My Name Is Khan, Propaganda US? 12
Jumat, 26 Feb '10 01:58
Keluar dari teater 1 setelah nonton My Name Is Khan (film arahan Karan Johar), ternyata sudah hampir jam 1 malam. Film India memang suka berpanjang-panjang, meski sudah diproduksi dan ditempeli label made in the US. Film ini dibuka dengan mencekam sekaligus mengharukan, saat seorang pria usia awal 40an dihadang petugas di security check point sebelum boarding naik pesawat dari San Fransisco menuju Washington DC.
Mengharukan, karena Rizwan Khan digeret dan digeledah petugas keamanan dengan semena-mena cuma karena tampang & gerak-geriknya yang nggak wajar. Mereka tidak peduli meskipun di paspor Rizwan Khan tercantum kartu identitas bertuliskan Autistic Alert. Khan memang perilakunya tampak aneh karena ia mengidap asperger syndrome.
Cerita pun bergulir menggambarkan masa kecil Rizwan yang menjadi korban bullying di sekolah karena penyakitnya. Tapi ibunya membesarkan dia dengan penuh kasih. Setelah dewasa, Khan dengan segala keterbatasannya bekerja sebagai sales produk kecantikan herbal dan berusaha menemukan kebahagiaan hidupnya di San Fransisco. Khan yang muslim jatuh cinta pada Mandira, seorang penata rambut yang juga keturunan India tapi Hindu. Isu pertikaian agama di tanah leluhur mereka tidak menghalangi keduanya untuk menikah.
Dengan background peristiwa pengeboman 9/11 keluarga kecil yang bahagia ini mengalami guncangan, karena Khan muslim. Sentimen kebencian pada Muslim di Amerika pasca 9/11 memuncak. Hingga Khan diharuskan Mandira pergi menemui presiden Amerika Serikat dan menyatakan dirinya bukan teroris, baru boleh kembali pada Mandira. Maka Khan pun memulai perjalanannya, 'hanya' untuk bilang secara langsung pada Bush, presiden kala itu, "My name is Khan and I'm not a terrorst."
Permintaan yang aneh? Tidak. Bila kita memahami cara berpikir dan perilaku penderita asperger syndrome. Film ini pun menggambarkan dengan sangat manis dan menyentuh betapa pengidap asperger syndrome sebenarnya sama seperti manusia lain yang punya hati dan perasaan, meski mereka tidak mampu mengungkapkannya. Khan tak bisa menangis, tak bisa bersentuhan dengan orang lain, tak tahan mendengar suara nyaring, tak tahan melihat benda apapun yang berwarna kuning dan tidak bisa kontak mata dengan lawan bicaranya. Bertahan hidup dalam kondisi seperti itu saja sudah susah, apalagi dia harus berjalan melintasi Amerika yang luas untuk bertemu presiden!
Terlepas dari ceritanya yang bergulir dengan sangat kecepatan keong menyeberang jalan, film ini dibuat dengan sangat cantik. Gambar-gambarnya sangat indah. Koreografi kameranya luar biasa. Bahkan adegan sederhana saat ibu Khan bicara dengan Khan semasa kecil pun, dibuat dengan sangat indah. Gambarnya puitis lah! Setiap frame seperti direncanakan dengan matang dan dieksekusi dengan cermat.
Cuma saya agak terganggu dengan endingnya, kok propaganda US banget gitu... Anyway, selamat menonton, selagi masih ada di berbagai bioskop 21.
Tag: amerika, khan, shakhrukh khan, asperger
Terkait:
-
It’s Kind Of A Funny Story (2010)
Minggu, 13 Feb '11 18:25 -
Watchmen dan Kritikan Terhadap Amerika
Senin, 12 Jul '10 08:38 -
Kick-Ass (2010)
Jumat, 14 Mei '10 19:44
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
ibhe: Informatif
-
sofie: Good Take
-
gonziie: Good Take
-
playmovies: Informatif
-
Wahyu Eko P: Good Take
-
Gambliz: Informatif
-
kniwe: Good Take
-
oksbangs: Good Take
-
agus wibisono: Good Take
-
kucing_usil: Good Take
-
Liu Dehua: Keep Rolling
-
namasayaratih: Good Take
-
Haryo: Good Take

Komentar:
*mesti menyusun jadwal nonton
weittss, propaganda? mirip FPWLkah?
sempet baca di internet katanya film ini film Bollywood tersukses di UK, waktu premier di Berlin Film Festival jg tiketnya ludes dlm waktu 5 detik
td nya pengen nonton, tp setelah baca review nya mmm :-S
kalo ndak ada, aku kecewa!
dasar cengeng,,
tapi ada yang agak mengganjal dalam film ini. Pertama, badai di Wilhemina sepertinya terlalu dibuat simpel untuk membuat Rizvan Khan menjadi pahlawan. Dan yang kedua adalah ketika Rizvan mengajak Mandira menyaksikan kabut yang menyelimuti kota di pagi hari, adegan ini sama persis dengan yang ada di film animasi Ghibli, Whisper of the Heart. Menyontek? Entahlah…
overall saya suka sih dengan film ini, sangat menghibur
Tapi harus diakui, dari awal sampai menjelang akhir, ini memang film yang sangat bagus, serius.
Silahkan login untuk memberikan pendapat