Blindness 11
Jumat, 12 Feb '10 01:59
Berlatar sebuah kota tanpa nama, seorang pria mengalami gangguan penglihatan saat mengemudi. Kontan saja lalu lintas terganggu karena pria malang ini menghentikan kendaraannya di tengah laju lalu lintas kota itu. Seseorang lalu menawarkan bantuan dengan mengantarkan pria malang itu kembali ke rumahnya. Baik sekali bukan? Maaf, mengecewakan anda. Ternyata mobil pria itu diembat sang malaikat penolong. Teganya ...
Istri pria buta itu kembali ke rumah dan mendapati suaminya dalam keadaan shock karena kehilangan penglihatan secara tiba-tiba dan juga terluka terkena pecahan vas yang terjatuh. Mereka lalu berkonsultasi ke dokter spesialis mata, yang diperankan oleh Mark Ruffalo, tetapi tidak mendapatkan diagnosa yang tepat. Kasus yang aneh karena dokter tidak menemukan keganjilan pada mata si pria malang. Apalagi kebutaan yang dialaminya bukanlah kebutaan yang gelap gulita, sebaliknya semua terlihat putih dan sangat terang. Seperti berenang di kolam susu, jelas pria itu.
Ternyata kebutaan ini menyebar dengan cepat. Tanpa gejala atau rasa sakit. Terjadi begitu saja bahkan dokter mata itu pun bangun keesokan hari dan tidak bisa menggunakan penglihatannya secara normal. Langkah agresif diambil oleh pemerintah dengan mengisolasi semua orang yang mengalami kebutaan. Dokter mata itu pun dijemput petugas militer untuk dikumpulkan bersama penderita white blindness yang lain. Istri dokter mata, diperankan oleh Julianne Moore, berpura-pura buta supaya dapat menjaga suaminya di tempat isolasi. Mereka berdua sepakat merahasiakan hal ini dari semua orang yang berada di tempat isolasi.
Keberadaan seorang yang dapat melihat di tengah kumpulan oran-orang yang buta mendadak tentu saja sangat membantu. Tapi jangan harap suasana harmonis, rukun dan saling bantu akan bertahan selamanya. Bahan makanan, air bersih dan listrik yang disuplai ke tempat isolasi tidak mencukupi kebutuhan mereka. Ditambah lagi gerombolan perusuh yang diketuai oleh Gael Garcia Bernal yang memperkeruh suasana dengan membajak bahan makanan. Mereka meminta perempuan-perempuan dari kelompok lain (omong-omong mereka yang tinggal di tempat isolasi itu dibagi menjadi per kelompok dan menempati bangsal yang berbeda) untuk apalagi kalau bukan pelayanan seksual. Dan konflik demi konflik pun datang silih berganti. Pasangan suami istri dokter mata itu pun terguncang karena si dokter mata merasa kehilangan superioritasnya sebagai suami dan sebagai lelaki. Perselingkuhan pun tak terelakkan dan terjadi di depan mata sang istri.
Perasaan saya bercampur aduk saat menonton film ini. Tetapi perasaan itu didominasi rasa kasihan dan jijik. Kasihan untuk si istri yang harus menyesuaikan segalanya demi suami yang bermain gila di depan mata. Menjijikkan melihat orang-orang buta itu tidak lagi peduli dengan norma dan aturan yang biasa mereka lakoni saat masih bisa melihat normal. Beberapa tidak lagi peduli untuk berpakaian (toh ndak ada yang bisa lihat ini) juga buang hajat sembarangan karena malas untuk meraba-raba dinding menuju toilet (selain karena kekurangan air bersih juga). Juga saat adegan saat kelompok perusuh itu menuntut para perempuan untuk memuaskan nafsu mereka. Yang terpikir oleh saya adalah betapa rapuhnya manusia. Gampang kehilangan akal sehat, gampang diprovokasi demi kepentingan pribadi. Menyedihkan.
Film yang, katanya Gambliz, diangkat dari sebuah novel ini layak tonton (walaupun saya sendiri juga belum pernah baca novelnya). Julianne Moore berperan baik di film ini, Sandra Oh pun muncul sebentar sebagai wakil pemerintah, Gael Garcia juga pantas menjadi orang brengsek yang pingin saya lempari batu. Hanya saja chemistry pasangan suami istri dokter mata itu tidak terasa, seperti kakak beradik dibanding menjadi suami istri. Film ini akan terasa sedikit membosankan karena jalan cerita cenderung datar, setting lokasi itu-itu saja, ndak ada adegan laga penuh aksi tapi meninggalkan kesan mendalam di dalam kepala setelah selesai menontonnya.
Yang paling saya suka adalah kalimat yang ada di akhir trailer, "The only thing more terrifying in blindness is being the only one who can see".
Tag: novel, blindness, julianne moore, mark ruffalo
Terkait:
-
The Kids Are All Right (2010)
Sabtu, 20 Nov '10 00:46 -
THE AVENGERS : MARVEL KNOWS HOW
Minggu, 6 Mei '12 03:18 -
9 Summers 10 Autumns Akan Hadir di Layar Lebar
Kamis, 1 Mar '12 15:46
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sabai: Good Take
-
keroncong veteran: Good Take
-
gonziie: Good Take
-
Gambliz: Good Take
-
kniwe: Good Take
-
Jarang Nonton: Good Take
-
jokotarub: Informatif
-
JuliaJessicaJennifer: Good Take

Komentar:
jadi mikir nggak sih, selama ini kita yg bisa melihat sangat cuek, penglihatan ini taken for granted. seru juga nih premisnya, semua orang jadi buta, kecuali satu! duh!
Walaupun pengen banget tidak membandingkan novel dan film, karena memang keduanya adalah karya seni yang harus berbeda pengukurannya, tapi tetep aja, saya berharap film ini tidak jauh dari kualitas yang dimiliki novel Jose Saramago yang utama itu....
buat saya, versi film ini tidak "segahar" versi novelnya. novelnya penuh dengan kemuraman yang meneror dengan cara yg subtil, memaksa pembaca utk membayangkan apa arti kebutaan atau membayangkan seperti apa rasanya orang-orang yang buta. di film, saya tidak merasakan kekuatan yang sama. nggak tahu kenapa, tapi saya merasa film ini tidak cukup mampu membawa saya ke dalam suasana kebutaan dan kegelapan.
barangkali penyebabnya sederhana: bagaimana bisa kita merasakan kegelapan dan kebutaan saat kita menonton film itu dengan mata yang normal?
baca novel bisa berhari-hari kagak abis!
ntar siape nyang nungguin dagangan aye!!
Silahkan login untuk memberikan pendapat