Prajurit Arab di Sarang Prancis 7

Selasa, 5 Jan '10 12:52

 

Sebuah cermin omong kosong Prancis terhadap motto kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan,yang sering mereka banggakan pada seluruh dunia.

Indigenes (Days of Glory)
Prancis,2006
Pemain: Roschdy Zem, Samy Naceri, Jamel Debbouze,
Sami Bouajila, Bernard Blancan
Sutradara: Rachid Bouchareb


Januari 1945.Sekelompok serdadu Prancis (sebagian besar berkebangsaan Arab Muslim) mendapat tugas untuk membantu gerak pasukan Amerika yang sedang menghadapi pasukan Nazi Jerman di Alsace. Namun malang, di sebuah kawasan hutan bersalju, sebuah ranjau darat meledak.Akibatnya korban berjatuhan: 4 tewas dan pimpinan regu Sersan Roger Martinez (Bernard Blancan) terluka parah.

Dalam keadaan kritis tersebut, Sersan Roger menyerahkan tampuk komando kepada Kopral Abdelkadir (Sami Bouajila). "Sekarang kau memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan apakah kita akan terus bergerak demi orang-orang Amerika itu atau mundur,"ujar sang Sersan.

Lantas apa yang dilakukan oleh Abdelkadir? Dengan meminggirkan rasa jengkelnya terhadap sang Sersan Prancis yang pernah ditantangnya berkelahi (gara-gara prilaku rasis pimpinan-pimpinan pasukan Prancis), Abdelkadir justru memilih untuk jalan terus.

Tapi alih-alih setuju, 3 serdadu Arab lainnya malah menolaknya mentah-mentah. Mereka berkilah dengan berbagai alasan: mulai soal amunisi yang berkurang hingga kekapokan mereka untuk berjuang demi para penjajah negeri mereka.

"Cukup sudah hanya Larbi yang mati untuk Prancis!"teriak Yassir (Samy Naceri) sambil menyebut nama sang adik yang menjadi salah satu korban ledakan ranjau tersebut.

Terjadilah perdebatan kecil. Sebagai sosok serdadu "kutu buku" yang disiplin, Abdelkadir tetap memilih untuk mematuhi perintah awal."Ada apa dengan kalian? Andaikan 10 atau 100 kali lipat terjadi hal seperti ini,akan kubayar? Tidakkah kalian mengerti? Apa yang kita lakukan hari ini, menentukan pandangan orang-orang Prancis terhadap kita!" Ya sebagai pengecut atau pemberani?

Indigens memang banyak mengaduk-aduk sisi kelam psikologis anak-anak muda Arab yang bergabung dengan pasukan Prancis. Alih-alih diperlakukan sebagai patriot, mereka justru harus banyak bergelut dengan sikap diskriminatif, rasis (terbukti dengan banyak berhamburannya kata "Si Arab", "Si Muslim" dari mulut orang-orang Frank itu) dan superioritas kolega-kolega Prancisnya di kesatuan tentara. Itu jelas sebuah ironi, mengingat Prancis selama ini kadung dikenang sebagai pengusung liberte,egalite,fraternite (kebebasan,kesetaraan dan persaudaraan).


Bahkan seolah ingin lebih memperjelas wajah arogansi imperialismenya,pada 1959 secara sewenang-wenang pemerintah Prancis membekukan undang-undang yang mengatur pemberian uang pensiun mantan anggota militer yang datang dari dari bekas koloni-koloninya. Tak ada yang bisa menghentikan keputusan itu, termasuk Uni Eropa yang pada 2002 menghimbau Prancis untuk membayar secara penuh hasil keringat dan darah mantan para prajuritnya.

Secara pribadi, saya merekomendasikan film ini untuk ditonton (terutama untuk manusia-manusia yang mengaku anti perang). Selain plot dan alurnya lumayan "renyah" (tidak seperti Apocalypse Now yang berat atau We Were Soldiers yang bertele-tele) juga dialognya lepas dan sarat makna. Simak saja kata-kata perkenalan khas serdadu saat bertemu dengan kawan barunya di garis depan:

"Said kau berasal dari mana?"

"Dari jurang kemiskinan..." jawab Said Otmari (Jamel Debbouze) yang memang datang dari sebuah keluarga Arab kere dan tinggal di lingkungan kumuh kota Aljazair.

Tak ada gading yang tak retak. Film yang menjadi nominasi Oscar dan juara Festival Cannes itu,tentu juga memiliki sisi lemah terutama dari sisi kostum dan alat. Ya memang tak berat sih, hanya di beberapa adegan. Misalnya truk militer yang dipakai tentara Prancis saat menyerbu Italia kok mirip US M35? Padahal kan truk jenis itu baru dipakai oleh serdadu Amerika saat berperang di Vietnam 20 tahun kemudian?

Tapi film ini secara keseluruhan memang bagus. Tak rugi saya mengeluarkan uang Rp.59.000  untuk membelinya dan menghabiskan malam pergantian tahun dengan menonton filem ini.Serius :).(hendijo)

 


Tag: resensi film

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 0 0
Ouch... sudah rilis th 2006 ya?
berarti nggak bisa mengharapkan film ini main di bioskop : ((
berarti harapan satu-satunya tinggal DVD...

padahal film ttg 'forgotten heroes' dari perang dunia kedua begini biasanya lebih menarik dari pd film ttg heroesnya.
hendijo 0 0
sabai:
ya film2 Prancis jarang bgt (kalau tidak dikatakan tak pernah) di mainkan di bioskop2 kita. Benar, film ini menurut saya cukup bagus
playmovies 0 0
Setuju!
venus spice 0 0
satu2nya film perang yg aku suka adalah Jarhead yg rada2 sepi untuk ukuran film perang. walaupun ngefans berat dengan stanley kubrick, tapi aku belum sempat nonton full metal jacket, secara dvd nya belum jadi2 aku beli,
tapi setelah membaca review ini, aku jadi ingin nonton filmnya. dvd nya ada dijual ya di indo??? mmm...
hendijo 0 0
venus spice:
ada mbak, itu juga sy dapat di Disc Tara Gramedia Depok dan tinggal satu : )
venus spice 0 0
hendijo: trims mas hendi,,, saya cowok loh,,, hehehe,,,
PENGUMUMAN PENGUMUMAN,,, VENUS SPICE IS A BOY,,, DON'T GET FOOLED BY THE UNISEX NAME,,,
thanx,,,
hendijo 0 0
venus spice:
aow! sori,mas...Sy kira nganu... itu tuh Venus yg "punyanya" ngerumpi.com : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat