Bisakah Anda Menyensor Film Anda Sendiri? 6
Sabtu, 16 Jan '10 11:05
"Film Anda bagus, tapi akan lebih baik lagi jika Anda memotong beberapa bagian terutama sex dalam film Anda agar terlihat lebih pas bagi negeri kami," demikian bunyi email dari Ahmed Muztaba Jamal, Direktur Dhaka International Film Festival di Bangladesh. Dengan enteng saya menjawab "Di negeri saya juga dipotong kok, kebetulan dvd yang saya kirim itu memang versi penuhnya.....gimana kalo dipotong di Dhaka aja, karena kalian lebih tahu kebutuhannya," jawab saya pada email tersebut. Maka dimulailah dialog bagaimana memotong film ini sampai akhirnya panitia memutuskan untuk memutar Romeo Juliet dengan dvd seperti film-film lain yang akan ditayangkan di festival tersebut.
Festival pernah meminta saya untuk mengirimkan versi DVcam dari film ini yang kemudian dibatalkan (bisa jadi atas pertimbangan efisiensi festival). Tadinya saya kira dengan DVcam, panitia dan pihak sensor dari negara setempat akan lebih mudah melakukan pemotongan pada film tersebut. "Karena kami harus mendapatkan sertifikasi sensor dan akan dikenakan biaya untuk kegiatan ini," jelas Ahmed pada email-email selanjutnya.
Museum Nasional adalah tempat dimana pemutaran akan dilakukan. Lebih dari 300 orang duduk disana siap menunggu film ketiga saya (karya fiksi pertama) ditayangkan. "Kami memakai dvd yang belum dipotong, nanti kamu duduk dekat proyektor saat akan ada adegan yang harus ditutup dengan plastik dan tolong tutup ya," ujar Ahmed pada saya. Tentu saja saya mengiyakan karena akan sangat tidak sopan jika saya berkata tidak pada urusan tutup menutup itu. Masalahnya.....saya memulai semua ini dari menonton film dan di setiap penyelenggaraan JIFFEST (Jakarta International Film Festival) sejak penyelenggaraan pertama, saya rajin berteriak-teriak jika ada adegan dalam sebuah film ditutup dengan semena-mena oleh pihak festival (tentu atas permintaan LSF)
Saya memilih duduk di bangku penonton ketimbang duduk dekat-dekat dengan projectionist dan menonton lagi film saya "Untuk ke 458 kalinya," seloroh saya berulang kali. Lalu tibalah saat-saat menjelang saya harus mendatangi projectionist dan menutup adegan tersebut.....sendiri atau bisa minta tolong pada petugas. "Apa menurutmu saya harus menutup adegan itu?" tanya saya pada Russel yang mulai pandai berkata 'Anjing'--yang mengingatkannya pada nama sebuah restoran makanan Cina di Dhaka--sepanjang film. "Memang adegan apa?" tanyanya untuk kemudian saya jelaskan. Saat saya bilang "Kayak-kayak English Patient lha, ngens tapi pake pakaian lengkap kok," ia pun tersenyum dan bertanya "Lama gak?" dengan cepat saya jawab "Paling-paling 15 detik," ia pun tersenyum.
Maka pergilah saya ke toilet dan berlama-lama disana. Saya terus berada diluar menikmati Cha alias Teh Susu khas Bangladesh (yang sebenarnya sama dengan yang orang Sumatra biasa bikin, bedanya mereka lebih berani dalam porsi teh dan susunya) sampai menjelang film habis untuk mengambil bunga yang tadi diberikan oleh panitia saat saya memberi sambutan pada pemutaran perdana di Asia Selatan ini.
Saya melihat wajah Russel dan Robin kawannya, juga melihat wajah-wajah penonton lainnya termasuk beberapa tamu asing. Dengan enteng mereka berkata "Gak ada apa-apa kok, tidak akan mengganggu keamanan nasional lha kalo cuma begitu doang," senyum Russel dan Robin yang masing-masing adalah kawan filmmaker saya saat di Berlinale 2005 dan seorang Programmer di Stasiun TV Desh. Saya pun lega, sembari kembali teringat omelan dan makian saya dan kawan-kawan setiap ada adegan film yang ditutup oleh plastik buram atau apapun itu di JIFFEST.
Terkait:
-
Ini Dia Film-Film Peserta FFI 2011
Kamis, 27 Okt '11 12:00 -
Tiga Film Pendek Keren
Sabtu, 7 Mei '11 18:40 -
Romeo Juliet di Dhaka
Senin, 18 Jan '10 09:39
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
hendijo: Informatif
-
sabai: Good Take
-
playmovies: Good Take
-
Gambliz: Good Take
-
volt: Good Take
-
kucingsapi™: Informatif
-
oksbangs: Informatif
-
kniwe: Good Take
-
JuliaJessicaJennifer: Good Take

Komentar:
Informatif!
Apakah panitia festival di Dhaka ini pernah nonton Jiffest?
Kalau iya, mereka mestinya melakukan sendiri penyensoran manual itu.
Filmmakernya pasti ogah lah yaw disuruh nyensor-nyensor...
Ini satu2nya film Indonesia yg diputar festival itu kan?
sy jg pernah ngalamin nonton film yg disensor ky gitu di festival film prancis di bdg
tp skrg sy br tahu kalau itu ditutup secara manual heheh
sy gak teriak sih he cm ngerasa aneh aja... filmnya ky di intervensi
congrats anyway
yg parah, sekarang video2 ORI kita sensornya kyk di tipi2....masak kmrn waktu saya nonton VCD "The Proposal", adegan ciuman standar juga dipotong.....aduh......It's just a rom-com for God's sake!
Mungkin ga perasaan mas "Pisau Terbang" tu mirip sama apa yg dialami batin Toto waktu ngelihat semua adegan ciuman yg terpaksa dipotong di pilem "Cinema Paradiso"?....(agak ga nyambung ya? Biarin, hehehe)
emang paling seru kalo liat respon org sama film kita. festival slalu beda sama pemutaran reguler di bioskop....org2 di festival slalu sangat antusias, beda dgn bioskop reguler. di berlin gw pernah kayak superstar hehehehe, ditarik2 dimintain foto brg
@gambliz
beda lha ama si Toto, si Toto pas liat film2 itu dipotong msh blm jd filmmaker, gue kan udah 8-)
sabai
sabar dong...tar dibikinin yg versi respon penonton
Silahkan login untuk memberikan pendapat