Up In The Air (2009) 7

Senin, 15 Mar '10 13:33

Seperti biasa. 
WARNING. SPOILER ALLERT !

Rasanya udah sekitar 7 tahun terakhir ini George Clooney menjauhi bermain di film2 major dan lebih memilih untuk membangun trade marknya sendiri dengan mengara ke film2 dengan naskah yang memiliki “rasa berbeda” (bahkan trilogi Danny Ocean pun sebenernya juga bisa diitung sebagai proyek nyelenehnya Steven Soderbergh dengan rasa berbeda). Maka dari itu, udah sewajarnya kalo kali ini juga berekspektasi rada lebih dari film Up in The Air ini, apalagi selain George Clooneynya sendiri dapat nominasi Oscar tahun ini lewat film ini, 2 supporting role ceweknya pun bersaing untuk dapet Oscar dalam kategori yang sama. Jason Reitman pun juga dapet nominasi sebagai Director dan Writernya (meskipun ini adalah adaptasi dari novel berjudul sama. Dan setelah film ini ditontonsampe abis, ternyata ekpekstasi lebih tadi bisa terpenuhi dengan baik.

Cerita dasar yang diambil emang menarik, yaitu tentang seorang dengan profesi memecat pegawai perusahaan lain, hanya karena bos2 dari perusahaan itu tidak punya keberanian untuk ngomong sendiri ke karyawannya kalo mereka dipecat. Dan karena settingnya adalah pada saat krisis ekonomi kemaren di Amerika, maka profesi ini menjadi sebuah ladang emas.

Untuk menjalankan profesinya itu, George Clooney yang berperan sebagai Ryan Bingham, harus keliling Amerika untuk ketemu langsung karyawan2 yang harus dipecatnya. Dan ini juga menjadi dasar yang menarik untuk dijadikan cerita. Bahwa bagaimana kehidupan seseorang Ryan Bingham, yang dalam satu tahunnya hanya pernah berada di apartemennya selama 14 hari, sementara hari sisanya berada di jalan, berpindah2 dari satu kota ke kota lainnya, ternyata lebih merasa bahwa disaat orang lain membenci suasana bandara, dia malah menganggap bahwa itu adalah rumah sebenernya bagi dia. 

Dan dari kewajiban tugasnya untuk selalu berada di jalan inilah, kemudian ditunjukkan bagaimana Ryan mempunyai sekian banyak kartu membership dari sekian banyak hotel, sekian banyak tempat2 relax, tapi hanya punya satu kartu membership persewaan mobil, dan satu membership airlines, karena dia merasa untuk beberapa hal, loyalti adalah sebuah prestasi yang begitu berharga.

Setelah dasar cerita itu terbangun dengan baik, maka konflik2 pun mulai ditata. Dan konflik paling utama adalah tentu saja tentang relationship yang selama ini tidak bisa dilakukan Ryan karena aktivitas travellingnya sepanjang tahun itu. Ryan jarang ketemu dengan temennya, sodaranya, apalagi memikirkan soal pasangan hidup. Konflik ini pun dikembangkan dalam cerita, digabung dengan konflik 


Ryan yang sudah senior, dengan rekor jarak tempuh pesawatnya yang tak terkalahkan, harus dihadapkan pada 2 hal akibat dari tuntutan kerjaannya itu. Relationship, dan perubahan teknologi dalam metode kerjanya. Ryan harus rela bahwa metode pendekatan langsungnya pada karyawan yang akan dipecatnya, harus dihadapkan pada teknologi baru yang diusulkan dan dikembangkan oleh seorang cewek berumur 23 tahun yang menjadi karyawan baru di kantornya. 

Bahwa demi menghemat ongkos perjalanan, proses pemecatan ini kini bisa dilakukan dengan video conference langsung dari kantor pusat mereka di Omaha, kepada seluruh perusahaan yang menjadi klien mereka, dimanapun mereka berada. Dalam uji cobanya ini, Ryan harus menunjukan kepada Natalie, cewek karyawan baru dengan ide revolutionernya itu, bagaimana emosi yang terlibat, yang tidak bisa begitu saja digantikan dengan video call internet, ketika harus memberitahu seseorang bahwa di udah nda dibutuhkan lagi di perusahaannya. Uji coba dianggap berhasil, meskipun menyisakan luka awal yang begitu dalam bagi Natalie dengan konflik emosinya ketika harus memecat sekian banyak orang untuk pertama kalinya.

Dalam keadaan seperti ini, Ryan pun akhirnya harus dituntut untuk merevisi pilihan hidupnya untuk menetap, dan dia pun akhirnya sadar bahwa dia bisa melakukan itu dengan senang hati, terutama karena dia telah menemukan Alex, seorang cewek atraktif yang dia temui ketika sama2 sedang melakukan perjalan bisnis dan menginap di hotel yang sama. Dan disinilah akhirnya cerita bisa ditutup dengan mengesankan.

Metode memecat orang lewat internet ternyata justru membuat karyawan yang dipecat lebih depresif, sampe2 ada yang bunuh diri karenanya. Natalie merasa begitu bersalah, dan langsung resign. Sedangkan Alex, yang didatengin Ryan dengan penuh semangat ke rumahnya di Chicago, ternyata adalah seorang istri dan ibu dari 2 orang anak, yang udah mengangap bahwa komitmen mereka sejak awal udah jelas, bahwa Ryan adalah pelarian, pelarian dari rutinitasnya sehari2 dengan rumah tangganya dan dari rutinitas kerjanya.

Ryan pun harus kembali ke rutinitas awal. Keliling Amerika hampir setahun penuh, konsentrasi pada keahliannya untuk memberikan kabar buruk kepada seorang karyawan yang akan dipecat, tanpa adanya seseorang yang menunggunya untuk sekedar diajak berbagi tentang cerita2nya.

 


Tag: drama, clooney, Hollywood

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

JuliaJessicaJennifer 0 0
Emang udah ada alert-nya, tapi harus ya segamblang ini wuakaka...
sabai 0 0
saat nonton film ini di bioskop, saya terlanjut punya ekspektansi cukup tinggi... filmnya sih bagus, tapi rasanya... apa ya... ada sesuatu yg kurang aja gitu : D
zZet 0 0
@jules : hehehe gimana yah..
binung begimana caranya nunjukin dengan gamblang kalo yg bikin bagus itu endingnya.. : D
seandainya endingnya semua baik2 saja malah rada garink rasanya ; )

sabai : ayo dong, reviewer sekalibar sabi pan harusnya bisa bilang lebih dari "ada sesuatu yang kurang", dishare dong kurangnya diimana.. : p
Roni Laode 0 0
hmm...too very spoiler, pren!!! gw blom ntn!!!
dvdaseli 0 0
gw rasa seharusnya film ini menang paling tidak 1 oscar, entah itu untuk akting clooney atau naskahnya yang diadaptasi dari buku. : ((

FILMNYA KEREN BGT, gw demen bgt, jagoan gw best picture oscar : ))
Artmeza 0 0
Spoiler bang... untung gw udah nonton
Rijon 0 0
Kayaknya, ketimbang resensi atau disebut ulasan, tulisan ini lebih ke arah rangkuman ya? Kayaknya penjabarannya terlalu gamblang meskupun alert-alert-an. Cuma pendapat pribadi.

Yang paling saya suka, di film ini Anna Kendrick membuktikan aktingnya tidak pantas untuk Twilight.

Silahkan login untuk memberikan pendapat