Sang Penyair di balik perjuangan Cut Nyak Dhien 19

Jumat, 19 Mar '10 22:00

 

Ketika seorang kawan mengajak saya untuk menyaksikan pemutaran film Cut Nyak Dhien di bioskop TIM 21, saya agak ragu. Ini film sejarah. Film perjuangan. Cerita kepahlawanan Cut Nyak Dhien sudah sering saya dengar dari sejak saya duduk di bangku SD. Untuk apa menonton film itu? Saya kurang tertarik menyaksikan film bertema perang. Namun kawan saya bersikeras untuk menyaksikan film tersebut. Ini film bagus, katanya. Maka saya pun masuk ke TIM 21 dengan menyumbang uang sebesar Rp 5000,- sebagai sumbangan sukarela.

Film diawali dengan adegan Cut Nyak Dhien yang sedang berdiskusi dengan suaminya, Teuku Umar mengenai penyerangan  berikutnya. Dan seperti yang sudah saya duga, kisah perang patriotis tersebut kurang menarik hati saya. Namun perasaan saya berubah ketika muncul tokoh yang disapa sebagai "Penyair" dalam rombongan yang dipimpin Cut Nyak Dhien.

Sang Penyair. Begitu panggilannya. Diperankan oleh Putra Aceh dari tanah Gayo, Aceh Tengah, bernama Ibrahim Kadir. Sebagai actor dengan peran penting dalam film tersebut, Ibrahim Kadir benar-benar mampu mengungkapkan bagaimana mental rakyat Aceh dalam menghadapi penjajahan Belanda di tanah mereka.

Sang Penyair. Ketika orang-orang sibuk menyiapkan perbekalan dan logistic, strategi dan taktik, syairnyalah yang menjadi penghibur para prajurit, menyemangati mereka untuk terus bertahan membela tanahnya. Kalau peran Cut Nyak Dhien adalah sebagai pemimpin, maka sang penyair adalah baterai dari perjuangan yang dimotori Cut Nyak Dhien.

Sang Penyair. Tokoh yang paling menyentuh saya, ketika saat terakhir Cut Nyak Dhien berhadapan dengan Belanda di hutan, kumandang takbirnyalah yang menyadarkan prajurit-prajurit terakhir Cut Nyak Dhien untuk mati sahid mempertahankan tanah kelahirannya.

Untuk yang belum pernah menyaksikan film ini, harap menontonnya. Bukan hanya fakta sejarah, pesan moral dan pesan patriotis terhadap penjajahan saja yang bisa kita tangkap dari film ini. Bagaimana sosok Sang Penyair, yang bukanlah seorang prajurit, ikut mengapresiasikan perjuangan kawan-kawan setanahnya. Bukan dengan rencong, bukan dengan bambu runcing. Tapi dengan syairnya.

 

 


Tag: Perjuangan, Cut Nyak Dhien

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

JuliaJessicaJennifer 0 0
Ada shot yang niru sebuah foto terkenal dari jaman Perang Vietnam...
namasayaratih 0 0
hah? yang mana? tapi kalau menurut saya, kalau benar itu tiruan, pasti sang pembuat film ada maksud tertentu yang pastinya baik.
Liu Dehua 1 suka | 0
sebetulnya mental orang Aceh sudah ditonjolkan oleh Eros Djarot dengan menyandingkan Cut Nyak Dien dan Pang Laot. itulah perbandingan utama mental orang Aceh sesungguhnya. yang satu rela mati demi tanahnya. yang satu lagi mengkhawatirkan pemimpinnya. yang manakah mental Aceh? yang teguh memegang prinsip dan ucapan, bukan yang berhitung secara matematis.

maka, kritik saya kepada Eros Djarot adalah mengapa perlu memverbalkan mental orang Aceh lewat penyair? sedangkan Cut Nyak Dien dan Pang Laot sudah memperlihatkannya. sebagai masyarakat yang bersastra, penyair memang menjadi pelipur lara. tetapi kalau penyair menjadi verbalisasi, saya rasa menjadi mubazir. terlalu naif buat seniman sekelas Eros Djarot
namasayaratih 0 0
Liu Dehua:

Ibrahim Kadir adalah satu-satunya (kecuali pemeran Agam yang terakhir) aktor Aceh yang bermain dalam film tersebut. Bukan seni perannya yang ditonjolkan melalui peran Penyair, tetapi identitasnya sebagai orang Aceh dalam film itu yang saya sebut mencerminkan orang Aceh.

