He's Just Not That Into You 3

Kamis, 24 Des '09 22:32

HE'S JUST NOT THAT INTO YOU
Sutradara : KEN KWAPIS
Pemain : BEN AFFLECK, JENNIFER ANISTON, DREW BARRYMORE, JENNIFER CONNELY, KEVIN CONNOLY, BRADLEY COOPER, GINNIFER GOODWIN, SCARLETT JOHANSSON, JUSTIN LONG
Tahun : 2009
Rating : 2.5/5

Film yang menghadirkan banyak sekali bintang idola dalam satu layar ini berkisah mengenai salah satu isu yang sangat hangat menjadi pembicaraan di kalangan wanita single di dunia barat sana (dan sebagian wanita single di indonesia yang hidupnya kebarat-baratan), yaitu mengenai sinyal atau tanda yang menunjukkan apakah para pria menyukai para wanita. Kebanyakan tanda-tanda dan sinyal itu akan diketahui para wanita setelah kencan pertama mereka, apakah sang pria akan menghubungi (menelpon) sang wanita. Isu inilah yang sepertinya menyita sebagian besar waktu Gigi (Ginnifer Goodwin), dengan mendiskusikannya bersama teman sekantornya Janine (Jennifer Connely) mengenai apakah kencan-kencan pertama Gigi akan menelepon balik Gigi. Mereka berdua sepertinya tidak punya pekerjaan lain selain membicarakan hal ini. Dan saya sama sekali tidak tahu mereka bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang apa karena tak pernah disinggung di film. Janine, yang selalu meyakinkan Gigi bahwa kencan-kencanya akan meneleponnya balik, ternyata memiliki masalah di rumah tangganya. Kehidupannya bersama sang suami Ben (Bradley Cooper) sangat dingin belakangan ini. Mereka bahkan sudah tidak berhubungan sex lagi. Tak dinyana, Ben sedang bermain api dengan gadis muda nan seksi Anna (Scarlett Johansson) yang ditolong Ben untuk memasuki dunia rekaman.

Selain tokoh-tokoh ini, ada pula Beth (Jennifer Aniston) yang sudah kumpul kebo bersama Neil (Ben Affleck) selama tujuh tahun. Beth ingin melegitimasikan hubungan mereka melalui lembaga pernikahan, namun Neil sebaliknya, adalah pria yang anti pernikahan. Lalu ada pula Alex (Justin Long) yang selalu memberi nasehat seputar pria kepada Gigi. Kemudian Connor (Kevin Connoly) yang disukai Gigi tapi suka pada Anna, dan yang terakhir Mary (Drew Barrymore) yang kehadirannya di cerita Cuma sebagai pemanis saja (padahal sudah banyak banget pemanis di sini, apa karena drew duduk sebagai salah seorang produser maka ia juga harus ikut tampil dalam film, she just couldn't help it).

Masalah yang biasa muncul ketika sebuah film harus diisi dengan banyak sekali bintang kelas satu, adalah pembagian porsi cerita yang berimbang. Dan hal tersebut, sama sekali tidak terjadi di film ini. Alih-alih memberikan tangguk porsi peran utama kepada pemain yang kualitas akting dan popularitasnya sudah tidak diragukan lagi (Jennifer Connely - pemenang oscar, Jennifer Aniston - america's sweetheart, Scarlett Johannson - the hottest hollywoood female star), sutradara malah memberikan tongkat peran utama dan porsi cerita berlebihan kepada karakter Gigi yang diperankan oleh aktris yang kurang populer dibandingkan dengan aktris lainnya - Ginnifer Goodwyn. Bukan berarti Ginnifer Goodwyn buruk dalam memerankan karakter Gigi, hanya saja Gigi digambarkan terlalu banyak omong, agak bodoh dan terlalu needy karena selalu berharap pria-pria kencan nya akan meneleponnya balik, dan pada pertengahan film, saya rasanya ingin menyingkirkannya dari layar dan menghadirkan lebih banyak 3 aktris yang lebih manis dan hot dan tidak banyak omong tadi.

