gue ..."
oh Man... S*it..
misalnya udah bayar tiket bioskop, trus nggak ngerti film yg ditonton, masa abis itu musti nelfon sutradaranya?
lha kalo abis nonton The Lovely Bones, bayar tiket 35 rebu, trus nggak ngerti maksudnya deskripsi kehidupan surgawi yg absurd di film itu, masa si penonton harus nelfon Peter Jackson?
LOL hahaha... Good Point!
Tapi ya udah aja, apa aja yg bisa gue tangkap ya itu yang gue ngerti. Nah kalo ada forum kayak gini kan enak juga, ga perlu mahal2 telpon Peter Jackson misalnya
Btw, kalo emang pretensius dan berambisi ngomong "sesuatu" tapi gagal mengkomunikasikannya ke penonton, aku pikir itu karya yang buruk. Di film ini, aku cukup terganggu sama adegan sodomi yg ga perlu itu. Entah kenapa, walaupun tendensi-nya "mengganggu" kesadaran penonton barangkali, tapi tetep aja adegan itu terlalu berpanjang-panjang (dan eksplisit sekali) tanpa rasionalisasi yg jelas. Finally, aku masih milih "Kara, Anak Sebatang Pohon" (produksi 2005) sebagai karya terbaik Edwin. Massage-nya nyampe ke penonton, dan memang kuat. Semoga dia jadi sineas "arthouse" yang makin matang di masa depan.
tetep masi ingin nonton pilem ini, seabsurd apa pun
*senapsaran*
yang malahan saya inget di film ini cuma lagunya Stevie Wonder...hehehe
Tapi ini film yang luar biasa. Salah satu film terbaik Indonesia yang pernah dibikin. Adegan sodomi justru salah satu bagian penting dari narasinya.
Pingin nulis review juga sebetulnya, tapi mesti nonton sekali lagi buat mengingat detailnya. Udah terlalu lama, jadi banyak yang lupa. Maklum orang tua....
Sebetulnya ini bukan film MENGENAI disriminasi keturunan China di Indonesia. Ini film yang bercerita soal korban-korban diskriminasi itu, dan mati-matian berusaha "menjadi bukan China". Tapi tentu saja gagal, dan sia-sia. Seperti Babi -- buta pula -- yang ingin terbang....
Silahkan login untuk memberikan pendapat