The Hurt Locker (2008) 10
Senin, 15 Mar '10 13:28
WARNING : as always, spoiler alert !
Terus terang, pertamanya saya bener2 nda pengen nulis tentang film ini. Dan alesannya sederhana. Saya nda ngerti film ini.
Saya nda ngerti, kenapa film yang nyaris tanpa konflik berarti ini dibilang menarik. I mean, tentu saja ada Will, sang karakter utama yang nampaknya lebih berani menghadapi bom daripada menghadapi istrinya. Tapi sepanjang film saya tidak menemukan alesan kenapa dia melakukan itu. Dan bahkan, sampe akhir film juga tidak ada perubahan darinya. Lalu, apa loh poinnya? Juga tentang keterikatannya secara tiba2 dengan anak kecil penjual DVD bajakan yang kemudian ditemukannya tak bernyawa dengan tubuh diisi bom. Saya menyebutnya secara tiba2 karena memang hanya sedikit sekali adegan yang menggambarkan keterikatan itu, dan itupun tanpa sesuatu yang memberikan arti lebih terhadap adanya sebuah keterikatan. Konflik Will yang nekat dengan JT yang taat aturan juga cuman tampil sebatas tempelan aja. Ada adegan mereka berkelahi di barak sih, dan kadang berdebat, tapi so what ? Ga ada gambaran menarik lain yang menunjukkan bahwa ketidakcocokan mereka layak untuk dianggkat sebagai konflik.
Saya nda ngerti kenapa film ini dibilang intens dan suspense. Hah ? Boring sih iya. Butuh 10 menit untuk pake baju anti bom itu. Butuh 10 menit lagi untuk mendekat dan mencoba mendisablenya. Dan guest what, karena Will, yang sering nekat dan pake baju bom itu, adalah karakter utamanya, dia selalu bisa berjalan balik tanpa sedikitpun terluka. Dan adegan ini berlangsung berkali kali. Bahkan di adegan terakhir, Will malah harus berlari karena gembok yang dipasang di tubuh pak tua warga Irak itu terlalu banyak. Dan tentu saja Will selamat. Adegan maen sniper2an itu juga tak kalah membosankannya. Cuman maen tunggu2an tanpa adanya sesuatu sebagai elemen kejutan.
Saya juga nda ngerti knapa film ini dikatakan bagus karena realistis, baik adegan2nya maupun suasana Iraknya. Jika film ini realistis, Will bakal ga bisa selamat sampe akhir film. Gimana mau selamat kalo kemana2 cuman bawa 1 Humvee tanpa backup vehicle lain, ada orang jelas bawa2 cellphone mencurigakan malah cuman tereak2 “stop dialing”, ngedisable di tengah2 area dengan banyak tembok tersembunyi, instead om mengamankan bom itu dulu ke tempat terbuka yang lebih luas. Dan yang paling parah tentu saja adalah saat Will berkeliaran malam2 di tengah2 kampung penuh dengan orang Arab, pake pakaian sipil, cuman bawa 1 pistol, dan ga distop sama sekali sama satupun orang Arab, dan nyampe base dengan selamat.
Dan saya pun bahkan tidak perlu ngebahas soal kameranya yang selalu goyang-goyang demi efek dokumenter. Dengan plot dan flaws seperti diatas, efek goyangan kamera itu tidak membuat level film ini naek layaknya dokumenter realistis, tapi justru malah jadi pelengkap untuk pusing dan boring dari jalan cerita dan penyajian filmnya itu sendiri.
Terkait:
-
MONEYBALL (2011)
Selasa, 24 Jan '12 16:16 -
GOOD NIGHT AND GOOD LUCK (2005)
Senin, 23 Jan '12 17:47 -
THE DESCENDANTS(2011)
Senin, 23 Jan '12 14:37
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
oksbangs: Good Take
-
kniwe: Informatif
-
JuliaJessicaJennifer: Informatif
-
sabai: Mencekam
-
Si Pisau Terbang: Good Take
-
jamur: Box Office

Komentar:
Camera works yang sensitif, dualitas hero/anti-hero yang ternyata memang bisa tumbuh seperti 2 sisi mata uang dan yang bikin perang itu candu kan bukan sekadar ketika dia menjinakan bom, tetapi eksistensi dan arti hidup yang dia dapat di medan perang, ternyata gak dia dapat di kampung halaman. Semuanya begitu real, sampe kita juga ikut mempertanyakan pilihan-pilihannya, misalnya kita berada di posisi si
Nah, bagi gw itu yg disebut realistis, bukan superhero yang gak pernah salah dan selalu mulia.
Well, ini bukan film action perang seperti kebanyakan sih. Ini film drama perang yang isinya pertimbangan-pertimbangan, bukan cuma aksi penuh ketegangan.
dan emang gw akuin sih,
i just don't get the point...
mungkin emang otak kotor skeptis ini emang terlalu bebal buat ngertiin semua ini
soal camera work, benernya kalo dibahas sih mungkin menarik, secara gw juga suka movement camera model bourne atau nypd blue gini.. tapi ya susah mo bilang soal cameranya kalo gw nda ngerti the whole poin nya..
Perhatikan lagi ketika Will bermain-main dengan anaknya yang masih bayi. Sangat kaku. tidak ada gairah untuk berhadapan dengan anaknya sendiri.
perhatikan lagi saat Will membersihkan saluran air dan mencuci piring di rumah. Will tidak bersikap seperti orang yang sedang pulang kampung. tidak ada gairah sama sekali pada Will yang notabene saat itu berada di rumahnya sendiri. hidupnya terasa sangat kosong di rumahnya sendiri.
ternyata hidup Will sudah bukan di rumah lagi. hidupnya ada di tengah peperangan. hidupnya ada di Irak. Will tidak eksis di kehidupan damai.
lantas, sutradara akan bertanya, di manakah "rumah" bagi Will?
ternyata bagi sebagian orang peperangan tidak hanya perebutan kekuasaan atau kekayaan tetapi sudah menjadi gairah hidup dan eksistensi
A point I'm a bit upset with, justru, kenapa alur di depan pelan sekali berjalannya, too detailed soal aksi melumpuhkan bom, lelah adu nunggu dengan sniper lawan, tapi di perenungan belakang soal 'rindu medan perang' kok malah bentar banget? Kayak ngebut biar cepet tamat. Well iya sih, penonton udah cape dan pengen cepet beres kali ya.. Hehe..
tapi, terlepas film ini lambat dan ga byk penjelasan yg gamblang, saya ikut merasa deg2n waktu adu tembak di padang pasir itu, trus waktu berusaha nolong bpk2 yg dipasangin bom, pokoknya tiap adegan tegang, saya ikut deg2n pdhl tanpa backsound dan cuman ngandelin natsound doang.
so, it works for me
Jadi film ini bagus atau engga, menurut saya balik lagi ke selera masing2 pribadi. Kena ga emosinya. Dapet ga point nya. Tapi film ini dpt award macem2 ya, jd mungkin secara pembuatan, film ini dapet acungan jempol.
seperti quote di depan film ini ya :
The Rush of battle is often apotent and lethal addiction, for war is a drug.. -Chris Hedges
Silahkan login untuk memberikan pendapat