Belum lagi deja-vu yang saya rasakan setiap kali karakter Alex muncul di layar, ia bagaikan Sarah Jessica Parker dan ketiga temannya dari seri tv Sex And The City, yang digabung jadi satu, dan diubah wujudnya menjadi laki-laki. Ya, Alex selalu memberikan nasehat-nasehat omong kosong kepada Gigi, seperti yang biasa dilakukan Parker dan teman-temannya di seri Sex. Kenapa omong kosong??? Karena pada akhirnya Alex sendiri yang membuktikkan bahwa nasehat-nasehatnya tersebut adalah omong kosong, di akhir cerita.

selain masalah porsi cerita dan dua karakter overwhelming (yang ironisnya mendapat porsi cerita terbanyak), ada hal lain yang menganggu saya, yaitu cerita yang terasa sangat cheesy. Entahlah apakah karena saya seorang pria, dan tinggal di indonesia, tapi rasanya penulis hanya mengambil tema dari salah satu kolom di majalah wanita dewasa, atau salah satu episode Sex And The City, menjadikannya buku, dan kemudian membuat versi skenario filmnya,,, dan bam,,, jadilah filmnya, dengan konflik yang dibuat-buat. Bahkan di pertengahan film, saya dibuat bingung akan dibawa kemana ending film ini, karena serasa bagaikan tontonan tak berguna yang tak akan berakhir. Namun untungnya, penulis membuat ending yang diusahakan berakhir semanis mungkin bagi setiap karakter.

Tapi, begitupun, masih ada koq sisi worthed yang saya dapatkan dari menonton film ini, yaitu melihat aktris-aktris favorit saya dalam peran typical mereka. Jennifer Aniston tampil sebagai america's sweetheart seperti biasanya. Well, i love it. Saya tidak pernah berharap Jen-As tampil dalam peran-peran yang berat dan berkualitas tinggi seperti yang biasa diperankan Kate Winslet. Well, i love Jen-As dalam peran-peran manis seperti ini. Dan dipasangkannya Jen-As dengan Ben Affleck terasa pas, karena sangat serasi, cantik dan tampan. Lainnya, Jennifer Connely kembali tampil dalam peran typical-nya, juga, yaitu wanita tersakiti dan harus struggle (ingat Dark Water, House Of Sand And Fog, bahkan ia memenangkan Oscar dari peran seperti ini di film A Beautiful Mind). Kembali saya utarakan, Jen-Connley dengan wajah cantiknya yang sendu memang tepat mendapatkan peran-peran seperti ini. Saya tidak berharap Jen-Connely memainkan peran-peran konyol dan komedi yang biasa diperankan Drew Barrymore, atau peran slasher manakutkan.

Walau agak kecewa dengan pilihan perannya belakangan ini, tapi saya harus memberikan kredit tersendiri kepada Scarlett Johansson yang tampil super hot di film ini. It's worth a watched. Lainnya, jangan pernah repot mengingat kehadiran aktris super kelas satu Drew Barrymore disini karena kehadirannya hanya untuk meramai-ramaikan film saja. Male star??? Ben Affleck dan Bradley Cooper dihadirkan untuk menjadi magnet bagi penonton wanita, Justin Long sebagai typical bad boy yang disukai sebagian wanita, dan Kevin Connoly sebagai pilihan alternatif. Well, penonton wanita (dan sebagian kecil penonton pria) dapat memilih tipe pria idamannya.

Sebagai film komedi romantis, film ini sama sekali tidak gagal, namun tidak juga berhasil, karena beberapa tahun ke depan, saya yakin tak akan ada yang mengingat film ini, kecuali bagi fans hardcore para bintang yang hadir di film ini tentunya.
Courtesy of Mr. Venus Spice

 


Tag: he \'s just not that into you

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sabai 0 0
wedew... saya cukup suka dengan cara penggarapan film ini.
dan beberapa line dialog Mary, yg harus ngecek bermacam2 moda komunikasi utk mengetahui apakah dia dpt jawaban dr cowok yg dikejarnya... abad 21 banget!

saya juga suka adegan flirting Scarlett di supermarket : )
Menggoda, tapi nggak lebay...

overall, film ini menyenangkan, enjoyable meski nggak luar biasa. dan bisa jadi reminder buat kita, one way or another we're in a form of a relationship...
kucing_usil 0 0
eng, saya juga meragukan film ini hanya akan menjual nama-nama bintang tenar dengan jalan cerita yang biasa-biasa saja atau membosankan : p

Tapi baca di review sepertinya film ini lumayan bagus buat ngisi waktu leyeh-leyeh akhir pekan ; ))
penjaja popcorn 0 0
saya nonton film ini karena ada drew barrymore-nya : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat