Coco Chanel: Emoh Pakai Korset! 6

Kamis, 4 Feb '10 09:57

Coco Chanel, sebagai sebuah nama besar biasanya punya kisah menarik sebelum bisa menjadi sebuah brand internasional seperti sekarang. Dan kisah inilah yang dituturkan dalam film arahan Christian Duguay dalam sebuah rekonstruksi biografi sang desainer ternama. Dimulai sejak masa kanak-kanak saat Coco masih bernama Gabrielle Chanel bersama adiknya Julia begitu saja ‘dititipkan’ oleh ayah mereka di sebuah rumah piatu di Perancis. Sang ayah konon pergi ke Amerika dan tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Adiknya menetap di rumah piatu hingga dewasa, sementara Gabrielle yang dikenal berkemauan keras sejak berusia 18 tahun memilih keluar panti dan memulai hidup baru di Paris.

Gabrille remaja pun bekerja sebagai asisten seorang penjahit judes yang biasa menerima pesanan gaun-gaun indah. Oya, tentu film ini settingnya di awal abad ke-20 saat perempuan Perancis wajib memakai korset, gaun bertumpuk yang menggelembung serta topi elegan. Disinilah bakat Gabrielle dalam mengolah kain, pita dan renda mulai terlihat oleh salah satu pelanggan kaya. Nah, disini pulalah Gabrielle berkenalan dengan seorang tentara saat menjahitkan seragamnya.

Dimulailah petualangan asmara Gabrielle dengan sang tentara yang ternyata dari keluarga ningrat kaya raya, meski harus berakhir kecewa karena perbedaan kelas sosial. Justru disaat patah hati, Gabrielle memulai usahanya membuat topi, diikuti pasang surut perkembangan butik topinya itu. Film ini dengan lugas namun manis mengisahkan pasang surut kehidupan cinta dan karir profesional Coco, hingga masa tuanya.

Sejak muda Coco sudah digambarkan suka mendobrak pakem yang dianggapnya membatasi gerak perempuan. Ketika itu ‘dress code’ perempuan jika pergi menonton pacuan kuda salah satunya adalah topi lebar nan anggun dari beledu. Sementara Coco cuek aja pergi menemani kekasihnya ke arena pacuan kuda dengan topi jerami mungil. Perempuan jet set disitu tentu mencibirnya.

Lalu sebagai perempuan pekerja Coco tidak suka memakai korset. Maka dia ciptakanlah stelan baju perempuan tanpa korset. Alhasil, para perempuan kelas atas mencemooh rancangan ini karena dianggap tidak anggun, tidak elegan. Namun perempuan kelas pekerja yang jumlahnya jauh lebih banyak, tentu menyambut gembira rancangan yang lebih praktis, murah dan mudah dikenakan ini. Apalagi ketika itu depresi ekonomi akibat perang dunia kedua tengah melanda.

Tanpa kalimat eksplisit film ini dengan jelas menunjukkan Coco tidak hanya punya passion dan dedikasi tinggi pada dunia fashion, tapi juga punya instink dalam menangkap kegelisahan perempuan pekerja di masa itu dalam berbusana. Tanpa aktor dan aktris populer, film ini berhasil menghidupkan karakter Coco muda yang ambisius dan Coco tua yang sudah mapan tapi masih terus gelisah ingin mencipta dan mendobrak pakem. Film ini juga dengan proporsi yang pas mengangkat kisah cinta, perjuangan hidup dan persoalan kelas sosial masa itu.

Lalu, bagaimana namanya berubah dari Gabrielle menjadi Coco Chanel? Ada posting sebelumnya…

 


Tag: paris, perancis, coco, chanel, perempuan, korset

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Donald Duck 0 0
kayanya keren niyh film,
Alderina 0 0
Aku mau nonton ini
sabai 0 0
Alderina: Donald Duck: YUP! memang keren. jauh lebih keren dari pada yang versi Coco Avant Chanel itu...
jokotarub 0 0
ehm ehm... ini Coco Chanel yang bikin Chanel no.5 itu kan? ada cerita2 parfumnya dooong?
sofie 0 0
aku suka film ini, karena udah nonton ini duluan berefek pada ogah nonton coco before channel -nya si amelie itu : ))
oksbangs 0 0
Ow, kalo gitu perlu ditonton nih... semoga ada yg bisa dipelajari. gak kaya Coco Before Chanel yang rasanya seperti antimo itu...

Silahkan login untuk memberikan pendapat