“The Reader” dan Banalitas Kedurjanaan 14

Senin, 4 Jan '10 15:43

 

Apa yang pada akhirnya membuat saya menyukai Film The Reader (Sthepen Daldry, 2008) bukanlah akting cemerlang Kate Winslet yang kini setengah tua, atau kisah cinta melodramatik sedikit aneh yang termaktub dalam film itu. Dalam jeda beberapa saat sesudah saya menontonnya, saya akhirnya menyadari kenapa saya jatuh cinta pada The Reader: film itu mengingatkan saya pada Hannah Arendt.

Ketika saya mulai menonton bagian-bagian awal The Reader, saya selalu berpikir film ini hanyalah perpaduan kisah cinta, erotisme, dan kutu buku, yang ada dalam setting kekuasaan Hitler di Jerman. Tentu saja, saya menyukai bagaimana Hanna Schmitz yang setengah tua jatuh cinta dengan Michael Berg yang remaja dan kemudian membuat sebuah peraturan aneh dalam hubungan mereka: sebelum mereka bercinta habis-habisan, Berg mesti membacakan sebuah buku untuk Schmitz yang, belakangan kita ketahui, buta huruf.

Sebagai seorang penyuka buku, saya selalu menikmati kisah-kisah yang berkait dengan buku sehingga saya sangat tertarik dengan aturan aneh dalam hubungan percintaan Schmitz-Berg. Membacakan sebuah buku sebelum bercinta? Kedengarannya-juga kelihatannya-memang menyenangkan meski pada saat awal kita mungkin melihatnya sebagai kejanggalan.

Tapi bagaimanapun, The Reader memang tak hanya soal cinta dan buku. Setting politik zaman Nazi kemudian hadir, meski dengan lamat-lamat. Kita tidak akan melihat Hitler, atau pasukan-pasukannya, tapi kita akan menonton bagaimana Schmitz hadir sebagai terdakwa dalam sebuah pengadilan bagi bekas pasukan SS milik Nazi. Berg, yang beberapa tahun sesudahnya kehilangan Schmitz secara tiba-tiba, hadir dalam persidangan itu sebagai mahasiswa hukum yang belajar soal pengadilan. Keadaan jadi rumit bagi Berg karena ia tak pernah melupakan pacarnya itu-bahkan puluhan tahun sesudah ia pertama kali ditolong Schmitz, Berg tak pernah kehilangan cintanya.

Persidangan bagi Schmitz sama sekali tidak mendominasi film itu tapi pada scene-scene yang menggambarkan proses itulah saya jatuh cinta. Jawaban-jawaban Schmitz yang cenderung lugas dan tanpa dosa terhadap pertanyaan-pertanyaan hakim mungkin membuat kita heran: bagaimana mungkin seorang penjaga kamp konsentrasi Nazi-yang ikut bertanggung jawab atas kematian sekira 300 perempuan Yahudi-bisa begitu tenang menjelaskan "kekejaman" yang sudah dilakukannya?

Schmitz, jika saya tak salah, adalah salah seorang punggawa SS yang ikut terlibat dalam peristiwa yang akrab disebut sebagai "Final Solution". Itu adalah sebuah fase yang disebut "paling mematikan" selama masa panjang pembantaian orang Yahudi saat Hitler berkuasa. Bagi kita, jelas sudah: mereka yang terlibat dalam pembantaian semacam itu pastilah orang-orang kejam. Tapi kenapa Schmitz begitu tenang mengakui kekejamannya? Kenapa ia bisa dengan enteng menjelaskan proses pemilihan wanita-wanita yang akan dibunuh?

Saat hakim bertanya kenapa para perempuan itu harus dibunuh, Schmitz menjawab dengan ringan: "Kami tidak bisa menampung semuanya. Yang tua harus memberi tempat pada yang muda." Apa yang lebih mencengangkan adalah pengalaman saat ia ikut mengawal perjalanan sekira 300 perempuan Yahudi menuju suatu tempat. Saat itu, ketika melewati sebuah desa, para tahanan dimasukkan ke dalam suatu gereja. Pintu gereja dikunci dari luar. Bencana terjadi tatkala api tiba-tiba membakar gereja itu. Tahanan-tahanan yang panik segera menjadi makin panik saat tahu pintu dikunci dari luar. Para penjaga, termasuk Schmitz, memutuskan tidak membuka kunci. Hari itu, hampir semua tahanan meninggal dunia.

Ketika ditanya kenapa tidak membuka kunci pintu gereja supaya para tahanan tidak meninggal, Schmitz menjawab enteng: "Kami tidak bisa melakukannya. Sebab keadaan akan jadi kacau dan para tahanan akan lari. Kami penjaga. Kami tidak boleh membiarkan mereka lari." Saya terkejut mendengar jawaban itu-begitu juga sang hakim dan para pengunjung sidang. Bahkan para teman Schmitz sesama petugas SS pun kaget bukan kepalang. Kenapa Schmitz terlihat tidak menyesali semua itu? Mengapa ia menganggap sikapnya sebagai sesuatu yang wajar?

