Romeo Juliet di Dhaka 9
Senin, 18 Jan '10 09:39
"I love you Rangga!" kalimat itu diteriakkan berkali-kali oleh para penonton yang cukup memadati National Museum of Dhaka, sebuah gedung museum utama di kota Dhaka, ibukota Bangladesh. Saya tersenyum menyambut teriakan mereka dan berusaha ramah untuk terus membalas salam dari penduduk kota Dhaka yang menyalami saya, berusaha menyentu bahkan mengajak saya berfoto bersama.
Wow! Sambutan ini seolah mengulangi setiap sambutan yang saya dapat setiap karya-karya saya diputar di Asia dan diputar pada jam yang tepat. Di Pusan, Korea Selatan misalnya....penonton bisa terus bertanya tanpa henti pada saya apapun yang mereka mau. Walau durasi tanya jawab dengan saya tidak memecahkan rekor, tapi cacatan ditanya dalam sebuah festival selama hampir 2 jam bagi saya adalah hal yang cukup menyenangkan.
Festival di Dhaka ini memang tidak memberi waktu bagi tanya jawab, tapi di luar gedung teater beberapa penonton yang ada coba bertanya pada saya. Ada yang bercerita bahwa ia tinggal di Verona saat ini dan tinggal di kawasan Capulet, "Sebagai orang Asia, saya merasa kita memang harus memiliki versi dari karya orang Barat ini," ujarnya sembari menyebut sebuah judul film produksi Bangladesh hasil adaptasi dari karya William Shakespeare ini.
"Selamat! Film Anda benar-benar menggambarkan suasana kawasan ini yang selalu rentan akan pertikaian," ujar Aijaz Gul seorang kritikus film asal Pakistan. Menurutnya apa yang saya buat adalah refleksi sosial politis maupun ekonomi masyarakat Asia kebanyakan yang memang dekat dengan permusuhan dan kekerasan. Ia kemudian menyebut betapa India pun dengan dengan pertikaian antar agama ataupun etnis "Romeo Juliet adalah masalah klasik, dan suka atau tidak, kita memang harus menerima bahwa inilah masalah terbesar bangsa Asia," tambahnya.
Saya memang tidak pernah berkeberatan jika ada orang yang tidak suka pada yang saya bikin (dengan syarat mereka sudah menontonnya) jadi, saat banyak orang di festival menyebut bahwa film ini adalah sebuah potret, saya rasa tidak berlebihan bahwa sebuah review di sebuah blog dulu menyebut bahwa "Realitas pada Romeo Juliet lah yang membuat banyak orang yang merasa tidak suka pada film ini, karena mengakui fakta kadangkala memang sulit," Walau saya harus juga akui, ada juga review yang menyebut bahwa film saya berlebihan dan tidak mendidik (tapi kalo mau pendidikan sih sebaiknya memang ke sekolah saja, jangan ke bioskop hehe)
"Yang paling membuat saya tertarik adalah bagaimana tampilan generasi muda dari sebuah negeri dengan mayoritas muslim," komentar Peter Malone, seorang kritikus film sekaligus juri dari festival ini. "Bahkan saya pernah menonton sebuah film produksi Pakistan yang tampak sangat permisif dalam dialog, ini menunjukkan bahwa Amerika seharusnya tidak perlu takut lagi pada negeri berpenduduk mayoritas muslim.....karena dunia sudah semakin mengglobal dan manusia tampak semakin sekuler," tambahnya sembari menginformasikan pada saya seorang panitia festival yang menyebut dirinya "Humanis" ketimbang Islam. Kalimat yang muncul dari warga Bangladesh, negeri yang melarang alkohol terjual bebas.
Terkait:
-
Ini Dia Film-Film Peserta FFI 2011
Kamis, 27 Okt '11 12:00 -
Tiga Film Pendek Keren
Sabtu, 7 Mei '11 18:40 -
Bisakah Anda Menyensor Film Anda Sendiri?
Sabtu, 16 Jan '10 11:05
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kucingsapi™: Good Take
-
venus spice: Informatif
-
kniwe: Good Take
-
sabai: Mencekam
-
jokotarub: Informatif
-
Haryo: Informatif
-
oksbangs: Informatif
-
JuliaJessicaJennifer: Informatif
-
Langit Fathur: Informatif

Komentar:
Amerika mmg parno! Mrk gak sadar dg banyaknya film mereka masuk kesini (dan negara2 lain di Asia) sebenernya parno gitu udah kuno!
kamu memang gak gaul! huh
bajakannya dah ada dimana2 kali deh....di internet aja udah ada tyuhhhhhh
walah... mudah2an lebih bagus dari versinya pak Rudy Sujarwo yaaa... di bioskop udah gak ada ya pak? mesti liat dvdnya niiieeee....
eitssss.....saya kan cuma bilang saya belom nonton RomJul di bioskop..hehe..klo bajakannya mah udh dong ahhh, tp tenang aja, yg ori juga udh beli
FILM yang mas buat, saya akui sangat polos dan jujur, nyaris tidak ada kompromi sama sekali. termasuk......dialognya, dan adegan sensual di ruang ganti (atau apalah namanya) yang sangat menggairahkan itu, mas menggabungkan semangat suporter yang membara dengan semangat cinta yang sama meluapnya.
Sebuah film Indonesia yang menurut saya....BAGUS, dengan penyutradaraan yang baik.
DAn selamat, mas berhasil membuat saya kembali menyukai Ramon Y tungka, yang terus terang membuat saya hilang gairah pasca aktingnya di EKSKUL dan sesudahnya....
Leonardo dan Claire Danesnya juga bagus, eh sori beda sutradara ya, hahahaha KIDING
Anyway, saya sangat suka dengan film mas, seandainya bisa ketemu langsung, tidak berkeberatan apabila mas membubuhkan tanda tangan di sampul DVD Romeo Juliet orisinal milik saya.
Sebelum mas, baru Nia Dinata dan Aria Kusumadewa yang saya beri kehormatan melakukan hal yang sama...
SALAM
thx udah nonton Romeo Juliet dan many thanks juga kalo akhirnya sadar bahwa crita ini beneran based on true story....hehehe
film adalah realitas yg difiksikan, bukan sebaliknya.....karena setan, hantu, kelong wewe dateng bulan dllsb itu fiksi yg direalitaskan dalam sinema, makanya................
Silahkan login untuk memberikan pendapat