Pertanyaannya adalah, siapakah Pang Laot itu? Kurang pas rasanya kalau mental orang Aceh diperbandingkan hanya melalui tokoh Cut Nyak Dhien dan Pang Laot. Konflik antara Cut Nyak Dhien dan Pang Laot bukan hanya mewakili mental rakyat Aceh semata, tapi juga mereprentasikan manusia pada umumnya.

Eros Djarot menghidangkan tokoh Penyair dalam film ini saya rasa bukan dengan maksud memverbalkan orang Aceh lewat penyair. Dalam hal ini saya menginterpretasikannya sebagai usaha sang pembuat film untuk menyampaikan kepada penonton bahwa perjuangan tidak hanya dengan turun langsung ke medan perang. Bisa anda simpulkan sendiri relevansi dari falsafah eksistensi sang penyair tersebut dalam kehidupan kita sekarang.

Cheerio..
Liu Dehua 1 suka | 0
namasayaratih: terlalu luas bagi Eros Djarot merepresentasikan manusia pada umumnya hanya dengan melihat perang aceh. dan film ini sungguh-sungguh hanya merepresentasikan orang Aceh. kenapa Aceh tidak berhasil ditaklukkan? perang Aceh adalah perang terlama dan termahal yang pernah dilakukan oleh Kerajaan Belanda sampai hari ini. mengapa hanya di Aceh? mengapa tidak dalam perang Boer di Afrika Selatan sana? mengapa bukan di Harleem?

di seluruh daratan Sumatra, orang Aceh adalah bangsa yang paling keras. mereka keras hati dan keras kepala. sampai sekarang begitu. makanya laki-laki aceh sangat keras, sangat menjunjung harga diri, menjunjung prinsip, dan menjunjung ucapan.

siapakah Pang Laot? tidak penting siapa dia. tetapi sebagai laki-laki Aceh dan sebagai orang kepercayaan Cut Nyak Dien, Pang Laot tidak menunjukkan ke-Aceh-annya.

jika anda mau menyebut penyair sebagai cerminan orang Aceh, kan tidak perlu harus orang Aceh. tetapi kekerasan hati. itu sudah sangat mencerminkan orang Aceh. kalau Aceh seribu Pang Laot yang berpikir logis, Aceh sudah jatuh dari dulu. perang aceh buat orang Aceh juga bukan perang logis. secara senjata mereka kalah. dan mereka pasti kalah suatu waktu. yang membuat mereka bertahan adalah prinsip dan kekerasa hati. itulah eksistensi orang Aceh.

pertanyaan terakhir buat anda, perjuangan apa yang tidak turun langsung ke medan perang? dan dalam sejarah manusia, perjuangan apa yang tidak meminta peperangan?
namasayaratih 0 0
Liu Dehua:
http://www.theglo…-penyair.php

Saya tidak berkata bahwa sang penyair merupakan cerminan orang Aceh. Tapi bagaimana Ibrahim Kadir sebagai orang asli Aceh di film itu merepresentasikan Aceh dalam wujud Sang Penyair. Bukan Christin Hakim, bukan Slamet rahardjo, bukan Pietrajaya Burnama. Maaf kalau tulisan saya kurang menjelaskan maksud saya.

Perbandingan Pang Laot dengan Cut Nyak Dhien saya katakan mereprentasikan manusia pada umumnya karena dua tokoh itu mewakili dualisme yang ada. Yang satu tetap pada prinsipnya, yang satu goyah keyakinannya. Tepat dong kalau saya katakan tidak hanya orang Aceh yang bersifat seperti itu. Karena itu saya tulis bahwa kedua tokoh utama di akhir tidak hanya mereprentasikan orang Aceh. Dan bukan eksistensi masyarakat Aceh yang saya bahas, tapi esensi dari kehadiran orang Aceh asli di film itu dalam tokoh Sang Penyair.