***

Pertanyaan-pertanyaan yang timbul saat mendengar jawaban-jawaban Schmitz dalam The Reader itulah yang kemudian membuat saya ingat pada Hannah Arendt, seorang filsuf berdarah Yahudi kelahiran Jerman yang pernah ditangkap Nazi. Pada 1961 di Jerussalem, Arendt meliput persidangan Otto Adolf Eichmann, seorang pentolan Nazi yang berperan penting dalam "Final Solution", untuk Majalah The New Yorker. Pengamatannya atas proses persidangan itulah yang kemudian diterbitkan dalam buku Eichmann in Jerussalem: A Report on the Banality of Evil (1963).

Buku itu kontroversial karena Arendt menggambarkan Eichmann-yang dianggap bertanggung jawab atas kematian jutaan warga Yahudi-bukan sebagai monster kejam yang haus darah. Sebaliknya, Arendt justru melukiskan Eichmann sebagai "sepenuhnya orang normal". Sama seperti Schmitz, Eichmann terlihat tenang saat menjelaskan bagaimana ia mengirim para korbannya ke kamar gas. Ia menganggap itu bukan kesalahan, tapi semata-mata proses menjalankan perintah. Bagi Arendt, semua pembunuhan itu dilakukan oleh Eichmann bukan karena sifat patologis dalam dirinya, semacam kekejaman tertentu yang obsesif, tapi semata-mata karena Eichmann melarutkan dirinya dalam aturan dan kontrol Nazi. Eichmann tidak kejam. Ia hanya menuruti perintah.

Analisis Arendt atas karakter Eichmann itu-yang tentu saja dikritik habis-habisan oleh sesama warga Yahudi-kemudian diikuti munculnya salah satu pemikiran Arendt yang terkenal: banalitas kedurjanaan. Konsep pokoknya, seorang yang melakukan kejahatan, karena sebuah sistem tertentu yang "mensahkan" kejahatan itu, bisa beranggapan bahwa kejahatan yang ia lakukan bukanlah kejahatan. Di sini, kejahatan menjadi sesuatu yang dangkal karena ia diukur bukan berdasar patokan kemanusiaan yang relatif universal, tapi berdasar aturan dalam suatu sistem yang sempit. Kejahatan yang diperintahkan sistem bukanlah kejahatan-kira-kira semacam itulah tesisnya.

Eichmann, bagi Arendt, adalah contoh terbaik korban banalitas kedurjanaan. Schmitz, bagi saya, juga demikian. Mereka adalah orang-orang yang mengukur baik-buruk berdasarkan ukuran sistem yang memerintah mereka. Pikiran mereka terikat, tindakan mereka terkontrol, imajinasi mereka mandek. Kita, para penonton The Reader, mungkin bersimpati dengan Schmitz terutama karena ia akhirnya menanggung hukuman paling berat karena fitnah mantan rekan-rekan sesama pengawal SS-juga karena ia akhirnya "bertaubat" dengan menyumbangkan uangnya untuk korban holocaust. Tapi sesungguhnya, Schmitz adalah orang yang mengerikan-demikian dengan Eichmann.

Apa yang masih bisa kita harapkan jika para pembantai itu tak lagi menganggap kejahatan mereka sebagai kekejaman? Saya kira, kemanusiaan akan runtuh jika semua orang bersikap seperti itu. Tentu saja, orang boleh dan malah harus menyalahkan sistem yang membentuk mereka-sebentuk sistem yang nyatanya ada di mana-mana, bukan hanya monopoli Nazi. Di Indonesia pada masa Orde Baru, kepatuhan pada atasan dan sistem dilakukan bukan hanya karena sikap itu akan menguntungkan, tapi juga karena perasaan bahwa menaati perintah-yang jahat sekalipun-adalah lebih baik ketimbang membantahnya.

Saya kira, The Reader adalah pengingat yang baik soal banalitas kejahatan. Walaupun, film itu juga dianggap sebagian kritikus sebagai teks yang kacau balau soal holocaust. Lebih parahnya, film itu-juga novel berjudul sama yang menginspirasinya-dianggap sebagai teks yang menolerir kekejaman Nazi, terutama karena tokoh Schmitz yang terlihat sangat simpatik-harus diakui, hampir semua penonton saya kira akan bersimpati padanya. Saya, mulanya, juga bersimpati. Tapi sekarang, saya akan mengingat Hanna Schmitz sebagai personifikasi paling pas tentang sifat dangkal kejahatan.

