Cerita Cinta Dari Seberang Benua 5

Senin, 29 Mar '10 03:32




AYAT-AYAT CINTA

Sutradara: Hanung Brahmantyo

Pemain: Fedy Nuril, Rianti Cartwright, Carrisa Puteri, Zaskia Adya Mecca

Durasi: 120 menit

Produksi: MD Entertainment

 

Habiburrahman El Shirazy adalah sastrawan muda berbakat  yang menempuh pendidikan di Kairo, Mesir. Novelnya Ayat-Ayat Cinta sempat jadi cerbung di  Republika dianggap karya sastra fenomenal dan sukses secara komersial. Novel ini segera dipinang produser untuk diadaptasi ke layar lebar. Hanung Brahmantyo lantas digandeng MD Entertainment untuk menyutradarai karya yang sangat terkenal dan dipuja penggemarnya ini.

Film ini menceritakan kisah Fahri (Fedy Nuril), mahasiswa Indonesia di Universitas Al Azhar Mesir. Seperti kebanyakan mahasiswa, memilih jodoh adalah salah satu prioritas yang lekat di benak Fahri. Sebenarnya ada 3 wanita tengah dekat dengan Fahri, dengan cara yang diajarkan agama. Namun ketiganya belum sanggup meluruhkan hatinya. Sampai Fahri bertemu dengan Aisha (Rianti Cartwright), gadis Muslim keturunan Jerman. Drama sesungguhnya baru muncul sesudah pernikahan. Fahri menghadapi tuduhan perkosaan dari Noura (Zaskia Adya Mecca), gadis yang pernah ditolongnya. Satu-satunya yang mungkin menyelamatkan Fahri hanyalah Maria (Carrisa Puteri), gadis Nasrani yang mencintainya. Saat inilah keimanan dan keikhlasan Fahri dan Aisha mendapat ujian.

Tidak seperti beberapa filmnya yang agak serampangan dalam logika, Hanung Brahmantyo mengadaptasi novel kondang ini dengan cukup baik. Kendati medium film mungkin tidak mampu melukiskan seluruh ruang imajinasi yang dibangun di bukunya. Hasilnya cukup manusiawi dan hidup, pesannya pun tersampaikan dengan baik. Sebenarnya, kalau Salman Aristo - penulis skenarionya - mau sedikit mengolah struktur film ini agar tidak terlalu linear, mungkin film ini akan jauh lebih menarik lagi dan mungkin bisa memberi penekanan khusus pada bagian-bagian tertentu.

Fedy Nuril dan Carrisa Putri tampil pas dan membangun chemistry yang kuat. Yang paling menonjol justru Rianti Cartwright dan Zaskia Adya Mecca.Aisha adalah wanita yang harus menghadapi kerumitan hidup dan pilihan-pilihan berat, Rianti berhasil mengisi karakter ini dengan sangat memadai. Sementara Zaskia Adya Mecca berani melepaskan stereotip dalam lakon-lakon sinetron relijiusnya dan berperan antagonis.

Keunggulan ini dilengkapi juga dengan sinematografi menawan yang digarap Faozan Rizal. Film ini hadir dengan gambar-gambar dramatik yang cantik, berbalut warna-warna teduh yang menentramkan. Tengoklah adegan perbincangan di tepi Sungai Nil saat senja kala. Meskipun tidak benar-benar direkam di tepi Sungai Nil, tetapi penonton seolah dipancing untuk mengucap dzikir. Tetapi itu saya, entahlah kalau orang lain.

Original score yang digarap Tya Subiyakto juga sangat harmonis dan memperkuat kesan spiritual yang ingin disampaikan. Yang jelas, jangan lupa membawa tisu atau saputangan. Percayalah, Anda akan membutuhkannya!

Film ini mencetak sukses besar dalam pemutaran teatrikalnya. Bagi saya, ini setidaknya menjadi pertanda bahwa penonton film Indonesia sebenarnya tidak terlalu bodoh dan tumpul seleranya dalam memilih film, buktinya film ini dan Laskar Pelangi mampu mencetak rekor, bukannya Air Terjun Pengantin atau Suster Kremes. Masalahnya, seberapa banyak sutradara Indonesia lain yang mau belajar dari hal ini? Wallahu'alam Bishawab.



Tag: DVD, Film Indonesia, Hanung Brahmantyo, Fedi Nuril

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 0 0
saya akhirnya nton film ini juga dari pada mati penasaran sama gegap gempita omongan ttg kelarisan film ini...
ya lumayanlah!
lebih bagus dr pd suster keramas : )
nonadita 0 0
Mungkin karena memang nggak dibuat di Mesir, suasana Mesir-nya kurang banget... Bapak tirinya Aisha lebih mirip orang Ambon ketimbang orang Mesir
ajiadityajunior 0 0
untuk sebuah film dengan sejuta kompromi, menurut saya itu hal maksimal yang bisa diberikan Hanung.
ga bisa ngebayangin kalo Joko Anwar benar2 mau nyutradarain film ini,
jokotarub 0 0
film ini yaaa... gitu deh. kagak ngerti kenapa bisa laris manis. aye mah kagak greget nontonnye!
pop korn 0 0
sabai: Buset... Lebih bagus tapi perbandingannya suster keramas. hahahahh....

Menurut saya ini film nya... ya not bad lahhh... masih layak ditonton. Tapi kayaknya bagusan bukunya ya?

"Don't judge a book by its movie" : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat