Mari Bicara Tentang Rumah Dara 21

Minggu, 24 Jan '10 12:16

Film ini bercerita tentang serombongan anak muda yang bermaksud baik menolong orang asing yang mereka temui di jalan, dan tanpa dinyana, melalui orang asing itulah mereka sampai pada sebuah rumah misterius milik Ibu Dara yang mengantarkan mereka pada petualangan berdarah.

Saya mungkin satu diantara banyak orang yang selama setahun terakhir tak henti-hentinya dibikin penasaran dengan pemberitaan tentang betapa akan sangat luar biasanya film ini. Terlebih 2 minggu sebelum saya menonton film ini, seolah saya dibombardir dengan pernyataan banyak orang yang telah menonton bahwa film ini sungguh luar biasa. Saya rasa tim promosi dari produksi Rumah Dara ini patut diganjar sebuah bintang karena strategi promosi mereka yang luar biasa itu.

Oke, mari bicara film ini. Rumah dara adalah film tanpa basa basi, The Mo Brothers sang sutradara tanpa bertele tele langsung menyajikan dari menit awal film ini, bahwa Rumah Dara adanya memang film slasher-thriller. Penonton digiring untuk menikmati suasana mencekam, misterius, kejam, lalu akhirnya penuh darah mulai dari awal hingga film ini berakhir.

Tak ada yang baru, luar biasa ataupun special dari Rumah Dara. Apa yang dihadirkan di film ini, bisa kita temukan pada film lain bergenre sejenis. Yang berbeda adalah kenyataan bahwa film ini digarap oleh sineas negeri sendiri, satu kredit yang harus kita berikan pada Mo Brothers.

Semuanya memang biasa saja, kecuali perasaan saya. Ada semacam kekecewaan yang mungkin karena pengharapan saya yang cukup tinggi, yang sudah saya bangun hamper setahun lamanya, tiba-tiba perlahan runtuh setelah menyaksikan film ini, maaf saya terdengar sedikit lebay :P

Entahlah, menurut saya cerita film ini seperti sesuatu yang sebatas di permukaan saja, samar dan tidak jelas. Memang Mo Brothers mencoba menerjemahkannya melalu symbol-simbol, music, ekspresi bahkan suara pemain pendukungnya, tetapi hanya sedikit, sehingga yang tersisa hanya kebingungan dan perasaan sebal dan tidak puas. Sehingga saya menangkap cerita dari film ini agak lemah.  Mungkin hanya saya yang merasakannya, mungkin saya terlalu sulit mencerna film ini.

Karakter Ibu Dara yang diperankan Shareefa Danish yang sebelumnya sudah digaung-gaungkan sangat luar biasa pun saya dapati tidak terlalu istimewa. Bahkan saya merasakan lebih banyak scene yang memperlihatkan betapa konyolnya karakter Ibu Dara ini, seperti dengan nada bicara yang diberat-beratkan, ekspresi mata yang disipit-sipitkan untuk menimbulkan kesan misterius dan dingin, hingga cara dia berjalan. Tetapi bukan lantas buruk, di beberapa adegan Danish tetap tampil luar biasa, terutama ketika dia muncul dengan properti seperti gergaji, konde besi dan muka siap menerkam semua yang melawannya.

Terlepas dari kekecewaan saya diatas, unsur scoring, properti, gambar dan warna yang dari awal sampai akhir tetap konsisten dan bagus harus diberikan apresiasi. Saya tetap salut terhadap Mo Brothers dan berharap jikalau memang akan ada prequel dan sequel semoga nantinya hasilnya akan berlipat kali bagusnya.

 


Tag: film, slasher

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

venus spice 0 0
oiya, ada satu hal yg gak terjawab di akhir film, yaitu mengenai orang2 yang datang di pertengahan film, 2 orang, pria dan wanita setengah baya, membawa mobil, trus mereka memperhatikan sebuah buku (album) berisi foto2 dari korban yang telah dibunuh ibu dara sekeluarga, trus mereka pergi dengan membawa peti2 yang di luarnya ditempel foto2... siapa orang2 itu??? dan kenapa mereka melakukan hal2 yang mereka lakukan...????
sabai 0 0
Sejauh yg saya dengar mmg keunggulan film ini di kerapihan eksekusinya saja...
Tapi saya blm ntn jadi gak bisa komen banyak..m : D
Dan gak berniat nonton juga siiih...
Alderina 0 0
Well, I will never watch this kind of movie. Ngeri... X D
Alderina 0 0
eh, salah emot terusss T_T maksudnya sih mau : D
ren 0 0
saya udah nonton..tapi difilm ini kurang jelas deh asal usul dara & fams..apa mereka jualan organ tubuh atau gimana si??
tapi cukup bikin seharian saya gak bisa makan : )
kucing_usil 0 0
sepertinya yang lumayan mengganggu 'hanya' suara berat palsu-nya ibu Dara tapi kalo soal mata disipit-sipitin? lha, emang shareefa matanya sipit bukan? : ))