 


Tag: the reader, kate winslet, holocaust

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 0 0
wow... sebuah review yang komprehensif. tadi agak bingung mau rating good take atau mencekam, soalnya saya memang tercekam ketika membacanya!

Hanna Schmitz menurut saya sangat 'proud', sehingga dia bahkan memilih menjalani hukuman dari pada harus mengaku bahwa dia buta huruf. Sikap yang sama pula dia terapkan untuk profesinya sebagai sipir (waktu dulu).
Haris Firdaus 0 0
@ sabai: mencekam? hayah. he2.

saya menganggap tesis arendt soal banalitas kejahatan-lah yg bs dipake menganalisis karakter schmitz. entah kenapa, karakter itu sangat cocok dg apa yg dikatakan arendt.
kniwe 0 0
Untung Hannah Schmitz gak nyalonin diri jadi presiden atau wakil presiden ya...
playmovies 0 0
Mantap mas review nya. Kate Winslet emang super di film ini, jalan ceritanya jg bagus.
Tapi kenapa ya, saya sih ngerasa aneh karena film ini berbahasa Inggris. Padahal settingnya Jerman dan membicarakan sejarah Nazi hmmm entahlah
Jadinya kaya nonton film yg berseting di Indonesia, tentang orang Indonesia, tapi pake bahasa asing,,,, aneh
Gambliz 0 0
keren banget reviewnya....banalitas negara akan menular pada warganya....eh itu tesis Rieke Dyah Pitaloka ding, hehehehe.....

ga tau kenapa, kalo saya sih lebih suka Winslet di "Revolutionary Road".....lebih dapet gitu feel-nya....
yudhi herwibowo 0 0
review kurang sip!
saya merasa tidak cukup proporsional. hampir separuh dari film ini adalah kisah percintaan, baru setelah hampir 1 jam kita menikmatinya, baru kita tahu kalau ini adalah film tentang nazi. tapi nampaknya itu seperti terlewat oleh haris. mungkin tema cinta hanya akan ditepikan begitu ada teman yang lebih menarik dari itu (menurutnya) makanya soal percintaan ini haris hanya membahasnya dalam 1 paragraf...

reader mungkin salah satu film yang akan saya ingat terus. dari film2 tentang nazi yang beredar, tak banyak yang berbicara soal cinta antara pria dan wanita. life is beatifull, schindler's list, boy with stripes pijamas, dan beberapa judul yang saya lupa, hanya terfokus pada permasalahan : derita yahudi, dan kesalahan nazi.
selama ini kita jarang sekali melihat film nazi dalam perspektif nazi. dan saya pikir kehadiran reader cukup menjadi penyeimbang soal itu (walau menurut saya sebenarnya ini masih sangat kurang juga). tapi saya pikir tentu pemikiran kita akan menjadi balance ketika kita melihat dari 2 perspektif yang berbeda.

reader pada akhirnya akan menjadi film yang akan kembali kita tonton ketika muncul di tv beberapa tahun kemudian, seperti halnya yang terjadi pada titanic. kate winslet, tak bisa dipungkiri, akan membuat siapa pun tertegun dengan kualitas aktingnya.
satu yang membuat saya jengkel dengan film ini adalah sensor yang berlebihan, dan sama sekali tidak artistik. badan sensor kali ini tak hanya berfungsi sebagai tukang jagal, tapi juga berfungsi sebagai bocah cilik yang gemar mencorat-coret tembok.

