Seputar Pencekalan 11
Selasa, 22 Des '09 09:08
Anda masih ingat, berapa film yang sempat dicekal ketika masuk ke pasar Indonesia ?
Pencekalan adalah hal yang sangat lumrah terjadi khususnya di negara-negara yang mengklaim dirinya beradab dan berbudaya. Indonesia sebagai negara yang selain berbudaya juga negara dengan jumlah umat muslim terbesar di dunia -- melalui berbagai lembaga sensor dan lembaga budaya keagamaan -- selalu berusaha memfilter segala jenis konsumsi publik (termasuk juga film) yang masuk ke pasar dalam negeri.
Apa dan mengapa
Tontonan seperti apa yang layak untuk dicekal?
Latar belakang pencekalan di Indonesia banyak bergeser dari era ke era. Jika kita mau flashback, pada era penghujung orde lama dan awal orde baru, film dicekal oleh karena muatan politik termasuk juga sindiran kepada pemerintah, hubungan antar negara hingga dugaan muatan yang mengarah pada garakan komunis. Bahkan pada masa itu satu orang pejabat publik pun bisa menghentikan pemutaran sebuah film dikarenakan alasan pribadi. Bisa kita bayangkan betapa ketatnya sensor film pada masa itu, hingga detail terkecilpun tak luput dari lembaga sensor yang jeli.
Lihat saja seperti film Yang Muda Yang Bercinta (1977), yang dianggap mengakomodasi teori revolusi dan kontradiksi dari paham komunis, atau Buah Hati Mama (1983), yang memuat dialog tentang kakek yang pintar menyanyi karena berteman dengan mantan Kapolri Hoegeng Imam Santoso. Bagian ini digunting habis.
Namun seiring waktu berjalan, rezim pun berganti. Era reformasi yang konon menawarkan kebebasan berekspresi juga telah melahirkan tren baru dalam perfilman dalam negeri. Konsep kebebasan yang didengung-dengungkan rupanya dimanfaatkan habis-habisan oleh para produsen film (sineas) untuk memproduksi film sebanyak-banyaknya untuk meraup untung sebesar-besarnya. Di dalam kondisi seperti ini, lembaga-lembaga yang merasa bertanggung jawab untuk menyelamatkan bangsa dari pengaruh kurang baik dari film kembali memasang kuda-kuda.
Namun apa yang terjadi? Memang tak ada lagi film yang dicekal karena muatan politik, namun justru film-film yang dengan begitu vulgar mengeksploitasi keberanian aktris dalam beradegan tak senonoh beredar dengan luas di bioskop. Dan celakanya, film dengan genre seperti inilah yang belakangan mendominasi produksi film dalam negeri dan paling diminati. Kemanakah para lembaga sensor itu di saat seperti ini ?
Tak tepat sasaran?
Anda yang penggemar dunia sinematografi pasti mahfum betul dengan fenomena film 2012 beberapa waktu lampau. Bagaimana sebuah film bisa mempengaruhi hampir seluruh umat manusia dengan kelihaian memanfaatkan sebuah ramalan suku Maya kuno tentang akhir dunia. Tak tanggung-tanggung, lembaga agama MUI sempat khawatir terhadap efek dari film ini dan mengeluarkan fatwa himbauan untuk tak menontonnya. Namun apa yang terjadi? Di Jombang Jawa Timur, anak-anak sekolah yang pada awalnya tenang, setelah munculnya fatwa MUI tersebut mereka beramai-ramai berusaha mendapatkan film 2012. Download besar-besaran pun terjadi.
Saya jadi ingat pepatah lama, 'semakin dilarang, semakin tertantang'. Rasa penasaran karena sebuah larangan terkadang menjadi lebih mendominasi daripada larangan itu sendiri. Apalagi menghadapi fenomena era teknologi informasi dan komunikasi saat ini, yang secara ajaib membuat seakan tak ada lagi batasan bagi seseorang untuk mengakses informasi mana saja yang ia inginkan. Apakah metode fatwa pelarangan atau himbauan konfensional masih cukup efektif untuk meredam khalayak dari menonton sebuah film? atau justru menjadi pemicu bagi mereka untuk berusaha mendapatkannya?
Yang bisa dilakukan
Bukan pesimis, hanya saja mari melihat kondisi. Masyarakat berhak memilih tontonan untuk dikonsumsi. Terlepas dari pengaruh yang akan timbul setelahnya, filter yang paling ampuh bukanlah dari pelarangan ataupun bendungan dari luar. Tapi dari dalam pribadi masing-masing konsumen. Sehebat apapun dibendung, justru akan memperbesar rasa penasaran dan reaksi yang bisa jadi diluar dugaan.
Pembinaan moral dan mental sangat dibutuhkan dewasa ini. Orang tua adalah teman dan filter yang sangat efektif bagi anak dalam masa pertumbuhan, penanaman nilai moral dan mentalitas yang baik pada masa kanak-kanak akan mencetak seseorang untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Dan pada akhirnya, mereka yang memiliki mentalitas yang kuat dan rasa tanggung jawab yang tinggi, akan mampu meredam pengaruh negatif yang mungkin timbul dari apapun yang mereka konsumsi. Dari dalam diri sendiri, dari kesadaran pribadi, itulah filter dan sensor yang jauh lebih efektif. Bagaimana menurut Anda ?
Tag: film, pornografi, cekal, pencekalan, MUI, larangan
Terkait:
-
SANTET KUNTILANAK
Selasa, 7 Feb '12 17:07 -
bila
Kamis, 26 Jan '12 17:46 -
paranormal activity 3
Kamis, 12 Jan '12 21:24
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sabai: Box Office
-
kucingsapi™: Good Take
-
kucing_usil: Good Take
-
oksbangs: Informatif
-
kniwe: Informatif
-
JuliaJessicaJennifer: Good Take
-
ivanagara: Informatif
-
Taruma: Good Take

Komentar:
lihat aja isu yg paling hot belakangan ini, mengenai pencekalam miyabi datang ke indonesia, gak tahunya tak lama kemudian muncul film indonesia dengan bintang2 wanita yang menampilkan tubuh mereka yg setengah telanjang (air terjun pengantin),,,
sebenarnya apa sasaran yg ingin dicari orang2 indonesia dengan pencekalan demi pencekalan???
lihat aja, film yg dicekal MUI malah lalu laris manis....
dulu tahun 90an juga keluar fatwa mencekal True Lies. Akibatnya semua bioskop di kota-kota jadi penuh sesak orang ngantri nonton True Lies! (waktu itu internet belum sekenceng sekarang, jadi belum pada download).
nah... apa dong gunanya mencekal selain menaikkan popularitas film yg dicekal itu?
Soalnya doktrin yang mulai merebak adalah "cekal dulu, baru laris"
kucing_usil: malah ada temen yg bilang gini: "Kok sampe dilarang, Itu film BALIHO isinya apaan sih?"
Namun tidak cukup hanya pendidikan sejak dini terhadap anak. LSF dan lain sebagainya kaga ada tajinya sedikitpun. Menurut saya, yang harus berdiri di garda depan adalah para pengelola bioskop. Merekalah sebenarnya gerbang terakhir untuk memfilter penonton film. Jika hal ini bisa dilaksanakan, ditambah sistem rating yang jelas, mudah-mudahan bisa menjadi 'sistem sensor' baru yang efektif.
Silahkan login untuk memberikan pendapat