Respon untuk Pertemanan dari Kebon Djati 18
Senin, 25 Jan '10 16:22
I
Salam buat mas Hendijo yang menulis tentang film Oeroeg. Membacanya membuat kita semua terkenang lagi film itu sekaligus masa-masa kita menonton film tersebut. Hanya saja ada beberapa catatan ulasan mas Hendijo yang tidak sesuai dengan ingatan saya.
Yah namanya juga ingatan seseorang, belum tentu betul juga. Ditambah lagi sebuah film bisa dintrepretasikan berbeda oleh setiap orang. Jadi, yah ini sih untuk meramaikan suasana saja hiii... .
II
Seingat saya Oeroeg marah sama Johan karena waktu di bioskop itu Johan memutuskan untuk tidak jadi nonton, yang nonton jadinya cuma Oroeg.
Tadinya mereka memang mau nonton bareng, tapi gak bisa karena mereka tahu orang Eropa nontonnya di depan layar, sementara pribumi di belakang layar.
Tapi ternyata diam-diam Johan nonton juga, dan pas tiba-tiba mati lampu atau gambar di layarnya terputus Oeroeg dan Johan gak sengaja bertemu pandang diantara layar itu.
Dan sejak itu hubungan mereka jadi renggang. Wajar saja Oeroeg marah, karena Johan berbohong. Bukan cuma itu tapi dengan nonton di tempat yang terpisah, itu berarti Johan juga menerima status superioritasnya sebagai orang Belanda. Padahal mereka berdua sering merasa kalau mereka sederajat.
Sejak saat itu Oeroeg sadar bahwa meskipun mereka berdua menganggap mereka berteman, tapi dunia di luar mereka tidak mungkin seperti itu.
Kiranya itu juga salah satu biang kemarahan Oeroeg pada orang Belanda. Dia marah pada keadaan, gara-gara sistem yang dibuat orang Belanda itulah dia harus terpisah dari sahabatnya.
Jadi, menurut saya dalam menceritakan kemarahan Oeroeg, si pembuat naskahnya tidak sembrono atau mengambil mudahnya saja.
III
Terus seingat saya juga, waktu Oeroeg pulang ke rumah perkebunan ayahnya (setelah dia menjadi serdadu dan dikirim ke Indonesia), dia menemukan ayahnya meninggal di beranda belakang sambil terkulai di kursi dengan luka tembak.
Waktu itu Johan melempar pandangan ke arah kebun dan melihat ada seseorang disana. Johan kira itu adalah Oeroeg, dan dia mengira Oeroeg-lah yang membunuh ayahnya.
Memang ada senapan dekat ayah Johan, tapi senapan itu saya kira adalah senapan untuk berjaga-jaga karena banyaknya pejuang Indonesia yang melakukan perlawanan pada saat itu. Sebelum sempat menggunakan senapannya, ayah Johan tertembak lebih dulu.
Jadi, menurut saya ayahnya Johan tidak melakukan bunuh diri.
IV
Adegan lain yang masih saya ingat dalam film Oeroeg adalah ketika Johan dalam masa pelatihan sebagai tentara. Sebelum dikirim ke Indonesia para serdadu itu sengaja pada nonton dulu film dokumenter tentang keadaan tanah air.
Beda dengan serdadu lain yang tidak tahu sama sekali tentang Indonesia, saat menonton dokumenter itu rona wajah yang ditampilkan Johan adalah rindu. Kerinduan pada tanah air masa kecilnya.
Sesudah itu lalu para serdadu melakukan latihan penyerangan ke sebuah desa. Gubuk-gubuk itu sengaja dibuat propertinya di tempat mereka latihan. Lalu ada seorang prajurit yang kena marah instrukturnya karena mungkin salah atau kenapa. Sang instruktur kemudian menjelaskan bahwa para pejuang kita suka berteriak "mardika!"
"Bukan mardika, tapi: merdeka!" kata Johan.
Karena koreksinya itu orang-orang jadi tahu kalau Johan pernah tinggal di Indonesia.
V
Adegan lain yang berkesan bagi saya dalam film Oeroeg adalah penggambaran suasana orang-orang Belanda pada saat Jepang sudah menguasai tanah air. Kehidupan mereka jadi sangat menyedihkan. Dalam sebuah kumpulan tawanan, terdapat orang-orang Belanda yang jadi gila, depresi dan segala hal yang membuat kita miris.
Menjadi kontras dalam film, seperti juga pada kenyataannya, karena orang-orang Belanda yang tadinya necis dan tertib ini menjadi orang yang serba kesusahan.
VI
Lewat film Oeroeg, yang saya tonton waktu masih ABG heheh, saya jadi banyak belajar melihat bagaimana keadaan manusia pada saat itu, tentang perang dan petite histoire dalam pusaran arus sejarah bangsa.
Film ini tentunya jadi sangat berkesan karena masa perjuangan kemerdekaan kita yang jadi latarnya. Dan saya sendiri berharap ada lebih banyak lagi film-film Oeroeg lainnya yang bisa jadi pembelajaran bagi kita semua.
Terima kasih untuk mas Hendijo buat review nya, dan selamat bergerilya!
Tag: Oeroeg

Komentar:
beneran orang pribumi jaman itu digambarkan nonton film dari belakang layar?
ini film bioskop dg proyektor kan?
bukan wayang kulit?
*riwil*
buseeet.... apa enaknya ntn film dibalik layar?
jaman dulu beneran gitu ya?
sabai: yah konon sih begitu, saya juga taunya dari film itu kok. Yah bersyukur yah kita sekarang udah gak gitu lagi
Lua biasa, ingatan anda memang lebih"mak nyussss"
Saya memang agak lupa, walau memang sebuah film selalu intepretatif.Bisa jadi anda benar,bung. Untuk "menerangkan" situasi lupa itu, saya sedikit "mengacu" ke novelnya,yang (inilah bodohnya saya) belum tentu sesuai dengan alur cerita di film.Hehehehe makasih banyak,saya tunggu koreksi-koreksinya yang lain
wah bagi-bagi atuhhhhh.......
kali aja bisa di rekues...
saya coba ikut jawab ya
Tahun 1994: pernah ditayangin di RCTI
Tahun 2003: pernah diputar di Metro TV
(itu seingat saya,kalo ada info mau diputar lagi jangan lupa kasih tau saya ya...)
soal segregasi sosial, sy tidak tau persis nonton film juga sampai dipisah-pisah begeto.Tapi kebijakan Pemerintah Hindia Belanda memang secara sengaja memberlakukan warga negaranya berdasarkan bangsa dan ras:
Warga kelas I: jelas Belanda dan Kulit Putih
Warga kelas II : kelas bangsawan lokal dan Bangsa Asia non inlander: Arab, Cina dll
Warga kelas III: inlander kebanyakan
Pada waktu itu hal yang sama juga diberlakukan di Afrika Selatan (hingga berakhir saat Nelson Mandela naik jadi Presiden) dan bahkan di Amerika Serikat sampai akhir 1960-an, penggunaan bus kota masih dipisah berdasarkan warna kulit dan orang-orang masih bisa menemukan sebuah toilet busuk bertuliskan: "KHUSUS UNTUK NEGRO DAN ANJING"
eh lha, ini artikelnya juga nyautin artikel sebelumnya ternyata...
gue blm nonton film ini, susyah juga ya mau komen!
playmovies: film terbaru apa yg ditonton? kok nggak ditulis?
coba aja kita bikin "petisi" haha
Silahkan login untuk memberikan pendapat