namun ide tentang : membaca dulu sebelum bercinta rasanya bagus juga, dan bisa kita diterapkan untuk meningkatkan minat baca... : )
Si Pisau Terbang 0 0
playmovies: ini mantep nih! mmg suka aneh bin maksa kalo film setting di luar english speaking countries dialognya keukeuh pake bhs enggres...
apalagi jerman jaman segitu!
padahal nggak susah kan aktor-aktris itu blajar ngomong jerman, dari pada kudu blajar ngomong jawa?
Herman Saksono 0 0
Saya juga agak terkejut ketika orang yang bisa menyayangi seperti Schmitz bisa berbuat sekejam itu. Sama sekali tidak menyangka bahwa kejam dan sayang bisa menjadi satu kesatuan.
venus spice 0 0
saya ada setuju dan ada tidak setujunya dengan mas haris dan yudhi. film ini bukan mengenai kekejaman nazi, atau membela nazi melalui karakter hannah scmithz, namun film ini (menurut perspektif saya) murni mengenai seorang wanita bernama hannah scmithz, seorang wanita tradisional, hidupnya mulai berubah ketika mengenal pemuda remaja berg. awalnya interaksi di antara mereka hanya sex, tapi sex itu seolah membebaskan ia dari wanita yang kaku dan sangat restricted terhadap adatnya, menjadi wanita yang mengenal cinta dan kasih sayang. hidupnya lebih indah dan penuh dengan imjinasi dan harapan ketika berg mulai membacakan buku kepadanya. karena itulah ia meminta berg untuk membaca buku sebelum mereka berhubungan sex. saya yakin, sex itu masih dilakukan secara intens karena berg menginginkannya dan hannah menyadari hal tersebut, jika saja hannah dapat memilih, tentu saja ia memilih membaca buku daripada sex, namun ia sudah kadung sayang kepada berg. namun pada akhirnya, hannah harus menyadari bahwa ia hidup di masa ketika hubungan antara wanita setengah baya dan anak remaja ingusan adalah terlarang, dan hannah pun menyadari bahwa hidupnya harus berjalan seperti sedia kala sebelum ia bertemu dengan berg, sesuai dengan akal susila yang dapat diterima kepalanya. karena itulah kemudian ia meninggalkan berg dan bergabung dengan nazi. terlepas dari endingnya yang berg tua mendatangi salah satu korban nazi dan menyerahkan uang hannah kepadanya, bisa dilihat bahwa hannah belajar membaca setelah berg mengiriminya kaset-kaset berisi bacaan bukunya. itu menunjukkan bahwa indahnya hidup hannah ketika ia dibacakan dan kemudian bisa membaca buku-buku itu. pada saat itu, hidupnya penuh dengan possibility dan harapan, sesuatu yang tak pernah didapatnya sebelum bertemu dan dibacakan buku oleh berg.
disco_merinding 0 0
selalu senang dengan film sejarah seperti itu dan review ini, nice angle
Haris Firdaus 0 0
@ gambliz: tesisnya rieke kan soal arendt. jadi ya mirip. tesis rieke kan berusaha mencari relevansi pemikiran arendt soal banalitas kejahatan dg kondisi di indonesia.

@ yudhi: tulisan ini memang tak saya maksudkan sebagai "review" dlm pengertian umum, yakni mengisahkan scr umum sebuah film. tulisan ini memang sy sengaja fokus pd satu aspek, kemudian membahasnya scra mendalam, dg mengaitkan scr intertekstual teks2 lainnya. tulisan ini mngkn lebih baik dilihat sbg "esai" ketimbang review dlm pengertian biasanya. kalo dilihat2, tulisan sy di sini emang lebih mendekati bentuk semacam esai, ketimbang review keseluruhan film.

@ venus: kalo soal the reader itu "tentang apa", masing2 bisa menafsir. sebuah film emang punya jalan cerita mayor, tapi tiap penafsir saya kira berhak melihat film itu dari sudut manapun--yang menarik baginya. sebuah teks selalu multiinterpretatif, saya kira. dan teks yg bagus, memang begitu. oya, seingat saya, Schmitz masuk nazi dulu baru dia ketemu berg. setting ketika dia ketemu berg, kalo gak salah, kan tahun 1958, sementara nazi eksis kan sekitar 1940-an. kalo ditafsirkan hanya sbg kisah hidup perempuan biasa, film ini jadi terlalu sederhana. saya membaca kritik keras dari seorang kritikus film terhadap the reader yg mengatakan bahwa film ini adalah "film terburuk ttg holocaust yg pernah dibuat".ini artinya, latar politik soal nazi emang penting dlm the reader.
playmovies 0 0
Gambliz: sepertinya saya setuju dengan Winslet di Revolutianary Road (buat reviewnya dong heheh...)

Winslet di Eternal Sunshine of the Spotless Mind jg OK tuh mmm... apakah kita perlu membuat list best performance by Winslet in a movie gituh? ; )

wandiudara 0 0
setuju dengan haris...yang justru saya heran dari film itu: schmitz yang buta huruf tapi terus dibacakan sebuah buku, entah itu novel serius atau picisan, kenapa terbawa ke jurang sistem nazi? kenapa pula ia menjadi kejam? padahal, paling tidak, dengan kesukaannya mendengarkan buku2 yang dibaca berg, membuat dia peka terhadap kekejaman. bukan justru terjerumus pada kekejaman banal. kukira dengan dia punya sense of reading yang bagus, merupakan modal yang baik untuk peka. di film ini, logika itu terlupakan.
venus spice 0 0
Haris Firdaus: mmm aku kurang paham dan agak lupa mengenai tahun2 itu,,, kalo gitu mesti nonton lagi film the reader,,,
playmovies: wah,,, setuju banget,,,, selama bertahun2 ini winslet selalu bermain bagus di film-filmnya, belum pernah sekalipun dya bermain jelek di film, kalo perlu kita bikin poling sekalian.
wandiudara: aku rasa gak semua orang yang membaca (atau dalam film ini dibacakan) buku, akan selalu terbawa dengan apa isi buku itu, apalagi kehidupan scmith di film selalu begitu2 saja, dan dya gak punya banyak teman, jadi rasanya memang susah untuk merubah sifat kepribadiannya.

Silahkan login untuk memberikan pendapat