Geger 1965 Rasa Hollywood 6

Minggu, 3 Jan '10 12:25

Sebuah film tentang Indonesia dan sisi-sisi gelapnya di tahun 1965.

The Year of Living Dangerosly
Amerika Serikat,1983
Pemain: Mel Gibson,Sigourney Weaver, Linda Hunt
Sutradara: Peter Weir


Saya ingat, suatu berita menarik dari sebuah surat kabar yang saya baca ketika duduk di bangku Sokolah Dasar (1985-an).Seorang produser dari Hollywood (saya lupa namanya) berminat mengangkat hidup Soekarno (proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia) ke layar lebar. Entah bagaimana kelanjutan rencana tersebut? Yang jelas hingga kini, hanya beberapa film Hollywood yang menampilkan Bung Karno. Itu pun sebatas tokoh pelengkap saja.

Salah satu filem Hollywood yang sempat menampilkan Bung Karno sebagai tokoh figuran adalah The Year of Living Dangerosly (TYOLD). Di film yang diangkat dari novel Christopher J.Koch itu, Bung Karno (diperankan oleh aktor Philipina,Mike Emperio) sempat ditampilkan dalam beberapa adegan.

TYOLD sendiri berkisah tentang 2 jurnalis Australia: Guy Hamilton (Mel Gibson) dan Billy Kwan (Linda Hunt) yang bertugas meliput krisis politik yang terjadi di Indonesia pada 1965. Mereka bahu membahu memburu berita terkini dan "seksi" sekitar manuver yang melibatkan kekuatan-kekuatan politik di sekeliling Soekarno terutama Partai Komunis Indonesia (PKI).

Berawal dari wawancara mereka dengan Dipa Nusantara Aidit (Ketua CC PKI), Billy dan Guy menyium adanya rencana pengiriman satu kapal senjata api ke Indonesia. Senjata-senjata itu dikirim oleh Cina sebagai bentuk dukungan mereka kepada PKI yang akan membuat "revolusi" terhadap unsur-unsur nekolim (istilah Soekarno untuk neo kolinialisme).

Intrik pun merebak di Jakarta. Bukan saja di kalangan para pejabat politik Indonesia, tapi juga di kalangan para jurnalis asing yang saat itu selalu nongkrong di bar Wayang (aslinya bar Ramayana), Hotel Indonesia. Karena sering mudahnya Billy mendapat "berita-berita seksi", mereka mencurigai si jurnalis kate turunan Cina-Australia itu adalah orangnya PKI.

Tentu saja isu itu ditepis mentah-mentah oleh Billy. Sebagai sahabat, Guy sendiri tidak mempercayai isu tersebut. Namun secara pribadi, Billy mengakui dia adalah pengagum Soekarno dan pandangan-pandangan pro rakyatnya.Sebuah pengakuan yang pada akhirnya berujung pada kekecewaan begitu ia melihat dengan mata kepala sendiri banyak rakyat menderita di bawah Presiden Soekarno. "Lewat berbagai cara, aku harus mengatakan soal ini langsung kepada Soekarno,"katanya.

Billy memang sempat melaksanakan "niat gilanya" itu lewat usaha pemasangan spanduk besar (dari sprei putih yang ditulisi kalimat dalam bahasa Inggris: SOEKARNO KASIH MAKAN RAKYATMU!) yang dilakukannya sendiri lewat sebuah kamar di Hotel Indonesia. Namun, sebelum spanduk protes itu terbaca Soekarno, sebutir peluru yang ditembakan seorang petugas BPI (Badan Pusat Intelejen) mengakhiri hidupnya.

Laiknya filem-filem Hollywood, TYOLD tidak melulu berkisah tentang perburuan berita atau intrik politik, namun juga peliknya cinta segitiga antara Guy, Billy dan Jill Bryant (seorang staff Kedutaan Besar Inggris di Jakarta). TYOLD pun banyak menyoroti situasi pribadi para jurnalis saat tengah berada dalam "ancaman" diburu tengat waktu penurunan berita.

Filem yang mengambil judul dari pidato Soekarno (Tahun Vivere Vericoloso: Tahun Menyerempet Bahaya) itu buat saya jadi lebih menarik karena banyak menampilkan realitas hidup orang Indonesia (khususnya Jakarta) pada 1960-an. Gegap gempita suasana revolusi mengganyang kekuatan kapitalis dan nekolim (Amerika,Inggris dan Malaysia) bersanding dengan kelaparan dan kemiskinan.Lengkap dengan foto-foto besar Soekarno di kawasan-kawasan kumuh.

Yang membuat saya terkesan adalah kalimat-kalimat bahasa Indonesia yang banyak bertebaran di filem ini. Rasanya aneh saja mendengar kalimat semisal "Sialan tuh bule" ada di sebuah filem Hollywood.

Namun karena soal bahasa juga, filem ini jadi agak bermasalah.Mengapa? Karena ada beberapa bagian adegan yang agak rancu seperti saat Guy diomeli oleh sekelompok pemuda di sebuah kampung kumuh: "Hei, Amerikano,ngapain kamu ke sini?!"

Kok Amerikano? Selidik punya selidik ternyata filem yang meraih Oscar (lewat penampilan "gila dan luar biasa" Linda Hunt memerankan Billy Kwan) itu dibuat di Philipina. Itu terjadi tentu saja karena Pemerintah Soeharto yang saat itu tengah berjaya, menolak mentah-mentah izin shooting filem tersebut di negeri asal kisahnya. Sayang ya? (hendijo)

 

 


Tag: resensi film

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

kniwe 0 0
Yang jadi Sukarno jelek banget. Tapi Linda Hunt emang ok banget di sini. Kalo gak salah, dia satu-satunya aktris yang dapet Oscar untuk memerankan peran pria ya? Di film ini juga ada Kuh Ledesma, diva Filipino itu wkt masih muda...
sabai 0 0
film ini pun sempat menuai kontroversi di indonesia saat kembali ramai dibicarakan setelah rezim Suharto tumbang.
eh, btw film mana ttg pemerintah RI yang lalu nggak dikontroversiin sama pemerintah sih ya?
hendijo 0 0
kniwe:
Mike Empereo yang memerankan Soekarno memang "tidak banyak biacara" di sana (beda dengan versi novel yang mengisahkan Guy yang sempat "disikat" oleh Soekarno dalam sebuah konfrensi pers. Dia juga tampil hanya dalam beberapa adegan.Oscar satu-satunya yang didapat TYOLD memang dari Linda Hunt yang secara "luar biasa dan gila" memerankan Billy Kwan.
hendijo 0 0
sabai:
ya begitulah pemerintah RI kalau ada film yang agak kritis tehadap mereka. Dulu saat pembuatannya di Manila, Mel sempat diancam dibunuh oleh para pejuang Moro karena dianggap membintangi sebuah film yang isunya di kalangan mereka bertujuan menjelekan nama Islam.
kucing_usil 0 0
baru saja tadi mampir ke toko buku dan melihat buku ini terpajang di rak. hanya saja di sampul buku ditambahkan kalimat berikut :

"dilarang terbit oleh rezim orde baru" : D

kayaknya pada masa itu apa aja gampang kena cekal ya? film, lagu, buku : ))
hendijo 0 0
kucing_usil:
skr aja kayaknya masih tuh...Buktinya Balibo Five : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat