Goya's Ghost: Ketidakberdayaan Seni Dalam Menghadapi Kejahatan 3

Minggu, 28 Feb '10 23:07

Goya's Ghost

Release Date: November 2006

Drama

"Tell Me What The Truth Is"

Ini artikel kedua saya yang juga menceritakan tentang film yang disutradarai oleh Milos Forman. Artikel sebelumnya saya menulis tentang film Man On The Moon. Film ini agak berbeda dari film Forman yang lainnya. Forman seorang sutradara peraih Oscar (Amadeus dan One Flew Over The Cuckoo's Nest).


Film Goya's Ghost menceritakan tentang seorang seniman terbesar Spanyol, tokoh gereja dan seorang wanita yang melewati momen-momen krusial dalam hidupnya. Francisco Goya (Stellan Skarsgard) merupakan seniman berbakat namun kontroversial. Adegan-adegan awal film kita disuguhi bagaimana Goya menyajikan dan mengekspresikan kisah-kisah kelam yang dilakukan oknum gereja, atas nama agama, melalui cetakan-cetakan lukisan. Cetakan-cetakan lukisan inilah yang bisa disebut "Goya's Ghost".


Hal inilah yang membuat oknum-oknum gereja merasa tidak nyaman dengan posisinya. Cetakan lukisan Goya ini lah yang menjadi awal penjelasan film, bahwa masalah ini mendapat perhatian seirus dari gereja. Gereja mulai melakukan pengawasan. Pengawasan mata-mata gereja ini kemudian menuduh seorang wanita yang bernama Ines (Nathalie Portman) sebagai penganut bidat, ajaran yahudi. Di sisi lain, Ines dijadikan Goya sebagai model lukisannya. Brother Lorenzo (Javier Bardem), tokoh gereja, memakai jasa Goya untuk membuat lukisan dirinya. Francisco Goya memiliki reputasi yang bagus, ia juga dipekerjakan oleh keluarga kerajaan untuk melukis. Ini membuat posisi Goya cukup aman.


Film ini berlatar belakang Madrid pada abad ke-18. Pada zaman ini, gereja Katolik gencar melakukan inkuisisi. Inkuisisi adalah pengadilan gereja abad pertengahan atas pelanggaran doktrin dan ajaran gereja. Tujuan inkuisisi sebenarnya jelas: membela iman. Tetapi kemudian dalam film ini kita diperlihatkan bahwa dalam prakteknya inkuisisi justru menimbulkan benih-benih kebencian yang menghancurkan kekristenan itu sendiri. Pengajaran kekristenan tidak menjadi dasar lagi, tetapi judgement dari tiap individu yang berkuasa dalam inkuisisi tersebut yang pada akhirnya menjadi otoritas tertinggi.


Secara tidak langsung, lukisan cetak Goya yang membuatnya terjebak pada dua tokoh penting film ini, Ines dan Lorenzo. Adegan-adegan film ini kemudian menggambarkan bagaimana interaksi Goya terhadap kedua orang tersebut. Goya sepertinya memiliki perasaan khusus terhadap Ines. Bagaimana pun juga film in bukan menceritakan tentang Goya, karena tidak menceritakan seperti apa perkembangan karakter Goya sebagai seniman. Judul film ini telah menjelaskannya, yakni subjektifitas lukisan dan apa yang dilukis oleh Goya. Goya dilihat sebagai pengamat sosial sekitarnya. Mungkin hantu yang terbesar dalam film ini adalah Goya sendiri.

Film ini juga menunjukkan sejumlah kebetulan-kebetulan dalam alur cerita yang membuat kita sadar "kok bisa begini", seperti Ines dan Lorenzo sebagai model Goya, pertemuan Goya dengan anak Ines di taman, dan adegan lainnya.

Ada Javier Bardem di dilm ini. lagi-lagi seorang pemenang Oscar (No Country For Old Man). Namun saya lihat mungkin film ini merupakan salah satu penampilan terburuk Bardem. ia terlihat tidak meyakinkan saat berusaha terlihat liar, malah terlihat tegang. Portman juga tidak lebih baik. Walaupun disini ia memerankan dua tokoh. Ia berperan lebih baik saat menjadi nenek dengan mulut aneh daripada pelacur ABG. Ada adegan bugil saat disiksa yang saya anggap adegan terbaiknya.Dan Stellan Skarsgard (pengalaman bermain filmnya segudang) sepertinya kurang diberi jatah waktu untuk mengembangkan perannya dalam film ini.


Setelah menyaksikan film ini akan timbul pertanyaan pada diri sendiri. Apakah kehidupan beragama kita mampu menumbuhkan moralitas? Sebab agama tanpa moralitas hanyalah omong kosong. Plot film ii memang agak berliku-liku, namun semuanya menggambarkan visi gelap manusia. Ironisnya, bentuk kejahatan ini sepertinya tidak berubah. Di awal film kita diperlihatkan gereja yang melakukan penahan paksa dan penyiksaan berat, lalu Prancis datang membawa revolusi. Menghapuskan Inkuisisi, melepaskan semua tahanan politik, perang untuk menanam benih demokrasi ke tanah Spanyol, di tanah yang salah, dan kemudian Prancis diusir dari Spanyol, hingga adegan dieksekusimatinya Lorenzo. Namun semua itu menunjukkan satu hal yang pasti yaitu penderitaan bagi masyarakat yang tidak bersalah. Tidak jauh berbeda dengan zaman kita sekarang.

Sounds all too familiar. (?) tidak jauh berbeda dengan zaman kita sekarang. (perang, terorisme dan lainnya?)

Francisco Goya melihat hal itu semua dan mengekspresikannya ke dalam lukisan. Sepertinya fenomena sosial dan politik sejalan dengan perkembangan seni. Namun film ini menunjukkan ketidakberdayaan seni dalam menghadapi kejahatan. Akhirnya yang perlu digaris bawahi adalah bagaimana kegagalan kebaikan melawan kejahatan.

Ini memang dark movie. Plot filmnya agak aneh dan juga memang bukan berorientasi Oscar. Tapi paling tidak bisa menambah perspektif kita dalam menonton film.

Selamat menonton. :D


Tag: Milos Forman, dark movie

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

kniwe 0 0
Saya penggemar berat Milos Forman. Kok bisa kelewat film ini ya...
-Bias Tegaralaga- 0 0
one flew over the cukcoo's nest pilem edan : p
nircaasmara 0 0
Agama tanpa moralitas omong kosong.tepat-tepat bnget.
Dn mnrut sya inti agama adalah etika.
Selaras bkan.

Silahkan login untuk memberikan pendapat