Film: Realitas dan Fiksi 1
Selasa, 5 Jan '10 09:35
"Saya mengerti apa yang mereka lakukan tapi saya tidak setuju pada apa yang mereka lakukan," ujar Taslima Jahangir, karakter fiksi di film Crossing Over karya Wayne Kramer. Taslima adalah representasi bagaimana orang Amerika kini memandang Islam, sebuah agama yang di banyak negara barat sana disebut sebagai agama yang sangat dekat dengan kekerasan. "Jika kamu tidak menyetujui mereka, mengapa kamu harus menjadi anggota forum muslim dan bergabung dengan diskusi-diskusi tentang Jihad?" tanya agen Phadkar dari FBI yang dengan yakinnya--seperti kebanyakan orang Amerika saat ini--bahwa Taslima terlibat dengan "keinginan" untuk mencelakakan Amerika.
Maka diusirlah Taslima hanya oleh sebuah prasangka. Itulah yang kini--mungkin bukan kini, tapi sudah lama--di banyak negara Arab. "Yusuf, nama apa itu?" tanya seorang perempuan tua di sebuah kafe di Budapest, "Nama Arab," ujar saya.....dan kemudian keluarlah pernyataan dengan bahasa Inggrisnya yang parah banget "Ooooo Arab, Moslem....bomb, terror," saya hanya tersenyum saat itu dan mengingat apa yang terjadi di dunia ini dan negeri saya sendiri, bagaimana Islam seolah adalah ancaman dan selalu melakukan kekerasan.
Taslima hanyalah bagian kecil dari sebuah bingkai Amerika dan Barat di kisah tentang imigran di Amerika Serikat itu. Dengan mood yang nyaris sama dengan kisah hampir serupa berjudul Crash karya Paul Haggis, film itu dengan telak melukiskan bagaimana berbagai bangsa berusaha mencari rejeki di negeri Paman Sam dengan cara dan resiko apapun.
"Film adalah realitas yang difiksikan," tulis Totot Indrarto di blognya. Itulah yang terus terjadi di banyak negeri mapan sinema. Lewat berbagai karya sinema maupun seni lainnya, mereka melukiskan kehidupan, harapan dan berbagai hal lainnya lewat film.
"Tapi di film tadi tentara Amerika digambarkan baik, sopan dan berperikemanusiaan," ujar Tika saat kami pulang dari bioskop sehabis nonton Hurt Locker beberapa waktu lalu. Saya memang mengamini, tapi saya mencintai karya terkini Kathryn Bigelow itu, sutradara wanita yang terus berkarya menembus batas gender lewat kacamatanya yang bagi saya sangat maskulin.
Siapapun pasti tahu apa yang kini terjadi di Irak, bagaimana tentara Amerika dengan pongahnya berada disana sembari menyebut diri mereka sebagai penyelamat bangsa Irak. Dari sisi lain film yang merebut beberapa penghargaan film HAM ini melukiskannya, bahkan dengan sisi psikologis yang sangat keras.
Itulah kekinian dunia, dan begitulah banyak orang menuangkannya ke sinema. Bagi saya, bahkan Terminator dan segala sekuelnya adalah bagian dari bagaimana sebuah bangsa melihat masa depan lengkap dengan segala ketakutannya.
Saya jadi merasa, "Makhluk halus dan sex lah masa kini Indonesia," karena nyaris semua produksi berkisah tentang topik tersebut.
Terkait:
-
Psychocinema Festival 4: Think Differently, Change Others
Jumat, 12 Nov '10 19:38 -
The Cherry Project
Rabu, 2 Mei '12 07:44 -
1208 pengunjung ikut meramaikan Malang Film Festival 2012
Selasa, 10 Apr '12 03:18

Komentar:
*mencoba melupakan Suster Keramas, combo dasyat sex & makhluk halus*
Silahkan login untuk memberikan pendapat