Man On The Moon: What a sad bussiness, being funny. 6
Senin, 22 Feb '10 17:41
Man On The Moon
Milos Forman, UK/USA, 1999, 118 min
Adakah kita punya pilihan ketika merasa kesepian di dunia yang demikian bersahabat? Andy Kaufman (diperankan dengan sangat bagus oleh Jim Carrey) mungkin punya pilihannya sendiri. Dia memilihnya dengan sadar, walau lantas dunia tak memahaminya. Man On the Moon sebuah filmkah? Atau nyata terjadi pada banyak orang yang ingin menjadi ‘dirinya sendiri'? Kaufman tak pernah salah atas dirinya, tetapi (mungkin) dunialah yang salah pada dirinya. Orang-orang yang tertawa dianggap seperti orang yang mati. Karena semua lawakan toh sudah sering diulang-ulang. Semuanya.
Lalu orang-orang terperanjat, muak, jijik dan marah pada sesuatu yang baru: sebuah lawakan yang tak lazim. Mulai dari mengacaukan rundown siaran langsung televisi hingga bertanding gulat melawan perempuan. Realitas dijungkirbalikkan, mana yang nyata dan mana yang tidak, menjadi sulit dipilah. Lalu penampilan dan gaya menjadi lebih penting dari moralitas, karena toh citra telah menyingkirkan persoalan baik dan buruk dalam permainan rumit gaya-gaya dan jumpalitan makna-makna. Tak semua siap dengan hal-hal baru yang disodorkan, karena memang tak lazim. Guyonan ala Kaufman sangat berbeda dengan konstruksi yang telah terbangun di benak mereka (baca: massa). Di kepala mereka lawakan bersifat porno, meniru (perhatikan bagaimana dia mencoba meniru Jimmy Carter dan Elvis Presley), dan hal-hal imitasi lainnya. Disadari atau tidak, Kaufman dituntut menjadi hero oleh pasar.
Foucault menyebut hal ini sebagai "ironi heronisasi" (irony of heronization). Semua orang secara bertubi-tubi dikonstruksi untuk menjadi sebuah simbol dari budaya pop. Orang menjadi berlebih-lebih dalam perilakunya. Pun dalam kehidupan sehari-harinya. Beberapa tayangan infotainment membanjiri masyarakat dengan berbagai berita selebritis yang jauh dari realitas. Orisinalitas di tengah realitas massa kita saat ini menjadi janggal, karena massa nyaris tak pernah mengenalnya. Lawakan-lawakan orisinal Andy Kaufman, yang lahir dari sebuah pergulatan ide dan elaborasi yang panjang, mentah begitu saja. Dan kalah dengan sebuah opera sabun. Kalah oleh komedi situasi-sesuatu yang sangat dibenci Kaufman, dia menyebutnya sebagai "the lowest form of entertainment".
Adakah kita temukan hal-hal baru, orisinalitas dalam kehidupan kita? Bahkan sesuatu yang berada di pinggir-pinggir mainstream pun harus tergeser, tak jarang musnah begitu saja. Daniel Bell dalam The Cultural Contradiction of Capitalism (1976) melihat bahwa modernisme adalah kekuatan yang menggerogoti, menanggalkan budaya-tanding yang menghalangi, beserta budaya hura-hura dan konsumsi massa lantas melakukan makar terhadap nilai borjuis tradisional dan etika puritan. Yang terjadi adalah daur-ulang, reproduksi atas realitas yang sudah established.
Lewat film ini, dan artinya sekaligus kehidupan Kaufman juga, ada sebuah upaya untuk memperlihatkan pada kita realitas yang sesungguhnya. Banyak orang menjadi asing atas dirinya sendiri: individu-individu yang harusnya utuh telah sirna ditelan sebuah jejaring yang maha dahsyat, melalui film-film, iklan-iklan, ilmu pengetahuan, mode dan komoditi apapun. Kaufman mencoba melepaskan diri dari jejaring tersebut (baca: pasar). Dia menginginkan kreativitasnya sendiri, yang bagi sebagian orang berarti ‘gila'. Sebuah ide yang hendak mengaduk dan mendekatkan sebuah tontonan dengan realitasnya, dengan manusia penikmatnya. Berbeda dengan segala yang diproduksi media, yakni "dunia seolah-olah", yang hampir-hampir tak nyata.
Individu sekarang tak punya pilihan, selain menyerahkan diri dan meniru realitas. Realitas kemudian memperlakukan individu serupa binatang tak berakal: "Survival individu dicapai dengan cara survival biologis paling primitif, yakni peniruan." Individu kehilangan dirinya, kemudian pasar masuk dengan komoditinya. Pencitraan. Image. Atau usaha-usaha lain untuk menunjukkan hal yang lebih dari yang sesungguhnya. Ya, hal-yang-lebih-dari-yang-sesungguhnya. Sepatu hak tinggi bagi orang-orang pendek, suplemen-suplemen diet untuk orang gemuk, suntik silikon bagi yang mendamba (maaf) payudara lebih besar, dan banyak hal lainnya. Disadari atau tidak, kita telah mencelat dari diri kita.