Tidak semua perjuangan turun ke medan perang. Apakah seorang mahasiswa yang mengungkapkan kritiknya kepada pemerintah melalui media tidak sama perjuangannya dengan mahasiswa yang turun berdemo?
Liu Dehua 0 0
namasayaratih: kenapa sampai harus ada orang Aceh untuk merepresentasikan Aceh? sedangkan Cut Nyak Dien sudah bercerita lebih dari cukup untuk merepresentasikan Aceh
lihatlah Hasan Tiro sekarang. setiap kepulangan ke Aceh selalu dielu-elukan. itulah Aceh. mereka begitu teguh pada prinsipnya dan pemimpinnya.

perjuangan apa yang tidak butuh perang. tidak usah jauh-jauh pada mahasiswa. bahkan untuk makan manusia butuh perang. perang untu mencari nafkah. bahkan perang pada dirinya sendiri
sabai 0 0
panaaasss... diskusinya menghangat!
saya pun nonton film ini ketika masih SD, jadi udah banyak lupanya. cuma ingat samar2 aja tokog penyair ini.
hhhm.... jadi perlu nonton lagi nih!
namasayaratih 0 0
Liu Dehua:
[kenapa sampai harus ada orang Aceh untuk merepresentasikan Aceh? sedangkan Cut Nyak Dien sudah bercerita lebih dari cukup untuk merepresentasikan Aceh]
karena fakta bahwa orang Aceh dilibatkan dalam pembuatan film tersebut membahagiakan mereka.

Lah, itu tau kalo ga setiap perjuangan mesti di medan perang. Kecuali kata 'medan perang' nya juga merupakan khiasan.. hehehehe... : p

Sudah dulu yah, mau melanjutkan skripsi dulu...
namasayaratih 0 0
sabai:
Hehe,,, iya nih... lumayan, bikin saya mikir. Ngerjain skripsi soalnya ga pake mikir... hahahhahahhaaa....

Nonton aja lagi. Di TIM diputer gratis kok. Sampai akhir Maret ini. Tapi saya ngga punya jadwalnya.
Liu Dehua 0 0
namasayaratih: bahkan ketika anda berjuang mengerjakan skripsi, anda pun sedang berperang. anda harus berperang mengatur waktu. berperang mengumpulkan bahan. berperang melawan kemalasan untuk menulis. jadi perjuangan apa yang tidak butuh peperangan?

membahagiakan orang Aceh yang justru merendahkan kualitas film. jika film ini film Prancis, sangat masuk akal jika sang penyair memiliki tempat vital. tp ini kan film kepanjangan dr film Indonesia. film Aceh pula
kucing_usil 0 0
sabai: buat nonton bareng klubfilm bagaimana? diskusinya seru ; ))
namasayaratih 0 0
kucing_usil:
hmm.... boleh aja sih.. kebetulan baru aja saya bilang sama junior-junior saya untuk mengadakan acara rutin nonton bareng. tapi film-film Rusia yah... gimana? mau ikutan?

Liu Dehua:
haduh, maaf yah, saya udah capek mikir, gimana lagi mesti membalas komentar anda... soalnya kok baru lagi, baru lagi... ngga muter2.. hehehehehheee... peace...
there's only one usmar ismail 0 0
Liu Dehua:

pernah dengar nama tengku cik pantekulu? kalau belum, google mungkin sedikit membantu.

soal penyair dan puisi dalam perang aceh, saya kira, sedikit banyak ada fakta sejarahnya. eros menggunakan bahan itu.
there's only one usmar ismail 0 0
Liu Dehua:

[...jika film ini film Prancis, sangat masuk akal jika sang penyair memiliki tempat vital. tp ini kan film kepanjangan dr film Indonesia. film Aceh pula...]

kalau ada yg bikin film ttg tahun2 revolusi di seputaran jakarta dan menempatkan puisi dan kata-kata chairil sbg salah satu aspek penting dalam film apakah itu akan mengada-ada?

saya khawatir, pernyataan anda itu "merendahkan" fakta keakraban masyarakat Indonesia dg syair dan puisi.
there's only one usmar ismail 0 0
namasayaratih:

jangan berkecil hati. buat saya, hikayat perang sabil yang berbentuk syair memang bagian penting dari kobaran perang aceh : )
Si Pisau Terbang 0 0
kucing_usil: namasayaratih: wah boleh juga buat tontonan bareng klubfilm, ntar ngundang sutradaranya...
macam nobar Kala bareng Joko minggu lalu...
kucing_usil 0 0
namasayaratih: jujur aja udah lupa filmnya seperti apa dan diskusi di atas jadi bikin senapsaran ; ))

Si Pisau Terbang: ngundang sutradaranya? wow wow wow tambah ciamik tuh *keplok keplok*
namasayaratih 0 0
Si Pisau Terbang: boleh.. boleh... yuuukkk...

kucing_usil: tapi saya pengen bener tuh nonton film-film Rusia. ga ada yang minat yah? hehehehhe : p

Silahkan login untuk memberikan pendapat