sepertinya lebih baik suara si ibu Dara ini normal aja dengan kesan ramah ala ibu-ibu. tapi tetap dipertahankan kesadisan dan kelihaiannya memisahkan kepala korban dari badannya ; ))
sabai 0 0
kucing_usil: setelah baca komennya jadi mau usul... kamu ganti nama aja jadi KUCING_SADIS! : )) : )) : ))
jokotarub 0 0
gue mah ogah rugi kalo udah bayar masup bioskop cuman buat liat darah muncrat2 doang...
tiap hari kurban tinggal dateng ke mesjid, bisa nonton darah muncrat live dan gratis noooh!! : D
playmovies 0 0
kucing_usil: tapi klo di poster ini kynya dia gak sipit hmmm...
kucing_usil 0 0
sabai: dipertimbangkan usulnya : D

playmovies: ehm, itu lagi melotot mau makan orang (mungkin?) ; ))
Si Pisau Terbang 0 0
gue suka film ini, production valuenya tinggi.
cerita ya standar lha...
iraira 0 0
ren: lumayan dong ya klo mau diet, tonton tiap hari aja..hehehehe
iraira 0 0
jokotarub: ke pasar , di losmen daging juga bisa ya mas joko...klo nunggu hari raya qurban kelamaan atuh
fairyteeth 0 0
aku suka banget... megang banget gitu looohhh, saking bagusnya nih pelem, saya makan kentang goreng 1 piring langsung habis dalam waktu kurang dari 15 menit pertama (takar ukuran pelem sadis menurut saya adalah seberapa lahap saya makan ketika nonton)

venus spice: kalau sepasang org yg datang ditengah pelem itu kayaknya semacam tukang tadah organ2 tubuh yang dijual sama keluarga dara tersebut. yg isinya gambar2 dan foto itu, ditenggarai organ tubuh apa aja yang ada dari orang yag ada potonya tersebut.. sedang peti2 nya berisi organ yang ditaro dalam box beserta es batu.

yang paling nampol itu akting nya Sareefa Daanesh dan Arifin Putra. bener2 psiko gila. kalau soal suara yang diberat2in, mungkin karena sebenarnya si DARA itu kan udah uzur. (dari poto2 yang ada dirumahnya ada yg tulisan tahunnya 1887).. perhatiin deh suara nenek kita dirumah, suaranya kan jadi lebih berat bukan? cuman bentuk nya aja si dara itu masih muda, akibat makan bayi dan daging manusia. makanya suara dia di berat2in.

: D
sabai 0 0
fairyteeth: apa hubungannya makan kentang goreng sama ukuran bagus-nggak nya sebuah film?

*bingung.com lagi nyari pegangan*
fairyteeth 0 0
sabai: wakakaka... ada hubungannya mba kalau buat saya... makan apapun, semakin cepat habis nya berarti semakin bagus pelem nya >> merangsang napsu makan maksudnya : D

lagian tolak ukurnya cuman buat nonton pelem thriller, slasher, horor aja kok... kalo pelem komedi biasanya sejam juga belom kelar makan >> gak napsu gituloh >o
Gambliz 0 0
"takar ukuran pelem sadis menurut saya adalah seberapa lahap saya makan ketika nonton"

saya tertarik sama standar fairyteeth menentukan bagus ga-nya sebuah film......bisa dijadikan bahan penelitian saya : D

Research question saya nanti akan berbunyi, "apakah muncul korelasi yg berbanding lurus antara aktivitas menyaksikan film horor dengan peningkatan konsumsi makanan pada manusia?"
fairyteeth 0 0
Gambliz: : )) : )) : ))

anu.. saya memang rada aneh... efek keseringan makan pas praktikum anatomi dulu pas semester awal2... akhirnya jadi kebawa sampai sekarang.... *jadi malu*

*mlipir*
Bangnono 0 0
ada satu adegan ketika polisi yang memutar slide2nya dara di proyektor.. trus muncul lambang penggaris dan jangka membentuk lambang bintang segi enam. (kalau tidak salah ini lambang kelompok persaudaraan Illuminati yah)
di film Pintu Terlarang lambang ini muncul juga sebelum film di televisi itu diputar. Saya jadi berpikir mungkin Dara dan klub yang pintu terlarang itu sahabatan yah.. hehehe

Bangnono 0 0
kucing_usil: iya si dara lebih manis di film pendek dara dalam antologi "Takut" heheh
Rushed 0 0
Rumah Dara ini adalah sekuel dari film pendek berjudul Dara yang termasuk di film "Takut" ya? Kalau iya, saya sebenarnya lebih memilih untuk mengikuti alur cerita Dara, lebih terasa sadisnya.

Rumah Dara, lumayan juga lah untuk ukuran film genre slasher/gore Indonesia. Adegan memotong-motong korban dengan gergaji cukup dapat dinikmati.

Silahkan login untuk memberikan pendapat