Aliran fashion di pusat-pusat perbelanjaan dalam akselerasi maksimum menyuguhkan cara sangat efektif dalam memacu laju produksi-konsumsi. Tak hanya dalam hal fashion saja, melainkan apapun. Ya, apapun. Termasuk perilaku dan gaya hidup. Seperti dalam masyarakat kapitalis Barat, semua hal diatur agar menjadi sebuah kejutan, ketakterdugaan, dengan frekuensi-frekuensi yang sulit ditebak alurnya. Bisa saja seorang pahlawan atau selebritas yang beberapa saat sebelumnya dipuja-puja, dalam waktu singkat semuanya dapat berubah, berbalik 180 derajat. Virilio melihat hal ini sebagai masyarakat yang hidup di ruang ‘epilepsi', yaitu ruang yang disarati oleh "...kejutan-kejutan dan frekuensi-frekuensi yang variasinya tak terduga, yang tidak lagi sekadar berkaitan dengan tekanan dan represi, akan tetapi dengan interupsi (melalui percepatan), muncul dan menghilangkan dunia real..."
Dunia Kaufman tanpa standardisasi-karenanya real dan non-real menjadi bias-itulah yang membuat produser dan pasar, yang mencoba menjadikannya komoditi, sontak kalang-kabut. Kaufman tak menghendaki hal-hal pakem, dia melabraknya. Lawakan ganjil seperti membacakan novel karya Fitzgerald, dari halaman pertama hingga terakhir (!), yang ternyata sudah direkamnya pula, jelas guyonan 'sakit', atau justru 'segar' (?)-tergantung kacamata apa yang kita pakai. Seperti, bayangkan, jika tiba-tiba sebuah konstruksi McDonal's dengan makanan cepat sajinya berubah menjadi sebuah warung gudeg. Massa akan sangat sulit untuk mencicipinya, sekalipun itu terobosan orisinal nan berani.
Hendak bercerita apa sebenarnya Man On the Moon? Semuanya demikian metaforis, demikian interpretatif. Toh kita boleh menerjemahkannya sebagai apapun dan bagaimanapun. Mungkin bagi saya, film ini hendak menyampaikan pesan yang tak sesederhana bahwa Andy Kaufman seorang pelawak gila dan terasing. Saya sedang mencoba tidak melihatnya an-sich. Jangan-jangan yang "gila" adalah realitas di luar Kaufman. Jangan-jangan yang terasing adalah penonton. Seperti banyak orang yang akan mengerutkan dahinya ketika pertama kali menyimak film ini, dengan komentar pertama akan seperti: ‘Apaan sih?', ‘Aneh!', dan sebagainya. Karena (mungkin) film ini justru hendak mengusir orang-orang yang mengkonsumsi hal-hal sesuai konstruksi pasar. Dengan seolah-olah masyarakat (massa) memiliki kebudayaan yang mengikat berdasarkan persetujuan-seperti halnya dengan masyarakat zaman dahulu-akan tetapi pada waktu yang bersamaan, sekaligus tunduk pada idiom komersialisme, yang telah menjadi dinamisme lingkungan gaya baru. Termasuk lawakan. Ini tidak mudah. Bahkan seorang pelawak legendaris sekaliber Chaplin pun pernah berkeluh kesah, "What a sad business, being funny."
Ironis memang jika kita melihat film ini, sebuah usaha besar (dan ya, tak mudah, sunggguh sebuah ‘urusan yang menyedihkan'), lawakan yang mempertaruhkan kecerdasan, kejeniusan dan bakat yang luar biasa harus musnah ditelan sebuah konstruksi budaya yang dibangun pasar. Kaufman harus dicemooh, dan harus ditolak karena pasar tak menginginkannya. Meski dia jujur dengan apa yang dibawanya, meski dia serius dengan apa yang dikerjakannya, tapi toh siapa yang peduli? Pasar tak menginginkannya. Karena di dunia yang bersahabat ini, dengan hari-hari yang menyenangkan, banyak orang justru merasa kesepian. Mereka asing dengan dunianya, dunia yang melebihi kenyataannya, dunia yang 'seolah-olah'. Dunia penuh mimpi sekaligus ketakutan. Sesunyi Man On the Moon (benarkah ada nenek yang merajut di bulan, atau itu hanya kelinci?), sebias fakta pendaratan manusia di bulan (benarkah Neil Amstrong menjejaknya, atau itu kibul-kibul pemerintah Amerika?). Tapi kita tak boleh menyerah, kita harus bertahan hidup, sebagaimana jeritan sember Tony Clifton (atau Andy Kaufman, atau siapapun itu) di penghujung film, "I will survive!" Dan suara kikuk Andy Kaufman (atau Tony Clifton, atau siapapun itu) yang mengajak kita bernyanyi di video pemakamannya sendiri, "In this friendly, friendly world, with each day so full of joy, why should any heart be lonely?"
***
oleh: Sigit Giri Wibowo
June 10th, 2009. Published in Kineruku
Tag: being funny, and lonely

Komentar:
mesti cari dvdnye dong kalo mau nongton?
Silahkan login untuk memberikan pendapat